Volume II No 16 - April 2004
   

Jos Luhukay

Entrepreneurial ex-Executives

 

 

Transisi yang sedang terjadi dalam ekonomi Indonesia pasca-krisis sejak akhir tahun 1990-an menyentuh, bahkan mengharubirukan, hidup banyak orang. Perubahan yang menyertai transisi banyak juga yang diejawantahkan dalam bentuk pemutusan hubungan kerja. Mulai dari pensiun dini, golden handshake, sampai ke pengurangan karyawan karena peningkatan efisiensi organisasi, berbagai pola transisi yang memaksa para karyawan untuk mulai lagi mencari karier lain. Mulai dari merger dan akuisisi sampai ke pembubaran perusahaan karena pailit, transisi ini hampir selalu juga menyentuh institusinya sendiri.

Masalahnya adalah, dengan pesangon yang diperoleh, apakah yang dapat dilakukan agar dapur tetap berasap di rumah? Kebanyakan karyawan yang terkena transisi ini akan cenderung mencari pekerjaan sejenis. Paling tidak, menjadi karyawan di perusahaan lain. Dalam konteks ini, semakin lama semakin banyak mantan karyawan yang memilih menjadi bos mereka sendiri. Dengan perkataan lain, mereka memilih untuk menjadi pemilik usaha, baik sendiri atau bermitra dengan orang lain, dengan mencoba peruntungan mereka dengan menjadi wirausahawan. Tulisan ini mencoba melihat pola yang ada dan mencoba untuk membandingkannya dengan kiat-kiat yang ada di mancanegara.

Dari Sekuritas ke Migas
Effendi Surachman, bukan nama sebenarnya, salah satu eksekutif puncak sebuah perusahaan sekuritas besar memang berbeda dengan rekan-rekannya. Ia mempunyai obsesi untuk pensiun sebelum menginjak usia 40 tahun, padahal umurnya kini baru 32 tahun. Untuk itu ia mencanangkan untuk memulai usahanya sendiri paling lambat pada ulang-tahunnya yang ke-35. Karena pada dasarnya ia adalah seorang investment banker, bentuk usaha yang akan dikembangkannya hampir pasti akan merupakan penjabaran lanjut dari sebuah deal yang ditemuinya pada perusahaannya sekarang.

Adakah ini sebuah benturan kepentingan? Fendi, begitu nama panggilannya, yakin bahwa ia akan dapat mengatur kondisi deal tersebut sedemikian rupa sehingga tidak ada peraturan pasar-modal yang dilanggarnya. Deal yang menjadi sasarannya saat ini menyangkut sektor minyak dan gas-bumi. Penjabaran yang diliriknya adalah aspek penyediaan perlengkapan berupa anjungan lepas-pantai yang akan diperlukan dalam eksplorasi dan eksploitasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan serupa dengan kliennya di bagian investment banking di perusahaan dimana ia kini bekerja.

Dengan modal yang akan dikumpulkannya bersama rekan-rekan usahanya ditambah dengan suntikan yang ia harapkan akan datang dari perusahaan modal ventura, ia yakin akan mendapatkan beberapa anjungan yang masih berkualitas bagus dari Cina dan Timur Tengah. Dengan kontrak-sewa minimal 5 tahun, ia mengharapkan akan mendapatkan dana tunai di depan yang cukup besar, yang bila diinvestasikan akan memberikan dana yang diperlukan bagi operasi perusahaannya, ditambah dengan income yang cukup menggiurkan bagi Fendi dan rekan-rekannya. Usaha ini ia yakin akan cukup sustainable dan dalam waktu tidak terlalu lama akan membawa perusahaanya menjadi salahsatu pemasok anjungan yang diperhitungkan di kawasan ini.

Dari Penerbangan ke Internet
Sumahamidjaja, juga bukan nama sebenarnya, adalah mantan eksekutif senior sebuah perusahaan penerbangan yang pada waktunya cukup berkibar. Banyak gagasannya yang sampai kini masih populer dan sampai kini masih digunakan dalam industri penerbangan di tanah air. Pak Suma, begitu julukannya di kalangan karyawan perusahaannya dulu, mungkin terlalu ekspansif dalam mengembangkan sayap usahanya. Kondisi industri penerbangan saat itu sebenarnya tidak seburuk setelah September 2001, namun krisis ekonomi menyebabkan tumbangnya perusahaan tersebut karena praktis seluruh hutang perusahaan adalah dalam mata-uang asing, sedangkan pendapatannya adalah dalam Rupiah semata-mata. Ketika nilai tukar mendera secara nyaris tidak rasional lagi, tumbanglah perusahaan dimana Suma berkiprah.

