Volume II No 16 - April 2004
 


Mengintip peluang, menangguk untung

 

Kini, Indonesia tengah dilanda demam wartel asongan, seiring hadirnya layanan
komunikasi berbasis CDMA. Di luar negeri, justru demam cetak foto digital.

Berkah, terkadang datang tidak disangka-sangka. Siapa yang mengira kehadiran telepon seluler jenis CDMA (Code Division Multiple Access) ternyata membawa berkah bagi banyak orang. Bukan hanya konsumen yang kesulitan mendapatkan saluran telepon tetap (fixed phone) kini menjadi bisa terlayani dengan mudah, kehadiran teknologi CDMA yang dipelopori PT Telkom dengan produknya TelkomFlexi, ternyata membuka peluang bisnis baru. Apa itu? Berbeda dengan fixed wireless, yang karena sifatnya fixed, membuat telepon jenis ini tidak memiliki mobilitas. Namun, karena penetrasi telepon tetap ini masih terbatas, meski tidak punya kemampuan mobilitas, warga yang belum tersambung bisa menikmati fasilitas telepon lewat wartel (warung telekomunikasi). Kini wartel bisa dibilang sudah jenuh. Mencari sambungan baru pun tidak mudah. Padahal, di daerah-daerah yang ramai peluangnya masih ada.

TelkomFlexi dan FlexiWalk

Berbeda denwgan fixed phone, dengan basis teknologi CDMA, TelkomFlexi dapat digunakan untuk mengirim dan menerima, baik suara maupun data tanpa kabel (wireless). Kelebihan itu tidak dimiliki telepon tetap. Meskip kemampuan mobilitasnya terbatas, CDMA memungkinkan digunakan sebagai layanan massal - semacam wartel - yang bisa diasong ke mana saja dan di mana saja.

Ide semacam itu sudah ada dalam pikiran Ina Junainah, pemilik PT Sinar Cemerlang Ilahi (SCI), sejak sebelum teknologi CDMA hadir. Terinspirasi kemudahan orang berkomunikasi dengan telepon seluler (ponsel), Ina berkeinginan melebarkan sayap bisnis wartelnya ke layanan yang bisa diasong ke mana-mana. Ia berniat memanfaatkan teknologi GSM (global system for mobile communication). Niatan itu ia urungkan karena ongkosnya mahal.

Ide Ina menggarap wartel asongan kesampaian juga ketika PT Telkom meluncurkan TelkomFlexi, Mei 2003 lalu. Selain sifatnya wireless, tarif pulsa yang dipatok cukup murah: setara telepon rumah, kecuali bila menelepon pihak di luar flexi area - akan dikenai semacam biaya roaming.

Rupanya, di pihak Telkom sendiri muncul ide serupa. Jadi, naluri bisnis Ina dan Telkom ketemu. Ceritanya, suatu ketika, Garuda Sugardo, yang saat itu menjabat Direktur Jasa Telekomunikasi PT Telkom, jalan-jalan di kawasan Jakarta Selatan. Ia melihat banyak orang lalu-lalang di suatu tempat keramaian. Eh, ternyata banyak orang kesulitan berkomunikasi. Sebab, fasilitas wartel tidak ada. Sementara mereka tidak memiliki ponsel.

Dari situlah, kata Kepala Divisi Regional PT Telkom Jakarta Selatan, Triana Mulyatsa, korporasi yang berniat memberikan layanan bernama FlexiWalk, yang dalam istilah Ina Junainah dinamai wartel asongan. Untuk mewujudkan rencana itu, Triana kemudian bekerja sama dengan pihak vendor perangkat wartel. Kerja sama ini selain dalam pengadaan pesawat telepon juga untuk membuat interface yang bisa dihubungkan ke layar monitor harga serta printer untuk mencetak harga pemakaian jasa oleh konsumen.

Terpilih sebagai vendor, saat itu, adalah PT Sinar Cemerlang Ilahi milik Ina Junainah. Mengapa? Bukan sebuah kebetulan bila SCI yang digandeng Telkom. Lewat bendera SCI, Ina yang alumnus Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, itu sudah lama malang-melintang dalam mengelola wartel dan penyedia perangkatnya. Setelah berjalan selama empat bulan, wujud produknya diuji coba di Hotel Hilton pada September 2003 lalu. Lewat perbaikan di sana-sini, layanan FlexiWalk diluncurkan 17 Nopember 2003.

