Industri
otomotif dan manufaktur khusus, seperti perusahaan-perusahaan
dirgantara dan elektronik, selama bertahun-tahun bersandar
pada sejumlah piranti lunak untuk membantu mendesain
dan melempar produk baru ke pasar. Dari awal inilah,
muncul salah satu aplikasi perusahaan paling hot dewasa
ini, PLM.
PLM dianggap melebihi pendahulunya, yang lebih menekankan
pada CAD dan product data management. Piranti lunak
PLM yang lebih baru dirancang untuk membantu sebuah
perusahaan mengeluarkan produk dan secara kontinu meningkatkannya,
dengan cara membantu perusahaan mengelola dan mengotomatisasi
material sourcing, desain, perubahan teknis, dokumentasi
produk seperti hasil uji, pengemasan produk, dan data
purna-jual.
Piranti ini juga membantu perusahaan bermanuver memenuhi
persyaratan regulasi, baik yang dikeluarkan secara
lokal maupun internasional. Piranti lunak ini biasanya
terdiri dari suatu database tersentralisasi yang menyimpan
semua master record produk, bill of materials, catatan
riwayat desain, data pengemasan dan artwork, serta
banyak lagi.
Sistem PLM memungkinkan perusahaan memiliki pandangan
yang lebih lengkap dan seragam dari setiap aspek proses
pengembangan produk mereka. Sekilas, para eksekutif
bisa melihat bagaimana setiap bagian dari pengembangan
produk berdampak pada bagian lain, misalnya. Bagaimana
perubahan kecil yang dilakukan oleh tim desain akan
mengubah spesifikasi manufaktur. Mereka bisa memperoleh
informasi segera mengenai ketersediaan komponen untuk
mencegah pengadaan barang yang berlebih.
Luasnya fitur dan proses yang dicakup PLM terkadang
membuatnya kedengaran seperti aplikasi ERP atau aplikasi
rantai pasokan (supply chain) lain. Sesungguhnya tidak
begitu. “Piranti lunak supply-chain tidak akan
pernah menjawab pertanyaan apakah sebuah produk didesain
dengan baik. Piranti itu mengasumsikan anda akan membuat
produk tersebut,” kata Kevin O’Marah, vice
president PLM di AMR Research.
“Piranti supply-chain tidak akan menanyakan
jika kita mendesain suatu alat dengan komponen sesedikit
mungkin, ada tidak dampaknya terhadap biaya? Pelayanan?
Begitu juga kualitas?”
Tetapi, PLM bisa diintegrasikan dengan ERP dan aplikasi
supply-chain untuk menghubungkan data sumber-daya-manusia,
tenaga kerja, finansial, dan prakiraan dengan data
produk. Ini bisa memberi pandangan yang lebih seragam
bagi perusahaan untuk memahami bagaimana suatu perubahan
desain tertentu akan menyebabkan penundaan penyerahan
dan bisa berdampak pada penjualan yang telah diprakirakan.
Atau bagaimana penambahan suatu produk pada portfolio
akan mempengaruhi sumber daya tenaga kerja.
Ada selusin vendor yang kini melayani pasar PLM. Di
puncak adalah EDS dan IBM, yang bermitra dengan perusahaan
seperti Dassault Systemes. Mereka telah memperoleh
keuntungan dari pasar ini dengan menjual PLM, CAD/CAM,
dan produk terkait seperti engineering workstation,
terutama untuk industri otomotif.
Pemain tingkat atas lainnya meliputi perusahaan-perusahaan
yang berakar dari produk CAD/CAM, seperti Cadence,
dan PTC. Vendor ERP pun tidak ketinggalan menggarap
pasar PLM. Menurut AMR Research, SAP memperoleh 281
juta dolar AS dari piranti lunak PLM, dan Oracle, yang
baru-baru ini saja mengenalkan produk penuh PLM, memperoleh
sekitar 26 juta dolar AS.
Stephan Schindewols, vice president manajemen produk
untuk PLM, SAP, mengatakan PLM telah berkembang dari
sebuah “[proses] yang manufaktur-sentris yang
sangat khusus, semuanya seputar desain CAD, desain
mekanikal, yang masih merupakan bagian penting dari
pendapatan dan basis pelanggan kami.” Namun,
sekarang ini, “ada peluang besar di industri
proses seperti perusahaan farmasi, kimia, dan CPG.” SAP
sendiri telah meluncurkan satu modul, disebut Recipe
Management, khusus dirancang untuk manufaktur proses.
Sementara itu, pemain ERP lainnya, Oracle telah meluncurkan
produk PLM pertamanya, yang dirancang untuk mensentralisir
semua data yang terkait dengan produk. Oracle sendiri
telah menekuni PLM selama bertahun-tahun dengan Oracle
Product Development Exchange, sistem piranti lunak
independen yang dijualnya selama booming dot-com.
Tetapi setelah ekonomi menurun, Oracle memperhatikan
bahwa lebih banyak pelanggan mencari suatu platform
pengembangan produk yang akan menjadi komponen terpadu
dari suite eBusiness vendor tersebut, kata Kurt Robson,
VP dan chief application architect Oracle. “Semakin
jelas bahwa Anda membutuhkan satu sistem terpadu untuk
membuat semuanya bisa berjalan baik,” kata Robson.
iw/aa
|