|
 |
Volume II No
15 - Maret 2004 |
|
CINA
Perusahaan Cina Bergabung dengan Open Source Group
Pengembangan
piranti lunak berbasis open source di Cina diperkirakan akan
semakin marak dengan bergabungnya perusahaan software Cina
terkemuka ke Open Source Development Labs (OSDL), sebuah
organisasi nirlaba yang didukung perusahaan-perusahaan TI
terkemuka untuk mendorong pengembangan penerapan Linux di
kalangan enterprise.
Menurut pihak OSDL, perusahaan Beijing Co-Create Open Source
Software rencananya akan memokuskan diri pada pengembangan
kernel Linux dan memromosikan Linux untuk desktop di Cina.
Co-Create merupakan perusahaan Asia kedua setelah NEC Soft
dari Jepang yang bergabung ke OSDL.
Co-Create, yang didirikan oleh 10 vendor lokal pada tahun
2001 lalu merupakan promotor komunitas open-source pertama
Cina, OpenDesktop.net, yang memusatkan perhatiannya pada
penggunaan Linux di desktop. Saat ini, perusahaan tersebut
tengah mengembangkan produk-produk komersial Linux untuk
desktop, membuat Linux kompatibel dengan sistem operasi lainnya
dan membangun sistem aplikasi jejaring.
Penggunaan piranti lunak open source di Cina kini memang
tengah meningkat. Awal tahun ini, Red Hat mengatakan bahwa
pihaknya membuka kantor di negeri ini dan berencana membangun
aliansi dengan perusahaan software yang bermarkas di Beijing,
Red Flag Software. Menurut Alex Pinchev dari Red Hat, sejak
pihak Cina agak enggan menggunakan piranti lunak yang isi
perutnya tidak bisa dipelajari, produk-produk open source
pun mulai dilirik.
Mengutip estimasi Beijing Software Industry Productivity
Centre, pihak OSDL mengatakan bahwa pertumbuhan penjualan
Linux di Cina cukup menjanjikan. Penjualan Linux diperkirakan
akan tumbuh lebih dari 40 persen per tahun, dari 6,3 juta
dolar AS di tahun 2002, menjadi 38,7 juta dolar AS di 2007.
Chief executive OSDL, Stuart Cohen menyambut gembira bergabungnya
perusahaan Cina ke OSDL. “Penggunaan Linux secara global
meningkat dengan cepat, dan kami berkomitmen untuk bekerja
sama dengan para anggota di seluruh dunia untuk mempercepat
pengadopsian Linux, khususnya di kalangan enterprise,” ujar
Cohen. •cn/aa
FILIPINA
Maskapai Penerbangan
Domestik Filipina
Terapkan e-Ticketing
Untuk tidak tertinggal dengan tren terkini di bisnis
penerbangan global, sebuah maskapai penerbangan lokal di
Filipina, Cebu Pacific Air (CEB) meluncurkan sebuah layanan
yang memungkinkan para calon penumpang membeli tiket melalui
saluran non-tradisional, termasuk Internet. Langkah yang
dilakukan CEB ini merupakan yang pertama untuk industri penerbangan
domestik Filipina.
E-ticketing memungkinkan para customer bertransaksi dan membayar
tiket pesawat melalui telepon, fax, e-mail atau melalui situs
web CEB. Menurut Danilo Mojica, general manager CEB, disamping
tiket biasa, perusahaannya akan mengeluarkan tanda terima
transaksi kepada calon penumpang melalui fax, e-mail, Internet
atau melalui konter jika si calon penumpang memilih untuk
menerima sendiri tiket dari loket tiket sebelum jam keberangkatan.
“Maskapai-maskapai penerbangan di seluruh dunia
sudah banyak yang melangkah ke e-ticketing. CEB ingin tetap
bisa mengikuti
tren global yang akan menguntungkan penumpang maupun maskapai
penerbangan itu sendiri,” ujar Mojica. Bagi sebuah
maskapai penerbangan, e-ticketing bisa memberikan keuntungan
berupa prosedur penjualan lebih cepat, layanan yang lebih
efisien, dan juga meningkatkan produktivitas karena beberapa
prosedur manual bisa diminimalkan, lanjut Mojica.
Proses pembelian tiket melalui sistem e-ticket yang ditawarkan
CEB pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan maskapai penerbangan
lain. Seorang calon penumpang cukup menelepon kantor pemesanan
atau log-in ke situs web CEB untuk memesan tiket. Calon penumpang
kemudian bisa membayar tiket pesanannya dengan fasilitas
pembayaran via Internet, phone banking, loket tiket atau
ATM. Untuk mendukung ini, CEB melakukan kerjasama dengan
Visa, Mastercard, dan Equitable PCI-Bank untuk menyediakan
layanan pembayaran yang aman. Asyiknya, menurut Mojica, CEB
tidak membebankan service fee untuk transaksi yang dilakukan
melalui e-ticketing.
Setelah konfirmasi pemesanan, CEB akan mengeluarkan sebuah
tanda terima transaksi e-ticket, yang juga memperlihatkan
rincian yang biasa kita jumpai di tiket biasa, seperti rencana
perjalanan, harga dan nomor tiket. Tanda terima ini bisa
dikeluarkan melalui sebuah loket, dan bisa pula dikirim melalui
faks atau e-mail untuk pemesanan yang dilakukan melalui telepon.
Calon penumpang yang tidak memiliki alamat e-mail atau nomor
faks bisa langsung mengambil tanda terima transaksinya sebelum
jam keberangkatan di kantor tiket 24-jam milik CEB di bandara
domestik Manila. Saat check-in, calon penumpang harus memperlihatkan
kartu identitas yang sah dan tanda terima transaksi untuk
bisa memperoleh boarding pass.
Layanan ini baru terbatas pada tiga jalur penerbangan saja. “Rencananya
kami akan menguji sistem ini untuk seluruh rute domestik
kami pada awal tahun ini,” ungkap Mojica. Pada akhir
tahun 2004 nanti, menurut Mojica, sistem e-ticketing juga
diterapkan untuk rute internasional.•
THAILAND
Thailand dukung
UKM dengan
e-Payment
Dua perusahaan Thailand, Internet Thailand, sebuah
perusahaan penyedia jasa Internet (ISP) dan TOT Corp, sebuah
BUMN pertelekomunikasian bekerjasama meluncurkan layanan
transaksi pembayaran kartu kredit dengan biaya murah untuk
mendorong perusahaan-perusahaan UKM menerima pembayaran dengan
kartu kredit.
Presiden Internet Thailand, Trin Tantsetthi mengatakan bahwa
layanan ini dinamakan Electronic Draft Capture (EDC) dan
akan membantu mengurangi biaya komunikasi untuk persetujuan
transaksi (transaction approval) ke sebuah bank.
Saat ini, sebuah merchant harus membayar ongkos tiga baht
(sekitar Rp 650) per transaksi, namun dengan EDC, service
fee-nya akan dikurangi menjadi satu baht (sekitar Rp 215)
per transaksi untuk wilayah Bangkok dan sekitarnya, serta
1,5 baht (sekitar Rp 325) per transaksi di propinsi lainnya.
Sistem EDC ini sendiri berjalan di atas jaringan nasional
milik TOT, sementara Inet sendiri berperan dalam pengelolaan
seluruh proyek, termasuk mencari sebuah software partner
dari Korea, mengelola jaringan dan menyediakan terminal EDC
berharga murah, yang harganya sekitar 6.000-8.000 baht (Rp
1,3 juta – Rp 1,7 juta) per unitnya. Unit EDC saat
ini biasanya berharga sekitar 20.000 baht atau sekitar Rp
4,3 juta.
Kim Eng, salah satu perusahaan sekuritas terbesar di Thailand,
meyakini bahwa sistem EDC ini akan menjadi sebuah proyek
besar sejalan dengan meningkatnya nasabah bank dan transaksi
elektronik.
Perusahaan ini merujuk ke statistik dari bank sentral negara
tersebut, yaitu Bank of Thailand, yang menunjukkan bahwa
perbankan Thailand sudah mengeluarkan sekitar 3,3 juta kartu
kredit sampai akhir triwulan ketiga 2003 lalu, atau meningkat
22 persen dari periode akhir 2002.
Selain itu, layanan ini juga akan tersedia luas karena persyaratan
volume untuk bisa memasang terminal EDC bagi merchant akan
kurang dari volume saat ini yaitu sekitar 200.000 baht per
bulan. Akibatnya, toko yang akan menggunakan layanan ini
akan meningkat dan konsekuensinya, volume transaksi ke bank
akan meningkat.
Dengan skala ekonomis dan kapasitas pengelolaan jaringan
yang dimilikinya, Inet bisa memberikan layanan ini ke bank
dengan harga lebih murah dibandingkan sistem-sistem yang
saat ini masih dikelola masing-masing bank, kata perusahaan
sekuritas Kim Eng.
Trin mengatakan layanan EDC merupakan layanan non-akses pertama
yang akan ditawarkan Inet tahun ini. Perusahaan ini rencananya
akan mendiversifikasikan bisnis Internetnya ke bidang-bidang
pemberian nilai tambah lainnya seperti layanan finansial
dan konten.
Menurut Trin, bisnis layanan non-akses ini akan tumbuh sekitar
40 persen per tahunnya, sementara layanan akses hanya tumbuh
25 persen per tahun. •bp/aa
KOREA SELATAN
Korea Bergabung dengan
Gerakan Anti-Spam Global
Korea Selatan bergabung dengan sebuah gerakan multinasional
untuk memerangi email-email unsolicited (tak dikehendaki)
dan terkadang bersifat ofensif atau lebih dikenal sebagai
spam yang kini tengah membanjiri ribuan bahkan jutaan email
box di seluruh dunia.
Menurut komisi perdagangan Korea,
Fair Trade Commission (FTC), gerakan yang dinamakan “Operation Secure Your
Server” ini diprakarsai oleh komisi perdagangan federal
AS atau U.S. Federal Trade Commission dan telah dipromosikan
ke 26 negara.
“Tujuan utama gerakan global ini adalah untuk
mencegah spam, junk mail online yang dikirim tanpa pandang
bulu ke berbagai
mailing list, individu atau newsgroup, dimana sering kali
isinya bersifat komersial. Perhatian utama upaya ini adalah
mencegah orang-orang tanpa otoritas secara diam-diam mengalirkan
spamnya melalui server-server Internet yang beroperasi
secara sah,” kata pejabat FTC, Kim Joo-hwan.
Komisi ini mengatakan bahwa sebagian besar server email
di seluruh dunia, termasuk sekitar 40.000 server di Korea
sendiri rentan terhadap upaya para spammer untuk secara
anonim mengirim spam dan kemudian memutuskan hubungan tanpa
bisa dilacak asal-usulnya.
Menurutnya, kerentanan ini bersumber dari “open proxy” yang
biasa ditempuh para operator server. Open proxy inilah,
yang menurut FTC membuat server email rentan terhadap tindak
penyalahgunaan oleh para spammer.
Sebuah server proxy biasanya menyediakan firewall dan security
jaringan kepada server komputer yang langsung terhubung
ke Internet. Namun, jika sebuah proxy tidak dikonfigurasi
secara tepat, seperti yang dijumpai pada open proxy, para
spammer bisa memanfaatkannya untuk me-relay email-email
spam.
Open proxy dan open relay memungkinkan orang-orang tanpa
otoritas, yang ingin menyembunyikan jati dirinya, menggunakan
komputer milik pihak ketiga untuk mengirimkan spamnya sekaligus
terhubung dengan host lainnya di Internet. Server-server
yang tidak aman ini menurut FTC Korea banyak tersebar di
seluruh dunia.
Untuk menyebarluaskan pesan peringatan, sebuah kelompok
badan pemerintah internasional telah mengirimkan sebuah
surat, yang diterjemahkan dalam 20 bahasa, kepada para
pengelola server komputer yang secara potensial tidak aman
di seluruh dunia. Isi surat itu berisi penjelasan mengenai
server open proxy dan open relay dan masalah-masalah apa
yang bisa ditimbulkannya.
Secara simultan, pihak FTC Korea juga akan menyediakan
saluran khusus, dimana tersedia arahan-arahan untuk menanggulangi
spam bagi para pelaku usaha yang ingin menutup pintunya
bagi email-email spam.
“Proyek ini akan mempermudah para regulator di
seluruh dunia untuk melacak sumber spam, karena server
Internet yang
digunakan sebagai saluran untuk mem-forward spam akan turun
secara drastis dan tidak lagi disalahidentifikasikan sebagai
spammer,” ujar Kim berharap. Di antara 26 negara
lain yang terlibat dalam proyek ini antara lain AS, Jepang,
Inggris, Kanada, Singapura, Taiwan, Argentina, Spanyol,
Finlandia, Cili, Brazil dan Swis. •kt/aa |
|
 |
|