Volume II No 14 - Februari 2004
 


Wi-Fi untuk Enterprise
Tinggal Menunggu Waktu

 

Kalau beberapa kendala yang ada sekarang ini teratasi, penerapan WLAN di lingkungan korporasi diperkirakan akan semakin merebak. Apa pertimbangannya?

Wi-Fi di setiap rumah, Wi-Fi di setiap kafe. Kelihatannya memang mengasyikkan. Access point atau hotspot, yang memungkinkan sambungan broadband Internet secara nirkabel kini sudah dapat dijumpai di tempat publik dan menciptakan lonjakan permintaan layanan Wi-Fi. Namun toh kalangan enterprise, yang biasanya menjadi motor penggerak diterimanya suatu cutting-edge technologies menunjukkan sikap dingin, tidak begitu antusias dengan wireless local area network (WLAN).

Sekalipun WLAN sudah banyak dimanfaatkan oleh para individu yang sangat mobile, penggunaan di kalangan bisnis memang ketinggalan, bahkan dibandingkan dengan penggunaan rumah (home use), kata perusahaan riset IDC belum lama ini.

Namun, di beberapa sektor seperti kesehatan, pendidikan tinggi dan manufaktur Wi-Fi memperoleh daya tarik. Menurut seorang analis IDC, Abner Germanow, penggunaan WLAN di kalangan enterprise terbagi menjadi dua kategori, penggunaan internal, seperti di rumah-rumah sakit, kampus dan di industri hospitality seperti hotel dan bandara. Yang kedua adalah akses mobile Internet oleh perusahaan-perusahaan besar, yang memanfaatkan Wi-Fi untuk memungkinkan para pekerja lapangannya men-dial suatu layanan koneksi.

“Wi-Fi memang relatif baru, belum teruji, dan sekalipun begitu banyak gembar-gembor seputar Wi-Fi, toh belum ada pembangunan infrastruktur secara besar-besaran (di kalangan perusahaan),” ujar Germanow.

Jumlah perusahaan yang bereksperimen dengan jaringan nirkabel memang tengah tumbuh, namun mengeluarkan biaya untuk meluncurkan sebuah teknologi baru bisa menjadi masalah, kata Germanow.

“Apakah ada aplikasi-aplikasi tertentu untuk para mobile user yang akan bisa meningkatkan produktivitas, atau apakah ini sekedar memberikan kemewahan? “ tukas Germanow.

Untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan misalnya, mungkin lebih gampang membuat sebuah business case penerapan Wi-Fi, karena basis penggunanya biasanya bermobilitas tinggi. Untuk kalangan akademis, WLAN bisa memberikan konektivitas ke daerah-daerah perpustakaan atau asrama, yang digunakan oleh sekelompok besar individu, yang juga sering berpindah-pindah tempat.

Menurut Philip Redman, vice president Gartner Research, masalah security dan kebingungan mengenai standar WLAN juga menjadi penyebab kurang luasnya penyebaran Wi-Fi di kalangan enterprise. “Sekalipun masalah ini tengah diatasi, masih banyak perusahaan yang enggan memanfaatkan Wi-Fi,” kata Redman.

“Kalangan perusahaan lambat dalam mengadopsi jaringan nirkabel karena masih ada lubang-lubang pada security-nya, kerumitan penggelarannya, masalah pengelolaannya dan return on investment yang diterimanya,” timpal Steve Nye, general manager Building Broadband Solutions unit, Cisco Systems.

Security WLAN generasi pertama memang banyak mengandung kelemahan, namun masalah itu sudah teratasi dengan Wi-Fi Protected Access (WPA) dan standar baru yang akan dikeluarkan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) yaitu 802.11i.

“802.11i menjanjikan enkripsi yang lebih kuat, key management dan otentikasi yang lebih baik,” ujar Nye.

Menurut managing director Wi-Fi Alliance, Frank Hanzlik, standar 802.11i dijadwalkan akan diratifikasi bulan Juni mendatang, dan diharapkan, produk-produk yang menggunakan standar ini juga akan tersedia pada saat yang sama. Sampai saat itu, Wi-Fi Protected Access (WPA)-lah yang akan mengatasi masalah security tersebut.

“WPA menjembatani celah antara WEP (wireless equivalent privacy, yang merupakan standar security Wi-Fi pertama) dan 802.11i,” ujar Hanzlik.

Sekalipun demikian, WPA, yang dianggap sebagai perbaikan yang signifikan dibandingkan WEP, ternyata juga memiliki kelemahan. Menurut Angelo Lamme, international business development manager for wireless, 3Com, para hacker ternyata bisa menembus WPA, khususnya apabila menggunakan passphrase yang pendek.