Secara fisik, FlexiWalk tidak ada bedanya dengan wartel pada umumnya. Ada sliding text display yang menampilkan nomor tujuan telepon, lama pembicaraan, dan biaya yang harus dibayar pengguna. Ketika diluncurkan, berat perangkat ini masih sekitar 15 kg. Kini, dengan penyempurnaan di sana-sini, sudah lebih enteng, karena tinggal 10 kg. Bahkan, pada model terbaru sudah dilengkapi dengan printer yang mencetak biaya percakapan.

Untuk menjajakan layanan ini, penyedia jasa bisa melakukan seperti yang dilakoni pedagang rokok atau minuman asongan yang menjajakan dagangannya di pinggir-pinggir jalan dan pusat keramaian. Jika kebetulan di tempat ramai, untungnya bisa gede karena PT Telkom menawarkan keuntungkan bagi hasil sebesar 23 persen untuk FlexiWalk. Menurut pengalaman Ina Junainah, dari setiap unit FlexiWalk pendapatannya antara Rp 75-300 ribu per hari. yang diberikan ke pengasong, tergantung kebijakan pengusaha. Ina sendiri memberi uang transport Rp 15 ribu per hari dan penghasilan 5 persen dari omset.

Kini, paling tidak, tersedia 200 perangkat FlexiWalk dan sudah lebih dari 50 unit yang beroperasi. FlexiWalk yang dikelola Ina banyak beroperasi di terminal Blok M, sekitar Bulungan, Taman Margasatwa Ragunan dan mall-mall. Untuk menjadi pengusaha wartel asongan calon harus memiliki institusi berbadan hukum seperti koperasi, yayasan, CV, atau PT. Calon pengasong dapat menyetor Rp 4.9 juta per unit ke PT Telkom. Biaya itu sudah termasuk ponsel CDMA yang di dalamnya ada kartu TelkomFlexi, lalu sambungan ke terminal telepon biasa dan ke perangkat wartel berupa prosesor untuk menghitung biaya, sebuah aki sepeda motor atau baterai dan kotak asongan.

FlexiDarling 2U dan 4U

Di luar itu, ada layanan yang oleh Garuda diberi nama FlexiDarling (Kendaraan Keliling) 2U yang diasong menggunakan sepeda motor. Di motor ini tersedia dua unit telepon CDMA. Satunya lagi diberi nama FlexiDarling 4U, yang diasong dengan mobil. Di mobil ini tersedia 6-8 unit telepon. Modal Flexi Darling 2U sekitar Rp 11,5 juta. Ini sudah termasuk dua pesawat telepon plus boks, payung, dan kursi lipat. Sepeda motor disediakan sendiri.
Sedang, untuk Flexi Darling 4 U diperlukan sebuah mobil yang dapat memuat enam pesawat telepon dengan harga Rp 2,5 juta per unit telepon atau sekitar Rp 15 juta per paket. Berbeda dengan FlexiWalk, bagi hasil dari PT Telkom untuk Fexi Darling lebih besar lagi, yakni 30 persen.

Jauh-jauh hari, PT Telkom sudah membatasi agar peluang bisnis ini tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Kepada pengusaha yang berbadan hukum, masing-masing hanya dijatah 10 FlexiWalk, 5 Flexi Darling 2U dan 2 Flexi Darling 4U. “Penjatahan ini agar tidak terjadi monopoli,” kata Triana. Dengan begitu, keuntungan masing-masing badan usaha akan optimal.

Triana mengakui, prospek bisnis ini cukup cerah. Fasilitas ini bisa dijajakan di banyak tempat keramaian, mulai dari mal, supermarket, dan tempat rekreasi umum hingga terminal. Bahkan, suasana Pemilihan Umum 2004, ketika orang kampanye, membuat bisnis ini makin moncer.

Misalnya, ketika ada demonstrasi di depan gedung DPR, ini merupakan peluang bagi layanan wartel asongan ini. “Pokoknya cerahlah,” kata Triana. Ina Junainah mengangguk. Dari hitung-hitungan Ina, usaha ini akan bisa balik modal (break even point) dalam enam bulan. Setelah itu untung.

Demam CDMA di Mancanegara

Rupanya, demam memanfaatkan peluang atau celah baru dari layanan bisnis baru ini tidak hanya melanda Indonesia. Di luar negeri juga berlangsung demam serupa. Pepatah ada gula ada semut akhirnya menemukan relevansinya.

Hanya saja, ungkapan lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya juga tidak bisa dielakkan. Masing-masing tempat dilanda demam yang berbeda. Bila di Indonesia sedang demam wartel asongan, di Jepang dan Korea Selatan lagi demam dengan gerai cetak foto ponsel seiring dengan meledaknya penjualan ponsel berkamera hingga 16 juta di wilayah tersebut tahun 2003 lalu.

