Tahun lalu, CIO Wal-Mart Stores Inc., Linda Dillman, mengumumkan
bahwa pada Januari 2005 mendatang keseratus pemasoknya disyaratkan
menerapkan tag radio frequency identification (RFID) pada seluruh
pallet dan dus yang mereka kirim ke pusat-pusat distribusi
dan toko-toko Wal-Mart. Tak pelak, para pemasok dan kompetitor
bergegas mempelajari RFID - teknologi nirkabel yang memungkinkan
mengidentifikasi dan melacak barang di sepanjang supply chain
secara otomatis. Tahun 2007, perusahaan dengan 1.200 toko yang
tersebar di AS ini menargetkan seluruh pemasoknya sudah menerapkan
RFID.
Tak hanya Wal-Mart di Amerika, Metro Group, kelompok perusahaan
ritel Jerman pun mensyaratkan 100 pemasok terbesarnya menerapkan
RFID. Metro sendiri diharapkan sudah akan menggelar jaringan
RFID di 10 pusat distribusi dan 50 tokonya. Pada 1 Januari
2006, lebih dari 250 tokonya di seluruh Jerman diharapkan sudah
dilengkapi infrastruktur RFID agar bisa menerima ber-tag RFID.
Sampai 2007, Metro berharap sudah 800 toko yang menerapkannya.
Penerapan RFID di perusahaan ritel kelas kakap membawa efek “bola
salju”, yang mendorong sektor-sektor industri lainnya.
Contohnya Wal-Mart, peritel yang menjual mulai dari sukucadang
kendaraan bermotor, bahan makanan, obat-obatan dan produk-produk
entertainment. Ketika semakin banyak pemasok, termasuk pemanufaktur
yang mengadopsi teknologi RFID, para peritel lain mulai memanfaatkannya.
Tak heran kalau para pengamat pasar TI dunia menempatkan RFID
sebagai aplikasi yang akan menjadi tren tahun 2004 ini, dan
tahun-tahun berikutnya.
Bagi perusahaan yang “diwajibkan” karena tuntutan
peritel maupun regulasi, penerapan RFID tak terhindarkan. Sementara,
perusahaan yang tidak larut dalam “eforia” RFID,
pekerjaan rumah mereka adalah mencermati teknologinya, manfaat
dan risikonya, dan bagaimana return on investment (ROI)-nya.
Mendongkrak ritel
RFID berpotensi diterapkan hampir di setiap sektor industri
- perdagangan dan jasa - dimana ada proses pengumpulan data.
Bisa juga sebagai tambahan terhadap teknologi data capture
lainnya. Dari sisi industri, RFID bisa diterapkan di sepanjang
rantai pasok, mulai dari hulu (pemasok dan pemanufaktur),
kemudian merembet ke distribusi, transportasi, logistik,
pergudangan dan berujung pada pengecer atau peritel.
Menurut Jeff Smith, managing partner untuk inovasi industri
ritel dan barang konsumsi, Accenture, industri ritellah yang
paling banyak mengambil manfaat RFID. Dari memperbaiki pengawasan
inventori, mengurangi out-of-stock, memangkas pencurian dan
meningkatkan kinerja pemasaran hingga penjualan di toko. Dengan
informasi harga dan inventori yang akurat di seluruh toko,
para peritel dapat lebih berkonsentrasi berjualan produk, daripada
sekedar melacak dan menyetoknya.
“ Di industri ritel, mungkin hampir ‘tak ada yang bertanggung
jawab’ untuk menangani penjualan, karena mereka lebih
sibuk mengurusi uang di kasir, memeriksa stok di rak-rak pajang,
atau mengelola gudang,” ujar Smith.”
Karena kurangnya kemampuan untuk mengetahui di mana atau seberapa
banyak jumlah produk tertentu yang ada di rak atau gudang,
para peritel harus menyediakan banyak tenaga kerja toko. Namun,
dengan tag RFID dan reader pelacakan barang akan lebih mudah
dilakukan. Selain lebih hemat biaya, juga lebih banyak orang
yang dapat diberdayakan untuk pemasaran dan penjualan.
RFID memungkinkan peritel secara efektif mengisi rak pajang
dengan produk yang diinginkan pelanggan. Memantau barang apa
saja yang cepat habis, dan segera mengisi ulang beberapa kali
dalam sehari dengan produk-produk yang tepat. “Ini bisa
menjadi terobosan untuk mendongkrak pendapatan,” timpal
Smith.