Menyadari arah perkembangan ekonomi dan, Suma kemudian mencoba berbagai usaha, nyaris semuanya yang berhubungan dengan teknologi informasi. Dari macam-macam upayanya, mulai dari outsourcing layanan teknologi, perdagangan perangkat-lunak dan –keras, sampai kepada penyediaan tenaga-tenaga teknis untuk diberangkatkan sebagai TKI ke mancanegara. Ternyata, bisnis yang terkait dengan internet-lah yang akhirnya menjadi fokus Suma. Jejaring pertemanan dan berbagai kemitraan yang pernah dijalinnya kini menjadi sangat bermanfaat. Usahanyapun mulai berkembang, dan akhirnya menjadi marak. Ia memperhitungkan bahwa gain yang diperolehnya memang sangat volatile, alias cukup cepat berubah, namun margin yang terjadi ternyata lumayan juga.
Bisnis Para ex-Eksekutif
Fenomena eksekutif puncak yang menjadi wirausaha ini cukup marak akhir-akhir ini. Dalam kasus Fendi dan Suma, tidak berbeda jauh dengan kasus-kasus serupa lainnya, masalah sukses atau gagalnya transisi ini tergantung pada sahih atau tidaknya visi bisnis sang eksekutif, kemampuannya untuk menterjemahkan visi ini menjadi sebuah strategi bisnis yang realistis, kepiawaiannya dalam meyakinkan rekan-rekan usaha yang akan dijadikan mitranya, dan ketersediaan sumberdaya yang diperlukan: mulai dari dana sampai kepada tim kerja yang akan menjalankan usaha tersebut.

Upaya memenuhi semua prasyarat di atas akan dapat membuat nyali seorang eksekutif yang calon wirausaha menjadi ciut. Disinilah letak pentingnya jejaring pendukung yang dimiliki sang eksekutif, atau alternatifnya: one-stop-support provider yang disediakan perusahaan modal ventura plus seperti Stolberg, dan beberapa perusahaan sejenis lainnya.
Modal Ventura Plus
Ted Stolberg, pendiri Stolberg Equity Partners, LLC, sebuah venture capital firm yang berkantor di Denver, Colorado, sangat percaya bahwa para eksekutif puncak punya potensi untuk menjadi wirausaha yang berhasil. Buktinya, perusahaan modal ventura yang didirikannya itu mengkhususkan sasaran investasi mereka pada „para eksekutif senior yang berpengalaman dan berminat untuk menanam modal dan menjalankan usaha mereka sendiri”. Dengan istilah lain, yang ia cari adalah eksekutif senior yang ingin atau telah menjadi wirausaha.

Simak saja website mereka, www.stolbergep.com. Di homepage ini Stolberg dan rekan-rekannya menyatakan bahwa mereka berminat untuk melakukan investasi untuk 3 sampai 6 tahun. Selama masa ini, Stolberg tidak saja menyediakan financing, tetapi juga menjadi mitra usaha dan ikut duduk dalam board di perusahaan dimana mereka melakukan investasi. Perusahaan-perusahaan yang masuk dalam portepel Stolberg mendapatkan dukungan dalam bentuk bantuan dalam menyusun board, baik yang eksekutif maupun yang non-eksekutif (Komisaris), menyusun strategi usaha, mensponsori investasi - termasuk IPO - dan membiayai upaya pengembangan usaha. Stolberg Equity Partners meng-claim bahwa sejak didirikan tahun 1982, annualized return mereka rata-rata di atas 50%.
Stolberg dan rekan-rekannya mempunyai latar-belakang dan pengalaman yang ekstensif dalam bidang-bidang yang terkait dengan corporate finance, khususnya ihwal merger & acquisition. Kriteria seleksi yang mereka gunakan untuk mencari venture dimana investasi akan dilakukan menarik untuk disimak.
Pick the Jockey, not the Horse
Stolberg percaya bahwa dalam mengembangkan usaha, terutama dalam bidang business services, tidak ada yang dapat menggantikan visi dan pengalaman. Dalam kaitan ini, motto yang mereka gunakan di atas menggambarkan bahwa para eksekutif puncaklah (dalam hal ini diibaratkan sebagai jockey) yang terpenting bagi investasi mereka, bukan perusahaannya (yang disini diibaratkan sebagai kuda). Tanpa tedeng aling-aling, mereka menyatakan tidak tertarik untuk berinvestasi dalam sebuah usaha bila jokinya bukan yang bervisi dan mempunyai track record. Motto di atas bahkan menonjol sekali pada website yang mereka operasikan.

