Dalam
World Summit of Information Society (WSIS) di Geneva
pada bulan Desember 2003, para pemimpin bangsa-bangsa
sepakat mengatasi “digital divide” dengan
menaruh target bersama bahwa pada tahun 2010 seluruh
desa telah terhubung, dan terhubung dengan community
access center pada 2015. Tujuannya adalah aksesibilitas
bagi setiap orang sampai ke pelosok yang terjauh. Tonggak
sasaran ini tentu memberi inspirasi dan motivasi bagi
setiap ekonomi untuk mengarahkan usahanya mencapai
tujuan secepatnya. Sebelum melangkah kepada sasaran,
dalam disiplin perencanaan perlu kita kaji sebetulnya
apa manfaat yang ingin diraih dari semua upaya ini.
Kalau kita lihat tantangan mendasar dalam kancah pergaulan
antar bangsa adalah bagaimana membangun keunggulan daya
saing ekonomi. Daya saing sendiri merupakan hasil dari
tingkat produktivitas yang tinggi. Produktivitas dihasilkan
oleh investasi pada SDM, kebijakan, dan infrastruktur
yang mampu menggiring semua potensi terbaik. Infrastruktur
ICT (Information and Communication Technology) dipandang
sebagai infrastruktur kunci yang mampu menggiring dan
menjalin potensi terbaik untuk menciptakan nilai tambah.
Inilah hakekat dari infrastructure before e-community
atau sering diistilahkan i-before-e.
Tujuan Konektivitas: 4C
Dukungan infrastruktur dalam membangun masyarakat berbudaya
informasi atau e-community tidak terbantahkan. Namun
prosesnya tidak bisa melompat, paling tidak melalui
adanya koneksi atau keterhubungan. Koneksi seperti
apa, jelas yang diharapkan adalah koneksi untuk komunikasi,
dan komunikasi untuk kolaborasi, lalu kolaborasi
untuk hasil. Sehingga, apakah ada manfaatnya koneksi
tanpa hasil.
Karenanya, sudut pandang yang terbaik adalah melihat
mulai dari hasil. Proses ini kita sebut 4C yaitu connect,
communicate, collaborate, dan crop (hasil). Setiap
tahap memberi manfaatnya sendiri yang dari tahap ke
tahap semakin besar. Kurva pembelajaran ini tentu memerlukan
waktu. Tantangannya adalah bagaimana rentang waktu
yang diperlukan bisa dipercepat melalui upaya-upaya
katalis.
Dari sudut pandang yang lebih luas, tujuan konektivitas
pada dasarnya bisa dilihat berdasarkan obyek dan subyeknya.
Kacamata tujuan ekonomi global dengan kepentingan akses
seluas-luasnya kepada potensi ekonomi, dapat bertaji
atas keuntungan siapa. Produsen produk global yang
mencari pasar atau produsen produk lokal yang meningkatkan
pangsa pasarnya. Posisi kita tentu harus mengarah pada
yang terakhir dengan mengambil pelajaran dari kesalahan
di masa lalu melalui langkah-langkah memperkuat diri
sendiri (affirmative actions) terlebih dahulu. Untuk
itu perlu kacamata holistik yang terintegrasti antara
penggelaran infrastrukur teknikal dengan infrastruktur
lainnya.
Sasaran infrastruktur: Infrastruktur pendukung produktivitas
ekonomi
Dari kacamata holistik sistem infrastruktur pendukung
ekonomi dapat diformulasikan dalam enam aras yaitu:
- Infrastruktur Penghantaran (Delivery): Jalan, pelabuhan serta transportasi
udara, darat dan laut;
- Infrastruktur Kebijakan Usaha (Business Policy): Pajak dan bea, proteksi
dan insentif;
- Infrastruktur Telekomunikasi dan Informasi: Telepon, Internet, Radio, TV;
- Infrastruktur Keunggulan: Jalinan simpul-simpul keunggulan (Network of Excellences),
budaya dan jati diri;
- Infrastruktur Kesejahteraan Masyarakat: Keselamatan dan kesehatan publik, perlindungan
tenaga kerja, hiburan (pasar, pariwisata), pendidikan/pelatihan;
- Infrastruktur metasystem: Kebijakan terpadu, manajemen mutu, standarisasi,
R&D, sistem keamanan (security), manajemen pasar dan distribusi.