Menurut hasil riset Strategy Analytics, ponsel berkamera diperkirakan akan meningkat penjualannya hingga 11 persen pada 2004, sementara ponsel MMS (multimedia messaging services) akan mencapai 50 juta di pasar Eropa pada tahun yang sama. Diperkirakan jumlah ponsel berkamera akan mencapai jumlah 147 juta di seluruh dunia pada tahun 2007. Ini jumlah yang luar biasa.

Mengambil gambar melalui ponsel dan mengirimkannya langsung melalui MMS memang menyenangkan, tetapi bagaimana dengan yang ingin mencetak foto secara instan? Itulah sebuah peluang bisnis baru yang menjanjikan. Perusahaan Jepang, Omron, menawarkan layanan berupa kios Sassoku Print yang mampu mencetak foto dari ponsel dengan biaya 200 yen per lembar. Bahkan, Omron kini sudah mengembangkan lebih dari 55 kios foto di Tokyo.

Saingan lainnya, Melutte Pri, yang dimiliki Mitsubishi Electric Corporation, bahkan sudah membuka layanan serupa di sepuluh lokasi di kawan bisnis Shibuya, Tokyo, sejak Desember 2003 lalu. Untuk menikmati layanan itu, pengguna tinggal mengirim e-mail gambar ke sebuah alamat e-mail tertentu dan kemudian menerima nomor identitas dan kata kunci untuk mengoperasikan mesin di kios Mellute Pri itu. Simpel dan mudah.

Di Amerika Serikat (AS), perkembangan solusi cetak seketika bagi kamera digital juga berkembang amat pesat. Pemilik kamera digital yang tak memiliki sarana pencetak di rumah dan tak mau menunggu berhari-hari dari layanan cetak online, tentu akan memilih mencetak di kios cetak digital seketika itu. Apalagi, ongkos cetaknya cukup murah meriah.

Kios Pintpix milik Fuji Film, misalnya, menyediakan layanan mulai dari pengambilan gambar dari kartu memori, zip disk, atau CD dan langsung mencetaknya. Kodak juga membangun kios bernama Picture Maker yang berjumlah sekitar 17 ribu unit di seluruh AS. Demikian pula Pixel Magic yang membuka 6.000 kios. Sementara, Sony berencana membuka kios Picture Station sejumlah 20 ribu unit dalam waktu tiga tahun ke depan. Persaingan kian seru.

Di negara lain, MMS atau “mengirim dan menerima foto dari ponsel” sudah menjadi lahan bagi perusahaan iklan untuk menjaring pelanggan. Di Finladia, agen realestat Huoneistokeskus semula mengiklankan produknya hanya melalui billboard besar dan media cetak seperti koran dan majalah. Kini, calon pembeli potensial dapat melihat iklan Huoneistokeskus berupa gambar warna contoh rumah melalui MMS di ponsel mereka. Jadi, layanan semakin lebih personalized.

Sementara di Belanda, Media Republic meluncurkan MMSeries, sebuah opera sabun interaktif yang dibintangi aktris terkenal Belanda. Setiap episode akan disiarkan gambar per gambar ke penggemarnya melalui ponsel. Atau bergabunglah dengan 42.000 wanita Jepang yang seolah-olah menjadi “bintang opera sabun” dalan layanan album foto harian, mingguan dan bulanan yang diselenggarakan Girlswalker.com. •

Triana memperkirakan, dengan melihat pertumbuhan wartel, penetrasi telepon dan kondisi penduduk di Jakarta Selatan, diperkirakan akan tumbuh 200 FlexiWalk, 50 Flexi Darling 2U, 10 Flexi Darling 4U, dan 50 Flexi Call. Sayangnya, untuk sementara layanan semacam ini baru dikembangkan di Telkom Divisi Regional II, khususnya wilayah Jakarta Selatan. Toh, sembari menunggu lampu hijau dari Telkom, Ina sudah menjajaki membuka agensi di Bandung, Jawa Barat.

Alex J. Sinaga, Kepala Divisi Fixedwireless, PT Telkom, mengatakan bahwa kehadiran FlexiWalk merupakan peluang baru bagi peritel. “Ini peluang baru bagi pengusaha kecil,” kata Alex. Bagi Telkom sendiri, kehadiran FlexiWalk turut mengoptimalkan pemnafaatan teknologi CDMA. Telkom sebenarnya cuma memfasilitasi pemilik modal atau pengusaha yang menyediakan perangkat wartel dengan basis teknologi CDMA kepada yang berminat membuka usaha.