Para peritel besar sangat rentan terhadap masalah pelacakan
produk ini. “Mereka tidak tahu apakah barang dagangannya
telah terjual, masih ada di area pajang, sedang ditambah atau
masih berada di gudang. Sistem yang ada sekarang tidak bisa
melakukan itu semua,” ujar Smith. Padahal kegiatan ini
bisa menghemat miliaran dolar setiap tahunnya. Wal-Mart misalnya,
mengestimasikan penghematan 8,35 miliar dolar per tahun bila
teknologi RFID ini digelar di seluruh pengoperasiannya.
 |
| Supply Chain Optimalization
by implementing RFID (click image to enlarge) |
Namun, implementasinya bukan tanpa hambatan. Masalah software
coding, integrasi sistem dan supply chain management masih
perlu diatasi. Juga, kompatibilitas kode-kode produk yang mengisi
chip RFID. Dewasa ini, dalam sistem ritel, tidak ada satupun
sebuah file master produk yang ditulis dalam kode sesuai EPC
(
Electronic Product Code). “Anda perlu membuat kode konversi
untuk mengubah seluruh database yang ada, sehingga bisa menyimpan
informasi dalam bentuk EPC. Ini tidak mudah. Belum lagi besarnya
volume data yang dihasilkan sistem RFID,” tambah Smith.
Para peritel juga mengkhawatirkan lambatnya para pemasok dan
distributor menerapkan RFID. Mereka tak bisa sendiri, melainkan
perlu berkolaborasi untuk memperoleh manfaat penuh, misalnya
cara terbaik menempatkan tag RFID pada produk atau kemasan.
Kekhawatiran lainnya adalah besarnya biaya penerapan RFID.
Harga tag dan alat pemindai RFID atau reader, baru biaya awalnya.
Di luar itu, perlu biaya membeli scanner baru, yang bisa memindai
RFID dan barcode sekaligus. “Bayangkan jika peritel dengan
masing-masing 38 jalur kasir di lebih dari 1.000 lokasi toko,
angka yang muncul bisa sangat besar,” ujar Smith.
Menuju real-time
manufacturing
Di rangkaian supply chain, penerapan RFID sangat berpengaruh
pada pemasok dan pemanufaktur. Misalnya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan
mendasar: Berapa jumlah barang yang harus dihasilkan? Kapan
harus dibuat? Ke mana harus dikirim? Ada di mana barang-barang
itu?
Dengan jawaban yang tepat dan akurat, mereka bisa membuat forecasting,
memroduksi dan mendistribusikan secara lebih efisien. “Bahkan,
dengan RFID, just-in-time manufacturing dapat berkembang lebih
jauh menjadi real-time manufacturing,” ujar Lyle Ginsburg,
managing partner inovasi teknologi, Accenture.
“RFID akan menyentuh tiap bagian dari bisnis pemanufaktur,” ujarnya.
Teknologi RFID akan berdampak positif pada pengelolaan bahan
mentah dan aset-aset yang reusable, inventori gudang, pengiriman,
pemrosesan pengembalian barang, logistik dan lainnya.
Bagi pemasok, RFID dapat memanfaatkan peralatan dan aset-aset
lainnya secara lebih baik. Peralatan yang ber-tag RFID seperti
forklift, troli dan kontener, dus dan palet akan lebih mudah
dideteksi, juga isi yang dibawanya, ujar Paul Schmidt, senior
manager untuk consumer products, Accenture.
Dampak positif lain yang bakal dinikmati para pemanufaktur
adalah inventory management yang lebih baik. Dengan menempelkan
tag pada dus dan pallet, juga barang, perhitungan inventaris
lebih akurat. Out-of-stock berkurang, karena para pemasok mengetahui
dengan tepat kapan jumlah stok menipis. Jika teknologi untuk
memprediksi permintaan konsumen sudah dimiliki, RFID membuatnya
lebih efektif.
RFID dapat meningkatkan proses produksi. Bahan baku yang banyak
dan beragam bisa diberi tag untuk mengurangi kesalahan dalam
proses pemilihan atau pencampuran bahan baku. Selain dapat
menghasilkan produk-produk yang bermutu tinggi, lingkungan
kerjanya lebih aman.
Di industri pengolahan makanan, RFID membantu memastikan mutu
produk dengan melacak bahan atau komponen yang digunakan, misalnya
obat-obatan, hingga ke sumber asal dan penyedianya. Jika dikombinasi
dengan sensor, RFID akan mengambil dan melaporkan data seperti
product ID, tanggal keluar, karakteristik fisik dan nomor lot
pada setiap tahap proses produksi. Ini akan membantu para pemasok
makanan memenuhi regulasi pengendalian mutu yang disyaratkan
oleh badan pengawas obat dan makanan.
Pengiriman keluar oleh para pemanufaktur pun akan lebih akurat,
karena pengembalian barang dan pemrosesannya lebih sedikit.
