Volume II No 15 - Maret 2004
 


IP Telephony? Kenapa Tidak!

 

 

Di tengah persaingan usaha yang cukup sengit, marjin keuntungan yang semakin tipis, perusahaan-perusahaan masa kini dituntut untuk lebih efisien dalam pengoperasiannya. Pos-pos belanja yang tidak perlu dibabat habis. Jika perlu, infrastruktur yang dimilikinya, mulai dari sistem teknologi informasi (TI) sampai komunikasi digunakan sampai pol, hingga ke batas usianya.

Di sisi lain, salah satu pos pengeluaran perusahaan-perusahaan yang memiliki banyak cabang, baik lokal maupun mancanegara, adalah besarnya biaya telekomunikasi, baik untuk berhalo-halo ria maupun faks. Banyak perusahaan, yang kini mencari solusi untuk menekan biaya komunikasinya, dan mulai melirik ke infrastruktur lain yang juga menjadi tulang punggungnya selama ini, yaitu jejaring data korporat (corporate data network).

Dalam suatu lingkungan komunikasi perusahaan, ada sejumlah keunggulan nyata dari pengombinasian trafik suara, faks, data dan multimedia ke dalam satu jejaring tunggal bersifat multiguna. Rendahnya biaya transmisi, murahnya ownership cost jejaring secara jangka panjang dan kemampuan mengimplementasikan aplikasi voice-enabled baru dan canggih merupakan alasan-alasan yang meyakinkan. Hal-hal inilah yang kemudian memicu minat kalangan dunia usaha terhadap penggunaan teknologi IP Telephony (IPT) atau voice over Internet Protocol (VoIP).

IPT merupakan pasar yang pertumbuhannya tercepat di pasar komunikasi dunia, terbukti salah satu segmen dari IPT, yaitu IP Appliance, termasuk IP Phone, melonjak cukup tinggi. Menurut riset Frost & Sullivan, tahun 2003 lalu saja, pengiriman perangkat IP Appliance mencapai 790.000 unit, sementara pendapatan dari pasar dunia diproyeksikan mencapai USD 2,7 miliar pada tahun 2006 mendatang.

Di sisi lain, penggunaan TDM PBX, yang menjadi infrastruktur andalan banyak perusahaan, cenderung menurun. “Pasar TDM PBX cenderung turun 10 persen pertahun, sementara pasar IP PBX terus menanjak dalam tahun-tahun mendatang,” kata Owen Chan, VP Asia Operations, Cisco Systems Inc., dalam presentasinya pada Cisco Showcase 2003 beberapa waktu lalu di Jakarta.

“Kalau Anda perhatikan, perangkat-perangkat TDM PBX yang terpasang sekitar tahun 1999-2000 akan habis masanya tahun 2004. Kami mengantisipasi pada saat itu berbagai perusahaan akan mengambil keputusan yang sulit, apakah akan terus menggunakan TDM PBX, atau beralih ke IP PBX. Saat itulah kami yakin pertumbuhan pasar IP PBX akan berakselerasi dengan cepat dalam tahun-tahun mendatang,” papar Chan.

Namun, menurut John C. Dvorak, penulis buku “Online! The Books”, para pengambil keputusan TI di perusahaan cukup berhati-hati dalam memasuki dunia jejaring yang terkonvergensi dan “packetized” voice. “Kualitas suara di jejaring data, stabilitas solusi-solusi VoIP dan segala konsekuensi yang diterima akibat terlalu dini mengadopsi arsitektur jejaring tertentu menjadi perhatian tersendiri,” tambah Dvorak.

Sudah banyak perdebatan mengenai bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk mengonvergensikan suara dengan layanan data di dalam perusahaan. Karena, manfaat teknologi ini sangat meyakinkan dan sudah dibuktikan oleh beberapa pengguna pemula dari kalangan perusahaan.

Biaya transmisi yang lebih rendah

Biaya telepon bulanan yang berkurang merupakan keunggulan nyata dari pengonvergensian voice call menggunakan jejaring data korporat. Untuk beberapa perusahaan, alasan inilah yang mungkin paling meyakinkan. Itupun tergantung pada beberapa faktor, antara lain volume panggilan dan jarak antara kantor (cabang) perusahaan dan kantor pusat.