Kebijakan kerangka kerja Telematika.
Jelas bahwa menyiapkan infrastruktur ICT harus merupakan bagian integral
dan hanya salah satu upaya membangun sistem pendukung produktivitas ekonomi.
Menggelar
infrastruktur Infokom bukanlah hal yang sulit. Teknologi ICT saat ini dan
kedepan akan makin kaya pilihan, semakin cepat, dan semakin baik. Yang perlu
adalah
penajaman dari aspek kontekstual dari penggelaran infrastruktur teknologi
dan model bisnisnya. Dalam bahasa lugasnya “teknologi bisa dibeli,
tetapi sistem harus dibuat”.
Faktor penunda (delay) bukan pada penggelaran infrastruktur teknologi tetapi
lebih pada lambatnya peta bisnis misalnya permintaan pasar semu terhadap
pasokan (kasus technology buble), kebijakan tarif, skala ekonomi; juga masalah
payung
kebijakan dan perundangan, serta penegakan hukumnya. Dengan sudut pandang
holistik dapat diperkirakan sejauh mana pengaruh pembangunan infrastruktur
mendukung
kemajuan yang diharapkan. Waktu yang tersisa harus mampu memberi percepatan
untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur infokom yang berorientasi hasil
nyata, bukan pencapaian semu.
Pendekatan Implementasi : Goals, Empower, Measure
(GEM)
Pemerintah telah memiliki kerangka SISFONAS sebagai
rujukan untuk membangun penerapan sistem infokom pemerintah
dan masyarakatnya, yang jiwanya haruslah berorientasi
pada tujuan pemanfaatan infokom. Sasaran waktu dalam
pencapaian pemanfaatan ICT perlu diselaraskan dengan
sasaran pencapaian keunggulan daya saing masyarakat
yang harus dicapai secepatnya sebelum 2015.
Implementasi segera membutuhkan pendekatan pemberdayaan
yang tepat. Pemberdayaan lebih dari sekedar membentuk
organisasi koordinasi di tingkat pusat atau lokal dan
membiarkan mereka melakukan sendiri keputusan secara
independen. Yang diharapkan, pemberdayaan untuk mencapai
sukses hasil harus memenuhi beberapa kondisi yang perlu
upaya besar untuk mencapainya, antara lain melalui
adanya kejelasan tujuan bersama, penyelarasan dan koordinasi.
Pendekatan ini biasa disebut dengan GEM.
Pertama adalah penetapan visi, tujuan dan sasaran manfaat
(Setting Goals) dimulai di tingkat pemerintah pusat,
pemerintah daerah, serta sektor usaha. Di tengah ketidakpastian
dan lingkungan makro yang tidak bersahabat, penetapan
tujuan harus memberi toleransi kepada kesalahan dan
pembelajaran. Standarisasi sedini mungkin harus sudah
terakomodasi, smisalnya Single ID bagi penduduk.
Selanjutnya, implementasi dilakukan maksimal melalui
pemberdayaan dan partisipasi potensi masyarakat (Empower)
termasuk di tingkat paling bawah (Kecamatan atau Kabupaten-kota).
Faktor keberhasilan akan ditentukan oleh adanya kepemimpinan,
konsistensi, dan mutual trust yang terus dibangun melalui
good corporate governance.
Terakhir, sistem koordinasi implementasi selanjutnya
perlu mengukur (Measure) pencapaian manfaat secara
ekonomi, SDM, dan kelembagaan serta mekanisme apresiasi
dari praktek-praktek terbaik yang ada untuk kelak bisa
direplika.