Pada saat barang dikembalikan ke produsen, tag RFID akan memberi
data yang lebih rinci, seperti tanggal pengiriman produk, identitas
pelanggan dan harga yang dibayar.
“ Teknologi ini juga memberi pemanufaktur tingkat
kepastian yang lebih besar mengenai apa yang terjadi di rantai
pasok dibandingkan
sistem-sistem yang ada sekarang,” ujar Ginsburg. Secara
teoritis, teknologi ini memungkinkan pemanufaktur menggunakan
sebuah PC dengan browser untuk melihat rak-rak pajang di suatu
toko lokal atau gudang.
Aplikasi pergudangan
“ RFID bisa secara dramatis mengubah cara gudang dan pusat
distribusi dikelola, sehingga lebih efisien dan akurat. Produktivitas
dalam penerimaan dan check-in produk meningkat 50 sampai 80
persen,” ujar Kevin Mitchell, associate partner, supply
chain service line, Accenture. Ini akibat dihilangkannya proses
pengecekan barang, penulisan informasi barang, memasukkan data
ke terminal dan mencetak dokumen. Semua dilakukan secara otomatis
dan terhubung secara mudah ke suatu sistem pengelolaan pergudangan.
“Jika Anda memberi tag RFID di pallet, Anda bisa
membaca informasi secara otomatis ketika barang-barang tersebut
diterima, dan
datanya langsung masuk ke sistem warehouse management,” ujar
Mitchell. Tingkat kerincian informasinya lebih tinggi bila
tag RFID diterapkan di dus, atau di setiap item.
Apa
yang diharapkan Wal-Mart dari RFID?
Menurut Sanford C. Bernstein & Co., sebuah investment research house,
yang berkantor di New York mengestimasikan bahwa Wal-Mart bisa menghemat
hampir 8,4 miliar dolar AS setahunnya ketika RFID digelar penuh di seluruh
rantai pasok dan toko-tokonya. Rinciannya:
• USD 6,7 miliar: Berkurangnya orang untuk memindai barcode di palet dan
dus dalam rantai pasok dan toko mengurangi biaya tenaga kerja sampai 15 persen.
• USD 600 juta: Meski rantai pasoknya paling efisien di dunia, Wal-Mart
tetap menderita out-of-stocks. Untuk mendongkrak bottom-line digunakan rak pintar
atau smart shelves guna memantau ketersediaan barang di rak pajang
• USD 575 juta: Berkurangnya orang yang mengutil barang dari gudang karena
keeradaannya terus terpantau. Pemindaian produk secara otomatis juga mengurangi
kesalahan administratif dan kecurangan vendor.
• USD 300 juta: Kemampuan melacak lebih dari 1 miliar pallet dan dus yang
bergerak melalui pusat distribusi setiap tahunnya juga sangat menghemat biaya.
• USD 180 juta: Kemudahan memantau produk-produk apa yang ada di rantai
pasoknya – apakah itu di pusat distribusi miliknya atau di gudang pemasoknya – memungkinkan
Wal-Mart mengurangi inventori dan menghemat biaya tahunan pengelolaannya.
Total penghematan 8,35 miliar (sebelum pajak) yang dihasilkan ini saja
sudah melebihi masing-masing pendapatan total lebih dari setengah perusahaan
Fortune 500.
|
Proses pengambilan dan pengemasan barang juga bisa dilakukan
secara lebih mudah. Suatu barang bisa langsung dilacak keberadaannya
di dalam gudang ketika pesanan atau order diterima. Jika masing-masing
barang diberi tag, secara otomatis bisa dicocokkan dengan order
untuk memastikan barang yang diambil tepat.
Kendalanya adalah pengintegrasian RFID dengan aplikasi-aplikasi
warehouse management. “Pada tingkat pallet atau dus,
RFID bisa bekerja dengan baik. Namun, jika sampai ke tingkat
individual item, timbul banyak kesulitan (pada pengintegrasian
datanya),” ujar Mitchell. Para early adopters sebagian
besar menoleh ke solusi middleware untuk membantu masalah pengintegrasian
data ini.
Beberapa vendor piranti lunak enterprise terkemuka sudah menyadari
hal ini. Beberapa di antaranya sudah meluncurkan produk-produk
piranti lunak yang kompatibel dengan infrastruktur RFID. Oracle
misalnya, sudah merilis aplikasi Oracle Warehouse Management
(OWM) versi baru yang mendukung RFID. OWM versi 10i.5 kompatibel
dengan tag, reader dan printer untuk RFID yang dibuat beragam
vendor. Sistem WM yang RFID-enabled ini akan terhubung dengan
aplikasi dan sistem lainnya melalui 10g Application Server
juga buatan Oracle.
