
Analisis
Keuangan untuk Implementasi TI
Saya
ingin bertanya kepada Pak Eko. Hal-hal apa saja yang perlu
menjadi pertimbangan utama dalam menerapkan suatu aplikasi – biaya
atau manfaat? Atau kedua-duanya sekaligus? Apakah analisis
keuangan dapat diandalkan dalam menilai berhasil tidaknya
suatu implementasi TI di suatu bagian atau perusahaan? Siapa
saja yang layak mempertimbangkan hal itu?
Sartono,
Asisten Manajer
Keuangan, Jakarta
Hakekat
penerapan sebuah aplikasi teknologi informasi adalah untuk
memberikan nilai tambah bagi organisasi yang menerapkannya,
dimana dalam perusahaan komersial prinsip ini disebut sebagai “business
value of information technology”. Dalam implementasinya,
besarnya manfaat tersebut memang harus sepadan dengan tingginya
biaya yang perlu dialokasikan untuk membangun aplikasi tersebut.
Oleh karena itulah maka setiap inisiatif penerapan aplikasi
teknologi informasi di perusahaan selalu dimulai dengan melakukan
kajian biaya dan manfaat atau yang lebih dikenal sebagai “cost
and benefit analysis”.
Pada masa-masa awal perkembangan komputer di dunia bisnis,
memang sejumlah praktisi manajemen merasa “cukup puas” dengan
penggunaan instrumen analisa keuangan seperti ROI (Return
On Investment) dalam memperbandingkan biaya dan manfaat.
Hal ini disebabkan karena pada saat itu, “value” atau
manfaat yang diberikan oleh komputer bagi dunia bisnis masih
terbatas pada peningkatan efisiensi proses kerja atau penggunaan
sumber daya. Karena formula matematis perhitungan efisiensi
tersebut cukup mudah – dengan memperbandingkan output
dan input dari sebuah proses tertentu – maka dapat
dilakukan komparasi antara kinerja perusahaan sebelum dan
sesudah aplikasi diterapkan. Selisih tingkat efisiensi itulah
yang kemudian dianggap sebagai manfaat yang diperoleh perusahaan
karena perbedaannya dapat dengan mudah dikonversikan ke dalam
satuan finansial seperti mata uang rupiah atau dolar. Maka
ROI dapat dengan mudah dihitung dengan cara membandingkan
hasil perhitungan tersebut dengan total biaya investasi pengembangan
aplikasi yang dikeluarkan.
Dalam perkembangannya, ternyata teknologi informasi tidak
sekedar memberikan manfaat efisiensi semata, namun lebih
jauh lagi menawarkan beragam jenis “value” yang
lain, seperti: peningkatan efektivitas, perbaikan kontrol
internal, penciptaan keunggulan kompetitif, pembentukan citra
atau “image” usaha, pemutakhiran proses kerja,
percepatan pengambilan keputusan, penghapusan kesalahan operasional,
dan lain sebagainya. Ketika aplikasi telah menyentuh manfaat
yang “intangible” dan “unquantifiable” inilah
maka model analisis keuangan konvensional dirasa tidak memadai
lagi. Oleh karena itulah ditemukan dan diperkenalkan sejumlah
pendekatan atau model lain ke dalam dunia usaha untuk mengukur
keberhasilan sekaligus manfaat dari penerapan sebuah aplikasi
teknologi informasi, seperti: Strategic Analysis and Evaluation,
Value Chain Assessment, Relative Competitive Performance,
Proportion of Management Vision Achieved, Return On Management,
Information Economics, Multi-Objective Multi-Criteria Method,
dan lain sebagainya.
Adapun mereka yang dianggap layak atau bertanggung jawab
untuk melakukan kajian manfaat dan biaya adalah para pimpinan
perusahaan, yang dalam hal ini diwakiloi oleh CEO (Chief
Executive Officer), CFO (Chief Financial Officer), dan CIO
(Chief Information Officer) atau dalam perusahaan kebanyakan
adalah Presiden Direktur, Direktur Keuangan, dan pimpinan
tertinggi yang bertanggung jawab terhadap pengembangan sistem
dan teknologi informasi di perusahaan.•
Sudah Optimalkah Penerapan
TI Anda?
Terima
kasih sebelumnya. Saya ingin mengajukan pertanyaan sebagai
berikut. Dalam memanfaatkan TI dalam suatu perusahaan, terkadang
ada kesulitannya dalam menilai apakah perangkat keras yang
kita beli benar-benar optimal pemanfaatannya?
Apa yang seharusnya menjadi pertimbangan saya untuk menerapkan
TI secara optimal, apakah jumlah komputer yang disediakan,
kemampuan SDM, kecanggihan peranti lunak? Bagaimana mengakumulasi
berbagasi aspek tersebut sehingga dapat menjadi pertimbangan
yang baik? Terima kasih.