Karenanya, TKTI (Tim Koordinasi Telematika Indonesia)
harus mampu merevitalisasi diri dalam mengawal pendekatan
GEM dari berbagai inisiatif pemanfaatan aplikasi telematika
dengan tonggak waktu pencapaian yang terukur. Pendekatan
GEM dalam penerapan ICT ini dapat dimulai dari daerah
otonom dengan memaksimalkan kolaborasi kohesif antara
tiga komponen masyarakat yaitu pemerintah, entrepreneur,
dan komunitas.
Pemerintah daerah diharapkan mampu memberi iklim kondusif
bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi produktif di daerah
melalui kebijakan dan layanan yang sederhana, transparan,
pasti, dan terpadu.
Sementara para entrepreneur yaitu para individu produktif
sebagai basis ekonomi UKM merupakan usahawan yang handal,
tangguh, dan mandiri.
Selanjutnya komunitas ekonomi lokal harus mampu menjadi
tuan rumah yang baik melalui berbagai aktivitas di
daerah maupun penerimaan terhadap pihak lain (investor,
trader, developer, dll) yang saling memberi manfaat
dalam rangka membangun jalinan komunitas mata-rantai
ekonomi bernilai tambah. Fokus infrastruktur telematika
untuk pemberdayaan tiga komponen masyarakat di daerah,
di harapkan bisa menjadi basis yang kokoh untuk menciptakan
peningkatan produktivitas ekonomi.
TELKOM misalnya, secara khusus mengembangkan inisiatif
aplikasi ICT yang fokus pada pemberdayaan tiga unsur
dasar daerah otonom (institusi pelayanan publik, entrepreneur,
dan komunitas ekonomi) yang diberi nama SOLSIDO (Solusi
Sistem Informasi Terpadu Daerah Otonom). Untuk pemberdayaan
institusi publik, aplikasi e-government SIMTAP menyediakan
layanan aplikasi perijinan (KTP, SIUP, IMB, akte, dll)
di samping sistem Intranet dan paperless office. Aplikasi
ini telah diterapkan di beberapa Kabupaten seperti
Takalar, Kutai Timur, dan Sidoarjo.
Untuk pemberdayaan SDM entrepreneur, tersedia aplikasi
e-learning yang lebih mengutamakan pembelajaran kejuruan
(vocational), seperti peningkatan ketrampilan dan pengembangan
usaha. Aplikasi ketiga adalah www.sme-center.com yaitu
sebuah marketplace B2B (Business-to-Business) yang
merupakan media informasi, komunikasi, dan transaksi
bagi UKM untuk akses ke pasar lokal-regional-global.
Aplikasi e-commere ini hadir di community access center
yang disebut SME-Center sebagai simpul layanan terpadu
bagi UKM. SME-Center merupakan inisiatif tiga pihak
yaitu BRI sebagai bank rakyat terbesar, TELKOM sebagai
penyedia infrastruktur infokom, dan CD-SMEs sebagai
pengembang komunitas bisnis.
Saat ini, SME-Center telah hadir di 18 kantor BRI yang
ada di Jakarta (Tanah Abang, Mangga Dua), Medan, Padang,
Batam, Cirebon, Jepara, Kebumen, Yogya, Sidoarjo, Malang,
Denpasar, Mataram, Balikpapan, Banjarmasin, dan Makasar.
SME-Center memiliki 4 pilar layanan yaitu Wartel-Warnet,
Trading House dan Mini Market, E-Commerce, serta Layanan
Pusat Informasi, Konsultasi, Pendidikan, dan Pelatihan
UKM. Solusi semacam SOLSIDO, yang digiring dengan pendekatan
GEM sebagaimana diilustrasikan di atas, diharapkan
mampu meraih hasil nyata untuk siap menjawab tantangan “digital
divide” dalam waktu lekas.•
Indra M. Utoyo • General Manager eBusiness,
Divisi Multimedia
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
Foto-foto: dok. ebizzasia
|