Volume II No 15 - Maret 2004
 


Wireless Local Area Network
Tak Sekadar Mobilitas

 

 

Dewasa ini, salah satu teknologi komunikasi data broadband tanpa kabel yang paling banyak menarik perhatian pengguna adalah wireless local area network (W-LAN) yang lebih dikenal dengan sebutan Wi-Fi (wireless fidelity). Wi-Fi bahkan telah menjadi suatu brand name baru yang dikenal luas, terutama kalau berbicara mengenai hotspot Wi-Fi – tempat-tempat umum di mana tersedia layanan akses internet tanpa kabel, seperti DI kafe, lobi hotel, executive lounge bandara atau mal.

Teknologi berstandar IEEE 802.11b, yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dengan kecepatan transfer data 11 Mbps tak hanya bermanfaat untuk mengakses internet dari sebarang tempat sepanjang masih dalam area jangkauan Wi-Fi, melainkan dapat juga digunakan untuk transfer data antara beberapa komputer yang berkemampuan Wi-Fi.

Dari pengembangan standarisasi, di lingkungan komunikasi data broadband tanpa kabel ini masih ada standar lainnya, misalnya Wi-Fi 802.11a yang berkemampuan transfer data lebih besar (54 Mbps) dan bekerja pada frekuensi 5 GHz. Belakang muncul standar 802.11g, yang bukan saja memungkinkan kecepatan transfer data hingga 54 Mbps, dan bekerja pada frekuensi 2,4 GHz, melainkan juga kompatibel dengan standar 802.11b dan dengan tingkat keamanan yang lebih baik. Namun, perangkatnya masih mahal dan belum banyak tersedia.

Pemanfaatan teknologi Wi-Fi ini tak semata-mata untuk pengguna publik seperti di kafe, restoran, hotel, bandara dan lainnya. Melainkan, banyak juga penggunaan untuk kepentingan korporasi. Perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti United Parcell Service (UPS), Starbucks, atau London Costa Coffee sudah lebih dahulu memanfaatkan layanan tersebut.

Selain itu, survei yang dilakukan InfoTech, perusahaan riset yang berbasis di New York, mengungkapkan bahwa sekitar 45% perusahaan Amerika telah menerapkan jaringan tanpa kabel Wi-Fi ini, meningkat dari hanya 17% tahun 2001, dan 33% tahun 2002. Belakangan, teknologi yang sama juga diterapkan di rumah-rumah sakit, industri manufaktur dan berbagai industri lainnya.

Contoh lain yang juga cukup menarik adalah penerapan W-LAN di lingkungan Microsoft, yang tak hanya diterapkan di lingkungan 70 gedung di Redmond, melainkan juga di 23 lokasi di mancanegara. Penerapannya dimulai ketika tahun 2001, Microsoft mencanangkan suatu pilot project dengan 600 pengguna, yang kemudian diputuskan untuk diterapkan secara menyeluruh. Selain teknologinya aman dan mudah dikelola, Microsoft juga tak segan-segan menghabiskan 9 juta dolar AS untuk penerapan jaringan W-LAN ini yang ditujukan untuk melayani sekitar 35 ribu karyawannya di seluruh dunia.

Di Qualcomm (www.qualcomm.com), seperti dituturkan Fjeldheim, CIO Qualcomm, penerapan jejaring Wi-Fi dilakukan tahun 2001/2002. Tak kurang dari 200 perangkat Avaya AP-3 AP dipasang di beberapa tempat, seperti ruang pertemuan dan executive suite yang berada di lantai tujuh. Sekitar 1.500 PCMCIA cards dan 628 laptop berkemampuan Wi-Fi disediakan. Jejaringannya berjalan baik dan malah mengundang antusiasme yang tinggi para pengguna dari kalangan senior manajemen.

Kemudian secara bertahap jejaring berbasis Wi-Fi 802.11 mengisi kawasan kantor Qualcomm seluas 2 juta kaki persegi di San Diego. Meski tak sepenuhnya mampu menggantikan jejaring kabel (kapasitas transfer datanya 100MB dan 1GB ke desktop), namun Wi-FI (kapasitas 11MB) dapat menjadi kebutuhan ketika para karyawan sedang mobile atau berada di luar kantor.

“Secara teknologi, Wi-Fi sudah mencapai kematangannya, begitu juga sekuritinya. Namun, penerapannya tentu disesuaikan dengan
kebutuhannya. Apakah ada perlunya menerapkan jejaring bergerak (mobile networking), kalau seluruh karyawannya lebih banyak berada di tempat kerjanya, daripada mobile?”

Irfan Setiaputra,
Managing Director PT Cisco System Indonesia

Di sisi lain, menurut seorang analis IDC (International Data Corporation), Abner Germanow, penggunaan W-LAN di kalangan enterprise terbagi menjadi dua kategori. Pertama, penggunaan internal, seperti di rumah-rumah sakit, kampus dan di industri hospitality seperti hotel dan bandara. Kedua, sebagai akses mobile Internet oleh perusahaan-perusahaan besar, yang memanfaatkannya untuk memungkinkan para pekerja lapangan mereka mengakses internet, mengakses intranet perusahaan, mentransfer data dan komunikasi data lainnya. Begitu juga bagaimana para kontraktor, vendor dan pihak luar lainnya dapat mengakses jejaring perusahaan tanpa mengizinkan mereka masuk ke dalam firewall perusahaan dan tanpa perlu menambah jejaring baru.

Penerapan Wi-Fi lainnya di lingkungan korporasi, tentu didasarkan pada adanya keperluan yang tepat dan strategis. Misalnya keperluan untuk mengubah lay-out tempat kerja, atau karena adanya keperluan di tempat yang berbeda, seperti di ruang meeting atau conference room yang ada di lantai berbeda dalam gedung yang sama.

Belakangan ini, di lingkungan front office suatu perbankan pun tampaknya dibutuhkan inovasi melalui penerapan Wi-Fi. Misalnya, para petugas front office tak hanya terpaku di meja kerjanya sebagaimana sekarang ini, melainkan dapat mendatangi nasabahnya di tempat yang lebih nyaman, yang jauh dari meja kerjanya. Dengan berbekal laptop yang berkemampuan Wi-Fi, si petugas dapat melayani nasabahnya sambil ngobrol, tetapi data dan informasi yang dibutuhkan tetap dapat dengan mudah diakses tanpa harus bolak-balik dari tempat nasabah ke meja kerjanya, meski masih dalam satu gedung yang sama.

Begitu juga dengan hotel, yang dapat menerapkan teknologi ini secara lebih luas, mulai dari resepsionis, kafe, restoran hingga ke kamar dan, bahkan, business room dan layanan lainnya. Juga kegiatan administratif yang selama ini terpaku oleh ketersediaan jaringan kabel. Diharapkan hal itu akan mendorong produktivitas, peningkatan pelayanan dan juga penghematan biaya.

Contoh lain yang menarik adalah aplikasi Wi-Fi di gerai Ramayana, yang menurut Irfan Setiaputra, Managing Director PT Cisco System Indonesia, merupakan contoh kasus bagaimana Wi-Fi mampu memberi solusi. Ramayana menerapkan teknologi Wi-Fi ini lebih karena kebutuhan untuk memudahkan menata lay-out gerainya untuk setiap kali dilakukan perubahan, termasuk memindah-mindahkan lokasi kasir, tanpa diribetkan dengan masalah jaringan kabel. Perubahan lay-out ini sering dilakukan, terutama untuk menarik minat para pembeli karena adanya suasana baru setiap kali mereka datang ke gerai.

Sementara itu, saat ini, semakin banyak laptop atau notebook yang telah berkemampuan W-LAN atau dilengkapi dengan prosesor Intel Centrino. Kalangan analis berkeyakinan bahwa platform Centrino, yang menyediakan kemampuan akses tanpa kabel built-in ini, akan menjadi pendorong utama perkembangan W-LAN, khususnya dalam penggunaan bergerak sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan efektivitas penggunanya, baik selama di kantor maupun di luar kantor.

Meski hanya 7 persen saja dari seluruh perusahaan yang saat ini telah menerapkan W-LAN dengan 100 access points, namun semakin banyak saja perusahaan yang tertarik dengan penghematan dari penerapan menyeluruh di tingkat perusahaan. Kalangan analis sepakat bahwa penerapan besar-besaran akan mampu menghemat dalam jumlah besar, tidak saja dalam pengurangan biaya peralatan, melainkan yang lebih besar adalah peningkatan produktivitas karyawan.

Kalau selama ini penerapan W-LAN lebih tertuju pada kepentingan kalangan senior manajemen, nantinya akan semakin berkembang sampai ke tingkat karyawan. Adanya akses tanpa kabel berkecepatan tinggi ini berpotensi meningkatkan produktivitas karyawan hingga 27 persen, karena semakin singkatnya waktu yang dibutuhkan untuk, misalnya mengakses data dari jejaring perusahaan atau mentransfer data antar bagian di dalam perusahaan.

Seperti dituturkan Steve Nye, General Manager Building Broadband Solutions unit, Cisco Systems Inc., bahwa peningkatan produktivitas dimungkinkan dengan penerapan W-LAN ini. Nye sendiri seringkali melakukan pertemuan secara virtual dengan stafnya di berbagai lokasi di dunia. Bisa saja pertemuannya berlangsung ketika saat jam makan siang di Silicon Valley, tetapi, pada saat yang sama, masih tengah malan di India.

Perbedaan waktu tak menjadi hambatan, begitu juga tanpa perlu kehadiran fisik di suatu lokasi tertentu. Dengan digunakannya jejaring W-LAN, memungkinkan stafnya melakukan melakukan pertemuan dan berdiskusi ketika sedang berada di rumah, di jalan, menunggu pesawat di bandara atau sedang di conference center.

Namun, penerapan secara besar-besaran menuntut persyaratan tertentu yang secara ketat harus dipenuhi, misalnya manajemen terpusat, kualitas layanan dan penanganan sekuriti yang lebih tinggi tingkatannya. Karenanya, diperlukan suatu perencanaan yang matang dan hati-hati dalam penerapannya. Sebab, harga pembelian dan juga strategi penerapan, pemantauan dan pengelolaan terbaik akan berbeda-beda dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Keberhasilan yang diraih suatu perusahaan tidak dapat begitu saja ditiru untuk mendapatkan hasil yang sama.

Di Indonesia, para pengguna Wi-Fi masih terbilang baru. Awal 2004 inilah terasa ada peningkatan perhatian yang lebih besar untuk memanfaatkan teknologi Wi-Fi, baik di lingkungan rumah, korporat maupun tempat-tempat publik – kafe, bandara dll.
Berbagai pertimbangan masih menjadi alasan utama di antara mereka yang akan menerapkan teknologi Wi-Fi ini, khususnya di lingkungan korporat. Baik itu menyangkut kematangan teknologi, standarisasi dan security. Juga, dukungan berbagai perangkat yang berkemampuan Wi-Fi, karena hal itu terkait dengan pengembangan sistem dan besarnya investasi yang bakal ditanamkan, apalagi bila diterapkan secara menyeluruh.

Namun Irfan mengungkapkan bahwa secara teknologi, Wi-Fi telah sampai pada kematangannya, begitu juga security-nya. Ditambah lagi dengan dikeluarkannya standar 802.11g yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dengan kecepatan transfer data 54 Mbps. “Secara fakta teknologinya sudah cukup matang. Yang sekarang ini ada lebih merupakan persepsi,” ujar Irfan menambahkan.

“ Selama ini, masing-masing kita secara bertahun-tahun berada di lingkungan kubus tertentu kalau bekerja. Jika pun pindah ke ruangan lain, namun tempat itulah yang menjadi lokasi di mana kita bekerja. Kita juga tidak bisa mengerjakan pekerjaan kita di ruang lain, karena PC kita ada di ruang kerja kita. Kalau pun membawa laptop, tak bisa terhubung ke Internet, kecuali di tempat-tempat tertentu, karena aksesibilitasnya memang terbatas dan menggunakan kabel,” tambah Irfan. Sekarang, dengan Wi-Fi, sudah tidak tergantung itu lagi, lebih fleksibel.

Steve Nye dari Cisco System, maupun Philip Redman, vice president Gartner Research, mengungkapkan bahwa memang masih ada lubang-lubang dalam masalah security-nya. Begitu juga kerumitan penggelarannya, masalah pengelolaannya dan return on investment yang diterimanya. Namun, masalah sekuriti ini sudah teratasi dengan Wi-Fi Protected Access (WPA) dan standar baru yang akan dikeluarkan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) yaitu 802.11i. “Standar 802.11i menjanjikan enkripsi yang lebih kuat, key management dan otentikasi yang lebih baik,” ujar Nye.

Menurut Managing Director Wi-Fi Alliance, Frank Hanzlik, standar 802.11i dijadwalkan akan diratifikasi bulan Juni mendatang, dan diharapkan, produk-produk yang menggunakan standar ini juga akan tersedia pada saat yang sama. Sampai saat itu, Wi-Fi Protected Access (WPA)-lah yang akan mengatasi masalah sekuritinya. “WPA akan menjembatani celah antara WEP (wireless equivalent privacy), yang merupakan standar sekuriti Wi-Fi pertama dengan 802.11i,” tambah Hanzlik. •Insa/Aa

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.