Bagaimana
perusahaan antena berubah menjadi penyedia solusi antena lengkap yang bervisi masa depan dan
memiliki daya
saing tinggi
melalui penerapan teknologi
informasi dan
kolaborasi.
Sigma Wireless Technologies Ltd (Sigma Wireless), merupakan anak perusahaan dari Sigma Wireless Group, penyedia solusi industri telekomunikasi.
Selama ini, fokus bisnis Sigma adalah pembuatan, pengembangan produk-produk antena dengan spesifikasi tertentu. Namun, dalam beberapa tahun belakangan orientasi bisnisnya berubah menjadi penyedia solusi lengkap untuk aplikasi-aplikasi tertentu, dengan menggunakan baik produk sendiri maupun produk pihak ketiga.
Kunci penting keberhasilan model bisnis baru ini adalah diberikannya para pelanggan akses ke berbagai sumber informasi perusahaan, baik itu mengenai produk, solusi dan lain sebagainya, dan sekaligus berbagi ruang kerja (shared workspace). Ini sekaligus menunjukkan kemampuan, pengalaman teknologi dan pemasaran Sigma yang efisien. Terjalinnya kepercayaan yang tinggi di antara mitra bisnis dan Sigma, juga menjadi pendorong keberhasilan itu.
Untuk meraih keberhasilan tersebut, apa yang sesungguhnya dilakukan Sigma adalah menerapkan solusi eBusiness, yang antara lain mencakup penyediaan: Portal Internet (Databank), Situs Web Publik, dan Ekstranet pelanggan.
Sampai saat ini, Sigma telah berhasil memberdayakan Databank dan situs webnya, dan tengah melangkah ke tingkatan selanjutnya, yakni bagaimana menarik mitra bisnis yang dimilikinya ke dalam Databank. Dengan begitu, Sigma berharap akan mampu menyediakan solusi antenna lengkap yang dibutuhkan oleh para pelanggannya di seluruh dunia.
Latar Belakang
Sigma Wireless didirikan tahun 1991 dengan lini bisnis sebagai perancang dan pembuat antena telekomunikasi dan sekaligus merupakan anak perusahaan Sigma Wireless Group, yang berkedudukan di Dublin, Irlandia. Kelompok usaha ini juga mencakup Sigma Telecom dan Sigma Wireless Communications yang tahun 2000 lalu mempekerjakan lebih dari 550 orang dengan pendapatan melebihi 200 juta dolar AS.
Sigma merupakan pemain global dalam perangkat infrastruktur dan produk-produk komunikasi bergerak, seperti Vodafone dan Orange, serta produk-produk OEM (original equipment manufacturers), seperti Motorola, Nokia dan Ericsson.
Produk intinya, antara lain antena PMR (Professional Mobile Radio), TETRA (Terrestrial Trunked Radio) and 3G (3rd Generation Mobile). Sekitar 90 persen dari produk-produk yang dihasilkannya diperuntukkan ekspor, antara lain ke Inggris, Spanyol, Jerman, Perancis, Skandinavia dan Asia. Pasar ini, nantinya, diperkirakan akan menjadi pasar terbesar ke depan.
Sejak 1998 perusahaan ini telah mengubah posisinya dari pasar nisi (niche market) untuk produk-produk PMR menjadi pemimpin teknologi dalam bisnis antena TETRA dan seluler 3G, termasuk integrasi sistem teknologi informasi (TI). Perhatiannya pada mutu produk dan layanan, dibuktikan dengan diperolehnya sertifikat manajemen mutu standar ISO9001/2000 dan diakui oleh operator OEM utama.
Selain itu, Sigma Wireless juga telah membangun suatu kemampuan yang baik dalam Customer Relationship Management (CRM). Karenanya, selain dukungan teknologi yang canggih, para pelanggan Sigma juga mendapatkan layanan yang bermutu tinggi. Solusi-solusi yang dikembangkannya pun dimungkinkan dilakukan dengan baik, karena Sigma memiliki kapasitas dalam manufaktur, penelitian dan pengembangan, desain, pengujian bdan pengukuran kualitas produk.
Pasar
Perkembangan industri komunikasi yang mengarah tidak hanya menyediakan layanan suara, melainkan juga data dan suara, termasuk Internet, telah membawa banyak perubahan dalam pasar industri tersebut. Hal itu, juga semakin memungkinkan para pengguna untuk mengakses suara atau data selama dalam perjalanan, atau jauh dari kantor, atau yang disebut komunikasi bergerak (mobile communication).
