Para
CIO mungkin sudah mengenal berbagai istilah dalam dunia
TI, yang kebetulan selalu terdiri dari tiga huruf,
apakah itu ERP, CRM, SCM dan aplikasi-aplikasi berskala
enterprise lainnya. Kini, datang istilah lain: PLM,
singkatan dari product lifecycle management.
Meski relatif muda, PLM sudah bisa unjuk gigi, paling
tidak dari pangsa pasarnya. ARC Advisory Group misalnya,
memperkirakan pasar piranti lunak dan PLM akan tumbuh
dari 6,3 miliar dolar AS tahun 2003 menjadi sekitar
14,1 miliar dolar AS di tahun 2007. Sementara, menurut
AMR Research, sekalipun berada di tengah masa sulit,
berbagai perusahaan manufaktur AS dari berbagai sektor
industri telah mengucurkan investasi cukup besar -
2,3 miliar dolar AS.
Mengapa perusahaan-perusahaan ini bersedia mengambil
risiko, sekalipun mereka sudah cukup direpotkan dengan
penggelaran aplikasi enterprise lainnya? Alasannya,
karena potensi PLM bisa mendongkrak kemampuan perusahaan
dalam berinovasi melempar produk ke pasar dan mengurangi
berbagai kesalahan.
Aplikasi-aplikasi PLM menjanjikan pengaliran secara
mulus seluruh informasi yang dihasilkan seluruh tahapan
siklus sebuah produk ke siapa pun dalam lingkungan
perusahaan, maupun para pemasok dan pelanggan utama.
Sebuah perusahaan otomotif misalnya, bisa menciutkan
waktu yang dibutuhkan untuk memperkenalkan produk baru
dalam sejumlah cara. Para insinyur produk bisa secara
dramatis memperpendek siklus pengimplementasian dan
persetujuan perubahan-perubahan bersifat teknis di
sepanjang rantai desain (design chain).
Bagian pembelian pun bisa bekerja lebih efektif dengan
para pemasok untuk penggunaan ulang berbagai komponen.
Dari sisi eksekutif, mereka bisa melihat secara keseluruhan
semua informasi produk yang penting, mulai dari rincian
jalur produk sampai kegagalan komponen, yang dipilih
dari data garansi dan informasi yang dikumpulkan di
lapangan.
Dorongan untuk menekan biaya, inovasi berbasis tuntutan
pelanggan, dan memangkas waktu yang dibutuhkan untuk
melempar produk baru ke pasar memperluas daya tarik
teknologi PLM ke lebih banyak industri, khususnya yang
diregulasi secara ketat seperti industri consumer package
goods (CPG), farmasi, dan life science.
Untuk menggali potensi PLM ini dibutuhkan kerja keras,
khususnya para CIO – bahkan mungkin lebih dibandingkan
penggelaran aplikasi enterprise lainnya. Tidak seperti
ERP, yang biasanya digunakan untuk mengganti berbagai
sistem yang sudah ketinggalan zaman, PLM membutuhkan
banyak pengintegrasian dari berbagai lumbung database
dan mendorong orang-orang dari berbagai latar belakang
fungsi bisnis bekerjasama lebih baik.
PLM lebih merupakan strategi ketimbang sistem untuk
pengintegrasian dan pembagian informasi mengenai produk
antar berbagai aplikasi dan di antara berbagai bagian,
seperti rekayasa, pembelian, produksi, pemasaran, penjualan
dan purna jual.
Karena PLM berkembang dari piranti lunak desain produk,
seringkali CIO menyerahkannya ke para perekayasa, yang
secara tradisional mengelola penggelaran teknologinya.
Sekalipun cocok untuk memilih perangkat solusinya,
seperti CAD (computer aided design), namun PLM tidak
cocok diterapkan untuk platform terintegrasi yang menjangkau
keseluruhan perusahaan.
PLM: Mendefinisikan
Akronim Baru
Product lifecycle management
(PLM) adalah sebuah pendekatan terintegrasi
dan bersifat information-driven untuk seluruh
aspek dari umur produk, mulai dari desainnya
sampai tahap manufaktur, penggelaran dan pemeliharaannya – dan
berpuncak pada penggeseran produk dan tempat
pembuangan akhir. Piranti lunak PLM memungkinkan
pengaksesan, pembaruan, pemanipulasian dan
pengartian mengenai informasi produk yang tengah
diproduksi dalam suatu lingkungan terpisah
dan tersebar. Definisi lain PLM adalah pengintegrasian
sistem bisnis untuk mengelola silklus hidup
suatu produk
Sumber: University of Michigan PLM Development
Consortium, ARC Advisory Group
|
Bagian produksi dan rekayasa misalnya, bekerja dengan
beberapa versi bill of material – yaitu daftar
komponen dan sub-rakitan yang membentuk sebuah produk – berbeda.
Demikian pula halnya dengan bagian pembelian, yang
juga bergantung pada daftar vendor dan katalog yang
sudah disepakati.
Agar PLM berhasil, CIO perlu mengatasi masalah-masalah
sensitif seperti membangun standar data dan merancang
arsitektur integrasi korporat, sehingga informasi yang
terfragmentasi tersebut bisa melayani para individu
dalam format yang bisa mereka gunakan. Dengan cara
ini, para pihak dari berbagai divisi dibekali perangkat
untuk membuat keputusan penting – seperti produk
apa yang akan diperkenalkan atau fitur-fitur apa yang
perlu disertakan dalam sebuah tahapan desain – pada
saat dan dengan cara paling hemat biaya, bukannya pada
tahapan pembelian komponen atau bahkan ketika masuk
dalam proses produksi.
Di sisi lain, tanpa panduan CIO mengenai PLM, “Besar
kemungkinan pucuk pimpinan masing-masing fungsional
akan mengambil keputusan mengenai apa yang terbaik
buat mereka, bukannya mencari sebuah solusi yang bersifat
global,” ujar Dennis Charest, vice president
e-business dan TI, Hamilton Sundstrand, produsen produk-produk
dirgantara dan industri, yang juga merupakan anak perusahaan
United Technologies. Hasil pengambilan keputusan yang
terdesentralisasi ini adalah standar yang simpang siur
dan siapa lagi kalau bukan CIO yang membereskan kekacauan
ini.
Cara terbaik bagi para CIO untuk menghindari jebakan
ini adalah memosisikan dirinya sebagai chief architect
untuk strategi PLM sekaligus sebagai pemimpin perubahan.
Tugas pertama adalah menggariskan road map teknologinya,
merencanakan infrastruktur untuk mendukung integrasi
lintas-aplikasi dan membantu memilih vendor yang tepat.
Pekerjaan selanjutnya adalah memimpin pasukan, dengan
bantuan para eksekutif bisnis kunci tentunya, untuk
mengubah cara bekerja dalam proses kerja. Terakhir,
melihat kondisi perekonomian belum cerah, sudah menjadi
tugas CIO untuk menentukan bagian-bagian mana PLM paling
bisa memberikan hasil sesegera mungkin.
“PLM akan membutuhkan biaya besar,” ujar
Kevin O’Marah, vice president PLM di AMR Research. “Tergantung
CIO melihat di mana PLM bisa benar-benar memberikan
manfaat,” tambahnya. co/iw/aa
|