Volume II No 15 - Maret 2004
   

Indra M. Utoyo

Pendekatan GEM untuk Membangun Infrastruktur Telematika

 

 

Dalam World Summit of Information Society (WSIS) di Geneva pada bulan Desember 2003, para pemimpin bangsa-bangsa sepakat mengatasi “digital divide” dengan menaruh target bersama bahwa pada tahun 2010 seluruh desa telah terhubung, dan terhubung dengan community access center pada 2015. Tujuannya adalah aksesibilitas bagi setiap orang sampai ke pelosok yang terjauh. Tonggak sasaran ini tentu memberi inspirasi dan motivasi bagi setiap ekonomi untuk mengarahkan usahanya mencapai tujuan secepatnya. Sebelum melangkah kepada sasaran, dalam disiplin perencanaan perlu kita kaji sebetulnya apa manfaat yang ingin diraih dari semua upaya ini.

Kalau kita lihat tantangan mendasar dalam kancah pergaulan antar bangsa adalah bagaimana membangun keunggulan daya saing ekonomi. Daya saing sendiri merupakan hasil dari tingkat produktivitas yang tinggi. Produktivitas dihasilkan oleh investasi pada SDM, kebijakan, dan infrastruktur yang mampu menggiring semua potensi terbaik. Infrastruktur ICT (Information and Communication Technology) dipandang sebagai infrastruktur kunci yang mampu menggiring dan menjalin potensi terbaik untuk menciptakan nilai tambah. Inilah hakekat dari infrastructure before e-community atau sering diistilahkan i-before-e.

Tujuan Konektivitas: 4C

Dukungan infrastruktur dalam membangun masyarakat berbudaya informasi atau e-community tidak terbantahkan. Namun prosesnya tidak bisa melompat, paling tidak melalui adanya koneksi atau keterhubungan. Koneksi seperti apa, jelas yang diharapkan adalah koneksi untuk komunikasi, dan komunikasi untuk kolaborasi, lalu kolaborasi untuk hasil. Sehingga, apakah ada manfaatnya koneksi tanpa hasil.

Karenanya, sudut pandang yang terbaik adalah melihat mulai dari hasil. Proses ini kita sebut 4C yaitu connect, communicate, collaborate, dan crop (hasil). Setiap tahap memberi manfaatnya sendiri yang dari tahap ke tahap semakin besar. Kurva pembelajaran ini tentu memerlukan waktu. Tantangannya adalah bagaimana rentang waktu yang diperlukan bisa dipercepat melalui upaya-upaya katalis.

Dari sudut pandang yang lebih luas, tujuan konektivitas pada dasarnya bisa dilihat berdasarkan obyek dan subyeknya. Kacamata tujuan ekonomi global dengan kepentingan akses seluas-luasnya kepada potensi ekonomi, dapat bertaji atas keuntungan siapa. Produsen produk global yang mencari pasar atau produsen produk lokal yang meningkatkan pangsa pasarnya. Posisi kita tentu harus mengarah pada yang terakhir dengan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu melalui langkah-langkah memperkuat diri sendiri (affirmative actions) terlebih dahulu. Untuk itu perlu kacamata holistik yang terintegrasti antara penggelaran infrastrukur teknikal dengan infrastruktur lainnya.

Sasaran infrastruktur: Infrastruktur pendukung produktivitas ekonomi

Dari kacamata holistik sistem infrastruktur pendukung ekonomi dapat diformulasikan dalam enam aras yaitu:

  • Infrastruktur Penghantaran (Delivery): Jalan, pelabuhan serta transportasi udara, darat dan laut;


  • Infrastruktur Kebijakan Usaha (Business Policy): Pajak dan bea, proteksi dan insentif;
  • Infrastruktur Telekomunikasi dan Informasi: Telepon, Internet, Radio, TV;


  • Infrastruktur Keunggulan: Jalinan simpul-simpul keunggulan (Network of Excellences), budaya dan jati diri;


  • Infrastruktur Kesejahteraan Masyarakat: Keselamatan dan kesehatan publik, perlindungan tenaga kerja, hiburan (pasar, pariwisata), pendidikan/pelatihan;


  • Infrastruktur metasystem: Kebijakan terpadu, manajemen mutu, standarisasi, R&D, sistem keamanan (security), manajemen pasar dan distribusi.

Kebijakan kerangka kerja Telematika.

Jelas bahwa menyiapkan infrastruktur ICT harus merupakan bagian integral dan hanya salah satu upaya membangun sistem pendukung produktivitas ekonomi. Menggelar infrastruktur Infokom bukanlah hal yang sulit. Teknologi ICT saat ini dan kedepan akan makin kaya pilihan, semakin cepat, dan semakin baik. Yang perlu adalah penajaman dari aspek kontekstual dari penggelaran infrastruktur teknologi dan model bisnisnya. Dalam bahasa lugasnya “teknologi bisa dibeli, tetapi sistem harus dibuat”.

Faktor penunda (delay) bukan pada penggelaran infrastruktur teknologi tetapi lebih pada lambatnya peta bisnis misalnya permintaan pasar semu terhadap pasokan (kasus technology buble), kebijakan tarif, skala ekonomi; juga masalah payung kebijakan dan perundangan, serta penegakan hukumnya. Dengan sudut pandang holistik dapat diperkirakan sejauh mana pengaruh pembangunan infrastruktur mendukung kemajuan yang diharapkan. Waktu yang tersisa harus mampu memberi percepatan untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur infokom yang berorientasi hasil nyata, bukan pencapaian semu.

Pendekatan Implementasi : Goals, Empower, Measure (GEM)

Pemerintah telah memiliki kerangka SISFONAS sebagai rujukan untuk membangun penerapan sistem infokom pemerintah dan masyarakatnya, yang jiwanya haruslah berorientasi pada tujuan pemanfaatan infokom. Sasaran waktu dalam pencapaian pemanfaatan ICT perlu diselaraskan dengan sasaran pencapaian keunggulan daya saing masyarakat yang harus dicapai secepatnya sebelum 2015.

Implementasi segera membutuhkan pendekatan pemberdayaan yang tepat. Pemberdayaan lebih dari sekedar membentuk organisasi koordinasi di tingkat pusat atau lokal dan membiarkan mereka melakukan sendiri keputusan secara independen. Yang diharapkan, pemberdayaan untuk mencapai sukses hasil harus memenuhi beberapa kondisi yang perlu upaya besar untuk mencapainya, antara lain melalui adanya kejelasan tujuan bersama, penyelarasan dan koordinasi. Pendekatan ini biasa disebut dengan GEM.

Pertama adalah penetapan visi, tujuan dan sasaran manfaat (Setting Goals) dimulai di tingkat pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta sektor usaha. Di tengah ketidakpastian dan lingkungan makro yang tidak bersahabat, penetapan tujuan harus memberi toleransi kepada kesalahan dan pembelajaran. Standarisasi sedini mungkin harus sudah terakomodasi, smisalnya Single ID bagi penduduk.

Selanjutnya, implementasi dilakukan maksimal melalui pemberdayaan dan partisipasi potensi masyarakat (Empower) termasuk di tingkat paling bawah (Kecamatan atau Kabupaten-kota). Faktor keberhasilan akan ditentukan oleh adanya kepemimpinan, konsistensi, dan mutual trust yang terus dibangun melalui good corporate governance.

Terakhir, sistem koordinasi implementasi selanjutnya perlu mengukur (Measure) pencapaian manfaat secara ekonomi, SDM, dan kelembagaan serta mekanisme apresiasi dari praktek-praktek terbaik yang ada untuk kelak bisa direplika.

Karenanya, TKTI (Tim Koordinasi Telematika Indonesia) harus mampu merevitalisasi diri dalam mengawal pendekatan GEM dari berbagai inisiatif pemanfaatan aplikasi telematika dengan tonggak waktu pencapaian yang terukur. Pendekatan GEM dalam penerapan ICT ini dapat dimulai dari daerah otonom dengan memaksimalkan kolaborasi kohesif antara tiga komponen masyarakat yaitu pemerintah, entrepreneur, dan komunitas.

Pemerintah daerah diharapkan mampu memberi iklim kondusif bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi produktif di daerah melalui kebijakan dan layanan yang sederhana, transparan, pasti, dan terpadu.

Sementara para entrepreneur yaitu para individu produktif sebagai basis ekonomi UKM merupakan usahawan yang handal, tangguh, dan mandiri.

Selanjutnya komunitas ekonomi lokal harus mampu menjadi tuan rumah yang baik melalui berbagai aktivitas di daerah maupun penerimaan terhadap pihak lain (investor, trader, developer, dll) yang saling memberi manfaat dalam rangka membangun jalinan komunitas mata-rantai ekonomi bernilai tambah. Fokus infrastruktur telematika untuk pemberdayaan tiga komponen masyarakat di daerah, di harapkan bisa menjadi basis yang kokoh untuk menciptakan peningkatan produktivitas ekonomi.

TELKOM misalnya, secara khusus mengembangkan inisiatif aplikasi ICT yang fokus pada pemberdayaan tiga unsur dasar daerah otonom (institusi pelayanan publik, entrepreneur, dan komunitas ekonomi) yang diberi nama SOLSIDO (Solusi Sistem Informasi Terpadu Daerah Otonom). Untuk pemberdayaan institusi publik, aplikasi e-government SIMTAP menyediakan layanan aplikasi perijinan (KTP, SIUP, IMB, akte, dll) di samping sistem Intranet dan paperless office. Aplikasi ini telah diterapkan di beberapa Kabupaten seperti Takalar, Kutai Timur, dan Sidoarjo.

Untuk pemberdayaan SDM entrepreneur, tersedia aplikasi e-learning yang lebih mengutamakan pembelajaran kejuruan (vocational), seperti peningkatan ketrampilan dan pengembangan usaha. Aplikasi ketiga adalah www.sme-center.com yaitu sebuah marketplace B2B (Business-to-Business) yang merupakan media informasi, komunikasi, dan transaksi bagi UKM untuk akses ke pasar lokal-regional-global. Aplikasi e-commere ini hadir di community access center yang disebut SME-Center sebagai simpul layanan terpadu bagi UKM. SME-Center merupakan inisiatif tiga pihak yaitu BRI sebagai bank rakyat terbesar, TELKOM sebagai penyedia infrastruktur infokom, dan CD-SMEs sebagai pengembang komunitas bisnis.

Saat ini, SME-Center telah hadir di 18 kantor BRI yang ada di Jakarta (Tanah Abang, Mangga Dua), Medan, Padang, Batam, Cirebon, Jepara, Kebumen, Yogya, Sidoarjo, Malang, Denpasar, Mataram, Balikpapan, Banjarmasin, dan Makasar. SME-Center memiliki 4 pilar layanan yaitu Wartel-Warnet, Trading House dan Mini Market, E-Commerce, serta Layanan Pusat Informasi, Konsultasi, Pendidikan, dan Pelatihan UKM. Solusi semacam SOLSIDO, yang digiring dengan pendekatan GEM sebagaimana diilustrasikan di atas, diharapkan mampu meraih hasil nyata untuk siap menjawab tantangan “digital divide” dalam waktu lekas.•

Indra M. Utoyo • General Manager eBusiness, Divisi Multimedia PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.