Perusahaan-perusahaan yang memiliki kantor di mancanegara mendapatkan manfaat yang paling besar karena hilangnya biaya sambungan langsung internasional (SLI). Penghematan biaya telepon ke mancanegara ini sudah banyak dirasakan para pengguna IPT. Arvato System misalnya. Penyedia jasa TI yang merupakan anak perusahaan Bertelsmann AG, perusahaan media raksasa dari Jerman, cukup kewalahan menanggung tagihan telepon 1.000 Euro per bulan per pengguna. Padahal, jumlah penggunanya sendiri lebih dari 1.000 remote workers, yang tersebar di 20 lokasi di seluruh dunia.

“Kami pun mulai mengeksplorasi penggunaan teknologi, khususnya VoIP, sebagai suatu cara untuk mengurangi biaya telepon tanpa harus mengganggu kerja,” ujar Berthold Koehler, Senior Manager Arvato System. Perusahaan ini pun akhinya melirik solusi IPT dari Nortel Networks. Singkat cerita, dalam waktu tidak terlalu lama, seluruh infrastuktur telah terpasang dan segera beroperasi. Tagihan telepon yang membengkak, bisa ditekan menjadi hanya 300 Euro, atau hemat 70 persen. “Kami mampu mengembalikan investasi kami dalam waktu beberapa bulan saja,” tukas Koehler.

“Pasar TDM PBX cenderung turun
10 persen pertahun, sementara pasar IP PBX terus menanjak dalam tahun-tahun mendatang.”

Owen Chan
VP Asia Operations,
Cisco Systems Inc.,
di Cisco Showcase 2003, Jakarta.

Selain telepon di dalam kalangan perusahaan (intracompany), penghematan bisa juga diwujudkan untuk telepon antar perusahaan. Telepon ke suatu tujuan tertentu di luar perusahaan, diarahkan melalui jejaring korporat ke kantor cabang terdekat (dengan tujuan tersebut). Misalnya, sebuah perusahaan memiliki kantor di Jakarta dan Tokyo bisa mengarahkan panggilan ke dan dari masing-masing kantor melalui jejaring perusahaan. Jika ingin menelepon ke Osaka, telepon di-route dulu ke kantor Tokyo, kemudian oleh sebuah carrier lokal di-route lagi ke Osaka. Dalam kasus ini, porsi biaya sambungan jarak jauh (internasional) bisa dihindarkan.

Dari sisi ekonomis, ada dua alasan utama mengapa jejaring data cukup menarik digunakan untuk suara. Pertama, jejaring data hampir selalu menawarkan kapasitas berlebih. Kedua, suara biasanya membutuhkan bandwidth yang kecil dibanding transaksi data lainnya. Dengan pengompresian data suara, sangat mungkin mengintegrasikan layanan baru ke jejaring yang sudah ada tanpa harus investasi untuk menambah kapasitas.

Mengurangi biaya kepemilikan

Rendahnya biaya VoIP tidak hanya sekedar mengurangi tagihan telepon bulanan. Jejaring data yang terkonvergensi juga mengurangi biaya rutin dari kepemilikan dua jejaring yang terpisah, satu untuk suara dan satu lagi data.

Hal itu jelas akan meningkatkan efisiensi. “Karena jaringan infrastruktur data dapat digunakan sekaligus untuk jaringan suara, pembangunannya cukup satu kali saja,” ujar Agus Susanto, Direktur PT Multipolar Corporation Tbk. Multipolar merupakan perusahaan yang bergerak di bidang solusi TI, terutama perbankan, dan perusahaan pertama di tanah air yang menerapkan IP Telephony.

Seperti jejaring lainnya, baik biaya SDM maupun peralatan dikaitkan dengan pembelian, penerapan, pemeliharaan, lisensi software dan pemantauan trafik. Biaya SDM selalu menjadi perhatian utama. Dewasa ini, untuk menarik dan mempertahankan SDM TI yang kualifaid sangat mahal.