“Fokus awal kami adalah penerapan RFID di tingkat
pallet dan dus, tetapi dari middleware ke database, kami sudah
siap untuk
volume data yang dihasilkan tagging pada tingkat item,” ujar
Jon Chorley, Direktur Senior, Pengembangan Warehouse Management
Systems Oracle.
Distribusi yang lebih efisien
Kemudahan pelacakan barang dan aset akibat penerapan RFID juga
bermanfaat untuk industri transportasi dan logistik. Jutaan
dolar dapat dihemat dengan meningkatkan utilisasi aset, mendongkrak
efisiensi operasional dan keamanan serta keselamatannya.
Seperti yang dilakukan Associated Foods Stores, yang memangkas
armada truknya dari 120 menjadi 67, setelah memasang sistem
pelokasian real-time berbasis RFID.
Kalau Anda mengirim baju warna merah dari lokasi A ke lokasi
B, dan Anda memutuskan tidak membutuhkan baju merah di B namun
di C, maka RFID memungkinkan Anda mencari lokasi truk berisi
kiriman baju merah dan mengarahkannya ke lokasi yang dibutuhkan
pelanggan. Dengan cara ini jutaan dolar bisa dihemat.
Menuju transparansi bisnis
RFID telah bergulir. Namun masih banyak pekerjaan rumah yang
harus diselesaikan sebelum digelar secara luas. Beberapa
perusahaan riset pasar TI sudah wanti-wanti agar perusahaan
yang ingin mengadopsi RFID perlu memperhatikan kesiapan infrastrukturnya.
“Banyak organisasi TI yang tidak langsung menyadari
bahwa proyek RFID berskala kecil sekalipun bisa berdampak
terhadap keseluruhan
infrastruktur TI dan portofolio aplikasi. Jadi, readiness assessment
harus dilakukan sejak awal,” ujar Gene Alvarez, vice
president Technology Research Service Meta Group. Disarankan
agar pada tahap awal proyek RFID dikonsentrasikan pada tingkat
dus/pallet, sebagai pengganti barcode, sebelum bergerak ke
implementasi yang lebih rumit di rantai pasok.
“Perusahaan akan menghadapi masalah ketika mereka
menggulirkan RFID di atas infrastruktur yang lemah,” tegas Kara Romanow,
seorang analis di AMR Research. “Agar bisa menerapkan
RFID dengan benar dan nyata hasilnya, hal pertama yang harus
dilakukan adalah menyelesaikan inisiatif sinkronisasi data
secara sungguh-sungguh.”
Sinkronisasi data merupakan isu menarik dalam pengelolaan data,
sehingga banyak perusahaan mencari piranti yang memungkinkan
perusahaan membuat “tampilan tunggal” dari informasi
yang beragam. Efisiensi penggunaan kode produk elektronik (EPC)
dan RFID untuk melacak dan mengidentifikasi barang tidak akan
tercapai tanpa sinkronisasi data di back-end.
“Sinkronisasi data merupakan dasar dari implementasi
EPC,” ujar
Mark Baum, wakil presiden eksekutif asosiasi manufaktur bahan
makanan AS. “Jika tidak sinkron, sama saja Anda mengirim
data yang buruk.” Agar lebih maksimal, industri harus
melangkah ke usaha sinkronisasi data secara global (global
data synchronization, GDS).
Untuk itu perusahaan harus mengadopsi format data standar,
skim klasifikasi dan protokol pertukaran-informasi. Berikutnya
berbagi item registry tunggal, yang menyediakan identifikasi
unik untuk setiap produk yang didagangkan secara elektronik.
Juga menyediakan katalog yang terhubung dan interoperable,
sehingga ketika salah satu mitra mengubah atau memperbarui
informasi, seluruh mitra lainnya langsung memiliki akses ke
informasi baru tersebut.
Dengan cara pendeskripsian produk yang seragam ini, informasi
dapat dengan mudah di-sharing oleh beberapa perusahaan di sepanjang
rantai pasok. “Akhirnya, siapa pun yang berada di rantai
pasok akan diuntungkan,” ujar Kathy Quirk, seorang analis
dari Nucleus Research, “karena semua pihak berbicara
dalam ‘bahasa’ yang sama.” Jika ini terjadi,
mereka bisa mulai berkolaborasi pada manajemen transaksi, supply
chain management, penjualan dan promosi, dan bahkan pengembangan
produk. “Akhirnya, Anda akan mendapatkan modus pengembangan
bisnis yang lebih interaktif, kolaboratif dan transparan,” ujar
Baum. •Aa