Teknologinya
telah tersedia, alternatif pemanfaatannya pun bervariasi.
Akankah Wi-Fi menjadi pilihan publik?
|
|
Teknologi
wireless local area network (WLAN) atau disebut juga Wi-Fi
(wireless fidelity) saat ini telah tersedia, baik yang berstandar
802.11b yang lebih dulu popular dan banyak didukung pembuat
perangkat (laptop, PDA, ponsel dan lainnya) maupun 802.11a,
802.11g yang baru dikeluarkan. Atau yang sekarang ini tengah
dimantapkan, yakni 802.16 (WiMax – Worldwide Interoperability
for Microwave Access) yang berskala dunia.
Di Indonesia insiatif pengembangan Wi-Fi hotspot, selain dilakukan
secara terpisah, seperti yang dilakukan Telkomsel, CBN dan
yang lainnya, juga tengah digalakkan oleh sebuah konsorsium:
Indonesian Wi-Fi Consortium. Konsorsium yang terbentuk September
2003 lalu ini didukung oleh sejumlah perusahaan besar, di antaranya:
Acer Indonesia, CBN, Cisco System Indonesia, Intel Indonesia
Corporation, Microsoft Indonesia, Polaris.Net, serta Elexmedia
Komputindo.
Konsorsium ini diharapkan mampu mendorong peningkatan ketersediaan
Wi-Fi hotspot di Indonesia dari sekarang ini ke depan. Selain
untuk semakin berkembangnya bisnis pengelolaan Wi-Fi hotspot,
juga sekaligus sebagai nilai tambah layanan lainnya, seperti
kafe, bandara maupun hotel.
Peningkatan perkembangan Wi-Fi hotspot di Indonesia, tentu
sejalan dengan pertumbuhan secara umum di kawasan Asia Pasifik.
Laporan IDC (International Data Corporation) yang dikeluarkan
awal Desember 2003 lalu, menunjukkan bahwa layanan Wi-Fi hotspot
tumbuh secara konstan dalam 18 bulan belakangan ini. Jumlah
pelanggannya pun meningkat 13 kali lipat antara kurun waktu
2002-2003.
Sampai Juni 2003, menurut IDC tercatat sekitar 400.000 pelanggan
di seluruh Asia-Pasifik (di luar Jepang), dan menghasilkan
pendapatan sebesar 13 juta dolar AS. Hingga akhir 2003 lalu,
tak kurang 700 ribu pelanggan telah memanfaatkan Wi-Fi hotspot
dan menghasilkan pendapatan total sekitar 44 juta dolar AS.
Sampai tahun 2008, basis pelanggan WLAN publik ini diperkirakan
bisa mencapai 7 juta dengan pendapatan total lebih dari 600
juta dolar AS.
 |
| Irfan Setiaputra, Managing
Director PT Cisco System Indonesia |
Pemanfaatan teknologi Wi-Fi ini tak semata-mata hanya untuk
pengguna publik seperti di kafe, restoran, hotel, bandara dan
lainnya. Melainkan, banyak juga penggunaan untuk kepentingan
korporasi. Survei yang dilakukan InfoTech, perusahaan riset
berbasis di New York, bahwa sekitar 45% perusahaan Amerika
telah menerapkan jaringan tanpa kabel Wi-Fi ini, meningkat
dari hanya 17% tahun 2001, dan 33% tahun 2002. Belakangan,
teknologi yang sama juga diterapkan di rumah-rumah sakit, industri
manufaktur dan industri lainnya.
Contoh lain yang juga cukup menarik adalah penerapan WLAN di
lingkungan Microsoft, yang tak hanya diterapkan di lingkungan
70 gedung di Redmond, melainkan juga di 23 lokasi di mancanegara.
Penerapannya dimulai ketika tahun 2001, Microsoft mencanangkan
suatu pilot project dengan 600 pengguna, yang kemudian diputuskan
untuk diterapkan secara menyeluruh. Selain teknologinya aman
dan mudah dikelola, Microsoft tak segan-segan menghabiskan
9 juta dolar AS untuk penerapan jaringan WLAN ini yang ditujukan
untuk melayani sekitar 35 ribu karyawannya di seluruh dunia.
Selain itu, Cisco System sendiri, yang banyak terkait dengan
teknologi ini, juga telah menerapkannya untuk seluruh karyawan
yang tersebar di mancanegara. Begitu juga Qualcomm yang menyediakan
sekitar 1.500 kartu PCMCIA dan 628 laptop berkemampuan Wi-Fi
untuk mendukung jaringan tanpa kabel yang dibangunnya. Masih
banyak perusahaan-perusahaan lainnya yang telah menerapkan
teknologi tersebut.
Seperti diakui Irfan Setiaputra, Managing Director PT Cisco
System Indonesia, bahwa sebenarnya, perkembangan penerapan
teknologi WLAN ini terjadi baik di sektor korporat maupun konsumen
publik. Hanya saja, perkembangan di sektor konsumen publik
ini yang terasa lebih luas dan juga didukung oleh vendor perangkat
keras dengan berbagai produk yang bervariasi, mulai dari laptop,
PDA, PC maupun ponsel yang berkemampuan Wi-Fi.
Di Indonesia, para pengguna Wi-Fi masih terbilang baru, dan
mulai awal tahun 2004 inilah terasa ada peningkatan perhatian
yang besar untuk memanfaatkan teknologi Wi-Fi, baik di lingkungan
rumah, korporat maupun tempat-tempat publik.
Berbagai pertimbangan masih menjadi alas an di antara mereka-mereka
yang akan menerapkan teknologi Wi-Fi ini, khususnya di lingkungan
korporat. Baik itu menyangkut kematangan teknologi, standarisasi
dan security. Begitu juga, dukungan berbagai perangkat yang
Wi-Fi enabled, karena hal itu terkait dengan pengembangan sistem
dan besarnya investasi yang bakal ditanamkan.
