Perjalanan
toko buku bekas legendaris menjadi toko buku dan pengekspor
buku-buku
langka kelas dunia
berbasis teknologi
informasi canggih.
|
|
Kenny’s
Second Hand Bookstore berdiri pada 19 November 1940 dengan
menjual buku-buku sekolah terpilih yang diberikan
kepada Des dan Maureen Kenny oleh teman-teman mereka.
Sejak itu, keduanya dikenal sebagai penjual buku bekas,
dan bertahun-tahun kemudian mereka dikenal sebagai spesialis
buku kelas dunia.
Tahun 2000 yang lalu, mereka memecah perusahaan menjadi
dua entitas yang berbeda, yakni Kenny’s Book Shop
dan Art Gallery, dan Kenny’s Book Export Company.
Kenny’s Book Export Company tak lagi hanya menjual
buku-buku bekas, melainkan buku-buku baru dan buku-buku
langka untuk para kliennya di seluruh dunia.
Buku-buku langka, fokus utama kasus bisnis kali ini,
umumnya dijual sebagai koleksi. Yakni sekelompok buku
yang, misalnya, berisi isi yang hampir sama atau yang
ditulis oleh penulis yang sama. Koleksi ini dihimpun
oleh Kenny dan kemudian dimasukkan dalam suatu katalog
dan diberikan ke orang-orang yang tertarik.
Dalam menyiasati bisnisnya ini, Kenny menyadari bahwa
mereka harus memiliki stok buku langka yang lengkap.
Karenanya Khenny membeli buku dari beberapa diler ataupun
pribadi-pribadi yang menjual buku-buku mereka. Saat ini,
Kenny tak kurang memiliki koleksi 1.000.000 buku langka.
Dengan koleksi yang cukup besar ini, masalah utama yang
dihadapi adalah membuat katalognya. Baru sekitar 100.000
buku saja yang telah dimuat di catalog, sedang sisanya
yang 900.000 belum dan hal itu akan menyulitkan dalam
menjual atau mencarinya di gudang jika ada permintaan
pelanggan.
Jika menggunakan sistem lama, hanya sekitar 2.500 hingga
3.000 buku saja yang dapat dibuatkan katalognya. Tantangannya
adalah bagaimana mengkatalogkan semua buku koleksinya
dan, tentu, sistem katalognya mengikuti standar internasional
sehingga mudah digunakan oleh para pelanggannya di seluruh
dunia.
Meski Kenny sadar tak memiliki tenaga ahli dalam membangun
sistem teknologi informasi (TI), tapi tak mudah juga
bagi mereka dalam menentukan konsultan mana yang dapat
mereka minta bantuannya. Selain biaya, pertimbangannya
adalah bagaimana sistem yang dibangun akan mampu memenuhi
kebutuhan mereka dengan baik.
Namun, Kenny sangat menyadari bahwa sistem yang mestinya
mereka terapkan menyangkut dua hal utama, yakni Library
Management System (LMS) dan sistem ERP (Enterprise Resource
Planning). Untuk itulah Kenny lebih tertarik untuk membangun
suatu sistem TI yang kuat di back-end, sehingga nantinya
akan mampu membangun sistem front-end apa saja yang dibutuhkan
oleh pelanggan, sekarang maupun di masa datang.
Satu hal lain, begitu diterapkan sistem tersebut harus
mampu mempercepat proses pengkatalogan koleksi buku lebih
cepat dari sistem lama yang telah digunakan, mungkin
dari sekitar 2.500 buku per minggi menjadi 5.000 buku
per minggu. Selain itu, database buku harus mudah digunakan,
sehingga memudahkan para pelanggan dalam mencari buku
yang dibutuhkannya, misalnya melalui mesin pencari yang
menggunaka kata kunci (keywords).
Juga, bagaimana sistem dapat memudahkan Kenny dalam membuat
katalog buku berdasarkan kategori bidang-bidang yang
dibahas. Lebih jauh, Kenny juga menginginkan bagaimana
database-nya bersifat terbuka, sehingga bisa dibaca oleh
penjual buku lainnya, yang memungkinkan mereka ikut juga
menjual buku-buku Kenny seolah-olah mereka yang memiliki
sendiri koleksi –buku-buku itu.
Dengan data yang lengkap seperti itu, Kenny berharap
dapat melayani para pelanggannya berdasarkan tema-tema
yang dibutuhkan dan secara spesifik dapat menjalankan
sistem pemasaran langsung sehingga dapat memenuhi kebutuhan
para pelanggannya secara cepat dan tepat.
