Volume II No 16 - April 2004

HONG KONG

e-Business UKM Hong Kong Meningkat


Perusahaan-perusahaan Hong-Kong yang mengadopsi e-Business semakin meningkat, demikian hasil survei yang dilakukan dewan produktivitas Hong-Kong atau Hong-Kong Productivity Council (HKPC).

Survei yang bertajuk “Survey on e-Business Adoption in Hong-Kong” diselenggarakan bersama antara HKPC dan Information Technology Services Department (ITSD), sebuah lembaga milik pemerintah Hong-Kong.

Dikerjakan selama setengah tahun survei mengkaji perkembangan dan penggelaran e-Business di sektor bisnis lokal, dimana 98 persennya merupakan usaha kecil dan menengah (UKM).

Menurut Wendy Wong, principal consultant dari HKPC, tingkat pengadopsian e-Business di kalangan perusahaan lokal sedikit meningkat dibandingkan paruh pertama tahun 2003.

Komunikasi e-mail masih merupakan aplikasi yang paling dominan di Internet. Dari 37,8 persen responden, pemanfaatan e-Business masih terbatas hanya pada komunikasi e-mail, ujar Wong.

“E-mail dianggap oleh banyak perusahaan sebagai suatu alat untuk memfasilitasi transfer informasi, meningkatkan efisiensi kerja dan hubungan pelanggan. Oleh karena itu, e-mail merupakan aplikasi terpopuler di kalangan UKM dalam pengadopsian e-Business,” tuturnya.

Perusahaan-perusahaan yang menggunakan aplikasi web untuk transaksi online atau integrasi bisnis dari sistem-sistem teknologi informasi eksternal atau internal meningkat dari 4 persen menjadi 6,3 persen, sementara perusahaan-perusahaan yang memiliki webpage dan account e-mail justru berkurang 1,9 persen. Menurut Wong, angka-angka ini sedikit banyak merefleksikan bahwa semakin banyak perusahaan yang bergerak ke tingkat pengadopsian e-Business yang lebih tinggi.

“Di paruh kedua 2003, perusahaan-perusahaan tersebut memiliki prediksi bisnis ke depan yang cukup positif dan minat untuk berinvestasi pada pengadopsian e-Business pun meningkat ketika wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) bisa diatasi,” ujar Wong.

“Namun, di sisi lain, 43,1 persen perusahaan-perusahaan UKM di Hong-Kong masih belum memiliki rencana untuk mengadopsi e-Business dalam enam bulan mendatang. Ini sedikit berkurang 3 persen dibandingkan hasil survei sebelumnya,” tambah Wong. •xh

MALAYSIA

Ekspor Software Perancang IC ke Cina

Upaya Malaysia untuk membina perusahaan-perusahaan teknologi informasi dibawah payung Multimedia Super Corridor (MSC) semakin membuahkan hasil positif. Vendor piranti Electronic Design Automation (EDA) yang berlokasi di MSC Malaysia, Exsedia belum lama ini berhasil meluncurkan piranti lunak buatannya di pasar Cina.

Piranti lunak EDA yang disebut Nimbus ini merupakan sebuah piranti canggih, yang memungkinkan para insinyur perancang IC (integrated circuit) untuk memulai desainnya dengan cepat, klaim perusahaan tersebut.

Pemilihan lokasi tujuan pemasaran pertama di Cina merupakan bagian dari strategi pemasaran produknya untuk menjangkau pasar Asia yang lebih luas. Menurut CEO Exsedia, Abdul Razak Bahrom, saat ini ada tren dimana kalangan industri IC mulai memindahkan design center-nya ke wilayah Asia.

“Cina merupakan pasar yang penting karena negeri ini memiliki banyak pusat penelitian dan pengembangan (R&D) IC dengan jumlah insinyur IC yang berlimpah. Karena semakin banyak perusahaan yang memindahkan fasilitasnya ke Cina, sangat penting bagi Exsedia untuk meraih pangsa di pasar yang tengah tumbuh pesat itu,” ujarnya.

