Volume II No 15 - Maret 2004
   



Bagaimana Menjadi
Perusahaan Elastis

 

Elastisitas perusahaan dalam menghadapi berbagai tantangan dan persaingan memang sangat diperlukan. Hal-hal apa yang perlu difahami dalam membuat perusahaan elastis?

Tantangan yang dihadapi berbagai perusahaan dewasa ini, bukan saja sangat rumit dan lebih terbuka, melainkan juga sangat strategis. Strategis karena hal itu sangat menusuk ke jantung perusahaan, sehingga ketika salah dalam menyiasatinya, maka perusahaan akan menghadapi keadaan yang lebih sulit, misalnya saja kalah bersaing.

Karenanya perusahaan-perusahaan semakin dituntut untuk lebih fleksibel, elastis sehingga tetap mampu menghadapi berbagai situasi dan kondisi persaingan yang semakin ketat. Selain itu, dengan semakin berkembangnya berbagai teknologi, jejaring dan perangkat teknologi informasi (TI) yang semakin canggih, perusahaan tak dapat tidak, terutama jika ingin meningkatkan daya saingnya, harus mampu melihat perkembangan tersebut dan kemudian secara bijak menerapkannya di lingkungan perusahaannya.

Perusahaan Elastis

Dalam konteks ini, inisiatif yang dikembangkan perusahaan, seperti penerapan “utility” atau “on-demand” computing dan penyelarasan antara bisnis dan TI semata-mata ditujukan untuk penciptaan suatu “perusahaan yang elastis” atau “elastic enterprise”. Perusahaan semacam ini dibangun berbasiskan infrastruktur terpadu yang mampu menggabungkan, membuat kontrak, dan berekspansi tanpa mempengaruhi, secara tepat waktu, respon untuk mengubah kondisi bisnis.

Dengan begitu, kalangan eksekutif TI harus mulai mengarah maju menuju gagasan ideal ini melalui kerjasama dengan mitra bisnis mereka guna mengidentifikasi dan memrioritaskan berbagai layanan bisnis kunci, dan kesalingtergantungan mereka dengan unsur-unsur teknologi yang mendasarinya. Kemudian mereka harus berfokus pada pemilihan, selanjutnya penerapan, dan pengintegrasian, solusi manajemen yang memungkinkan dan mendukung ketersediaan layanan, elastisitas, fleksibilitas, keterukuran, dan tingkat layanan yang disyaratkan demi kesuksesan bisnis.

Istilah “perusahaan elastis” menjelaskan apa yang diinginkan oleh hampir semua perusahaan dari segala jenis. Secara singkat, tujuannya adalah secara memadai dapat fleksibel dalam merespon kondisi dan hambatan bisnis secara cepat dan bijak, tanpa mengakibatkan kerusakan bisnis tersebut. Tujuan lain dari perusahaan elastis sejati adalah memaksimalkan manfaat bisnis dari setiap investasi TI, tidak perduli berapa besar atau kecil manfaatnya. Sebuah perusahaan elastis merupakan pengguna TI yang tanggap terhadap biaya dan sekaligus hemat biaya, yang berfokus pada ROI (return on investment)dan ROV (return on value) tingkat tinggi.

Konsep perusahaan elastis dibangun berdasarkan dan diperluas melebihi manajemen jenis-utilitas, berbasis-jasa dan penyelarasan dua-arah antara bisnis dan TI.

Pengelolaan infrastruktur TI

Evolusi penyelarasan antara bisnis dan TI dengan business-centric, services-based computing menuju suatu perusahaan elastis, melibatkan beberapa prasyarat yang jelas. Prasyarat spesifik, demikian juga halnya urutan pentingnya, dari waktu ke waktu kemungkinan besar bervariasi dari perusahaan ke perusahaan, dan bahkan dalam suatu perusahaan.

Namun, ada satu prasyarat yang harus dipenuhi oleh eksekutif TI dan perusahaannya, tak peduli apakah perusahaan tersebut ingin menjadi elastis secara efektif atau tidak. Ini merupakan pengelolaan infrastruktur TI yang bersifat komprehensif dan bisnis-sentris. Begitu suatu perusahaan semakin mengandalkan TI dalam melakukan bisnisnya, pengelolaan infratruktur TI yang komprehensif dan bisnis-sentris ini akan semakin penting untuk secara efektif mengintegrasikan semua unsur proses bisnis.

Pengelolaan bisnis-sentris tidak fokus pada solusi vendor spesifik, melainkan lebih pada apa yang dibutuhkan dan diinginkan perusahaan. Pengelolaan infrastruktur TI bisnis-sentris ini juga penting untuk mencapai efektivitas maksimum dari inisatif berbasis pelanggan, seperti Customer Relationship Management (CRM). Pengelolaannya meliputi, tetapi tidak terbatas pada, karakteristik dan fitur-fitur berikut ini.

Sentrisitas-Bisnis. Informasi manajemen infrastruktur harus secara eksplisit terhubungn dan terkiat pada tiap tujuan khusus perusahaan dan tujuan bisnis spesifik-LOB, metrik, dan persyaratan.

Kelengkapan pemahaman. Informasi pengelolaan infrastruktur harus disediakan dalam bentuk yang mudah dipahami dan dilakukan oleh pihak yang menerima informasi tersebut, baik eksekutif, manajer LOB (line of business), atau staf teknis.

