Tantangan
yang dihadapi berbagai perusahaan dewasa ini, bukan
saja sangat rumit dan lebih terbuka, melainkan juga
sangat strategis. Strategis karena hal itu sangat menusuk
ke jantung perusahaan, sehingga ketika salah dalam
menyiasatinya, maka perusahaan akan menghadapi keadaan
yang lebih sulit, misalnya saja kalah bersaing.
Karenanya perusahaan-perusahaan semakin dituntut untuk
lebih fleksibel, elastis sehingga tetap mampu menghadapi
berbagai situasi dan kondisi persaingan yang semakin
ketat. Selain itu, dengan semakin berkembangnya berbagai
teknologi, jejaring dan perangkat teknologi informasi
(TI) yang semakin canggih, perusahaan tak dapat tidak,
terutama jika ingin meningkatkan daya saingnya, harus
mampu melihat perkembangan tersebut dan kemudian secara
bijak menerapkannya di lingkungan perusahaannya.
Perusahaan Elastis
Dalam konteks ini, inisiatif yang dikembangkan perusahaan,
seperti penerapan “utility” atau “on-demand” computing
dan penyelarasan antara bisnis dan TI semata-mata ditujukan
untuk penciptaan suatu “perusahaan yang elastis” atau “elastic
enterprise”. Perusahaan semacam ini dibangun berbasiskan
infrastruktur terpadu yang mampu menggabungkan, membuat
kontrak, dan berekspansi tanpa mempengaruhi, secara tepat
waktu, respon untuk mengubah kondisi bisnis.
Dengan begitu, kalangan eksekutif TI harus mulai mengarah
maju menuju gagasan ideal ini melalui kerjasama dengan
mitra bisnis mereka guna mengidentifikasi dan memrioritaskan
berbagai layanan bisnis kunci, dan kesalingtergantungan
mereka dengan unsur-unsur teknologi yang mendasarinya.
Kemudian mereka harus berfokus pada pemilihan, selanjutnya
penerapan, dan pengintegrasian, solusi manajemen yang
memungkinkan dan mendukung ketersediaan layanan, elastisitas,
fleksibilitas, keterukuran, dan tingkat layanan yang
disyaratkan demi kesuksesan bisnis.
Istilah “perusahaan elastis” menjelaskan
apa yang diinginkan oleh hampir semua perusahaan dari
segala jenis. Secara singkat, tujuannya adalah secara
memadai dapat fleksibel dalam merespon kondisi dan hambatan
bisnis secara cepat dan bijak, tanpa mengakibatkan kerusakan
bisnis tersebut. Tujuan lain dari perusahaan elastis
sejati adalah memaksimalkan manfaat bisnis dari setiap
investasi TI, tidak perduli berapa besar atau kecil manfaatnya.
Sebuah perusahaan elastis merupakan pengguna TI yang
tanggap terhadap biaya dan sekaligus hemat biaya, yang
berfokus pada ROI (return on investment)dan ROV (return
on value) tingkat tinggi.
Konsep perusahaan elastis dibangun berdasarkan dan diperluas
melebihi manajemen jenis-utilitas, berbasis-jasa dan
penyelarasan dua-arah antara bisnis dan TI.
Pengelolaan infrastruktur TI
Evolusi penyelarasan antara bisnis dan TI dengan business-centric,
services-based computing menuju suatu perusahaan
elastis, melibatkan beberapa prasyarat yang jelas.
Prasyarat spesifik, demikian juga halnya urutan pentingnya,
dari waktu ke waktu kemungkinan besar bervariasi
dari perusahaan ke perusahaan, dan bahkan dalam suatu
perusahaan.
Namun, ada satu prasyarat yang harus dipenuhi oleh
eksekutif TI dan perusahaannya, tak peduli apakah perusahaan
tersebut ingin menjadi elastis secara efektif atau
tidak. Ini merupakan pengelolaan infrastruktur TI yang
bersifat komprehensif dan bisnis-sentris. Begitu suatu
perusahaan semakin mengandalkan TI dalam melakukan
bisnisnya, pengelolaan infratruktur TI yang komprehensif
dan bisnis-sentris ini akan semakin penting untuk secara
efektif mengintegrasikan semua unsur proses bisnis.
Pengelolaan bisnis-sentris tidak fokus pada solusi
vendor spesifik, melainkan lebih pada apa yang dibutuhkan
dan diinginkan perusahaan. Pengelolaan infrastruktur
TI bisnis-sentris ini juga penting untuk mencapai efektivitas
maksimum dari inisatif berbasis pelanggan, seperti
Customer Relationship Management (CRM). Pengelolaannya
meliputi, tetapi tidak terbatas pada, karakteristik
dan fitur-fitur berikut ini.
Sentrisitas-Bisnis. Informasi manajemen infrastruktur
harus secara eksplisit terhubungn dan terkiat pada
tiap tujuan khusus perusahaan dan tujuan bisnis spesifik-LOB,
metrik, dan persyaratan.
Kelengkapan pemahaman. Informasi pengelolaan infrastruktur
harus disediakan dalam bentuk yang mudah dipahami dan
dilakukan oleh pihak yang menerima informasi tersebut,
baik eksekutif, manajer LOB (line of business), atau
staf teknis.
Integrasi
Perangkat pengelolaan yang berbeda harus saling-beroperasi
pada tingkat tinggi yang wajar, dan dimasukkan ke
dalam “dashboard” sentral atau titik
konsolidasi tertentu, sehingga perusahaan dapat melihat
secara luas dan sekaligus mengendalikan infrastrukturmya.
Menyeluruh. Tidak satupun elemen bisnis, ataupun sumber
daya TI yang bisa dikecualikan.
Skalabilitas. Seperti halnya insfrastruktur TI itu
sendiri, pengelolaan infrastruktur juga harus dapat
ditingkatkan, baik jangkauan maupun rentang kapasitas
dan kemampuannya untuk menerima teknologi baru begitu
diterapkan di perusahaan.
Pengelolaan infrastruktur TI yang komprehensif ini
harus mampu lebih dari sekadar mengidentifikasi dan
mencatat elemen-elemen infrastruktur, melainkan apakah
mereka berfungsi atau tidak. Juga harus mampu membantu
kalangan eksekutif TI dan Non-TI untuk segera dan jelas
menyatukan kesalingtergantungan berbagai elemen infrastruktur
TI dengan aplikasi perusahaan, dan pengguna serta proses
bisnis yang didukung oleh aplikasi tersebut.
Mengidentifikasi Layanan
Bisnis Inti
Umumnya, eksekutif TI dan non-TI di perusahaan yang
lebih elastis telah mulai melihat berbagai hal yang
menghasilkan pendapatan bagi perusahaan, dan mengurutkannya
berdasarkan tingkat pendapatan yang mereka hasilkan.
Misalnya, perusahaan jasa keuangan dengan produk yang
beragam menyadari bahwa pemantauan ATM dan memperbaiki
ATM yang rusak mungkin akan menjadi layanan yang kurang
penting bagi perusahaan, ketimbang penanganan aset
seorang nasabah yang paling berharga. Elemen infrastruktur
teknologi yang mendukung nasabah yang paling berharga
itu tentu akan lebih diprioritaskan ketimbang ATM,
sehingga memungkinkan penggunaan sumber daya pendukung
TI secara lebih efisien dan bisnis-sentris.
Di beberapa perusahaan, prioritas berdasarkan pendekatan
ini mungkin berbeda dengan yang sebelumnya ditentukan
oleh eksekutif TI dan timnya. Eksekutif TI harus merasionalisasi
tiap perbedaan dan memastikan dukungan terhadap apa
yang dihasilkan oleh mitra bisnis dan eksekutif lainnya.
Tingkat elastisitas yang mungkin dicapai suatu perusahaan
banyak ditentukan oleh kemampuan eksekutif TI, lini
bisnis dan eksekutif non-TI senior lainnya dalam menyepakati
sebuah visi, tujuan, strategi, dan taktik.
Pendekatan lain untuk mengidentifikasi proses bisnis
inti terkait dengan penentuan di mana permintaan terbesar
dan terkecil yang saat ini terjadi, baik sumber daya
bisnis maupun TI, dan nilai bisnis relatif dari “puncak
dan lembah.” Elastisitas murni terkait dengan
pemanfaatan semua sumber daya yang tersedia – melakukan
paling banyak dengan upaya paling sedikit.
Begitu layanan bisnis diidentifikasi dan diprioritaskan,
eksekutif TI harus bekerjasama dengan manajer LOB dan
eksekutif non-IT senior lainnya, untuk mendefinisikan
proses pengenalan dan pengintegrasian proses bisnis
baru begitu ia muncul.
Pemilihan Vendor dan Solusi
Pengelolaan infrastruktur TI bisnis-sentris yang komprehensif
dan penyelarasan antara bisnis dan TI tingkat tinggi
sangat dipahami oleh banyak vendor. Hanya saja, masing-masing
pendekatannya berbeda dan menangani faktor-faktor
yang berbeda dan dengan cara-cara yang berbeda. Tiap
vendor juga memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri.
Eksekutif TI harus menilai secara ketat solusi yang
ditawarkan dan memastikan bahwa solusi tersebut dapat
memberikan hasil maksimal dengan biaya minimal.
Eksekutif TI harus menghindari solusi manajemen bisnis-TI
yang mensyaratkan ketergantungan pada “kerangka
kerja” buatan-vendor secara mendalam, dan ketergantungan
pada layanan profesional yang disediakannya. Sebaliknya,
mereka harus lebih fokus pada solusi yang moduler,
inter-operasi dengan solusi vendor lain, dan mentaati
standar tertentu.
Begitu juga, hubungan kontraknya harus jelas dan tegas,
serta menjelaskan banyak hal dengan baik, sehingga
dapat menghindari munculnya permasalahan di kemudian
hari, yang boleh jadi sangat merugikan perusahaan.
Mereka juga harus menetapkan kebijakan yang memungkinkan
dan mendukung kajian atas berbagai alternatif yang
tersedia dan’kesehatan’ vendor. Ini akan
membantu perusahaan untuk mengidentifikasi, baik solusi
baru yang menjanjikan maupun yang mungkin kehilangan
kemampuannya dalam waktu singkat.
Eksekutif TI juga harus kukuh pada fokus utamanya pada
tujuan perusahaan, khususnya sebagai pertahanan terhadap
upaya vendor untuk menjual TI langsung ke CEO, CFO,
atau eksekutif senior perusahaan lainnya. •MD/TI |