Volume II No 14 - Februari 2004
 


CDMA yang Laris Manis

 

Teknologi CDMA kini masuk ke negara-negara pemuja teknologi GSM.
Efisiensi dan kemampuan transmisi datanya membuat banyak operator kepincut CDMA.

Pelan tapi pasti, teknologi CDMA (code division multiple access) makin digandrungi oleh operator di berbagai belahan dunia. Penyebaran teknologi CDMA yang mutahir, CDMA2000 di pasar global menurut CDMA Development Group (CDG) telah mencapai 67 operator dunia.
Bahkan pada tahun 2004 ini akan bertambah lagi sekitar 17 operator, termasuk Indonesia (PT Mobile-8 Telecom) dan Malaysia (Telekom Malaysia). Luar biasa!

Pertumbuhan operator ini segaris dengan perkembangan pelanggannya. Saat ini jumlah pelanggan CDMA global mencapai 65.565.000 jaringan, dan 63 juta sudah menggunakan teknologi CDMA2000 1X. Sementara pertumbuhan rata-rata pelanggannya mendekati empat juta per bulan. “Sekitar 30 persen lebih pelanggan CDMA sudah menggunakan layanan 3G,” kata Perry LaForge, founder, executive director and chairman CDG.

Ke depan, jumlah pelanggan CDMA2000 diperkirakan akan terus tumbuh hingga mendekati jumlah pelanggan GSM (global system for mobile communication) global, karena para operator CDMA2000 makin memahami kebutuhan konsumennya. Salah satu yang meyakini itu adalah Ake Perrson, President CDMA System Ericsson Wireless Communications Inc. “Teknologi CDMA berkembang sangat pesat, sehingga mendorong tingginya permintaan layanan CDMA2000 1X. Perkembangan ini akan berlanjut dan mengambil pangsa pasar yang cukup signifikan dari teknologi nirkabel lainnya,” kata Perrson.

Keyakinan Perrson tidak berlebihan. Prediksi data Deutsche Bank, market share CDMA2000 diperkirakan akan berlipat ganda pada lima tahun mendatang hingga mencapai 487 juta pelanggan. Pada 2008 market share dari pelanggan CDMA2000 yang menggunakan teknologi 3G ditaksir akan mencapai 50 persen, sedangkan pelanggan GSM hanya 9%.

John Beale, Wakil Presiden Pemasaran Qualcomm CDMA Technologies menyebutkan, posisi pelanggan CDMA secara global selama kuartal I/2003 mencapai 154 juta pelanggan dan 50 juta di antaranya merupakan pelanggan 3G CDMA2000 1X. Menurut dia, perkembangan pasar 3G CDMA yang cukup pesat tersebut tidak lepas dari keunggulan fitur layanan terutama data yang sekaligus juga menawarkan peluang bisnis baru bagi industri wireless (nirkabel). “Perkembangan pasar yang sangat pesat itu juga telah mendorong peningkatan jumlah peralatan 3G CDMA yang dikomersialkan. Kami melihat persentasi pertumbuhan pasar CDMA relatif lebih tinggi dibanding GSM dan Asia Pasifik termasuk kawasan yang penetrasi pasarnya cukup berkembang,” papar John.

Sebelumnya, perusahaan riset IDC menyebutkan layanan seluler 3G diperkirakan akan menjangkau sekitar 69 juta pelanggan pada 2007 atau mencapai 77,6 persen dibanding pelanggan telepon seluler PHS (personal handyphone system). Pertumbuhan pasar 3G tersebut diperkirakan akan menghasilkan pendapatan sekitar US$54 miliar atau setara dengan 81,4 persen dari nilai total pasar saat itu, di mana rasio antara biaya komunikasi data terhadap total biaya bulanan ditaksir naik menjadi 26,1 persen pada 2007.

Perkembangan ini tidak berjalan sendiri. Menurut Perrson, para vendor, produsen handset, dan vendor teknologi informasi, serta industri terkait lainnya amat besar peranannya dalam memenuhi kebutuhan dan tuntutan konsumen. Dukungan itu terbukti dari sekitar 41 handset bermerek untuk CDMA200 1X, 360 model diproduksi oleh prabrikan global. Para pabrikan itu saat ini telah memproduksi handset yang yang bersifat dual-mode untuk CDMA2000 dan GSM. “Kebutuhan pasar amat dinamis. Bukan mustahil, teknologi GSM bisa kompatibel dengan CDMA2000,” kata LaForge.

Menurut Director Product and Technical Marketing CDMA System Ericsson Wireless Communication Inc., Peter Lancia, komunikasi antara CDMA2000 1X EV-DO (evolution data optimized) dan GSM memang sangat memungkinkan, selama platform-nya menggunakan teknologi yang standar. Menurut John Beale, sebetulnya sudah ada jembatan yang mempertemukan operator GSM masuk ke 3G dengan mengawinkan teknologi GSM dan CDMA 2000-1X. “Kami menyebutnya GSM 1X,” katanya. Ini, sekali lagi, akan membuat CDMA semakin diminati operator seluler dunia.

Salah satu faktor pendorong banyaknya operator tertarik pada CDMA adalah pengembangan teknologi CDMA 1xEV-DO yang memungkinkan transmisi data hingga kecepatan 2 Mbps. Ini diyakini akan mendorong pertumbuhan pasar CDMA dunia tahun ini sekaligus akan menjadi salah satu kunci sukses bagi operator. Selain itu, dari sisi biaya jaringan yang diperlukan untuk transmisi data, CDMA 1x-EV-DO tergolong paling rendah. Menurut Vice President Pengembangan Bisnis Qualcomm Jepang Jun Yamada, biaya untuk keperluan transmisi data 1 MB dengan menggunakan 1xEV-DO hanya US$0,022, sementara CDMA2000 1X (US$0,059), WCDMA (US$0,069), serta GSM/GPRS (US$0,415).

Selain itu, tambah Yamada, 1xEV-DO juga memiliki keunggulan dibandingkan lainnya dari segi kecepatan dengan kapasitas maksimum mencapai 2,4 Mbps, sedangkan CDMA2000 1X (308Kbps), WCDMA (384 Kbps), dan GSM/GPRS (108 Kbps). “Bagaimanapun efisiensi transmisi sangat identik dengan biaya. Dan biaya adalah segalanya dalam layanan komunikasi data. Traffic data akan terus meningkat sehingga kebutuhan pasar adalah fitur lebih lengkap dengan biaya rendah,” papar Yamada.

Jika diamati, terdapat perbedaan karakter pelanggan CDMA2000 di Asia dan Amerika. “Ada kesan tren penggunaan teknologi 3G CDMA 2000 di Asia lebih fokus ke konsumen individual, sedangkan di Amerika termasuk AS lebih terkonsentrasi pada segmen bisnis korporat,” papar Perry LaForge. Para operator CDMA2000 di Asia umumnya menyediakan layanan aplikasi yang sifatnya individual, seperti video on demand (VOD), music on demand (MOD), video phone dan TV broadcasting.

Contohnya SK Telecom dari Korea Selatan. Operator seluler ini pada Juni 2003 lalu meluncurkan layanan bergerak film bioskop, video musik, informasi trafik lalu lintas dan real-time news. Bahkan KDDI di Jepang, yang dalam tempo 18 bulan telah mencapai 10 juta pelanggan, menawarkan layanan downloads video hingga 1,5 MB atau sekitar 3 menit lamanya. Perry mengakui perkembangan pelanggan CDMA2000 memang relatif kecil dibandingkan dengan GSM. Tetapi di Asia, CDMA2000 1X berkembang sangat pesat, juga perkembangan teknologi handset-nya.

Bagaimana perkembangan CDMA, setidaknya bisa dilihat di Jepang, salah satu etalase keberhasilan CDMA di dunia. Di Jepang, operator CDMA 2000-1X adalah KDDI, yang dalam waktu 3 tahun sejak Desember tahun 1999 berkembang dari 3,5 juta pelanggan menjadi 13,3 juta pelanggan (Desember 2002) dan diharapkan menjadi 22,5 juta pelanggan (dari 127 juta penduduknya) Desember 2005. Jepang tidak mengadopsi teknologi GSM, tetapi mengoperasikan PDC (personal digital cellular) yang dasar teknologinya sama dengan GSM, dan dioperasikan oleh NTT DoCoMo. Selain PDC, J-Phone juga mengoperasikan teknologi lain, yaitu PHS, dan KDDI mengoperasikan CDMA.

Sebagai perusahaan dengan jaringan terluas, Flexi memang yang saat ini dominan di pasar.
Mengapa CDMA berkembang pesat di Jepang? Ini tak lain karena teknologi ini memenuhi semua kriteria yang dibutuhkan pelanggan. Dan yang penting, mereka didukung kemampuan para penyedia isi (content provider) lokal. Di Indonesia konten lokal tidak berkembang karena mereka tidak diberi peluang luas oleh para operator. Jika di banyak negara lain konten dianggap sebagai salah satu penunjang bisnis operator seluler, maka di Indonesia oleh operator mereka masih dianggap sebagai pihak yang ingin menumpang hidup.