Dalam konteks ini, Irfan mengemukakan bahwa secara teknologi,
Wi-Fi telah sampai pada kematangannya, begitu juga security-nya,
ditambah lagi dengan dikeluarkannya standar 802.11g yang bekerja
pada frekuensi 2,4 GHz dengan kecepatan transfer data sebesar
54 Mbps. “Secara fakta teknologinya sudah cukup matang.
Yang sekarang ini ada lebih merupakan persepsi,” ujar
Irfan menambahkan.
“Selama ini, kita kan bertahun-tahun berada di lingkungan
kubus tertentu kalau bekerja. Jika pun pindah ke ruangan lain,
namun
tempat itulah yang menjadi lokasi di mana kita bekerja. Kita
juga tidak bisa mengerjakan pekerjaan kita di ruang lain, karena
PC kita ada di ruang kerja. Kalau pun bawa laptop, tak bisa
terhubung ke Internet, kecuali di tempat-tempat tertentu, karena
aksesibilitasnya memang terbatas,” tambah Irfan.
“ Nah, dengan adanya teknologi Wi-Fi ini kita bebas bekerja
di mana dan dari mana saja selama aksesibilitasnya terjangkau.
Pergerakan kita dari satu ruang ke ruang lain, meski dalam
satu gedung, tak terbatasi oleh ketersediaan jaringan kabel,” ujar
Irfan menambahkan. Kalau pun berada di luar kantor, kegiatan
bisnis tetap bisa dilakukan. Begitu juga akses ke jaringan
intranet perusahaan dapat dilakukan sambil minum kopi di kafe,
bandara atau lobi hotel.
Sebaliknya, penerapan di lingkungan korporasi, tentu didasarkan
pada adanya keperluan yang tepat dan strategis. Keperluan untuk
mengubah lay-out tempat kerja, atau karena adanya keperluan
di tempat yang berbeda, seperti di ruang meeting atau conference
room yang ada di lantai yang berbeda dalam suatu gedung misalnya,
teknologi Wi-Fi inilah solusinya.
Belakangan ini, di lingkungan front office suatu perbankan
pun tampaknya dibutuhkan inovasi melalui penerapan teknologi
Wi-Fi ini. Misalnya, para petugas front office tak hanya terpaku
di meja kerjanya, melainkan dapat mendatangi nasabahnya di
tempat yang lebih nyaman, yang jauh dari meja kerjanya. Dengan
berbekal laptop yang Wi-Fi enabled, si petugas dapat melayani
nasabahnya sambil ngobrol, tetapi data dan informasi yang dibutuhkan
tetap dapat dengan mudah diakses tanpa harus bolak-balik dari
tempat nasabah ke meja kerjanya, meski masih dalam satu gedung.
Begitu juga dengan hotel, yang dapat menerapkan teknologi ini
secara lebih luas, mulai dari resepsionis, kafe, restoran hingga
ke kamar dan bahkan business room dan layanan lainnya. Begitu
juga kegiatan administratif yang selama ini terpaku oleh ketersediaan
jaringan kabel. Diharapkan hal itu akan mendorong produktivitas,
peningkatan pelayanan dan penghematan biaya.
Contoh lain yang menarik adalah aplikasi Wi-Fi di gerai Ramayana,
yang menurut Irfan merupakan contoh kasus bagaimana Wi-Fi mampu
memberi solusi. Ramayana menerapkan teknologi Wi-Fi ini lebih
karena kebutuhan untuk memudahkan menata lay-out gerainya untuk
setiap kali dilakukan perubahan, termasuk memindah-mindahkan
lokasi kasir, tanpa diribetkan dengan masalah jaringan kabel.
Pemanfaatan teknologi Wi-Fi ini, sebagai andalan dalam membangun
jaringan tanpa kabel untuk berbagai kebutuhan, tampaknya tak
hanya menyangkut public WLAN atau Wi-Fi hotspot saja. Melainkan
juga penggunaannya di lingkungan rumah, yang dapat mengakomodasi
jaringan tanpa kabel baik untuk ponsel, PC, laptop dan juga
PDA.
Selain teknologi Wi-Fi ini, teknologi wireless lain, misalnya
Bluetooth juga semakin banyak digunakan. Meski masih dalam
tahap awal penerapannya, namun Ignatius Winarto, Country Manager
Lexmark International, mengakui bahwa teknologi tanpa kabel
ini, baik Wi-Fi maupun juga Bluetooth, nantinya akan semakin
banyak digunakan. Sekarang ini, tambahnya, berbagai perangkat
elektronik, seperti printer, lemari es, dan bahkan perangkat
hiburan pun telah menerapkan teknologi tersebut. Tapi, ke depan,
jaringan tanpa kabel akan semakin dibutuhkan.
Itu pula mengapa, berdasarkan berdasarkan laporan riset diketahui
bahwa lebih dari 80% pengguna teknologi WLAN yang sekarang
ini akan terus mengembangkan jaringannya dalam tahun-tahun
mendatang. Setidaknya, gambaran ini semakin menunjukkan bahwa
penerapan teknologi Wi-Fi telah semakin luas dan dipercaya
mampu memberi solusi bagi berbagai kebutuhan, baik banyak orang
di lingkungan korporasi maupun lokasi publik, dan juga di rumah.
Namun, perkembangan ini tetap masih menyisakan pertanyaan “akankah
Wi-Fi menjadi pilihan yang semakin mantap, atau sebaliknya
akan terpuruk sebagaimana fenomena dot-com beberapa tahun lalu?” Who
knows? •Insa
Foto-foto: mithun |