Sebenarnya ini bukan hal baru, karena dalam dunia modal ventura, kriteria seleksi itu sudah jamak digunakan. Yang baru adalah bahwa Stolberg tidak segan untuk mengulurkan tawaran melakukan venture baru kepada eksekutif berpotensi yang bahkan masih menjabat di perusahaan lamanya. Mereka membuka hubungan langsung melalui headhunters, atau yang lebih dikenal sebagai perusahaan yang menyediakan jasa executive search.

Kriteria yang digunakan Stolberg untuk memilih „joki” yang akan dijagokan kiranya juga dapat digunakan oleh para eksekutif yang mempunyai aspirasi untuk berwirausaha, terutama bila diperlukan investasi dari pihak modal ventura internasional. Kunci utamanya adalah calon haruslah mempunyai pengalaman sebagai CEO atau General Manager dengan tanggung-jawab penuh atas laba-rugi perusahaan atau unit-usahanya dan mengelola semua fungsi usaha. Track record yang dicari adalah secara sukses mengembangkan usaha dengan omzet yang cukup besar, dalam hal ini minimal US$35juta, dan dalam sekurangnya 3-4 tahun terakhir menunjukkan peningkatan shareholder value secara substansial. Mereka yang mempunyai pengalaman melakukan akuisisi, berkarakter baik, memiliki kemampuan interpersonal yang ciamik dan mampu membawa serta tim manajemen yang kuat akan mendapatkan prioritas. Tambahan lagi, dicari mereka yang memiliki kemampuan dalam aspek-aspek operasional dan finansial perusahaan, serta kepiawaian untuk mengembangkan sebuah sistem informasi dan pelaporan yang superior. Tentunya, calon harus mempunyai visi strategis untuk membangun sebuah usaha yang leading di bidangnya, dengan gross margin yang tinggi dan business model yang membawa recurrent revenue yang mampu menghasilkan competitive advantage yang dapat bertahan sehingga membawa perusahaan kepada sebuah posisi yang diperhitungkan dalam industrinya.

Sebagai imbalannya, Stolberg akan membawa modal yang besarnya sampai US$25juta, akses ke jaringan bisnis mereka, termasuk investment bankers, analis-analis pasar modal, konsultan, kreditur dan headhunters. Pengalaman Stolberg dalam membantu perusahaan-perusahaan dalam portepel strategis mereka untuk mencari dana dan meningkatkan penjualan juga akan dapat dimanfaatkan. Di sisi lain, yang menjadi iming-iming bagi para „joki” yang terpilih antara lain adalah remunerasi yang kompetitif, equity incentive plan yang menarik, dan otonomi dalam menjalankan operasi perusahaan sehari-hari.

Tentunya, tidak semua eksekutif yang berminat menjadi wirausaha dapat memenuhi kriteria Stolberg. Jangankan 50% annualized return, mampu mencapai 20% saja sudah tidak mudah dalam iklim usaha yang kini ada. Memang masih banyak perusahaan modal ventura plus yang cukup puas dengan annualized return sekitar 35% sampai 40%. Dengan portepel investasi yang berjumlah milyaran US$, perusahaan-perusahaan ini malang-melintang di kota-kota besar Asia Tenggara, termasuk Jakarta. Dan semuanya mengincar CEO atau eksekutif puncak sekelas Fendi
dan Suma.•

Jos Luhukay • Pengamat dan Praktisi Ekonomi Baru.

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.