Latar Belakang
Sepuluh tahun pertama Kenny membuka toko buku bekasnya,
semuanya berjalan sebagaimana biasanya toko buku
bekas. Pasar buku-buku bekas untuk koleksi ini tak
begitu menonjol di permukaan. Bahkan, Kenny sendiri
pun tak tahun buku-buku yang diberlinya sampai ia
menerima di tokonya.
Sampai tahun 1950-an, ketika Des menjabat Manajer Personalia
di Galway Textiles, barulah Maureen Kenny mulai menjual
koleksi buku-buku langka mengenai Irlandia, seperti
kebudayaan, bahasa, kesusasteraan, dan sekaligus menjadikannya
fokus baru bisnisnya.
Pengalaman Des di lingkungan industri membuatnya memiliki
pandangan yang lebih luas, mendunia, baik yang terkait
dengan ekspor misalnya. Karenanya, Des melihat bagaimana
Kenny mampu membuat suatu sistem katalog yang memungkinkan
pembeli atau pelanggan membeli buku tanpa perlu mengunjungi
toko buku di Galway.
Namun, yang tak terbayangkan sebelumnya oleh Kenny
adalah bahwa buku-bukunya, meski lebih banyak dibeli
oleh pembeli di dalam negeri, ternyata ada sebagian
yang diekspor ke luar negeri. Permintaannya terus meningkat
seiring dengan semakin banyaknya katalog yang disebarkannya.
Sampai ketika tahun 1985, Conor Kenny, saat itu menjabat
Managing Director Kenny’s Book Export Company,
menghadiri suatu seminar mengenai “US Libraries
Market” yang diselenggarakan oleh Enterprise
Ireland. Saat itu, Conor sangat menyadari lingkungannya
dan mencoba mencari tahu lebih banyak seandainya ia
bisa menjual buku-buku koleksinya.
Keuntungan Pelanggan
-
Memperbanyak pilihan – Dengan sistem
OCLC pelanggan dapat lebih leluasa mencari
buku yang dibutuhkan, yang tersedia di stok
Kenny.
-
Mengurangi biaya – Dengan sistem baru ini, setiap buku akan memiliki
kode OCLC dan berikut bibliografinya. Bagi perpustakaan tak perlu lagi harus
membuat bibliografi sendiri, karena sudah tersedia dan tinggal membeli. Membeli
seharga €1.50, sedang kalau membuat sendiri bisa menghabiskan €150.
Bayangkan kalau ada 400-500 yang dibeli suatu perpustakaan dari Kenny, yang
akan dibuatkan bibliografinya per tahun?
-
Mendaftarkan kebutuhan – Para pelanggan dapat mendaftarkan
kebutuhan buku mereka. Jika bukunya tersedia, maka mereka akan diberitahu
berikut opsi
pembeliannya.
-
Menggunakan database Kenny – Toko buku lainnya dapat
juga menggunakan database Kenny sebagaimana mereka memilikinya sendiri.
Jika buku yang dibutuhkan
tersedia, Kenny dapat langsung mengirimkannya ke pelanggan atau ke toko buku
lokal untuk menyerahkannya.
Keuntungan Kenny
- Mengubah stok jadi penghasilan – Sistem
baru ini akan meningkatkan volume stok buku
yang tersedia sehingga akan meningkatkan penjualan
dan penghasilan. Juga keuntungan.
- Meningkatkan kecepatan proses katalog – Jumlah buku yang dikatalog meningkat
dua kali lipat dari sebelumnya
.
- Meningkatkan jumlah buku yang tersedia untuk pelanggan – Dengan semakin
banyak buku yang berhasil dibuatkan katalognya, maka akan semakin banyak kemungkinan
pilihan pelanggan, karena banyaknya buku yang tersedia.
- Siap bersaing – dengan sistem back-end yang kuat Kenny percaya dapat
mengembangkan berbagai layanan baru di masa dating bagi para pelanggannya.
- Keuntungan segera – Sistem baru ini dapat segera memberi keuntungan buat
Kenny, karena semakin banyak buku yang mungkin terjual, sebab persediaannya
semakin banyak dan bervariasi.
- Pasar baru – Sistem baru memungkinkan Kenny mendapatkan pelanggan dan
pasar yang baru, karena para pelanggan darimana saja di dunia dapat mengakses
database buku yang tersedia
|
“
Kami mengetahui banyak mengenai perbukuan
langka ini lebih dari setiap orang lainnya di ruang
seminar,” ujar Conor. Dan, benar, pada tahun 1986, Conor mengunjungi
Amerika dan kembali ke Irlandia membawa pesanan, antara
lain, dari Boston Public Library (yang memesan banyak
sekali buku-buku koleksi Kenny) dan juga the Library
of Congress di Washington.
Sekarang ini, Kenny menjadi pemasok buku-buku baru
mengenai Irlandia ke sekitar 150 perpustakaan di Amerika.
Perpustakaan tersebut percaya penuh pada Kenny dan
mengetahui dengan baik buku-buku apa saja yang mereka
butuhkan dan membiarkan Kenny memasok buku langsung
dari penerbit. Sejak tahun 1986 itu, Kenny tak kurang
telah mampu meningkatkan pendapatan dari sebesar €30,000
menjadi €1.6 juta.
Kenny juga mengembangkan penjualan buku melalui paket
atau parsel berdasarkan profil pelanggan yang menjadi
targetnya. Bila bukunya dirasa kurang cocok, si pelanggan
dapat mengembalikannya ke Kenny. Hingga saat ini tak
kurang 1.800 pelanggan di seluruh dunia yang berlangganan
dengan Kenny, yang berarti sekitar 150 paket diekspor
setiap minggunya.
Tahun 2000, mengikuti saran dari Enterprise Ireland,
Kenny memecah dua perusahaan menjadi Kenny’s
Bookstore and Art Gallery, dan Kenny’s Book Export
Company.
Buku-buku yang dipasarkannya pun tak lagi sepenuhnya
buku-buku mengenai Irlandia, melainkan lebih luas dengan
koleksi mencapai 1.000.000 buku langka.
Informasi Pasar
Pasar yang dicakup Kenny’s Book Export Company
cukup luas, antara lain:
• Perpustakaan (buku-buku yang diterbitkan).
• Spesialis subyek di lingkungan perpustakaan (buku-buku antik dan langka).
• Kolektor (misalnya toko buku lainnya).
• Kolektor (konsumen).
• Anggota Klub Buku Kenny.
Kebanyakan toko buku bekas hanya menjual subyek-subyek tertentu, dan jarang
sekali yang memiliki koleksi sebanyak milik Kenny. Karena sedikit bersifat
spekulatif, jika buku yang ditawarkan tidak banyak pembelinya, maka akan ditawarkan
dalam kelompok-kelompok kecil ke dejumlah pembeli tertentu.
Pasar buku-buku Kenny kebanyakan dari Amerika, Jepang, Cina, Singapura dan
sejumlah Negara-negara Asia lainnya, yang semakin menunjukkan minat yang lebih
besar belakangan ini. Buku-bukunya tak hanya menyangkut negara-negara lain,
melainkan mengenai negara sendiri yang ditulis oleh penulis luar.
Masalah yang dihadapi
Dengan masih banyaknya koleksi buku yang belum terkatalogkan,
Kenny menghadapi masalah serius dalam penjualannya.
Karenanya, tujuan membangun proyek e-Business adalah
bagaimana secepatnya mengubah stok buku menjadi uang
tunai,” ujar Conor Kenny, Managing Director
of Kenny’s Book Export Company. “Stok
kami mungkin bernilai sekitar €7-8 juta,” tambah
Conor. Dan itu dapat terjadi jika proses katalogisasi
semua koleksi bukunya dapat dilakukan secepatnya.
Tahun 1995, Kenny mulai membuat katalog dalam tiga
versi database, sebelum akhirnya membangun sistem yang
sekarang ini. Karena sistem katalog yang lama tak cukup
mudah digunakan, sehingga perlu dicari pola katalog
yang baru, yang memudahkan pelanggan mencari buku-buku
yang diinginkannya.
Sistem katalog yang baru ini memungkinkan:
• Secara nyata meningkatkan jumlah buku yang dikatalogkan.
• Menyediakan layanan yang lebih baik ke pelanggan dengan dukungan database
yang lengkap.
• Meningkatkan peluang ekspor, karena pelanggan di manapun dapat mengakses
stok buku secara online.
• Menyatukan semua 100.000 data buku yang telah terkatalog sebelumnya ke
dalam suatu database yang baru.
Kenny juga berkeinginan untuk membangun sistem katalog yang memungkinkan menyediakan
layanan lainnya di kemudian hari, seperti: CD/DVD, Peta, Artikel-artikel secara
periodik, makalah, gambar dan lain sebagainya.
