Volume II No 15 - Maret 2004
   

Agus Pracoyo

Arah Perkembangan Teknologi Keamanan Sistem Informasi:

Memanfaatkan Kecemasan Perusahaan

 

 

Menurut survei IDC (International Data Corporation) tahun 2003, tantangan utama manajemen dalam masalah keamanan sistem informasi adalah kurangnya sumber daya manusia (36%), disusul monitoring (19%), tidak adanya kebijakan dan prosedur (17%) serta integrasi antar solusi teknologi keamanan sistem informasi (12%). Walaupun survei ini tidak dilakukan di Indonesia, tetapi masalah yang dihadapi perusahaan-perusahaan di Indonesia, terutama perusahaan besar, kurang lebih sama. Kecuali, mungkin, menurut pandangan penulis, tidak adanya kebijakan dan prosedur, menempati urutan kedua di Indonesia.

Kurangnya sumber daya manusia, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, akan sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pengamanan sistem informasi. Hal ini juga penulis temui pada beberapa perusahaan dengan jumlah karyawan pemakai komputer lebih dari 500, tetapi hanya mempunyai satu orang yang bertanggung jawab dalam hal keamanan sistem informasi. Bahkan, ada yang merangkap sebagai administrator jaringan.

Masalah keamanan sistem informasi yang dihadapi

Beberapa masalah keamanan sistem informasi yang biasa dijumpai pada perusahaan-perusahaan besar adalah :

1. Penggunaan perangkat lunak yang bervariasi dan berasal dari banyak vendor.
Sering tidak dapat dielakkan penggunaan sejumlah perangkat lunak dari beberapa vendor untuk membangun suatu sistem. Tetapi, di sisi lain, penggunaan perangkat lunak tersebut akan lebih membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih besar dalam hal memonitor isu-isu keamanan, ketimbang sistem yang dibangun oleh perangkat lunak yang relatif homogen. Seringkali hal ini diperparah dengan tidak adanya suatu standar dan prosedur dalam pemilihan suatu sistem.

Penulis menjumpai suatu perusahaan yang cukup besar yang ‘membebaskan’ karyawannya untuk ‘memilih’ sistem operasi dan aplikasi yang digunakan pada PC-nya. Pada satu departemen saja, ada beberapa sistem operasi yang digunakan seperti Windows ME, Windows XP, dan Windows 200 Professional. Sedang untuk program e-mailnya ada yang menggunakan Outlook, Eudora, Netscape; belum lagi aplikasi lain yang lebih bervariasi.

2. Identitas pengguna.
Salah satu tujuan dari sistem keamanan adalah memastikan hanya orang yang berhak saja yang dapat akses ke suatu sistem. Untuk suatu perusahaan yang terdiri atas ratusan bahkan ribuan karyawan, serta memiliki beberapa sistem, maka tugas ini bukan tugas yang mudah. Tantangan pertama adalah memetakan otoritas karyawan terhadap sumber-sumber (resources) sistem informasi seperti server, file, database, aplikasi dan sebagainya. Katakan saja ada 1000 karyawan yang akan mengakses 10 aplikasi/files/database, maka akan ada 10.000 relasi yang harus dipetakan antara karyawan dan sumber sistem informasi tersebut.

Kedua, jika ada perubahan, seperti pindahnya karyawan dari suatu bagian ke bagian lain, atau jika ada karyawan yang keluar. Tentunya sistem tersebut harus dapat dengan cepat memodifikasi atau menghapus akses yang diberikan. Kerumitan ini akan lebih besar lagi jika sumber-sumber sistem informasi yang dimiliki perusahaan, tidak hanya diakses oleh karyawan internal, melainkan juga para vendor, mitra kerja, dan konsultan, baik dari dalam jaringan perusahaan maupun dari luar.

3. Deteksi dan proteksi secara cepat.
Mendeteksi gangguan keamanan untuk jaringan yang terdiri atas puluhan server, puluhan peralatan jaringan, dan ratusan bahkan ribuan PC merupakan tugas yang tidak dapat dianggap enteng. Selain perlu waktu dan sumber daya manusia, keahlian khusus dalam hal keamanan sistem informasi sangat diperlukan untuk mengidentifikasi dan menginterpretasi informasi gangguan secara akurat, serta untuk menetapkan langkah-langkah penanggulangannya secara cepat dan tepat.

Beberapa waktu lalu penulis mendapat telepon dari pelanggan yang mengeluh tentang Syn-Flood attack alert yang dihasilkan dari mesin Firewall-nya. Yang mengejutkan, pelanggan tersebut bukannya menanyakan apa arti dari alert itu dan bagaimanan cara penanggulangannya, tetapi justru menanyakan bagaimana caranya supaya alert tersebut tidak muncul agar tidak memenuhi harddisk.