Konvergensi layanan suara dan data memberi jalan yang efektif bagi perusahaan untuk merampingkan jejaringnya dan mengoptimalkan SDM TI-nya. Artinya, untuk kantor kecil mungkin hanya diperlukan satu administrator saja untuk menangani jaringan komputer dan telepon sekaligus, karena keduanya sudah terintegrasi.

Aplikasi terkonvergensi baru dan canggih

Selain hemat biaya, di atas infrastruktur IPT dimungkinkan menggelar solusi-solusi konvergensi mutakhir, seperti kolaborasi real-time, unified messaging dan bahkan Web-enabled call center, yang menawarkan kapabilitas integrasi jauh melebihi sistem voice-based.

Kolaborasi real-time memberi kapabilitas conferencing dan virtual meeting bagi perusahaan pengguna, dan mengurangi biaya dan kerumitan penerapannya. Karena semuanya berlangsung di atas jejaring IP, fitur-fitur seperti desktop screen-sharing dan presentasi visual juga memberi nilai tambah tersendiri untuk conference call. Dengan fitur ini, perusahaan bisa menekan biaya kunjungan ke kantor-kantor cabang dan membantu pemusatan pelatihan karyawan, tanpa perlu membangun fasilitas pelatihan tersendiri.
Unified messaging menawarkan fleksibilitas bagi pekerja masa kini. Sebagian besar solusi berbasis IPT mendukung pengintegrasian suara, e-mail, dan voice mail ke dalam sebuah platform tunggal. Konsolidasi komunikasi semacam ini memberi akses instan bagi para pekerja terhadap pesan-pesan sangat penting. Manfaatnya termasuk menerukan pesan-pesan voice-mail sebagai attachment e-mail, fitur yang sangat membantu para mobile worker.

Fungsi-fungsi standar dari PABX, seperti redial, call forwarding, transfer, hold dan conference juga dimiliki IPT. Di luar itu, IPT juga memiliki fitur-fitur tambahan, seperti miss call, receive call dan address book dimana Anda dapat mencari ekstensi seseorang berdasarkan nama langsung dari handset.

Phone set yang digunakan dalam IPT memiliki fungsi-fungsi terintegrasi, seperti daftar ekstensi setiap pegawai dan daftar telepon pelanggan atau mitra bisnis. Karyawan juga dapat langsung membaca pengumuman melalui telephone set. Memeriksa pesan yang ditinggalkan penelepon langsung di komputernya, dan membantu karyawan lebih fokus pada mailbox-nya untuk semua tipe korespondensi. Dengan fungsi-fungsi itu, produktivitas karyawan akan meningkat.

Seluruh kemampuan yang ditawarkan IPT tersebut merupakan kunci untuk menarik minat para pengguna perusahaan dan menghilangkan kekhawatiran akan dampak peralihan ke suatu converged network dengan menggunakan teknologi packetized voice. Meski sebagian perusahaan masih khawatir mengenai kualitas suara, stabilitas dan daya tahan solusinya.
Untungnya, para pengguna pemula cukup memberi banyak pelajaran bagi para vendor untuk memecahkan masalah penerapan VoIP ini. Dengan berbagai solusi VoIP yang kini sudah memasuki generasi kedua dan ketiga, kehandalan dan mutunya menjadi lebih baik, sehingga cocok digunakan untuk usaha besar dan kecil.

Dalam kesempatan Gartner Symposium/ITxpo pada bulan Oktober 2003 lalu di Florida AS, Jeff Snyder, Research Vice President Gartner, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan sudah tidak lagi bertanya mengapa mereka harus menerapkan IPT, melainkan kapan mulai menerapkannya.

“Saat mempertimbangkan kapan menerapkan IPT, mereka harus benar-benar melihat manfaat nyatanya, tak hanya penghematannya. Memahami kebutuhan unit-unit bisnisnya, dan apa manfaatnya untuk kegiatan operasional perusahaan. Begitu manfaatnya jelas, maka tak ada alasan untuk tidak bermigrasi ke IPT,” tutur Snyder.•aa

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.