Kenyataan empiris juga membedakan Jepang dengan Indonesia. Hingga saat ini, telepon seluler di Indonesia umumnya hanya digunakan untuk lalu lintas percakapan suara (80%) selain SMS (hampir 20%). Di Jepang, CDMA 1x sangat digandrungi masyarakat. Buktinya, data dari TCA (Telecommunication Carriers Association) menyebutkan, NTT DoCoMo yang sudah mengembangkan layanan 3G lewat WCDMA sejak November 2001 baru mampu meraih sekitar 535.000 pelanggan dari 44,3 juta pelanggannya pada Juni 2003. Sebaliknya, KDDI yang mulai mengoperasikan 3G lewat CDMA 2000-1X pada April 2002, tetapi pada bulan Juni 2003 sudah mendapat pelanggan 8,6 juta lebih untuk layanan 3G dari keseluruhan sekitar 15 juta pelanggannya.

Kesuksesan ini juga tidak berjalan sendiri. CDMA 2000-1X yang dioperasikan oleh KDDI mendapat dukungan luas dari para pembuat ponsel, baik dari Jepang sendiri maupun dari luar, khususnya dari pembuat ponsel Korea. Ponsel CDMA 2000-1X yang digunakan oleh pelanggan 3G dari KDDI umumnya sudah dilengkapi dengan kamera, yang bahkan bisa digunakan untuk video streaming dan percakapan video. Merek-merek yang tidak asing di telinga masyarakat Indonesia, tetapi dalam bentuk produk lain, semisal jam, radio, televisi, kini muncul dalam bentuk telepon seluler (ponsel) CDMA. Misalnya, Sanyo, Casio, Toshiba, juga Panasonic, Mitsubishi, dan NEC.

Selain Jepang, Korea Selatan dan Cina juga menjadi contoh kesuksesan teknologi CDMA. Di tiga negara itu, pertumbuhan pengguna CDMA sangat pesat. Kini selain oleh SK Telecom, di Korea Selatan CDMA 2000-1X juga dioperasikan oleh LG Telecom dan KTF. Bahkan, CDMA pita lebar (Wideband CDMA) juga sudah merasuk ke negara-negara yang “memuja” GSM selama ini, misalnya Swedia, Inggris, Austria, Italia (semua oleh Hutchison), dan Irlandia oleh Vodafone yang juga mengoperasikan J-Phone di Jepang.

Di Indonesia, teknologi CDMA pun mulai merangsek, di tengah sesaknya pemakaian teknologi GSM. Setelah Telkomflexi milik PT Telkom yang berbasis CDMA2000 1X, Esia (CDMA2000 1X) dari PT Bakrie Telecom, dan Fren dari PT Mobile-8 Telecom (CDMA2000 1x-EV-DO) milik Bimantara Citra Tbk, juga akan segera hadir operator lainnya, antara lain Indosat, dan Wireless Indonesia (CDMA2000 1x-EV-DO). Atau yang terakhir mendapat izin dari pemerintah untuk menyelenggaraan seluler 3G adalah PT Cyber Access Communications.

Namun, karena CDMA di Indonesia masih tergolong anak bawang, penguasaan pasarnya masih amat kecil. Operator telepon tanpa kabel berbasis CDMA (baik fixed maupun mobile) diproyeksikan hanya akan merebut pasar maksimal 2,5 juta pelanggan atau 10 persen dari total pemakai telepon seluler yang diperkirakan mencapai 21 juta pemakai pada 2004. Sekretaris Jenderal Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) Rudiantara menilai masuknya teknologi CDMA telah menumbuhkan dinamika pasar ponsel. Tetapi operator yang menggunakan teknologi itu masih belum teruji di pasar.

Tapi bukan mustahil, perkiraan ATSI meleset. Sebab, operator CDMA berancang-ancang akan menggelontorkan investasi besar-besaran. Telkom sendiri merencanakan akan menanamkan investasi sebesar Rp 1,4 triliun dengan target 300.000 pemakai hingga akhir 2003. Sedangkan Esia berencana menggelontorkan dana US$450 juta dalam jangka waktu lima tahun dengan target perolehan pelanggan 100.000 pada akhir 2003 dan 510.000 pada 2004. Untuk Mobile-8 Telecom, akan menginvestasikan dana sebesar US$120 juta dengan kemampuan 314.000 SST hingga akhir 2003. CDMA memang laris-manis. •KI


Foto-foto: Muflihun
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.