Bernard Tambunan,
HR Manager, Surabaya
Pertanyaan senada juga di sampaikan oleh Mufti Karnadi,
Jakarta
Terlepas
dari keberhasilan sebuah perusahaan menerapkan teknologi
informasi yang dapat memberikan nilai tambah bagi bisnis
yang digelutinya, melakukan pengukuran terhadap tingkat
optimalisasi penggunaan sumber daya terkait dengan teknologi
informasi merupakan tantangan tersendiri. John Zachman
dalam teori “Arsitektur Sistem Informasi”-nya
mengkategorikan “sumber daya” yang dimaksud
sebagai: data (database), proses (software dan aplikasi),
teknologi (hardware dan fasilitas fisik), sumber daya manusia
(user atau pemakai), time (waktu), dan obyektif (sasaran
manfaat). Pemakaian atau konsumsi seluruh sumber daya ini
harus dilakukan seoptimal mungkin dengan tujuan terjadinya
penghematan biaya yang harus dialokasikan perusahaan terhadap
proses penerapan aplikasi teknologi informasi terkait,
sehingga keberadaannya dapat memberikan sedikit banyak
kontribusi bagi penciptaan keunggulan kompetitif usaha.
Cara yang paling ampuh untuk melihat sejauh mana sebuah
perusahaan telah memiliki kinerja pemanfaatan sumber daya
yang optimal adalah dengan melakukan proses “IT Audit” atau
yang oleh beberapa praktisi disebut sebagai “Information
Technology Effectiveness Review”. Melalui aktivitas
audit ini perusahaan tidak saja dapat secara jelas dan
detail mengetahui tingkat optimalisasi pemakaian sumber
daya teknologi informasi yang dimilikinya, namun di sisi
lain dapat pula memperoleh informasi mengenai aspek-aspek
penting lainnya, seperti: profil resiko bisnis yang dihadapi,
tingkat efektivitas penggunaan teknologi informasi, gambaran
kesepadanan manfaat dengan biaya yang harus dikeluarkan
untuk membangun aplikasi, dan lain sebagainya.
Pendekatan lain yang kerap dipergunakan pula untuk menilai
tingkat optimalisasi penerapan teknologi informasi adalah
dengan menggunakan konsep “Capability Maturity Model” yang
pada mulanya diperkenalkan oleh Software Engineering Institute
(Carnegie-Mellon University) dan kemudian dikembangkan
oleh Information Technology Governance Institute dalam
metode COBIT-nya (Common OBjectives for Information
and related Technology), dimana tingkat kematangan manajemen
sistem dan teknologi informasi dapat dibagi menjadi 6 (enam)
level, yaitu masing-masing:
- Nothing, adalah kondisi dimana perusahaan sama sekali
tidak perduli terhadap pentingnya teknologi informasi untuk
dikelola secara baik oleh manajemen.
- Ad-Hoc, adalah kondisi dimana perusahaan secara reaktif
melakukan penerapan dan implementasi teknologi informasi
sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan mendadak yang ada, tanpa
didahului dengan perencanaan sebelumnya.
- Repeatable, adalah kondisi dimana perusahaan telah memiliki
pola yang berulang kali dilakukan dalam melakuan manajemen
aktivitas terkait dengan tata kelola teknologi informasi,
namun keberadaannya belum terdefinisi secara baik dan formal
sehingga masih terjadi ketidakkonsistenan.
- Defined, adalah kondisi dimana perusahaan telah memiliki
prosedur baku formal dan tertulis yang telah disosialkan
ke segenap jajaran manajemen dan karyawan untuk dipatuhi
dan dikerjakan dalam aktivitas sehari-hari.
- Managed, adalah kondisi dimana perusahaan telah memiliki
sejumlah indikator atau ukuran kuantitatif yang dijadikan
sebagai sasaran maupun obyektif kinerja setiap penerapan
aplikasi teknologi informasi yang ada.
- Optimised, adalah kondisi dimana perusahaan dianggap
telah mengimplementasikan tata kelola manajemen teknologi
informasi yang mengacu pada “best practice”.
Dengan menggunakan “tools” yang telah disediakan
COBIT (dimana harus dilakukan analisa terhadap 34 proses
manajemen teknologi informasi), setiap perusahaan dapat
melakukan kajian terhadap tingkat kematangan manajemen
teknologi informasinya. Tentu saja semakin optimal perusahaan
dalam mengelola sumber daya teknologi informasinya, akan
semakin tinggi nilai akhir tingkat kematangan yang diperoleh.
COBIT juga memberikan sejumlah panduan bagi perusahaan
yang berniat untuk meningkatkan tingkat kematangannya,
agar yang bersangkutan dapat memperbaiki tingkat optimalisasi
yang ada tanpa mengesampingkan pencapaian manfaat bisnis
yang dicanangkan. • |