“Walaupun para hacker sulit menembus ketika pengguna menggunakan passphrase yang lebih panjang, ternyata masih banyak yang tidak membuat passphrase yang kuat untuk membentengi jaringannya,” ujar Lamme.

Sikap pengguna yang sembrono juga semakin memperparah keadaan. Sekalipun fitur security-nya lengkap, mereka tidak memanfaatkannya secara optimal.

“Kadang-kadang pengguna sendiri tidak menyadari bahwa WLAN-nya mudah ditembus, dan bahkan mereka tidak mengaktifkan WEP dan user authentication untuk melindungi dirinya,” ujar Gary Lau, konsultan teknis RSA Security untuk Asia bagian utara.

Selain security, masalah penerapan dan pengelolaan WLAN juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi perusahaan yang menerapkannya. Seperti halnya penerapan Wi-Fi di tingkat konsumen rumahan atau pribadi, penggunaan Wi-Fi di perusahaan terutama di dorong oleh pengguna, sekalipun caranya mungkin kurang berkenan bagi para manajer TI.

“Itu sih cerita lama,” ujar Doug Klein, CTO Vernier Networks, sebuah perusahaan vendor Wi-Fi switch. “Kami pernah melihat sebuah tren dimana pengguna LAN enterprise membeli sendiri sebuah access point untuk mendapatkan kenyamanan menggunakan WLAN. Tanggapan dari para manajer TI kalau tidak mengabaikan, ya melarangnya, karena mereka mengkhawatirkan security-nya,” jelasnya.

“ Namun demikian, sekali pengguna tergantung pada konektivitas nirkabel tersebut, para manajer TI kemudian cenderung menerimanya,” tambah Klein.

Masalahnya tidak sekedar itu. Menerima Wi-Fi dan menjalankan Wi-Fi bukanlah hal yang sama, karena yang terakhir ini melibatkan strategi penggelaran yang terencana. Dan perbedaan ini menjadi sangat penting karena menambah akses nirkabel ke sebuah LAN enterprise akan meningkatkan masalah pengelolaan yang tidak dijumpai di LAN kabel.

“LAN masa kini mudah digelar, dan Anda bisa mencantelkan lebih banyak hal ke sebuah LAN dengan hanya menjumpai sedikit kesulitan,” jelas Klein. “Nirkabel memiliki masalah yang berbeda – ia bersifat analog, memiliki masalah interferensi, dan tidak memiliki kapabilitas linear scaling. Di sisi lain, LAN kabel siap memberikan kapasitas, cakupan dan konsistensi yang diinginkan dan diharapkan pengguna. Dengan WLAN, hal itu sulit dilakukan.”

Masalahnya akan bertambah ketika jumlah access point-nya makin banyak. “Access point itu harus dikonfigurasi satu satu, dan untuk melakukannya, Anda membutuhkan staf dengan keahlian RF (radio frequency), yang tentunya akan menambah biaya lagi,” tukas Alan Cohen, VP marketing Airespace, sebuah perusahaan yang memroduksi perangkat WLAN.

“ Masalah lainnya, para manajer TI tidak bisa ‘melihat’ secara fisik jaringan itu sendiri. Sinyal RF itu kan tidak bisa disuruh pergi menuju ke tempat yang Anda inginkan – artinya bisa timbul gap dalam coverage-nya. Bisa jadi malah ia akan nyelonong ke tempat yang tidak Anda inginkan, misalnya tempat parkir.

Artinya, perusahaan memang perlu mempertimbangkan masak-masak dan berpikir strategis sebelum menggelar WLAN. Sedangkan rata-rata perusahaan saat ini menurut Dan Simone, VP product management Trapeze Networks, sebuah perusahaan penyedia solusi nirkabel, selalu berbicara mengenai jejaring nirkabel yang terpisah, atau nirkabel sebagai tambahan atau add-on untuk akses.

“Cara yang tepat saya kira adalah dengan membangun satu jaringan yang terintegrasi secara penuh, dengan satu set layanan,” ujarnya. Bahkan, lokasi penempatan access point pun perlu memperhitungkan seberapa besar layanan yang bisa diberikannya.

“Sampai saat ini, survei lokasi selalu terpaku pada bagaimana cakupannya,” ujar Simone. “Kalau seperti itu caranya, Anda tidak tahu apakah akses tersebut bisa menyediakan bandwidth yang dibutuhkan untuk mendukung layanan yang akan Anda berikan. Mencakup 200 pengguna dengan rata-rata 500 kbps, atau 10 pengguna dengan 2 Mbps kan jelas beda,” lanjutnya.