Integrasi

Perangkat pengelolaan yang berbeda harus saling-beroperasi pada tingkat tinggi yang wajar, dan dimasukkan ke dalam “dashboard” sentral atau titik konsolidasi tertentu, sehingga perusahaan dapat melihat secara luas dan sekaligus mengendalikan infrastrukturmya.

Menyeluruh. Tidak satupun elemen bisnis, ataupun sumber daya TI yang bisa dikecualikan.
Skalabilitas. Seperti halnya insfrastruktur TI itu sendiri, pengelolaan infrastruktur juga harus dapat ditingkatkan, baik jangkauan maupun rentang kapasitas dan kemampuannya untuk menerima teknologi baru begitu diterapkan di perusahaan.

Pengelolaan infrastruktur TI yang komprehensif ini harus mampu lebih dari sekadar mengidentifikasi dan mencatat elemen-elemen infrastruktur, melainkan apakah mereka berfungsi atau tidak. Juga harus mampu membantu kalangan eksekutif TI dan Non-TI untuk segera dan jelas menyatukan kesalingtergantungan berbagai elemen infrastruktur TI dengan aplikasi perusahaan, dan pengguna serta proses bisnis yang didukung oleh aplikasi tersebut.

Mengidentifikasi Layanan Bisnis Inti

Umumnya, eksekutif TI dan non-TI di perusahaan yang lebih elastis telah mulai melihat berbagai hal yang menghasilkan pendapatan bagi perusahaan, dan mengurutkannya berdasarkan tingkat pendapatan yang mereka hasilkan. Misalnya, perusahaan jasa keuangan dengan produk yang beragam menyadari bahwa pemantauan ATM dan memperbaiki ATM yang rusak mungkin akan menjadi layanan yang kurang penting bagi perusahaan, ketimbang penanganan aset seorang nasabah yang paling berharga. Elemen infrastruktur teknologi yang mendukung nasabah yang paling berharga itu tentu akan lebih diprioritaskan ketimbang ATM, sehingga memungkinkan penggunaan sumber daya pendukung TI secara lebih efisien dan bisnis-sentris.

Di beberapa perusahaan, prioritas berdasarkan pendekatan ini mungkin berbeda dengan yang sebelumnya ditentukan oleh eksekutif TI dan timnya. Eksekutif TI harus merasionalisasi tiap perbedaan dan memastikan dukungan terhadap apa yang dihasilkan oleh mitra bisnis dan eksekutif lainnya. Tingkat elastisitas yang mungkin dicapai suatu perusahaan banyak ditentukan oleh kemampuan eksekutif TI, lini bisnis dan eksekutif non-TI senior lainnya dalam menyepakati sebuah visi, tujuan, strategi, dan taktik.

Pendekatan lain untuk mengidentifikasi proses bisnis inti terkait dengan penentuan di mana permintaan terbesar dan terkecil yang saat ini terjadi, baik sumber daya bisnis maupun TI, dan nilai bisnis relatif dari “puncak dan lembah.” Elastisitas murni terkait dengan pemanfaatan semua sumber daya yang tersedia – melakukan paling banyak dengan upaya paling sedikit.

Begitu layanan bisnis diidentifikasi dan diprioritaskan, eksekutif TI harus bekerjasama dengan manajer LOB dan eksekutif non-IT senior lainnya, untuk mendefinisikan proses pengenalan dan pengintegrasian proses bisnis baru begitu ia muncul.

Pemilihan Vendor dan Solusi

Pengelolaan infrastruktur TI bisnis-sentris yang komprehensif dan penyelarasan antara bisnis dan TI tingkat tinggi sangat dipahami oleh banyak vendor. Hanya saja, masing-masing pendekatannya berbeda dan menangani faktor-faktor yang berbeda dan dengan cara-cara yang berbeda. Tiap vendor juga memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri. Eksekutif TI harus menilai secara ketat solusi yang ditawarkan dan memastikan bahwa solusi tersebut dapat memberikan hasil maksimal dengan biaya minimal.

Eksekutif TI harus menghindari solusi manajemen bisnis-TI yang mensyaratkan ketergantungan pada “kerangka kerja” buatan-vendor secara mendalam, dan ketergantungan pada layanan profesional yang disediakannya. Sebaliknya, mereka harus lebih fokus pada solusi yang moduler, inter-operasi dengan solusi vendor lain, dan mentaati standar tertentu.

Begitu juga, hubungan kontraknya harus jelas dan tegas, serta menjelaskan banyak hal dengan baik, sehingga dapat menghindari munculnya permasalahan di kemudian hari, yang boleh jadi sangat merugikan perusahaan. Mereka juga harus menetapkan kebijakan yang memungkinkan dan mendukung kajian atas berbagai alternatif yang tersedia dan’kesehatan’ vendor. Ini akan membantu perusahaan untuk mengidentifikasi, baik solusi baru yang menjanjikan maupun yang mungkin kehilangan kemampuannya dalam waktu singkat.

Eksekutif TI juga harus kukuh pada fokus utamanya pada tujuan perusahaan, khususnya sebagai pertahanan terhadap upaya vendor untuk menjual TI langsung ke CEO, CFO, atau eksekutif senior perusahaan lainnya. •MD/TI
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.