Perubahan-perubahan itu, tak hanya terkait dengan industri perangkat komunikasi saja, melainkan juga perangkat infrastruktur antena yang harus menyesuaikan dengan kebutuhan itu. Karena antena komunikasi seluler ini melayani cakupan yang lebih kecil dibandingkan antena-antena konvesional, maka setidaknya dibutuhkan empat kali lebih besar dari jumlah antena yang digunakan dalam komunikasi konvensional untuk mendapatkan cakupan yang sama. Ini, berarti, memberi peluang yang lebih besar bagi Sigma untuk mengembangkan bisnisnya di seluruh dunia, karena semakin banyak permintaan pelanggan.
Dalam konteks itu, Sigma melihat bahwa strategi keberhasilannya terletak pada tak hanya menyediakan produk-produk yang bermutu tinggi, melainkan juga tersedianya dukungan global, termasuk kapasitas pembuatannya. Fleksibilitas dan kustomisasi terhadap kebutuhan pelanggan juga harus menjadi perhatian penting.
Menyadari bahwa industri antena terbagi dalam dua ekstrim, yakni yang sangat besar dan yang relative kecil, yang masing-masing memiliki produk dan solusi yang unggul, maka Sigma membangun strategi baru. Yakni, yang memungkinkan dirinya beraliansi dengan sebanyak mungkin vendor lainnya, sehingga mampu memberikan solusi antena dan kelengkapannya secara lebih komprehensif dalam memenuhi kebutuhan para pelanggan. Dengan begitu, Sigma berharap mampu mendapatkan posisi yang lebih baik dalam pasar industri yang semakin berkembang itu.
Pasar yang disasar adalah kalangan industri yang tengah mencari solusi-solusi terintegrasi, serta mereka-mereka yang membeli ulang, terutama untuk meningkatkan kemampuan layanan yang telah dimilikinya sekarang ini.
Peluang
Arah strategis bisnis Sigma mengalami perubahan nyata, terutama sejak jabatan Managing Director Sigma dijabat Joseph Moore, tahun 1998. Perubahan itu pula yang kemudian mendorong arah penerapan TI dan eBusiness Sigma dilakukan secara lebih komprehensif.
Meski nilai bisnisnya relatif sama antara tahun 1998 dengan 2002, namun dari sisi lini bisnis, solusi dan produk-produk yang disediakannya telah mengalami perubahan. Beberapa produk yang bukan inti dibuang, seperti mobile accessories dan catu daya. Fokusnya berubah dari hanya melayani pasar PMR, kini 90 persen ditujukan untuk TETRA dan bahkan kini tengah berkembang ke solusi segmen komunikasi 3G yang menunjukkan peningkatan pesat.
Perubahan nyata ini semakin terjelaskan, khususnya dengan dibuatnya pernyatan misi Sigma yang baru, yakni “Menjadi perancang, pembuat dan pemasar kelas dunia solusi-solusi antena yang inovatif dan produk-produk terkait lainnya di seluruh dunia.” Ambisi lain yang mengikuti misi ini terlihat dari keinginan kuat untuk “Melipatduakan nilai bisnis Sigma setiap dua tahun”.
Untuk mencapai tujuan itu, Joseph berkeyakinan bahwa Sigma harus membangun kompetensi internalnya agar benar-benar mampu bersaing. Untuk itu, Sigma menyewa empat konsultan yang bekerja selama sembilan bulan penuh untuk menyiapkan rekayasa-ulang terhadap seluruh proses manufakturnya, yang melibatkan seluruh karyawan dan manajer yang terkait. Pada saat yang sama, untuk mengintegrasikan proses bisnisnya, Sigma memutuskan untuk menerapkan Enterprise Resource Planning (ERP) secara komprehensif.
Satu pandangan yang sangat menarik terkait dengan proses perubahan itu dapat disimak dari pernyataan Joseph, “Ini bukan soal mengirimkan lembar data dan menawarkan suatu harga yang kompetitif kepada pelanggan dan membiarkan mereka memilih Anda. Tetapi, ini bagaimana Anda mendatangi mereka, mencari tahu masalah yang mereka hadapi, dan mencari solusi yang tepat untuk diberikan kepada mereka.”
Model bisnis yang semakin menunjukkan kedekatan antara Sigma dengan pelanggannya ini, terbukti membawa hasil. Salah satunya dengan diterimanya kontrak penyediaan 100 persen kebutuhan antena perusahaan jasa telekomunikasi Inggris, Delphi.
