Pembaca
yang budiman, tak lama lagi, di tahun 2004 ini, kita akan
menghadapi perhelatan akbar – Pemilu 2004. Pemilu kali
ini terasa lebih istimewa, karena inilah pertama kalinya
bangsa Indonesia melakukan pemilihan secara langsung terhadap
Presiden dan Wakil Presiden, tidak seperti sebelumnya melalui
lembaga legislatif – DPR/MPR.
Pemilu,
asasinya, tidak menakutkan. Melainkan lebih sebagai suatu
bentuk “kemerdekaan” ruang pribadi dalam ikut
serta menentukan pimpinan negara dan personal yang akan menduduki
kelembagaan legislatif, yang sekaligus merupakan cerminan
keterwakilan masyarakat dalam pembangunan bangsa ini.
Yang menarik dan sekaligus menantang adalah bahwa Pemilu
kali ini ditangani oleh suatu kelembagaan khusus bernama
KPU, yang diisi oleh tokoh-tokoh yang dianggap cukup mewakili
keinginan untuk menjalan suatu sistem pengelolaan pemilihan
yang lebih representatif, sebagai pelaksanaan dari keinginan
masyarakat. Selain itu, kali ini sistem pemilihan yang baru
ini juga ditopang oleh sistem teknologi informasi dan komunikasi
(ICT) khususnya dalam penghitungan jumlah suara pemilih secara
nasional.
Memang, apa yang kita lakukan belumlah semaju yang dilakukan
di negara lain, yang telah menggunakan sistem TI penuh untuk
memberikan suara. Yang kita lakukan baru sebatas pengiriman
data dari daerah ke pusat, yang dianggap sebagai solusi penghitungan
cepat dan akurat suara pemilih yang secara syah telah memberikan
keputusan untuk “memilih”, baik partai maupun
personal yang menurutnya cocok dengan keinginannya.
Yang menarik adalah bagaimana para petinggi negara ini sudah
mulai melihat pentingnya peran TI, khususnya dalam sistem
pemilihan. TI tidak hanya dilihat sebagai suatu industri
atau sistem, melainkan juga cara yang efektif dalam penghitungan
suara, komunikasi masyarakat, pengembangan bisnis dan dunia
usaha, serta pemerintahan. Sense inilah yang sesungguhnya
sangat diperlukan bangsa ini, sehingga strategi peningkatan
daya saing bangsa (termasuk masyarakat dan industri) dapat
secara optimal melibatkan TI, tentunya dengan strategi dan
prioritas yang tepat.
Karenanya, tak salah kalau banyak orang berharap setelah
Pemilu ini usai, infrastruktur yang telah dibangun dapat
ditingkatkan peran dan fungsionalitasnya dan sekaligus embrio
lahirnya jejaring eGovernment yang lebih baik. Bukan malah
sebaliknya, setelah Pemilu usai, maka usai sudah kemanfaatan
infrastruktur yang dibangun. Ketika nanti ada Pemilu lagi,
kembali membangun infrastruktur lagi.
Dalam konteks itu pula, eBizzAsia mencoba melihat bagaimana
perkembangan penerapan TI di kalangan perusahaan, yang secara
lebih komprehensif akan menentukan daya saing perusahaan
ke depan. Pilihan-pilihan apa yang tersedia dan bagaimana
dunia usaha menyikapi perkembangan itu. Selamat membaca.
Tharsikin Insa
Editor-in-Chief
|