Volume II No 15 - Maret 2004
   

Bob J. Onggo

Internet Marketspace

 

 

“Seberapa besar sebenarnya biaya untuk membangun toko online?” demikian tanya salah satu peserta seminar saya di sela-sela rehat makan siang di Surabaya, November 2002 lalu. Persoalannya tak hanya seberapa besar biayanya, melainkan akankah toko online tersebut berhasil. Jelas, siapa sih yang tidak ingin berhasil menjual lewat internet.

Kemudian saya balik bertanya, “produk apa yang rencananya akan Anda jual di Internet?” Dia jawab, “Semua buku dan seluruh barang-barang konsumer elektronik.”

Dalam benak saya, wah, orang ini mau bersaing di Internet dengan Carrefour, Makro atau Glodok. Dan belum tahu kalau nasib Lipposhop akan menimpa dia juga.

Terus terang saja kalau suatu brand belum punya nama, dan kemudian di bawah brand semacam itu mau menjual apa saja yang dapat dengan mudah dijual di toko atau swalayan, sulit bagi suatu bisnis bisa bertahan dan memperoleh laba, walau mendapat pasokan dana dari modal ventura sekalipun. Lihat juga kasus DialMart, menjual lewat telepon, juga mengalami nasib yang sama.

Namun, bukan berarti tidak dapat menjual barang melalui promosi lewat internet. Tidak sedikit orang atau UKM kecil bahkan di Indonesia yang mampu mengeruk uang dari pelanggan yang dijangkau lewat Internet walaupun tanpa memiliki sistem bisnis internet yang rumit dan mahal.

Sebelum saya berikan contohnya, saya akan berikan dahulu gambaran sekilas seberapa besar pangsa pasar di Internet yang dapat dijangkau atau mereka menjangkau kita. Kemudian disesuaikan dengan target pasar dan kategori produk/jasa yang dijual.

Data di atas hanyalah gambaran yang diambil tahun 2002. Jadi misalnya bila kita ingin mencaplok suatu target pasar, khususnya pasar berbahasa Inggris, maka potensi besarnya pasar untuk tahun 2002 lebih dari 205 juta, atau sekitar 80% darinya. Dan bahkan ada cukup banyak negara, sekitar 26 negara, yang pengguna internetnya lebih dari 25%. (lihat tabel di bawah ini)

Umumnya, negara-negara yang memiliki pengguna internet cukup tinggi ini sudah lebih terbiasa berelanja secara online dan melakukan pembayaran online pula.

Agar berhasil menjual lewat promosi di Internet, bila suatu brand belum terkenal, tidak seperti halnya brand Amazon, atau eBay, atau portal berita seperti detik.com, yang pertama-tama harus dilakukan adalah menaruh upaya pada membangun brand, mengingat internet sebagai pasar yang cukup potensial. Kemudian ketika suatu brand sudah established, baru sistim e-business yang komprehensif dapat dibangun, karena kalau tidak yang ada hanyalah pemborosan.

Jika produk yang dijual hanya untuk pangsa pasar berbahasa Indonesia, bisnis tersebut pun dapat hidup dan mengeruk uang dari pasar internet. Untuk produk jenis ini yang memang cocok untuk pasar Indonesia, dari 3,7 juta pengguna internet, dan kalau kita ambil 25% darinya adalah pasar korporat maka akan terdapat kira-kira 925.000 perusahaan di Indonesia. Dan kalau 50%-nya saja sudah terhubung dengan Internet walaupun hanya dengan menggunakan e-mail saja maka jumlahnya cukup menjanjikan yaitu 462.500 perusahaan. Mereka praktis dapat Anda jangkau dari Sabang sampai Merauke. Belum lagi kalau produknya merupakan produk retail, tetapi unik dan tidak umum. Maka pasar perorangan bisa jadi juga membutuhkannya.

Kuncinya hanya dengan membangun brand, dan sosialisasi pasar serta membangun list of visitors melalui ezine (electronic newsletter), serta membuatnya MUDAH bagi para pencari jasa ini dalam mencarinya, yaitu dengan memanfaatkan promosi lewat situs pencari dan direktori web. Sebab, walaupun di Indonesia, kebanyakan dari mereka menggunakan situs pencari yang berbasis di luar negeri, karena internet tidak mengenal batas waktu dan geografi.

Tak heran e-mail menempati urutan kedua dengan persentase penggunaan 92% dari 14 tools berbasis ICT pilihan 100 perusahaan. Efektivitasnya pun dibuktikan oleh Victor Yoppy Huwae, Direktur PT Galaxy Persada, yang berlokasi di Bekasi yang menggeluti bisnis kontraktor. “Kombinasi antara e-mail, SMS, dan telepon serta web browsing dapat berjalan efisien”, tuturnya.

Yang jelas untuk memperoleh hasil yang maksimal dari dunia emarketing dibutuhkan kesabaran. Saya pikir itu adalah sifat yang harus dipupuk oleh seorang salesman atau pun marketer. Walaupun tidak mengimplementasikan seluruh 40 butir taktik emarketing (lihat www.bjoconsulting.com/isim.htm), namun kombinasi taktik yang tepat, untuk ceruk pasar yang tepat, maka promosi kita akan sampai di pasar yang tepat.