Mengutip perusahaan riset pasar IDC, Exsedia mengatakan bahwa permintaan pasar semikonduktor Cina besarnya kurang lebih seperempat dari seluruh pasar Asia Pasifik, yang nilainya kurang lebih 60 miliar dolar AS. Pada tahun 2008 mendatang, pasar IC Cina akan menjadi setengah dari nilai pasar Asia Pasifik.

Menurut Razak, Nimbus memungkinkan para insinyur menciptakan rancangan perangkat keras berdasarkan spesifikasi dengan menggunakan pendekatan grafis, sehingga mengurangi waktu yang dihabiskan untuk analisis fungsional dan simulasi.

“Kejelasan desain yang dicapai dengan Nimbus memungkinkan para perancang IC membuat perbandingan arsitektural dengan mengeksplorasi berbagai algoritma dengan mudah, yang tidak mudah dilakukan jika menggunakan HDL (hardware description languages),” klaim Razak.

Razak menjelaskan bahwa HDL biasanya membutuhkan pelatihan yang lebih lama, sehingga para insinyur perlu waktu lama untuk mencapai tingkat keahlian yang dibutuhkan untuk menciptakan desain yang bermutu. Ia mengklaim, dengan Nimbus para insinyur dapat menghasilkan desain bermutu dengan segera.

Exsedia juga akan merilis IPalette, sebuah piranti manajemen desain di akhir tahun ini. Piranti lunak ini akan membantu para insinyur merancang, mendokumentasi, menggunakan ulang dan berbagi (sharing) desain di antara para anggota tim, sehingga siklus pengembanga (development cycle)-nya lebih singkat.

Selain itu Exsedia juga menggelar program kerjasama ExSeeed untuk meningkatkan jumlah pengguna perangkat desain IC-nya, khususnya di kalangan institusi pendidikan.

Nimbus berjalan di atas platform Linux dan Unix, dan dijual seharga 8.000 dolar AS atau sekitar 64 juta rupiah. •st

Solusi Perbankan Malaysia Go International

Infopro Sdn Bhd, sebuah perusahaan TI Malaysia yang bergerak di penyediaan solusi sistem informasi perbankan belum lama ini ditunjuk untuk mengomputerisasikan secara penuh operasi perbankan ICB Global Management Sdn. Bhd. di delapan negara, dengan sistem buatan lokal ICBA Integrated Banking System. Sistem ini dikembangkan di atas platform Oracle 9i.

Kedua perusahaan ini dikabarkan telah menandatangani sebuah perjanjian, yang membuka jalan bagi solusi perbankan buatan Malaysia untuk diterapkan pada operasi perbankan ICB Global di negara-negara, seperti Republik Guinea, Tanzania, Sierra Leone dan Mozambique.

ICB Global berinvestasi 10 miliar ringgit pada tahap awal komputerisasi operasi perbankannya di delapan negara, kata General Manager ICB Global, Harith Harun.

Tahap investasi berikutnya, menurut Harith akan ditujukan untuk membangun electronic banking channel dengan menggunakan modul e-banking buatan Infopro.

Sistem ICBA hadir dalam dua versi modul perbankan, yaitu perbankan konvensional maupun syariah, yang masing-masing memiliki kapabilitas ATM, telebanking dan Internet banking.

Sistem yang dikembangkan di atas framework J2EE, Oracle JDeveloper dan Oracle9i Database ini mencakup seluruh operasi dari sebuah institusi finansial, mulai dari perbankan ritel, remittance, trade finance, treasury dan electronic banking, klaim Infopro.•st


SINGAPURA

Inisiatif Roaming Global Wi-Fi Peroleh Dukungan

IDA dan Intel memperoleh dukungan tambahan untuk rencananya mengembangkan suatu kerangka kerja bersama untuk roaming Internet nirkabel secara global.

Dalam pernyataan bersamanya, Wireless Hotspots and Networking Initiative yang diprakarsai IDA (Infocomm Development Authority of Singapore) – Intel mendapatkan dukungan tambahan dari lima penyedia teknologi komunikasi, baik dari Asia maupun AS, antara lain Funk Software dan Transat dari AS, Gemtek Systems dari Taiwan, Huawei Technologies dari Cina, dan sebuah perusahaan lokal, ANTLabs.

Program IDA-Intel yang mulai berjalan sejak Maret tahun lalu ini bertujuan untuk menciptakan suatu arsitektur yang bersifat interoperable, berbasis-standar dan aman, yang kemudian bisa diadopsi para produsen peralatan dan operator telekomunikasi di seluruh dunia untuk mendapatkan roaming Wi-Fi dan billing pelanggan yang terintegrasi.

Inisiatif ini dibangun untuk mendorong pengadopsian teknologi nirkabel dengan memberikan kenyamanan bagi para penggunanya dengan sambungan yang “always-on” – baik secara lokal maupun internasional – tanpa harus mengubah konfigurasi jejaringnya. Upaya ini telah mendapat dukungan penuh dari lima operator yang beroperasi di Asia, yaitu MobileOne, Singapore Telecommunications dan StarHub dari Singapura, serta PCCW dan China Mobile dari Hong Kong. Kelima rekanan baru ini akan menyediakan perangkat keras, perangkat lunak dan layanan untuk menguji framework roaming Wi-Fi yang dikembangkan IDA dan Intel.

“Test-bed yang digunakan untuk menguji arsitektur roaming ini hampir selesai. Uji cobanya sendiri akan selesai Juli 2004 mendatang dan hasil finalnya akan dilaporkan ke publik akhir tahun ini juga,” ujar Khoong Hock Yun, assistant chief executive IDA.

IDA dan Intel juga mengatakan bahwa mereka akan menawarkan rekomendasinya ke lembaga-lembaga industri seperti 3rd Generation Partnership Project, GSM Association dan Internet Engineering Task Force.

Langkah ini menurut direktur riset Gartner untuk Australasia, Robin Simpson sangat strategis untuk mendapatkan dukungan asosiasi industri agar inisiatif IDA-Intel bisa berjalan mulus.

“Kenyataan bahwa Intel merupakan anggota Wi-Fi Alliance bisa membantu dalam negosiasi bisnis dengan lembaga-lembaga tersebut, serta para vendor dan agregator WLAN (Wireless Local Area Network),” ujar Simpson. •ca/ida


SINGAPURA

Inisiatif Roaming Global Wi-Fi Peroleh Dukungan

Alih-alih mendirikan kementrian khusus untuk mengawasi masalah teknologi informasi dan komunikasi (infokom), pemerintah Filipina belum lama ini mebentuk komisi teknologi infokom, Commission on ICT (CICT). Langkah ini mendapat sambutan kalangan industri TI, sebagai langkah maju menuju pembentukan kementrian infokom yang sudah cukup lama ditunggu-tunggu.

Upaya mendirikan kementrian infokom ini sempat terganjal tahun lalu akibat kurangnya dukungan dari kalangan legislatif.

Pembentukan CICT ini bertujuan untuk memromosikan lembaga regulator yang lebih terpusat, yang akan mendorong penggunaan teknologi-teknologi baru, khususnya dalam bidang TI. Pendirian CICT sendiri tidak membutuhkan persetujuan kalangan legislatif karena langkah itu merupakan pereorganisasian badan-badan yang sudah ada.

CICT mengambil alih fungsi-fungsi pembuatan kebijakan dan peraturan TI, yang sampai saat ini masih dilakukan berbagai lembaga pemerintah terpisah, seperti National Computer Center, Telecommunications Office (Telof), National Telecommunications Commission (NTC) dan Philippine Postal Corporation.