Menurut Alex, sebetulnya FlexiWalk juga diminati beberapa kota lain. Karena itu, ia optimistis bisnis TelkomFlexi akan makin berkibar. Selama tahun 2003, TelkomFlexi berhasil menembus angka penjualan lebih dari 450 ribu pelanggan, melebihi target yang hanya 383 ribu pelanggan. Kepercayaan masyarakat yang besar, kata Alex, turut memacu Telkom untuk terus berinovasi, mengembangkan layanan dan wilayah baru operasi TelkomFlexi.
Saat ini, TelkomFlexi telah beroperasi di hampir 40-an kota. Hingga akhir tahun 2004 ditargetkan akan menyebar ke 62 kota. Tahun ini, pihaknya akan membangun 1,22 juta satuan sambungan telepon (STT) dengan nilai investasi sebesar Rp 2,04 triliun. Pelanggannya sendiri ditargetkan akan naik menjadi 1,5 juta pelanggan. “TelkomFlexi akan jadi pilihan warga,” kata Alex.

Optimisme Alex tidak mengada-ada. Teknologi CDMA punya sejumlah kelebihan. Kecepatannya bahkan lebih baik dibandingkan ponsel berbasis teknologi GSM. Kemampuan akses data CDMA mencapai 125 kilobyte per detik, sementara ponsel GSM masih 40 kilobyte per detik. Selain itu, TelkomFlexi memiliki kualitas suara yang lebih jernih dan praktis nyaris tanpa drop call. Keunggulannya makin lengkap, karena tarif pulsanya yang murah, setara telepon rumah.

Jika kini layanan itu baru menyerbu fasilitas-fasilitas umum dan tempat keramaian di Jakarta Selatan, mungkin tak lama lagi akan merembet ke terminal bus, stasiun Kereta Api, pelabuhan, bandar udara, pasar swalayan, pasar tradisional, atau bahkan kampus, di berbagai daerah. Jika itu terjadi, tentu cukup lumayan. Paling tidak tercipta sebuah peluang kerja baru untuk mengatasi sebagian problem pengangguran di negeri ini.

Semua itu baru langkah yang dilakukan TelkomFlexi, produk yang dikembangkan Telkom. Pesaing lain, Esia misalnya, anak perusahaan PT Bakrie, dan pendatang baru, Fren dari PT Mobile-8 Telecom, anak perusahaan PT Bimantara, pasti tak tinggal diam. Mereka pasti tidak akan membiarkan peluang besar ini hanya dinikmati Telkom. Bahkan, ketika PT Indosat benar-benar akan meluncurkan layanan CDMA-nya pada pertengahan Mei nanti, pasar CDMA diperkirakan akan semakin bergairah. Saat itu genderang persaingan akan semakin keras.

Hanya saja, mungkin bentuk inovasi yang dikeluarkan operator baru macam Fren agak berbeda, sebab operator ini lebih mengandalkan pada kecepatan mentransfer data seperti video streaming atau menonton film atau menonton konser musik. Boleh jadi bentuknya mungkin bisa video on demand, music on demand, atau lainnya. Apalagi, teknologi yang digunakan Fren adalah CDMA 2000-1X EVDO (Evolution Data Optimized) yang sembilan kali lebih cepat dalam mengirimkan data dibandingkan CDMA standar.

Peluang Baru

Barangkali, kelak bakal muncul layanan “Hilang dan Temukan” cinta Anda kembali? Kejadiannya bisa berlangsung begini: Pria A dengan ponsel berkamera suatu ketika menangkap gambar wanita B yang cantik di sebuah kereta api cepat dalam kota. Si A merasa jatuh cinta kepadanya tetapi tak memperoleh kesempatan untuk mendekat dan menanyakan nama dan alamatnya, karena si wanita B keburu telah turun di stasiun berikutnya.

Berbekal gambar yang diambil di ponsel kameranya, si A dapat meminta bantuan situs “Hilang dan Temukan” yang barangkali dapat membantu menemukan wanita pujaan hatinya itu. Bagi perusahaan Biro Jodoh barangkali MMS merupakan media yang cocok untuk pengembangan bisnisnya di masa depan.

Ingat saja pepatah “Seeing is Believing” atau “Melihat itu Membuahkan Kepercayaan”. Dan MMS menyediakan semua tuntutan itu. Jika memang peluang itu ada, bahkan amat besar, mengapa tidak direbut. Bukankah di negeri ini banyak orang kesulitan dapat jodoh. Buktinya, rubrik jodoh ramai dipadati oleh peminat. Ayo siapa mau mengais peluang bisnis baru ini? •KI

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.