Volume II No 15 - Maret 2004

Pemilu 2004


Pembaca yang budiman, tak lama lagi, di tahun 2004 ini, kita akan menghadapi perhelatan akbar – Pemilu 2004. Pemilu kali ini terasa lebih istimewa, karena inilah pertama kalinya bangsa Indonesia melakukan pemilihan secara langsung terhadap Presiden dan Wakil Presiden, tidak seperti sebelumnya melalui lembaga legislatif – DPR/MPR.

Pemilu, asasinya, tidak menakutkan. Melainkan lebih sebagai suatu bentuk “kemerdekaan” ruang pribadi dalam ikut serta menentukan pimpinan negara dan personal yang akan menduduki kelembagaan legislatif, yang sekaligus merupakan cerminan keterwakilan masyarakat dalam pembangunan bangsa ini.

Yang menarik dan sekaligus menantang adalah bahwa Pemilu kali ini ditangani oleh suatu kelembagaan khusus bernama KPU, yang diisi oleh tokoh-tokoh yang dianggap cukup mewakili keinginan untuk menjalan suatu sistem pengelolaan pemilihan yang lebih representatif, sebagai pelaksanaan dari keinginan masyarakat. Selain itu, kali ini sistem pemilihan yang baru ini juga ditopang oleh sistem teknologi informasi dan komunikasi (ICT) khususnya dalam penghitungan jumlah suara pemilih secara nasional.

Memang, apa yang kita lakukan belumlah semaju yang dilakukan di negara lain, yang telah menggunakan sistem TI penuh untuk memberikan suara. Yang kita lakukan baru sebatas pengiriman data dari daerah ke pusat, yang dianggap sebagai solusi penghitungan cepat dan akurat suara pemilih yang secara syah telah memberikan keputusan untuk “memilih”, baik partai maupun personal yang menurutnya cocok dengan keinginannya.

Yang menarik adalah bagaimana para petinggi negara ini sudah mulai melihat pentingnya peran TI, khususnya dalam sistem pemilihan. TI tidak hanya dilihat sebagai suatu industri atau sistem, melainkan juga cara yang efektif dalam penghitungan suara, komunikasi masyarakat, pengembangan bisnis dan dunia usaha, serta pemerintahan. Sense inilah yang sesungguhnya sangat diperlukan bangsa ini, sehingga strategi peningkatan daya saing bangsa (termasuk masyarakat dan industri) dapat secara optimal melibatkan TI, tentunya dengan strategi dan prioritas yang tepat.

Karenanya, tak salah kalau banyak orang berharap setelah Pemilu ini usai, infrastruktur yang telah dibangun dapat ditingkatkan peran dan fungsionalitasnya dan sekaligus embrio lahirnya jejaring eGovernment yang lebih baik. Bukan malah sebaliknya, setelah Pemilu usai, maka usai sudah kemanfaatan infrastruktur yang dibangun. Ketika nanti ada Pemilu lagi, kembali membangun infrastruktur lagi.

Dalam konteks itu pula, eBizzAsia mencoba melihat bagaimana perkembangan penerapan TI di kalangan perusahaan, yang secara lebih komprehensif akan menentukan daya saing perusahaan ke depan. Pilihan-pilihan apa yang tersedia dan bagaimana dunia usaha menyikapi perkembangan itu. Selamat membaca.



Tharsikin Insa

Editor-in-Chief

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved