
Implementasi
ERP Berakibat PHK?
Pak
Eko yang terhormat. Perusahaan saya menerapkan ERP, meski
saya bukanlah tim inti, namun saya ingin menanyakan sesuatu.
Apakah dengan penerapan ERP berarti akan terjadi perubahan
dalam tugas kerja yang mungkin berakibat kepada pemutusan
hubungan kerja, karena tugasnya dihilangkan, misalnya? Apakah
penerapan TI pasti akan menghasilkan peningkatan efisiensi
dan efektivitas kerja? Bagaimana mengukurnya?
Halimah,
Bagian Sumberdaya
Manusia, Medan.
Untuk
menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya dipelajari definisi
ERP dari sejumlah praktisi bisnis dan teknologi informasi.
Travis Anderegg mendifinisikan ERP sebagai:
’ERP is a complete enterprise wide business software
solution. The ERP system consists of software support modules,
such
as: marketing and sales, field service, product design and
development, production and inventory control, procurement,
distribution, industrial facilities management, process design
and development, manufacturing, quality, human resources,
finance and accounting, and information services’
Sementara Daniel O’Leary mendefinisikannya sebagai:
’ERP systems are computer based systems designed to
process an organization’s transactions and facilitate
integrated and real-time planning, production, and customer
response.
In particular ERP systems will be assumed to have certain
characteristics’
Dari kedua definisi tersebut, jelas terlihat bahwa konsep
ERP dikembangkan dengan latar belakang pemikiran perlunya
dilakukan aktivitas pengintegrasian proses secara lintas
fungsi di dalam perusahaan, agar dapat lebih responsif terhadap
berbagai kebutuhan pelanggan atau “customer”.
Dilibatkannya aplikasi atau software dalam konsep ERP adalah
semata-mata karena perangkat teknologi tersebut dapat memberikan
nilai tambah berupa: penghapusan proses-proses yang tidak
perlu (process elimination), penyederhanaan proses-proses
yang rumit atau bertele-tele (process simplification), penyatuan
proses-proses yang redundan (process integration), dan pengotomatisasian
proses-proses yang manual (process automation).
Sebagai tambahan, pengertian integrasi menyangkut hal-hal
sebagai berikut:
• Penghubungan antar berbagai aliran proses bisnis.
• Teknik komunikasi.
• Sinkronisasi operasi bisnis.
• Koordinasi operasi bisnis.
Karakteristik tertentu dari ERP yang dimaksud dalam definisi ERP oleh Daniel
E. O’Leary di atas meliputi hal-hal sebagai berikut ini:
• Sistem ERP adalah suatu paket perangkat lunak yang didesain untuk lingkungan
pelanggan pengguna server, apakah itu secara tradisional atau berbasis jaringan.
• Sistem ERP memadukan sebagian besar dari proses bisnis.
• Sistem ERP memproses sebagian besar dari transaksi perusahaan.
• Sistem ERP menggunakan database perusahaan yang secara tipikal menyimpan
setiap data sekali saja.
• Sistem ERP memungkinkan mengakses data secara waktu nyata (real time)
• Dalam beberapa hal sistem ERP memungkinkan perpaduan proses transaksi
dan kegiatan perencanaan.
• Sistem ERP menunjang sistem multi mata uang dan bahasa, yang sangat diperlukan
oleh perusahaan multinasional.
• Sistem ERP memungkinkan penyesuaian untuk kebutuhan khusus perusahaan
tanpa melakukan pemrograman kembali.
Adapun beberapa keuntungan dari penggunaan sistem informasi
terpadu dalam konsep ERP ini antara lain dapat disebutkan
sebagai berikut:
• ERP menawarkan sistem terintegrasi di dalam perusahaan, sehingga proses
dan pengambilan keputusan dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien.
• ERP juga memungkinkan melakukan integrasi secara global. Halangan yang
tadinya berupa perbedaan valuta, perbedaan bahasa, dan perbedaan budaya, dapat
dijembatani secara otomatis, sehingga data dapat diintegrasikan.
• ERP tidak hanya memadukan data dan orang, tetapi juga menghilangkan kebutuhan
pemutakhiran dan pembetulan banyak sistem komputer yang terpisah.
• ERP memungkinkan manajemen mengelola operasi, tidak hanya sekedar memonitor
saja. Dengan ERP, manajemen tidak hanya mampu untuk menjawab pertanyaan ’Bagaimana
keadaan kita ?’ tetapi lebih-lebih mampu menjawab pertanyaan ’Apa
yang kita kerjakan untuk menjadi lebih baik ?’
• ERP membantu melancarkan pelaksanaan manajemen supply chain dengan kemampuan
memadukannya.
Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa tidak selalu aktivitas “perampingan” proses
tersebut berdampak pada pemutusan hubungan kerja. Karena, di beberapa perusahaan
salah satu alasan untuk menerapkan konsep ERP adalah untuk melakukan empowerement
terhadap manajemen dan karyawannya. Artinya, yang bersangkutan tidak perlu
lagi membuang banyak waktu untuk melakukan proses-proses yang bersifat administratif
(non value added activities), melainkan dapat lebih banyak meluangkan waktunya
untuk memikirkan hal-hal yang bersifat strategis, seperti: bagaimana mengembangkan
perusahaan, bagaimana mencari sumber-sumber pendapatan baru, bagaimana mencari
pelanggan lebih banyak, bagaimana menjalin hubungan lebih baik dengan mitra
bisnis, dan lain sebagainya.
Namun, hal itu bukan berarti tidak adanya kasus pemutusan hubungan kerja. Karena
banyak sekali kasus penerapan ERP yang bersamaan dengan penerapan konsep manajemen
perubahan (change management), semacam Business Process Reengineering (perubahan
secara radikal untuk meningkatkan perbaikan kinerja usaha secara dramatis),
yang salah satu konsekuensi logisnya adalah perampingan jumlah karyawan.
Keuntungan menggunakan sistem ERP sering kali sulit untuk mengukur secara kuantitatif,
karena 1). kadang-kadang ERP meningkatkan pendapatan dan mengurangi biayam
namun secara tidak kelihatan sehingga sulit untuk diukur, dan 2) kadang-kadang
perubahan dan keuntungan terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga
sulit dilacak kembali.
Hanya saja, hal-hal berikut ini dapat disampaikan sebagai faktor yang mempengaruhi
pengembalian investasi yang ditanamkan untuk penggunaan ERP:
• Karena ERP mengurangi, bahkan mungkin menghilangkan, usaha percuma dan
duplikasi data, maka akan ada penghematan dalam biaya operasi. Salah satu studi
menunjukkan bahwa 33% perusahaan memperoleh penghematan biaya dalam manajemen
pesanan penjualan, dan 34% mengatakan bahwa sistem ERP mereka sangat mengurangi
kebutuhan jumlah karyawan.
• Karena sistem ERP dapat membantu arus barang dan jasa dengan lebih cepat,
lebih banyak penjualan dapat diciptakan untuk setiap bulan.
• Beberapa perusahaan yang tidak menggunakan sistem ERP kadang-kadang terpaksa
ditutup karena tidak mampu bersaing dengan perusahaan yang menggunakan ERP. Pertanyaan
yang cukup sulit dijawab ialah bagaimana mengukur keuntungan keuangan ini agar
perusahaan dapat tetap hidup.
• Pelaksanaan sistem ERP yang lancar akan menghilangkan frustrasi di kalangan
pemasok, pegawai sendiri, pelanggan, dan distributor, dimana keuntungan ini sulit
dihitung secara kuantitatif.
• Karena penghematan biaya dan penambahan pendapatan terjadi dalam waktu
yang lama, maka sulit juga menghitung berapa nilai uang yang didapat sebagai
akibat investasi ERP untuk pertama kalinya.
• Karena implementasi ERP memerlukan waktu, dan sementara itu mungkin ada
faktor lain dalam bisnis yang mempengaruhi keuntungan dan biaya perusahaan, maka
sulit mengisolasi pengaruh yang hanya diakibatkan oleh implementasi ERP.
Pengembalian investasi biasanya dapat dihitung dengan perhitungan return on
investment (ROI). ROI adalah rasio antara keuntungan proyek dan biaya yang
dikeluarkan untuk proyek tersebut. Untuk kasus implementasi ERP perhitungan
ini tidak mudah, karena sering kali keuntungan yang didapat tidak dapat dihitung
secara kuantitatif dan berbagai sebab lainnya, seperti telah disebutkan di
atas.
Namun, beberapa perusahaan toh mencoba menghitung ROI ini. Misalnya Pitney
Bowes, perusahaan pembuat mesin fax dan fotokopi, mengatakan bahwa pengembalian
investasi ERP didapat hampir secara langsung, berupa pengurangan biaya operasi
total sebesar 28%, kenaikan penjualan sebesar 4% (dari $ 4 miliar per tahun),
dan peningkatan akurasi agen penjualan sebesar 41%, yang berarti meningkatkan
kepuasan pelanggan.
Toro, pedagang besar dari pabrik pemotong rumput, mengaku memperoleh keuntungan
dari implementasi ERP dalam jangka panjang. Toro menghabiskan biaya US$ 25
juta untuk sistem ERP selama 4 tahun. Semula, sulit menghitung berapa ROI yang
diperoleh. Kemudian dengan bertambahnya jumlah pelanggan, maka lebih mudah
menghitung ROI ini. Misalnya, diperoleh penghematan sebesar US$ 10 juta dalam
bentuk pengurangan persediaan barang, sebagai hasil dari perbaikan pengelolaan
persediaan, pergudangan, dan metoda distribusi. Tetapi ada juga, misalnya Fox
Meyer, yang mengalami bangkrut gara-gara mengimplementasikan ERP ini. Tentu
ada sebab-sebab tertentu yang menyebabkan kegagalan implementasinya.• |