Keputusan
Kebutuhan terhadap sistem catalog yang baru, yang mudah
digunakan, tak lagi dipertanyakan. Namun, sejak awal
memang disadari bahwa Kenny tak memiliki orang-orang
TI yang mampu melakukan pembuatan sistem itu. Baru,
ketika tahun 2002, David Lohan, Manajer TI yang sekarang
bergabung dengan Kenny, maka ada perkembangan dan
arah baru kemungkinan menerapkan sistem TI komprehensif.
“Kita penjual buku – kita tidak tahu mengenai
teknologi informasi”, ujar Kenny. “Yang
kita butuhkan adalah kemampuan ahli untuk mewujudkan
sistem TI yang komprehensif untuk perusahaan ini”,
tambah Kenny. Tapi, dengan membawa masuk BSM, konsultan
manajemen, pada pertengahan tahun 2002, Kenny kembali
ke jejak semula untuk mewujudkan proyek TI dengan mengidentifikasi
kebutuhan dan kriteria untuk proses pemilihan vendor.
Banyak personal yang dilibatkan dalam proyek ini. Namun,
dengan fokus pada manajemen proses, para staf yang
terlibat lebih fokus pada pemikiran dan penetapan kebutuhan-kebutuhan
yang lebih mendasar. “Kalau saja sejak awal kita
telah menggunakan BSM, maka tak urung investasi kita
sebesar €200,000 sudah kembali tiga kali lipat”,
tegas Kenny.
Meski BSM tak ikut serta dalam proses pemilihan vendor,
namun BSM telah berhasil membangun 1.300 persyaratan
yang harus dipenuhi oleh sistem akhir yang nantinya
dimiliki Kenny. Dengan berpandu pada persyaratan itulah
proyek TI berjalan dan membangun solusi dan fungsionalitas.
Proyek TI Kenny ini menggabungkan fungsionalitas di
back-end dan front-end, yaitu sistem ERP dan Library
Management Systems. Karenanya Kenny cukup berhati-hati
dalam membangun solusi TI-nya. Jangan sampai fungsionalitas
yang justru tak dibutuhkan dibangun, sedang yang dibutuhkan
tidak dibangun. Jika hal itu terjadi, maka akan terjadi
pemborosan dalam penanganan proyek TI, sehingga tidak
efisien dan efektif.
Solusi Bisnis
Solusi yang diharapkan adalah menggabungkan ERP dengan
Library Management System yang akan memenuhi tiga isu
kunci berikut:
1. Cataloguing – Menyediakan konsistensi di seluruh
sistem, termasuk kata kunci, rincian buku dan nomor
OCLC (Online Computer Library Centre).
2. Customer wants – Rincian mengenai buku yang
dibutuhkan pelanggan. Jika buku ditampilkan di database
katalog, pelanggan dapat dihubungi melalui e-mail agar
mereka mengetahui buku-buku yang ada di stok.
3. Client Database – Database seluruh pelanggan
Kenny. Database ini akan memasukkan kata kunci dan
subyek ketika pelanggan memesan buku. Data ini diharapkan
dapat digunakan untuk kepentingan pemasaran dengan
mempadankan buku dengan pelanggan potensial.
Hampir semua buku yang ada sekarang ini dikatalogkan
berdasarkan ISBN (International Standard Book Number).
Namun koleksi Kenny kebanyakan tak memiliki nomor ISBN
karena diterbitkan sebelum tahun 1970an. Karenanya
Kenny mencari cara baru untuk mengidentifikasi buku-bukunya.
Akhirnya Kenny sepakat menggunakan sistem katalog dengan
standar OCLC. Sistem yang ditemukan sekitar tahun 1967,
memungkinkan dibangunnya suatu sistem katalog secara
online di antara perpustakaan. Hingga kini tak kurang
dari 40.000 perpustakaan di dunia telah menggunakan
sistem OCLC ini.
Dengan menggunakan sistem katalog ini, Kenny percaya
para pelanggannya, baik personal, lembaga maupun kalangan
perpustakaan akan dapat dengan meudah mencari buku-buku
yang mereka butuhkan. Karena pelanggan tak perlu mengetik
semua informasi bibliografinya, melainkan cukup dengan
kata kunci (judul subyek, penulis atau tipe dan isinya)
dan dikirimkan ke OCLC. Jika OCLC memiliki informasinya.
maka yang akan keluar adalah bibliografi lengkap dari
buku yang dimaksud.
Selain itu, Kenny juga mampu mengkatalogkan bukunya
dari semula hanya 2.500-3.000 buku per minggu menjadi
5.000 buku per minggu.•
Foto-foto: istimewa |
|