Volume II No 15 - Maret 2004
   



PLM & ERP: Apa bedanya?

 

Meski keduanya memberi manfaat bagi peningkatan daya saing perusahaan, namun para pengguna perlu memahami perbedaan antara PLM dan ERP.

Industri otomotif dan manufaktur khusus, seperti perusahaan-perusahaan dirgantara dan elektronik, selama bertahun-tahun bersandar pada sejumlah piranti lunak untuk membantu mendesain dan melempar produk baru ke pasar. Dari awal inilah, muncul salah satu aplikasi perusahaan paling hot dewasa ini, PLM.

PLM dianggap melebihi pendahulunya, yang lebih menekankan pada CAD dan product data management. Piranti lunak PLM yang lebih baru dirancang untuk membantu sebuah perusahaan mengeluarkan produk dan secara kontinu meningkatkannya, dengan cara membantu perusahaan mengelola dan mengotomatisasi material sourcing, desain, perubahan teknis, dokumentasi produk seperti hasil uji, pengemasan produk, dan data purna-jual.

Piranti ini juga membantu perusahaan bermanuver memenuhi persyaratan regulasi, baik yang dikeluarkan secara lokal maupun internasional. Piranti lunak ini biasanya terdiri dari suatu database tersentralisasi yang menyimpan semua master record produk, bill of materials, catatan riwayat desain, data pengemasan dan artwork, serta banyak lagi.

Sistem PLM memungkinkan perusahaan memiliki pandangan yang lebih lengkap dan seragam dari setiap aspek proses pengembangan produk mereka. Sekilas, para eksekutif bisa melihat bagaimana setiap bagian dari pengembangan produk berdampak pada bagian lain, misalnya. Bagaimana perubahan kecil yang dilakukan oleh tim desain akan mengubah spesifikasi manufaktur. Mereka bisa memperoleh informasi segera mengenai ketersediaan komponen untuk mencegah pengadaan barang yang berlebih.

Luasnya fitur dan proses yang dicakup PLM terkadang membuatnya kedengaran seperti aplikasi ERP atau aplikasi rantai pasokan (supply chain) lain. Sesungguhnya tidak begitu. “Piranti lunak supply-chain tidak akan pernah menjawab pertanyaan apakah sebuah produk didesain dengan baik. Piranti itu mengasumsikan anda akan membuat produk tersebut,” kata Kevin O’Marah, vice president PLM di AMR Research.

“Piranti supply-chain tidak akan menanyakan jika kita mendesain suatu alat dengan komponen sesedikit mungkin, ada tidak dampaknya terhadap biaya? Pelayanan? Begitu juga kualitas?”

Tetapi, PLM bisa diintegrasikan dengan ERP dan aplikasi supply-chain untuk menghubungkan data sumber-daya-manusia, tenaga kerja, finansial, dan prakiraan dengan data produk. Ini bisa memberi pandangan yang lebih seragam bagi perusahaan untuk memahami bagaimana suatu perubahan desain tertentu akan menyebabkan penundaan penyerahan dan bisa berdampak pada penjualan yang telah diprakirakan. Atau bagaimana penambahan suatu produk pada portfolio akan mempengaruhi sumber daya tenaga kerja.

Ada selusin vendor yang kini melayani pasar PLM. Di puncak adalah EDS dan IBM, yang bermitra dengan perusahaan seperti Dassault Systemes. Mereka telah memperoleh keuntungan dari pasar ini dengan menjual PLM, CAD/CAM, dan produk terkait seperti engineering workstation, terutama untuk industri otomotif.

Pemain tingkat atas lainnya meliputi perusahaan-perusahaan yang berakar dari produk CAD/CAM, seperti Cadence, dan PTC. Vendor ERP pun tidak ketinggalan menggarap pasar PLM. Menurut AMR Research, SAP memperoleh 281 juta dolar AS dari piranti lunak PLM, dan Oracle, yang baru-baru ini saja mengenalkan produk penuh PLM, memperoleh sekitar 26 juta dolar AS.

Stephan Schindewols, vice president manajemen produk untuk PLM, SAP, mengatakan PLM telah berkembang dari sebuah “[proses] yang manufaktur-sentris yang sangat khusus, semuanya seputar desain CAD, desain mekanikal, yang masih merupakan bagian penting dari pendapatan dan basis pelanggan kami.” Namun, sekarang ini, “ada peluang besar di industri proses seperti perusahaan farmasi, kimia, dan CPG.” SAP sendiri telah meluncurkan satu modul, disebut Recipe Management, khusus dirancang untuk manufaktur proses.

Sementara itu, pemain ERP lainnya, Oracle telah meluncurkan produk PLM pertamanya, yang dirancang untuk mensentralisir semua data yang terkait dengan produk. Oracle sendiri telah menekuni PLM selama bertahun-tahun dengan Oracle Product Development Exchange, sistem piranti lunak independen yang dijualnya selama booming dot-com.

Tetapi setelah ekonomi menurun, Oracle memperhatikan bahwa lebih banyak pelanggan mencari suatu platform pengembangan produk yang akan menjadi komponen terpadu dari suite eBusiness vendor tersebut, kata Kurt Robson, VP dan chief application architect Oracle. “Semakin jelas bahwa Anda membutuhkan satu sistem terpadu untuk membuat semuanya bisa berjalan baik,” kata Robson. iw/aa

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.