Dewasa
ini, salah satu teknologi komunikasi data broadband tanpa
kabel yang paling banyak menarik perhatian pengguna adalah
wireless local area network (W-LAN) yang lebih dikenal
dengan sebutan Wi-Fi (wireless fidelity). Wi-Fi bahkan
telah menjadi suatu brand name baru yang dikenal luas,
terutama kalau berbicara mengenai hotspot Wi-Fi – tempat-tempat
umum di mana tersedia layanan akses internet tanpa kabel,
seperti DI kafe, lobi hotel, executive lounge bandara atau
mal.
Teknologi berstandar IEEE 802.11b, yang bekerja pada frekuensi
2,4 GHz dengan kecepatan transfer data 11 Mbps tak hanya bermanfaat
untuk mengakses internet dari sebarang tempat sepanjang masih
dalam area jangkauan Wi-Fi, melainkan dapat juga digunakan
untuk transfer data antara beberapa komputer yang berkemampuan
Wi-Fi.
Dari pengembangan standarisasi, di lingkungan komunikasi data
broadband tanpa kabel ini masih ada standar lainnya, misalnya
Wi-Fi 802.11a yang berkemampuan transfer data lebih besar (54
Mbps) dan bekerja pada frekuensi 5 GHz. Belakang muncul standar
802.11g, yang bukan saja memungkinkan kecepatan transfer data
hingga 54 Mbps, dan bekerja pada frekuensi 2,4 GHz, melainkan
juga kompatibel dengan standar 802.11b dan dengan tingkat keamanan
yang lebih baik. Namun, perangkatnya masih mahal dan belum
banyak tersedia.
Pemanfaatan teknologi Wi-Fi ini tak semata-mata untuk pengguna
publik seperti di kafe, restoran, hotel, bandara dan lainnya.
Melainkan, banyak juga penggunaan untuk kepentingan korporasi.
Perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti United Parcell Service
(UPS), Starbucks, atau London Costa Coffee sudah lebih dahulu
memanfaatkan layanan tersebut.
Selain itu, survei yang dilakukan InfoTech, perusahaan riset
yang berbasis di New York, mengungkapkan bahwa sekitar 45%
perusahaan Amerika telah menerapkan jaringan tanpa kabel Wi-Fi
ini, meningkat dari hanya 17% tahun 2001, dan 33% tahun 2002.
Belakangan, teknologi yang sama juga diterapkan di rumah-rumah
sakit, industri manufaktur dan berbagai industri lainnya.
Contoh lain yang juga cukup menarik adalah penerapan W-LAN
di lingkungan Microsoft, yang tak hanya diterapkan di lingkungan
70 gedung di Redmond, melainkan juga di 23 lokasi di mancanegara.
Penerapannya dimulai ketika tahun 2001, Microsoft mencanangkan
suatu pilot project dengan 600 pengguna, yang kemudian diputuskan
untuk diterapkan secara menyeluruh. Selain teknologinya aman
dan mudah dikelola, Microsoft juga tak segan-segan menghabiskan
9 juta dolar AS untuk penerapan jaringan W-LAN ini yang ditujukan
untuk melayani sekitar 35 ribu karyawannya di seluruh dunia.
Di Qualcomm (www.qualcomm.com), seperti dituturkan Fjeldheim,
CIO Qualcomm, penerapan jejaring Wi-Fi dilakukan tahun 2001/2002.
Tak kurang dari 200 perangkat Avaya AP-3 AP dipasang di beberapa
tempat, seperti ruang pertemuan dan executive suite yang berada
di lantai tujuh. Sekitar 1.500 PCMCIA cards dan 628 laptop
berkemampuan Wi-Fi disediakan. Jejaringannya berjalan baik
dan malah mengundang antusiasme yang tinggi para pengguna dari
kalangan senior manajemen.
Kemudian secara bertahap jejaring berbasis Wi-Fi 802.11 mengisi
kawasan kantor Qualcomm seluas 2 juta kaki persegi di San Diego.
Meski tak sepenuhnya mampu menggantikan jejaring kabel (kapasitas
transfer datanya 100MB dan 1GB ke desktop), namun Wi-FI (kapasitas
11MB) dapat menjadi kebutuhan ketika para karyawan sedang mobile
atau berada di luar kantor.
 |
“Secara
teknologi, Wi-Fi sudah mencapai
kematangannya, begitu juga sekuritinya. Namun, penerapannya
tentu disesuaikan dengan
kebutuhannya. Apakah ada perlunya menerapkan jejaring bergerak
(mobile networking), kalau seluruh karyawannya lebih banyak
berada di tempat kerjanya, daripada mobile?”
