Kalau
beberapa kendala yang ada sekarang ini teratasi, penerapan
WLAN di lingkungan korporasi diperkirakan akan semakin
merebak. Apa pertimbangannya?
|
|
Wi-Fi
di setiap rumah, Wi-Fi di setiap kafe. Kelihatannya memang
mengasyikkan. Access point atau hotspot, yang memungkinkan
sambungan broadband Internet secara nirkabel kini sudah dapat
dijumpai di tempat publik dan menciptakan lonjakan permintaan
layanan Wi-Fi. Namun toh kalangan enterprise, yang biasanya
menjadi motor penggerak diterimanya suatu cutting-edge technologies
menunjukkan sikap dingin, tidak begitu antusias dengan wireless
local area network (WLAN).
Sekalipun WLAN sudah banyak dimanfaatkan oleh para individu
yang sangat mobile, penggunaan di kalangan bisnis memang ketinggalan,
bahkan dibandingkan dengan penggunaan rumah (home use), kata
perusahaan riset IDC belum lama ini.
Namun, di beberapa sektor seperti kesehatan, pendidikan tinggi
dan manufaktur Wi-Fi memperoleh daya tarik. Menurut seorang
analis IDC, Abner Germanow, penggunaan WLAN di kalangan enterprise
terbagi menjadi dua kategori, penggunaan internal, seperti
di rumah-rumah sakit, kampus dan di industri hospitality seperti
hotel dan bandara. Yang kedua adalah akses mobile Internet
oleh perusahaan-perusahaan besar, yang memanfaatkan Wi-Fi untuk
memungkinkan para pekerja lapangannya men-dial suatu layanan
koneksi.
“Wi-Fi memang relatif baru, belum teruji, dan sekalipun
begitu banyak gembar-gembor seputar Wi-Fi, toh belum ada pembangunan
infrastruktur secara besar-besaran (di kalangan perusahaan),” ujar
Germanow.
Jumlah perusahaan yang bereksperimen dengan jaringan nirkabel
memang tengah tumbuh, namun mengeluarkan biaya untuk meluncurkan
sebuah teknologi baru bisa menjadi masalah, kata Germanow.
“Apakah ada aplikasi-aplikasi tertentu untuk para
mobile user yang akan bisa meningkatkan produktivitas, atau
apakah ini
sekedar memberikan kemewahan? “ tukas Germanow.
Untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan
misalnya, mungkin lebih gampang membuat sebuah business case
penerapan Wi-Fi, karena basis penggunanya biasanya bermobilitas
tinggi. Untuk kalangan akademis, WLAN bisa memberikan konektivitas
ke daerah-daerah perpustakaan atau asrama, yang digunakan oleh
sekelompok besar individu, yang juga sering berpindah-pindah
tempat.
Menurut Philip Redman, vice president Gartner Research, masalah
security dan kebingungan mengenai standar WLAN juga menjadi
penyebab kurang luasnya penyebaran Wi-Fi di kalangan enterprise. “Sekalipun
masalah ini tengah diatasi, masih banyak perusahaan yang enggan
memanfaatkan Wi-Fi,” kata Redman.
“Kalangan perusahaan lambat dalam mengadopsi jaringan
nirkabel karena masih ada lubang-lubang pada security-nya,
kerumitan
penggelarannya, masalah pengelolaannya dan return on investment
yang diterimanya,” timpal Steve Nye, general manager
Building Broadband Solutions unit, Cisco Systems.
Security WLAN generasi pertama memang banyak mengandung kelemahan,
namun masalah itu sudah teratasi dengan Wi-Fi Protected Access
(WPA) dan standar baru yang akan dikeluarkan Institute of Electrical
and Electronics Engineers (IEEE) yaitu 802.11i.
“802.11i menjanjikan enkripsi yang lebih kuat, key
management dan otentikasi yang lebih baik,” ujar Nye.
Menurut managing director Wi-Fi Alliance, Frank Hanzlik, standar
802.11i dijadwalkan akan diratifikasi bulan Juni mendatang,
dan diharapkan, produk-produk yang menggunakan standar ini
juga akan tersedia pada saat yang sama. Sampai saat itu, Wi-Fi
Protected Access (WPA)-lah yang akan mengatasi masalah security
tersebut.
“WPA menjembatani celah antara WEP (wireless equivalent
privacy, yang merupakan standar security Wi-Fi pertama) dan
802.11i,” ujar
Hanzlik.
Sekalipun demikian, WPA, yang dianggap sebagai perbaikan yang
signifikan dibandingkan WEP, ternyata juga memiliki kelemahan.
Menurut Angelo Lamme, international business development manager
for wireless, 3Com, para hacker ternyata bisa menembus WPA,
khususnya apabila menggunakan passphrase yang pendek.