Simone mengakui memang tidak mudah mengelola suatu WLAN. “Apa yang dibutuhkan adalah cara dalam mengelola seluruh access point yang ada sebagai satu entitas, dan bisa memperhitungkan biaya penggelarannya,” ujarnya.

Return on Investment

Berbicara WLAN memang tidak melulu mengenai hambatan-hambatan dalam implementasi maupun kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Di sisi lain, beberapa kajian yang dilakukan beberapa perusahaan TI juga melihat benefit yang bisa dihasilkan WLAN, apalagi kalau bukan return on investment (ROI) patokannya.

David Davidson, direktur business development SignaServices, sebuah perusahaan konsultan implementasi WLAN, mengatakan bahwa sedikit banyak juga didorong faktor ekonomi.


“Di saat situasi ekonomi tengah sulit, para pengambil keputusan cuma berpikir dua hal: meningkatkan produktivitas dan penghematan biaya. Dan itulah yang bisa dilakukan WLAN. Ia membutuhkan investasi yang tidak terlalu besar, namun ia akan meningkatkan produktivitas karyawan dan tempat kerja, serta menghemat biaya peremajaan dan pengkabelan,” ujar Davidson.

Dalam sejumlah kajian yang dilakukan vendor-vendor TI papan atas, antara lain Intel, Cisco dan beberapa perusahaan lainnya terungkap bahwa implementasi WLAN bisa memberikan ROI yang positif dengan menurunkan biaya atau memperbaiki revenue melalui produktivitas dan efisiensi. (lihat tabel)

ROI yang positif itu bisa dinikmati dari kombinasi berbagai macam hal, antara lain raryawan memperoleh tanggapan yang lebih cepat dari/ke stakeholder-nya (customer, pemasok dan rekan kerja). Misalnya, karyawan bisa menjawab e-mail lebih cepat, karena ia bisa mengerjakannya dimana saja ia berada. Selain itu, kolaborasi pun semakin baik, artinya karyawan tidak perlu lagi saling berebut ruang rapat. Mereka bisa berkolaborasi di ruang mana saja, di atrium, lorong kantor, atau bahkan di tengah-tengah kafetaria. Dari sisi penyiapan ruang kumpul seperti ini, WLAN bisa menyediakan akses tanpa harus menambah biaya, misalnya untuk menarik kabel jaringan.

Di sisi lain, implementasi WLAN seperti yang diungkapkan Davidson juga memungkinkan untuk memaksimalkan value dari tempat kerja. Ada kasus menarik mengenai hal ini, seperti diungkapkan Irfan Setiaputra, country manager Cisco Indonesia. Sebuah perusahaan ritel nasional, Ramayana, menempuh strategi perubahan lay-out department store sesering mungkin untuk menarik pengunjung. Pasalnya, sales record perusahaan tersebut memang menunjukkan ada keterkaitan antara perubahan pemajangan produk dengan penataan konter pembayaran dengan trafik pengunjung dan peningkatan pendapatan, khususnya di hari-hari besar.

Memindahkan display barang relatif mudah dilakukan, namun tidak halnya dengan Point-of-Sale (POS)-nya, karena ini menyangkut jejaring kabelnya. Di sisi lain perusahaan pun perlu menjamin tidak ada downtime antara lokasi toko dengan MIS, dimana data stok dan penambahan produk terus diperbarui.

Nah, untuk menjawab masalah fleksibilitas ini, Ramayana pun berpaling dari POS tradisional ke WLAN POS. Dengan cara ini, Ramayana secara dramatis bisa memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk relokasi terminal POS baru dari sehari menjadi cukup dua jam saja. Di sisi lain, pemeliharaan pun lebih mudah, karena infrastruktur semacam ini tidak membutuhkan kabel. Jadi tidak perlu lagi khawatir terjadi downtime hanya gara-gara kabel terlepas atau putus akibat ulah tikus.

Implementasi WLAN di perusahaan memang tidak sesederhana kita menirkabelkan komputer-komputer pribadi di rumah. Jika faktor-faktor yang menghambat penerapan WLAN untuk perusahaan bisa teratasi, apakah itu masalah security, pembangunan maupun pengelolaannya, niscaya ke depan WLAN akan semakin meluas digunakan. Apalagi ketika para pekerja mobile semakin bergantung pada komunikasi elektronik, tuntutan pengguna dan potensi untuk meningkatkan produktivitas akan mendorong implementasi jaringan nirkabel oleh kalangan perusahaan.

Boleh jadi sebagian besar perusahaan sekarang mengambil sikap “jika semua orang sudah melakukannya, maka kita pun harus melakukannya.”•

Foto-foto: istimewa
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.