Irfan Setiaputra,
Managing Director PT Cisco System Indonesia |
Di sisi lain, menurut seorang analis IDC (International Data
Corporation), Abner Germanow, penggunaan W-LAN di kalangan
enterprise terbagi menjadi dua kategori. Pertama, penggunaan
internal, seperti di rumah-rumah sakit, kampus dan di industri
hospitality seperti hotel dan bandara. Kedua, sebagai akses
mobile Internet oleh perusahaan-perusahaan besar, yang memanfaatkannya
untuk memungkinkan para pekerja lapangan mereka mengakses internet,
mengakses intranet perusahaan, mentransfer data dan komunikasi
data lainnya. Begitu juga bagaimana para kontraktor, vendor
dan pihak luar lainnya dapat mengakses jejaring perusahaan
tanpa mengizinkan mereka masuk ke dalam firewall perusahaan
dan tanpa perlu menambah jejaring baru.
Penerapan Wi-Fi lainnya di lingkungan korporasi, tentu didasarkan
pada adanya keperluan yang tepat dan strategis. Misalnya keperluan
untuk mengubah lay-out tempat kerja, atau karena adanya keperluan
di tempat yang berbeda, seperti di ruang meeting atau conference
room yang ada di lantai berbeda dalam gedung yang sama.
Belakangan ini, di lingkungan front office suatu perbankan
pun tampaknya dibutuhkan inovasi melalui penerapan Wi-Fi. Misalnya,
para petugas front office tak hanya terpaku di meja kerjanya
sebagaimana sekarang ini, melainkan dapat mendatangi nasabahnya
di tempat yang lebih nyaman, yang jauh dari meja kerjanya.
Dengan berbekal laptop yang berkemampuan Wi-Fi, si petugas
dapat melayani nasabahnya sambil ngobrol, tetapi data dan informasi
yang dibutuhkan tetap dapat dengan mudah diakses tanpa harus
bolak-balik dari tempat nasabah ke meja kerjanya, meski masih
dalam satu gedung yang sama.
Begitu juga dengan hotel, yang dapat menerapkan teknologi ini
secara lebih luas, mulai dari resepsionis, kafe, restoran hingga
ke kamar dan, bahkan, business room dan layanan lainnya. Juga
kegiatan administratif yang selama ini terpaku oleh ketersediaan
jaringan kabel. Diharapkan hal itu akan mendorong produktivitas,
peningkatan pelayanan dan juga penghematan biaya.
Contoh lain yang menarik adalah aplikasi Wi-Fi di gerai Ramayana,
yang menurut Irfan Setiaputra, Managing Director PT Cisco System
Indonesia, merupakan contoh kasus bagaimana Wi-Fi mampu memberi
solusi. Ramayana menerapkan teknologi Wi-Fi ini lebih karena
kebutuhan untuk memudahkan menata lay-out gerainya untuk setiap
kali dilakukan perubahan, termasuk memindah-mindahkan lokasi
kasir, tanpa diribetkan dengan masalah jaringan kabel. Perubahan
lay-out ini sering dilakukan, terutama untuk menarik minat
para pembeli karena adanya suasana baru setiap kali mereka
datang ke gerai.
Sementara itu, saat ini, semakin banyak laptop atau notebook
yang telah berkemampuan W-LAN atau dilengkapi dengan prosesor
Intel Centrino. Kalangan analis berkeyakinan bahwa platform
Centrino, yang menyediakan kemampuan akses tanpa kabel built-in
ini, akan menjadi pendorong utama perkembangan W-LAN, khususnya
dalam penggunaan bergerak sehingga mampu meningkatkan produktivitas
dan efektivitas penggunanya, baik selama di kantor maupun di
luar kantor.
Meski hanya 7 persen saja dari seluruh perusahaan yang saat
ini telah menerapkan W-LAN dengan 100 access points, namun
semakin banyak saja perusahaan yang tertarik dengan penghematan
dari penerapan menyeluruh di tingkat perusahaan. Kalangan analis
sepakat bahwa penerapan besar-besaran akan mampu menghemat
dalam jumlah besar, tidak saja dalam pengurangan biaya peralatan,
melainkan yang lebih besar adalah peningkatan produktivitas
karyawan.
Kalau selama ini penerapan W-LAN lebih tertuju pada kepentingan
kalangan senior manajemen, nantinya akan semakin berkembang
sampai ke tingkat karyawan. Adanya akses tanpa kabel berkecepatan
tinggi ini berpotensi meningkatkan produktivitas karyawan hingga
27 persen, karena semakin singkatnya waktu yang dibutuhkan
untuk, misalnya mengakses data dari jejaring perusahaan atau
mentransfer data antar bagian di dalam perusahaan.