“Walaupun para hacker sulit menembus ketika pengguna
menggunakan passphrase yang lebih panjang, ternyata masih banyak
yang tidak
membuat passphrase yang kuat untuk membentengi jaringannya,” ujar
Lamme.
Sikap pengguna yang sembrono juga semakin memperparah keadaan.
Sekalipun fitur security-nya lengkap, mereka tidak memanfaatkannya
secara optimal.
“Kadang-kadang pengguna sendiri tidak menyadari bahwa
WLAN-nya mudah ditembus, dan bahkan mereka tidak mengaktifkan
WEP dan
user authentication untuk melindungi dirinya,” ujar Gary
Lau, konsultan teknis RSA Security untuk Asia bagian utara.
Selain security, masalah penerapan dan pengelolaan WLAN juga
menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi perusahaan yang menerapkannya.
Seperti halnya penerapan Wi-Fi di tingkat konsumen rumahan
atau pribadi, penggunaan Wi-Fi di perusahaan terutama di dorong
oleh pengguna, sekalipun caranya mungkin kurang berkenan bagi
para manajer TI.
“Itu sih cerita lama,” ujar Doug Klein, CTO Vernier Networks,
sebuah perusahaan vendor Wi-Fi switch. “Kami pernah melihat
sebuah tren dimana pengguna LAN enterprise membeli sendiri
sebuah access point untuk mendapatkan kenyamanan menggunakan
WLAN. Tanggapan dari para manajer TI kalau tidak mengabaikan,
ya melarangnya, karena mereka mengkhawatirkan security-nya,” jelasnya.
“ Namun demikian, sekali pengguna tergantung pada konektivitas
nirkabel tersebut, para manajer TI kemudian cenderung menerimanya,” tambah
Klein.
Masalahnya tidak sekedar itu. Menerima Wi-Fi dan menjalankan
Wi-Fi bukanlah hal yang sama, karena yang terakhir ini melibatkan
strategi penggelaran yang terencana. Dan perbedaan ini menjadi
sangat penting karena menambah akses nirkabel ke sebuah LAN
enterprise akan meningkatkan masalah pengelolaan yang tidak
dijumpai di LAN kabel.
“LAN masa kini mudah digelar, dan Anda bisa mencantelkan
lebih banyak hal ke sebuah LAN dengan hanya menjumpai sedikit
kesulitan,” jelas
Klein. “Nirkabel memiliki masalah yang berbeda – ia
bersifat analog, memiliki masalah interferensi, dan tidak memiliki
kapabilitas linear scaling. Di sisi lain, LAN kabel siap memberikan
kapasitas, cakupan dan konsistensi yang diinginkan dan diharapkan
pengguna. Dengan WLAN, hal itu sulit dilakukan.”
Masalahnya akan bertambah ketika jumlah access point-nya makin
banyak. “Access point itu harus dikonfigurasi satu satu,
dan untuk melakukannya, Anda membutuhkan staf dengan keahlian
RF (radio frequency), yang tentunya akan menambah biaya lagi,” tukas
Alan Cohen, VP marketing Airespace, sebuah perusahaan yang
memroduksi perangkat WLAN.
“
Masalah lainnya, para manajer TI tidak bisa ‘melihat’ secara
fisik jaringan itu sendiri. Sinyal RF itu kan tidak bisa disuruh
pergi menuju ke tempat yang Anda inginkan – artinya bisa
timbul gap dalam coverage-nya. Bisa jadi malah ia akan nyelonong
ke tempat yang tidak Anda inginkan, misalnya tempat parkir.
Artinya, perusahaan memang perlu mempertimbangkan masak-masak
dan berpikir strategis sebelum menggelar WLAN. Sedangkan rata-rata
perusahaan saat ini menurut Dan Simone, VP product management
Trapeze Networks, sebuah perusahaan penyedia solusi nirkabel,
selalu berbicara mengenai jejaring nirkabel yang terpisah,
atau nirkabel sebagai tambahan atau add-on untuk akses.
“Cara yang tepat saya kira adalah dengan membangun
satu jaringan yang terintegrasi secara penuh, dengan satu set
layanan,” ujarnya.
Bahkan, lokasi penempatan access point pun perlu memperhitungkan
seberapa besar layanan yang bisa diberikannya.
“Sampai saat ini, survei lokasi selalu terpaku pada
bagaimana cakupannya,” ujar Simone. “Kalau seperti itu caranya,
Anda tidak tahu apakah akses tersebut bisa menyediakan bandwidth
yang dibutuhkan untuk mendukung layanan yang akan Anda berikan.
Mencakup 200 pengguna dengan rata-rata 500 kbps, atau 10 pengguna
dengan 2 Mbps kan jelas beda,” lanjutnya.