Solusi eBusiness
Untuk memenuhi kebutuhan itu di lakukan berbagai perubahan, yang dijawab dengan membangun solusi eBusiness. Penerapannya didekati melalui empat tahapan strategis, yakni:
Fokus ke dalam – Meningkatkan kondisi yang ada sekarang. Sigma harus membangun kompetensinya sebelum menawarkan solusinya kepada para pelanggan, sesuai dengan arahan strategi baru pengembangan bisnisnya. Untuk itu, semua tenaga penjualan dipastikan memiliki data dan informasi produk di komputernya, sehingga dapat dengan cepat melayani para pelanggannya. Karenanya, pengetahuan dan ketrampilan tenaga teknisnya harus dikomunikasikan ke seluruh orang yang terkait, sehingga jika dibutuhkan, mereka bisa diberdayakan sesuai dengan kapasitas dan keahliannya secara cepat dan tepat.
Fokus ke luar – Memvalidasi solusi menjual kepada pelanggan. Tenaga teknis dibekali dengan contoh-contoh solusi, sehingga dapat melakukan proses ujicoba di hadapan pelanggan mengenai solusi tertentu. Sedang bagian pemasaran, dipastikan memiliki kesiapan melakukan presentasi ke pelanggan.
Membangun solusi kemampuan menjual. Dalam hal ini, tenaga teknis membuat standar solusi, yang nantinya ditampilkan dalam situs web yang didukung oleh Databank. Tenaga pemasaran mulai membangun profil calon pelanggan dan target penjualan juga ditetapkan, yang didukung oleh tenaga penjualan yang terlatih untuk menjangkau target pelanggan. Tentu saja, hal itu harus didukung oleh bagian logistik yang kuat.
Mengembangkan layanan pelanggan atau mitra bisnis melalui berbagi ruang kerja (shared workspace). Para pelanggan memperoleh akses ke Databank untuk mengetahui berbagai aspek mengenai produk dan solusi yang tersedia. Akses ini memungkinkan pelanggan mengetahui lebih banyak mengenai Sigma dan solusi yang ditawarkan, yang diharapkan akan semakin meningkatkan kepercayaan mereka.
Yang menarik, Joseph mendorong Sigma menjadi perusahaan yang memiliki kompetensi tinggi, mampu melayani para pelanggannya dengan solusi-solusi yang berkualitas, dan sekaligus menjalin kedekatan hubungan dengan para pelanggannya. Dukungan kerjasama dengan berbagai mitra bisnis yang masing-masing memiliki dukungan solusi dan produk yang bervariasi, semakin membuat Sigma menjadi “hub” solusi terpadu bagi para pelanggannya di seluruh dunia.
Proses perubahan orientasi bisnis Sigma yang langsung dikomandani oleh Joseph Moore selaku Managing Director Sigma, secara operasional disepakati menggunakan solusi Web dari Microsoft Sharepoint, sebagai platform teknis untuk Internal Portal/Databank.
Keuntungan
Bagi Sigma, perubahan ini sesungguhnya sangat potensial mendorong untuk mendapatkan nilai kontrak yang lebih tinggi. Selain data dan informasinya tersedia di situs web, yang akan lebih memudahkan pelanggan mendapatkannya, Sigma juga didukung oleh mitra bisnis yang memiliki kompetensi tinggi dalam bisnis yang dikembangkannya itu.
Karena Sigma mampu menjadi penyedia solusi terpadu, maka jelas para pelanggan juga sangat diuntungkan, karena solusi yang mereka butuhkan dapat diperoleh cukup berhubungan hanya dengan Sigma. Selain menghemat waktu, tanggungjawabya pun jelas, karena hanya tertuju ke Sigma.
Masalah
Perubahan-perubahan yang dilakukan Sigma ini bukan tanpa masalah. Selain adanya pergantian personal, sementara proyek tengah berjalan, konsultan juga akan menyerahkan proyek tersebut sebelum sepenuhnya sistem yang dibangun teruji secara baik. Hal itu, kemudian memunculkan keberatan manajemen Sigma. Belum lagi ditemukannya masalah source code dan bugs dalam peranti lunak yang digunakan, sehingga Sigma harus menunggu lebih lama lagi sampai semuanya dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Keputusan Sigma untuk menerapkan TI dan eBusiness dan sekaligus melakukan rekayasa-ulang terhadap seluruh proses manufakturnya, juga menjadi penentu keberhasilan perubahan orientasinya ke depan. •Insa