4. Security Patch.
Dengan rasio antara jumlah tenaga administrator/teknisi keamanan sistem informasi dengan jumlah pengguna komputer sebesar 1:500 seperti kasus di atas, akan mudah ditebak bahwa pengamanan sistem informasi menjadi tidak efektif. Sebagai gambaran, waktu yang dibutuhkan seorang teknisi untuk melakukan security patching (instalasi program perbaikan yang berkaitan dengan keamanan suatu sistem) terhadap 500 pengguna komputer adalah lebih dari 30 hari kerja (dengan perhitungan 1 hari terdiri atas 8 jam kerja).

Arah Perkembangan Teknologi Keamanan Sistem Informasi

Agaknya, vendor teknologi keamanan sistem informasi cukup jeli melihat peluang dari kecemasan yang dihadapi kalangan perusahaan. Pada umumnya , jingle yang mereka gunakan adalah automatic, dan less human intervention, sebagai solusi terhadap kekurangan tenaga keamanan sistem informasi yang handal. Berikut ini, teknologi keamanan sistem informasi (yang relatif) baru, yang diperkirakan akan marak ditawarkan ke pasar, selain tentunya produk dan teknologi lama yang tetap akan bertahan seperti anti virus.

Intrusion Prevention System (IPS)
Secara singkat, IPS dapat dijelaskan sebagai perangkat yang memadukan antara fungsi Firewall (analoginya adalah satpam) dan sistem deteksi intrusi atau IDS (analoginya adalah kamera pemindai/CCTV). Beberapa vendor juga mengintegrasikan fitur anti virus atau anti worm ke dalam IPS-nya. Teknologi ini menjadi hangat belakangan ini, karena menjanjikan fungsi deteksi dan proteksi yang dapat dilakukan secara bersamaan dan otomatis. Sehingga suatu intrusi dapat dicegah di awal, sebelum menyebabkan kerusakan sistem. Beberapa vendor terkenal seperti Cisco, Symantec, Check Point, ISS, Netscreen (sekarang diambil alih oleh Juniper) juga telah menawarkan teknologi ini.

Patch Management System
Mengurangi waktu dari puluhan hari menjadi beberapa jam saja dalam melakukan instalasi patch merupakan ROI yang sangat menjanjikan. Sehingga tidak heran beberapa vendor mulai menawarkan teknolgi patch management system seperti Security ConfigureSoft , St. Bernard Software, PatchLink dan Citadel.

Identity Management
Manajemen identitas adalah suatu sistem tersentral yang dibuat untuk memudahkan administrator untuk men-diseminasi identitas, password dan otoritas seorang karyawan ke beberapa sistem secara sekaligus. Dengan teknologi ini jelas akan memudahkan bagian personel/HR atau bagian lain dalam pemberian akses, modifikasi akses maupun penghapusan akses kepada karyawan secara langsung, tanpa atau sedikit melibatkan administrator TI dalam pengoperasiannya. Beberapa produk Identity Management juga mempunyai fungsi deteksi apabila seorang karyawan memiliki otoritas melebihi yang telah ditetapkan, seperti misalnya karyawan tersebut bersekongkol dengan administrator TI untuk mengubah otoritasnya secara manual.

Selain itu, fungsi pelaporan secara otomatis ataupun manual pada teknologi ini akan memudahkan setiap kepala bagian/manajer untuk mengevaluasi tingkat otoritas/akses seorang karyawan terhadap sistem yang dimilikinya atau dalam tanggung jawabnya.

Janji VS Kenyataan

Fitur-fitur yang diberikan dan dijanjikan oleh teknologi baru tersebut biasanya begitu memikat, dan sering diiringi dengan slogan ‘solusi tunggal’ terhadap permasalahan keamanan yang dihadapi perusahaan. Tentunya sebagai pengguna atau calon pengguna yang bijaksana, kita tidak boleh menelan bulat-bulat fitur-fitur yang dijanjikan oleh para vendor tersebut. Umumnya keterbatasan-keterbatasan fitur yang dijanjikan dan persyaratan-persyaratan agar suatu fitur yang dijanjikan dapat bekerja dengan semestinya, tidak disebutkan dalam brosur, tetapi baru terlihat pada dokumentasi user manual-nya atau release notes-nya.

Oleh karena itu, usahakan untuk mendapatkan spesifikasi teknis dan siapkan chek list untuk memastikan kompatibilitas dengan sistem yang telah ada. Dan kalau memungkinkan, dapatkan referensi dari perusahaan lain yang telah menerapkannya. Atau jika ini merupakan teknologi baru yang belum ada referensinya di Indonesia, kita dapat meminta vendor mendemonstrasikannya.

Selain itu kita perlu hati-hati dengan produk yang menjanjikan 100% otomatis, atau 100% no-human intervention, karena produk tersebut hanya akan benar-benar 100% otomatis dan 100% no-human intervention kalau kita tidak memakainya.

Agus Pracoyo • channel manager / security consultant pada PT. Indokom Primanusa dengan alamat e-mail: pracoyo@ipnsecurity.com

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.