Seperti dituturkan Steve Nye, General Manager Building Broadband
Solutions unit, Cisco Systems Inc., bahwa peningkatan produktivitas
dimungkinkan dengan penerapan W-LAN ini. Nye sendiri seringkali
melakukan pertemuan secara virtual dengan stafnya di berbagai
lokasi di dunia. Bisa saja pertemuannya berlangsung ketika
saat jam makan siang di Silicon Valley, tetapi, pada saat yang
sama, masih tengah malan di India.
Perbedaan waktu tak menjadi hambatan, begitu juga tanpa perlu
kehadiran fisik di suatu lokasi tertentu. Dengan digunakannya
jejaring W-LAN, memungkinkan stafnya melakukan melakukan pertemuan
dan berdiskusi ketika sedang berada di rumah, di jalan, menunggu
pesawat di bandara atau sedang di conference center.
Namun, penerapan secara besar-besaran menuntut persyaratan
tertentu yang secara ketat harus dipenuhi, misalnya manajemen
terpusat, kualitas layanan dan penanganan sekuriti yang lebih
tinggi tingkatannya. Karenanya, diperlukan suatu perencanaan
yang matang dan hati-hati dalam penerapannya. Sebab, harga
pembelian dan juga strategi penerapan, pemantauan dan pengelolaan
terbaik akan berbeda-beda dari satu perusahaan ke perusahaan
lainnya. Keberhasilan yang diraih suatu perusahaan tidak dapat
begitu saja ditiru untuk mendapatkan hasil yang sama.
Di Indonesia, para pengguna Wi-Fi masih terbilang baru. Awal
2004 inilah terasa ada peningkatan perhatian yang lebih besar
untuk memanfaatkan teknologi Wi-Fi, baik di lingkungan rumah,
korporat maupun tempat-tempat publik – kafe, bandara
dll.
Berbagai pertimbangan masih menjadi alasan utama di antara
mereka yang akan menerapkan teknologi Wi-Fi ini, khususnya
di lingkungan korporat. Baik itu menyangkut kematangan teknologi,
standarisasi dan security. Juga, dukungan berbagai perangkat
yang berkemampuan Wi-Fi, karena hal itu terkait dengan pengembangan
sistem dan besarnya investasi yang bakal ditanamkan, apalagi
bila diterapkan secara menyeluruh.
Namun Irfan mengungkapkan bahwa secara teknologi, Wi-Fi telah
sampai pada kematangannya, begitu juga security-nya. Ditambah
lagi dengan dikeluarkannya standar 802.11g yang bekerja pada
frekuensi 2,4 GHz dengan kecepatan transfer data 54 Mbps. “Secara
fakta teknologinya sudah cukup matang. Yang sekarang ini ada
lebih merupakan persepsi,” ujar Irfan menambahkan.
“ Selama ini, masing-masing kita secara bertahun-tahun
berada di lingkungan kubus tertentu kalau bekerja. Jika pun
pindah
ke ruangan lain, namun tempat itulah yang menjadi lokasi di
mana kita bekerja. Kita juga tidak bisa mengerjakan pekerjaan
kita di ruang lain, karena PC kita ada di ruang kerja kita.
Kalau pun membawa laptop, tak bisa terhubung ke Internet, kecuali
di tempat-tempat tertentu, karena aksesibilitasnya memang terbatas
dan menggunakan kabel,” tambah Irfan. Sekarang, dengan
Wi-Fi, sudah tidak tergantung itu lagi, lebih fleksibel.
Steve Nye dari Cisco System, maupun Philip Redman, vice president
Gartner Research, mengungkapkan bahwa memang masih ada lubang-lubang
dalam masalah security-nya. Begitu juga kerumitan penggelarannya,
masalah pengelolaannya dan return on investment yang diterimanya.
Namun, masalah sekuriti ini sudah teratasi dengan Wi-Fi Protected
Access (WPA) dan standar baru yang akan dikeluarkan Institute
of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) yaitu 802.11i. “Standar
802.11i menjanjikan enkripsi yang lebih kuat, key management
dan otentikasi yang lebih baik,” ujar Nye.
Menurut Managing Director Wi-Fi Alliance, Frank Hanzlik,
standar 802.11i dijadwalkan akan diratifikasi bulan Juni
mendatang,
dan diharapkan, produk-produk yang menggunakan standar ini
juga akan tersedia pada saat yang sama. Sampai saat itu,
Wi-Fi Protected Access (WPA)-lah yang akan mengatasi masalah
sekuritinya. “WPA
akan menjembatani celah antara WEP (wireless equivalent privacy),
yang merupakan standar sekuriti Wi-Fi pertama dengan 802.11i,” tambah
Hanzlik. •Insa/Aa