Urutannya jelas. Bagi mereka yang belum memiliki brand bagi bisnisnya adalah emarketing dulu, baru setelah itu e-Business. e-Business dilakukan setelah memiliki brand dan memiliki capital yang kuat dan prospek yang banyak.

Ingat, sistem bisnis internet yang mahal belum tentu profitable. Mahal belum tentu bisa membangun kepercayaan. Kepercayaan dibangun oleh sistem PR yang baik bukan oleh iklan, apalagi sekadar mesin internet yang tidak bernyawa. Berbeda dengan orang TI, mereka menganggap sesuatu yang cool, kalau hal itu sulit bagi mereka, yang mudah dan sederhana tidak dianggap oleh mereka. Padahal yang mendatangkan uang dan menguntungkan sering kali yang sederhana.

Produk Ideal Untuk di Internet

Di beberapa seminar seringkali saya ditanya, “Produk apa yang paling cocok dijual di Internet?” Jawaban saya sebenarnya cukup sederhana dan langsung, yaitu produk yang memiliki karakteristik marjin besar, menawarkan hak penjualan secara ekslusif (membership), digital, menawarkan nilai lebih dibandingkan lewat channel tradisional, yang dibutuhkan secara universal, dan dibeli secara reguler.

Ini adalah hanya beberapa karakteristik utama, maka yang jelas pembeli dapat mencarinya lewat internet.

Cara yang lebih baik adalah lihat pada diri sendiri atau pada perusahaan. Anda mahir di bidang apa? Apa yang paling dikuasai? Apakah itu unik, jarang atau tidak dimiliki oleh perusahaan lain? Maka sebaliknya daripada berkhayal tentang suatu produk atau suatu sistem yang “sempurna”, jalankan apa yang paling diketahui dan biarkan hal itu memberikan dorongan kekuatan bagi visi untuk mengisi niche (ceruk pasar) yang unik.

Terus terang saja tidak mudah melirik ceruk pasar yang belum terisi, apalagi ceruk pasar yang masih sedikit terisinya. Karena, dibutuhkan kejelian untuk mengisinya dengan suatu bisnis atau produk tertentu. Jangankan di dunia online, di dunia offline pun dibutuhkan kejelian seperti yang dilakukan oleh pemilik restoran Yong Kee di ruko kelapa gading Jakarta. Sebaliknya, daripada menyajikan soto ayam atau soto daging, sang pemilik menyajikan soto ikan, suatu menu yang tidak terlalu umum.

Ceruk pasar apa di Internet yang sudah terisi namun belum lengkap? Tidak terlalu sulit mencarinya, misalnya saya sendiri sering berharap banyak akan informasi dari suatu situs web yang kemudian saya dapati tidak ada.

Beberapa tahun yang lalu, sewaktu saya masih bekerja menangani pemasaran produk proyektor, maka saya mencari informasi tentang dunia proyektor. Terpaksa saya harus berpindah-pindah dari satu situs web ke situs web yang lain, karena informasi tersebut tidak diberikan oleh satu perusahaan proyektor sekalipun. Situs mereka kebanyakan berisi bauran produk-produk proyektor namun tidak ada sentuhan dalam hal sales copy-nya maupun pendapat para pakar atau feedback dari pelanggan yang lain mengenai mana yang terbaik.

Kemudian situs lain berisi panduan untuk membeli proyektor, namun tidak berisi komentar-komentar individu mengenai produk-produk tersebut yang disesuaikan dengan harganya. Juga tidak dilengkapi dengan bagan yang memperlihatkan masing-masing perbedaan antara model-model yang tersedia dari pabrik yang sama. Atau di beberapa situs web hanya berisi departemen alat-alat presentasi saja di antara departemen-departemen lain di suatu perusahaan yang besar, namun sedikit fokus pada ceruk pasar ini.

Apakah ini pekerjaan yang cukup berat?

Saya pikir jelas, membangun situs web yang berisi informasi yang sekedar di “copy” dan “paste”, memang mudah. Begitu juga, membangun situs web yang cantik. Namun, kalau suatu situs web diharapkan memberikan kontribusi banyak dalam hal edukasi dan promosi, lebih baik jangan tanggung-tanggung.

Internet Marketspace sangat menjanjikan, baik di tahun ini dan tahun-tahun ke depan, namun sangat kompetitif. Mereka yang memiliki visi ceruk pasar yang unik yang akan diberkati dengan keberhasilan dalam menggaet dan digaet pasar di Internet. Sebaliknya, mereka yang menjual gado-gado tanpa fokus ceruk pasar yang jelas, besar kemungkinan kurang berhasil.

Bob Julius Onggo • Konsultan, Penulis, Pembicara, dan Praktisi Bisnis Internet (profilnya bisa dilihat di www.bjoconsulting.com)

Foto-foto: Muflihun

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.