Simone mengakui memang tidak mudah mengelola suatu WLAN. “Apa
yang dibutuhkan adalah cara dalam mengelola seluruh access
point yang ada sebagai satu entitas, dan bisa memperhitungkan
biaya penggelarannya,” ujarnya.
Return on Investment
Berbicara WLAN memang tidak melulu mengenai hambatan-hambatan
dalam implementasi maupun kelemahan-kelemahan yang dimilikinya.
Di sisi lain, beberapa kajian yang dilakukan beberapa perusahaan
TI juga melihat benefit yang bisa dihasilkan WLAN, apalagi
kalau bukan return on investment (ROI) patokannya.
David Davidson, direktur business development SignaServices,
sebuah perusahaan konsultan implementasi WLAN, mengatakan bahwa
sedikit banyak juga didorong faktor ekonomi.
“Di saat situasi ekonomi tengah sulit, para pengambil
keputusan cuma berpikir dua hal: meningkatkan produktivitas
dan penghematan
biaya. Dan itulah yang bisa dilakukan WLAN. Ia membutuhkan
investasi yang tidak terlalu besar, namun ia akan meningkatkan
produktivitas karyawan dan tempat kerja, serta menghemat biaya
peremajaan dan pengkabelan,” ujar Davidson.
Dalam sejumlah kajian yang dilakukan vendor-vendor TI papan
atas, antara lain Intel, Cisco dan beberapa perusahaan lainnya
terungkap bahwa implementasi WLAN bisa memberikan ROI yang
positif dengan menurunkan biaya atau memperbaiki revenue melalui
produktivitas dan efisiensi. (lihat tabel)
ROI yang positif itu bisa dinikmati dari kombinasi berbagai
macam hal, antara lain raryawan memperoleh tanggapan yang lebih
cepat dari/ke stakeholder-nya (customer, pemasok dan rekan
kerja). Misalnya, karyawan bisa menjawab e-mail lebih cepat,
karena ia bisa mengerjakannya dimana saja ia berada. Selain
itu, kolaborasi pun semakin baik, artinya karyawan tidak perlu
lagi saling berebut ruang rapat. Mereka bisa berkolaborasi
di ruang mana saja, di atrium, lorong kantor, atau bahkan di
tengah-tengah kafetaria. Dari sisi penyiapan ruang kumpul seperti
ini, WLAN bisa menyediakan akses tanpa harus menambah biaya,
misalnya untuk menarik kabel jaringan.
Di sisi lain, implementasi WLAN seperti yang diungkapkan Davidson
juga memungkinkan untuk memaksimalkan value dari tempat kerja.
Ada kasus menarik mengenai hal ini, seperti diungkapkan Irfan
Setiaputra, country manager Cisco Indonesia. Sebuah perusahaan
ritel nasional, Ramayana, menempuh strategi perubahan lay-out
department store sesering mungkin untuk menarik pengunjung.
Pasalnya, sales record perusahaan tersebut memang menunjukkan
ada keterkaitan antara perubahan pemajangan produk dengan penataan
konter pembayaran dengan trafik pengunjung dan peningkatan
pendapatan, khususnya di hari-hari besar.
Memindahkan display barang relatif mudah dilakukan, namun tidak
halnya dengan Point-of-Sale (POS)-nya, karena ini menyangkut
jejaring kabelnya. Di sisi lain perusahaan pun perlu menjamin
tidak ada downtime antara lokasi toko dengan MIS, dimana data
stok dan penambahan produk terus diperbarui.
Nah, untuk menjawab masalah fleksibilitas ini, Ramayana pun
berpaling dari POS tradisional ke WLAN POS. Dengan cara ini,
Ramayana secara dramatis bisa memperpendek waktu yang dibutuhkan
untuk relokasi terminal POS baru dari sehari menjadi cukup
dua jam saja. Di sisi lain, pemeliharaan pun lebih mudah, karena
infrastruktur semacam ini tidak membutuhkan kabel. Jadi tidak
perlu lagi khawatir terjadi downtime hanya gara-gara kabel
terlepas atau putus akibat ulah tikus.
Implementasi WLAN di perusahaan memang tidak sesederhana kita
menirkabelkan komputer-komputer pribadi di rumah. Jika faktor-faktor
yang menghambat penerapan WLAN untuk perusahaan bisa teratasi,
apakah itu masalah security, pembangunan maupun pengelolaannya,
niscaya ke depan WLAN akan semakin meluas digunakan. Apalagi
ketika para pekerja mobile semakin bergantung pada komunikasi
elektronik, tuntutan pengguna dan potensi untuk meningkatkan
produktivitas akan mendorong implementasi jaringan nirkabel
oleh kalangan perusahaan.
Boleh jadi sebagian besar perusahaan sekarang mengambil sikap “jika
semua orang sudah melakukannya, maka kita pun harus melakukannya.”•
Foto-foto: istimewa |