Virgilio Pena, direktur eksekutif Information Technology and E-Commerce Council (ITEEC), lembaga pembuat kebijakan TI tertinggi di Filipina mengatakan bahwa CICT nantinya tidak sekedar sebagai regulator, tetapi juga promotor pengembangan TI.

Ia menambahkan bahwa CICT akan menjadikan pemerintah sebagai pengguna TI terbesar di negeri tersebut, selain memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah yang selama ini menjadi fokus ITECC: e-government, pengembangan SDM, infrastruktur informasi, dan e-service, kerangka kerja legal dan regulasinya. •ct/aa


THAILAND

Database Daftar Hitam Spammer

Asosiasi web master Thailand dikabarkan berencana membuat semacam daftar hitam (blacklist), yang akan digunakan untuk menanggulangi masalah spam atau unsolicited mail, yang akhir-akhir ini semakin meluas.

Dalam salah satu pertemuannya baru-baru ini, asosiasi setuju untuk menginisiasi sebuah real time blacklist (RBL), yang memungkinkan masyarakat melaporkan atau mem-forward spam ke pusat database RBL, ujar salah satu anggota asosiasi, Kittiwat Manosuthi.

Pusat database tersebut nantinya akan mengidentifikasi si pengirim spam dan bila diperlukan akan mengontak ISP yang menjadi host alamat e-mail sang spammer.

Pada awalnya, asosiasi akan mengoperasikan database-nya sendiri, namun ke depan, tugas ini diserahkan ke organisasi lain.

Langkah ini memang diakui Kittiwat tidak terlalu ampuh untuk menangkal arus spam yang semakin tinggi. “Membuat blacklist semacam ini bukanlah cara paling efektif, tetapi kami tetap harus mengedukasi masyarakat umum (mengenai betapa krusialnya masalah spam ini),” ujar Kittiwat.

Selain membuat database RBL, asosiasi ini juga bekerja sama dengan pihak lain, antara lain Microsoft Thailand untuk mengkaji berbagai langkah anti-spam, seperti misalnya dengan menggelar anti-spam engine. Perangkat ini akan memindai arus spam dan dapat terhubung ke seluruh ISP yang ada di Thailand.

Sementara itu, kementrian infokom Thailand juga dikabarkan mengusulkan langkah-langkah untuk menangkal spam dan menjadikannya sebagai bagian dari undang-undang kriminal komputer.

Masalah spam sampai sekarang masih menjadi isu hangat di kalangan pengguna Internet. Sebagai gambaran, menurut perusahaan penyedia solusi anti-spam Brightmail, sekitar 62 persen dari 91 miliar e-mail yang disortirnya pada bulan Februari 2004 lalu adalah spam. Brightmail sendiri menangani 15 persen dari seluruh pengguna e-mail dunia. Artinya, jika dihitung secara kasar, jumlah spam yang beredar bulan Februari lalu bisa mencapai 376 miliar email! Beberapa negara malah sudah mengambil langkah-langkah serius dengan menerapkan undang-undang khusus masalah spam ini.
Inggris misalnya, pada 11 Desember 2003 lalu mulai menerapkan undang-undang anti spam, begitu juga Amerika.

Undang-undang yang dinamakan CAN-SPAM Act (Controlling the Assault of Non-Solicited Pornography and Marketing) 2003 ditandatangani pengesahannya oleh Presiden George Bush tanggal 16 Desember 2003 lalu, dan berlaku efektif per 1 Januari 2004. Selain melarang penggunaan informasi header e-mail palsu dalam e-mail komersial dan mensyaratkan instruksi opt-out dalam setiap pesan yang dikirimkan. Hukuman untuk pelanggarnya berupa denda hingga 250 dolar per e-mail, dan denda lainnya yang nilainya mencapai 6 juta dolar. •bp/aa
 
 
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved