 |
| Pertandingan Korea Online Game: Online game menjadi salah satu value-added service paling menguntungkan. |
Kecepatan akses yang diberikan pun semakin cepat. Anda tentu pernah merasakan betapa sengsaranya menunggu suatu halaman situs Web tampil secara penuh dengan menggunakan akses dial-up. Kini, Anda bisa menikmati kecepatan akses 64, 128, 512 kbps, hingga Mbps, bahkan layanan 24 jam penuh, 7 hari dalam seminggu.
Kecepatan akses yang tinggi ini tidak lepas dari peran medium kecepatan tinggi - broadband. Ibarat selang, dial-up itu selang air, broadband selang pemadam kebakaran berdiameter besar, yang memungkinkan informasi data, suara dan video disalurkan sekaligus.
Peran broadband semakin penting dan strategis. Untuk akses broadband dan Internet, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa dulu yang terdepan dalam hal pertumbuhan dan penggunaannya. Namun, kini beralih ke negara-negara Asia, utamanya di Asia Timur dan Asia Tenggara, seperti Korea Selatan, Jepang dan belakangan Cina, Taiwan, Hong-Kong dan Singapura, yang menjadi contoh sukses pertumbuhan akses “pita lebar” ini.
Fenomenal
Secara volume, jumlah pengguna broadband di negara-negara Asia masih jauh di belakang AS. Namun, Asia mencatat pertumbuhan yang fenomenal.
Contohnya, Korea Selatan. Setahun setelah akses broadband digelar pada 1998, pasarnya telah mencapai critical mass-nya. Kalau tahun 1999 hanya 374 ribu rumah tangga yang berlangganan broadband, tiga tahun kemudian melonjak menjadi 10,5 juta pelanggan, atau 70 persen dari jumlah rumah tangga yang ada di negeri berpenduduk 46 juta jiwa itu.
Sekarang pasar broadband Korsel telah memasuki tahap kejenuhan, dengan total pelanggan 11,2 juta. Namun, gantian negara-negara Asia lainnya yang mencatat pertumbuhan fenomenal. Menurut catatan Point-Topic Ltd., sebuah perusahaan riset pasar broadband, Jepang kini memiliki sekitar 13,6 juta pelanggan, sementara Cina mencatat pertumbuhan luar biasa - 9 juta pelanggan setahun.
Dari sisi penetrasi, Korsel masih yang tertinggi di dunia, dengan 23 sambungan broadband per 100 penduduk. Sementara, Hong-Kong di urutan kedua dengan 18 sambungan per 100 penduduk, dan Taiwan di belakang Kanada, dengan 13 sambungan per 100 penduduk.
Faktor pendorong
Salah satu faktor pendorong pertumbuhannya adalah murahnya harga layanan broadband dan ketersediaan jaringan luas. Dalam banyak kasus, mereka bisa mendapatkan akses DSL 10 sampai 20 kali lebih cepat dibanding konsumen di AS, dengan harga sangat murah, paling rendah 20 dolar AS per bulan.
Di Korsel misalnya, layanan broadband dihargai sama atau lebih rendah dari narrowband, yakni antara 19 dolar AS (Rp 162.000) per bulan untuk kecepatan 2Mbps sampai 33 dolar (Rp 280.000) per bulan untuk kecepatan 8Mbps. Korsel, bersama-sama Jepang dan Hong-Kong termasuk yang memiliki harga broadband paling rendah. Meski konsumen Korsel mendapatkan kecepatan tertinggi (3Mbps) untuk harga yang sama.
Regulasi di Asia pun lebih ramah bagi para entrepreneur. Di Korsel misalnya, para pemilik blok apartemen besar memiliki kendali penuh terhadap peralatan telekomunikasi yang digelar di gedungnya. Ini membuat mereka bisa langsung bernegosiasi dengan para pemilik gedung, tanpa harus melalui Korea Telecom. Akibatnya, penyedia DSL independen terkemuka Korsel, Hanaro, bisa berkompetisi langsung baik dengan Korea Telecom maupun penyedia cable-TV, tanpa mengorbankan kepentingan perusahaan telko besar. Catatan International Telecommunications Union (ITU), dari 10 perusahaan telekomunikasi dunia yang paling untung di tahun 2002, tujuh di antaranya berada di Asia.
Mayoritas pengguna broadband Asia mengakses Internet melalui DSL (digital subscriber line), yang didominasi ADSL (asymmetric DSL). Menurut Sandra Ng, vice president, communications and peripherals research, IDC Asia-Pasific, 60 persen pelanggan menggunakan DSL untuk mengakses Internet, kemudian cable modem 28 persen, dan metro Ethernet 8 persen.
Layanan konten broadband
Selain ketersediaan jaringan yang luas, umumnya tingkat bandwidth internasionalnya relatif rendah dan lebih banyak menggunakan trafik lokal. Para operator menyiasatinya dengan membundel IP value-added service dengan akses, sebagai kompensasi tingginya diskon harga akses dan biaya trafik Internet internasional.
Singapura misalnya, sekalipun jumlah pelanggan broadbandnya relatif tinggi, merasakan sulitnya mendongkrak pertumbuhan. Menurut Tim Crowley, senior broadband analyst, IDC, ini disebabkan kebanyakan penduduk Singapura masing sangat price sensitive. Dalam sebuah survei oleh Infocomm Development Authority (IDA) yang dipublikasikan awal tahun ini terungkap bahwa sekalipun dua dari lima penduduk Singapura termasuk pengguna broadband yang intens, sebagian besar tidak bersedia membayar lebih dari 4,56 dolar AS (sekitar Rp 40.000) hanya untuk menikmati konten online.
Dial-Up Mati? Ntar dulu!
Hadirnya broadband tidak serta merta menyebabkan matinya dial-up. Lho, kok tahu?
Gampangnya, lihat saja angka-angka yang dikeluarkan perusahaan riset. Sebagian besar memperkirakan populasi broadband secara global mencapai 200-an juta pada 2007. Sementara total pengguna Internet diperkirakan paling tidak 1 miliar. Artinya, dari sekitar 800 juta pengguna lainnya, sebagiannya pengguna dial-up. Di Asia sendiri, Yankee Group memperkirakan ada 300 juta paying Internet user pada tahun 2007 mendatang, dan 200 juta di antaranya adalah pengguna dial-up.
Tidak berarti dial-up akan mendominasi pasar, tetapi dial-up masih banyak digunakan, khususnya di negara-negara berkembang dimana akses broadbandnya masih sangat mahal.
Masalah lainnya adalah infrastruktur. DSL misalnya, dijamin bagus jika rumah Anda dalam radius 5 km dari pusat penyedianya. Jika tidak, satu-satunya opsi adalah dial-up, kecuali jika rumah Anda dilewati jaringan TV kabel atau terjangkau jaringan nirkabel broadband. Untuk kasus negara-negara berkembang ini sering terjadi, dimana penggelaran infrastruktur diprioritaskan di daerah kota. Masih untung jika daerah perumahan dan desa di pinggiran kota mendapatkan POTS-nya sendiri.
Harga murah juga bukan segalanya untuk menarik pelanggan. Tentu saja, memiliki koneksi yang lebih cepat ada nilai tambahnya, hanya jika aplikasinya juga tersedia dan sesuai kebutuhan pelanggan. Mendownload MP3, online game, nonton VOD memang mengasyikkan, tetapi ada banyak netters di dunia ini yang tidak membutuhkannya, dan tetap mengandalkan akses dial-upnya.
Memang, penggelaran broadband secara luas tidak terhindarkan dan harganya yang terus menurun (kecuali di Indonesia) mungkin menyebabkan banyak pengguna dial-up akhirnya pindah haluan. Namun, paling tidak masa itu datangnya masih lama, dan dial-up agaknya masih bisa bernapas lebih panjang. aa |
“Saat ini, lebih dari 80 persen trafik Internet ke luar Singapura, sementara di Korea dan Jepang sebaliknya. Akibatnya, biaya penyediaan layanan Internet di Singapura lebih tinggi. Jika lebih banyak lagi konten dan trafik Internet yang dilokalisir, kita akan menerima harga yang lebih rendah, kecepatan yang lebih tinggi, dan tingkat pengadopsian yang lebih tinggi,” ujar Joseph Tan, direktur produk broadband SingTel, salah satu operator penyedia layanan broadband di Singapura.
Artinya, tantangan para operator broadband ke depan adalah menyediakan konten yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Tak heran, hampir semua operator broadband di Asia kini ramai-ramai menawarkan berbagai value-added service broadband.
“Voice over broadband kelihatannya cukup populer, selain peluang pendapatannya juga cukup bagus. Pilihan ini sangat menarik bagi operator cable modem atau Internet kabel, yang membundel layanan cable modem dan TV kabel. Penambahan (layanan) suara akan menciptakan arus pendapatan baru,” ujar Ng dari IDC.
Yahoo!BB, salah satu penyedia layanan broadband terkemuka di Jepang mengandalkan layanan suara sebagai sumber pendapatannya. Perusahaan yang dikomandoi Masayoshi Son, ini mengestimasikan 25 persen pendapatannya datang dari BB Phone dan layanan VoDSL. Dari 3,3 juta pelanggan DSL-nya, 3 juta di antaranya berlangganan VoDSL. Para pelanggan layanan suara Yahoo!BB membayar 7,5 yen (sekitar Rp 6.000) untuk percakapan domestik selama tiga menit, dan 2,5 yen (sekitar Rp 2.000) untuk percakapan internasional.
Hiburan, Chatting dan Game Layanan lain yang bisa diberikan melalui broadband adalah hiburan. Pay TV merupakan salah satu layanan yang banyak disediakan operator di Asia.
Belum lama ini, PCCW, operator telekomunikasi Hong-Kong juga menerjuni bisnis pay TV ini dengan meluncurkan broadband TV. Ke-23 saluran yang ditawarkan seluruhnya a la carte. Pelanggan tidak membeli paket saluran, melainkan yang sesuai dengan keinginan mereka, dan membayar biaya antara 1,3 sampai 5 dolar AS per bulannya.
Di Korea, penyajian layanan TV broadbandnya sedikit berbeda. Di sana ditawarkan layanan time-shifted TV, layanan yang memungkinkan pelanggan menonton episode program TV lama, misalnya seri opera sabun. Biayanya sekitar 0,25 dolar sampai 0,40 dolar per episode. Konten streaming-nya bisa disaksikan melalui PC atau pesawat TV. Jika pelanggan tertinggal salah satu episode, ia bisa menontonnya melalui layanan ini.
Online gaming juga merupakan layanan yang sangat popular di kalangan pengguna broadband Internet dan mengalami booming di Korea. NCSoft, bahkan menjadi penyedia jaringan online gaming terbesar dunia, dengan 3,2 juta pelanggan yang masing-masing membayar 25 dolar AS per bulannya dan sekaligus pesaing utama Xbox Live-nya Microsoft dan jaringan PlayStation broadband-nya Sony. Cina pun kini menjadi lahan garapan jaringan game Korea. Sebuah online game terbaru Korea, Fortress memiliki sekitar 35 juta pemain di Cina.
Multimedia chatting juga menjadi aplikasi broadband yang paling banyak diminati di Korea. “Sekitar 10 juta orang menggunakan online text chatting dan 1 juta orang menggunakan video chatting di Korea,” ujar Chun Doo Bae, presiden CXP, penyedia layanan video chatting terbesar di Korea. Para pengguna online chatting juga memanfaatkan avatar, semacam karakter virtual yang merepresentasikan diri si pengguna ketika berada di chat room maupun ketika mengirim e-mail. Lebih dari 3,6 juta pelanggan memiliki avatar, yang mampu mempercantik karakter pemiliknya melalui operasi plastik virtual, memberi hewan peliharaan dan rumah.
“Banyak hal yang bisa dilakukan dengan avatar ini,” ujar Stanley Ho, presiden Neowiz, sebuah perusahaan pemasok asesori avatar. Dan jangan salah, dengan bisnis beginian saja Neowiz bisa memperoleh pendapatan 65 juta dolar dari virtual merchandise, dan meraup keuntungan bersih sekitar 15 juta dolar!
Akses lebih cepat
Para pemain broadband Asia kini juga sudah banyak yang melangkah maju dengan menyajikan akses broadband lebih cepat lagi, yakni VDSL, yang mampu memberi kecepatan akses 25 sampai 50 Mbps. Akses secepat ini jelas memungkinkan VOD (video on demand), yang sebenarnya juga berjalan baik dengan infrastruktur broadband yang sudah ada. Di Cina, layanan VDSL ini sudah tersedia di wilayah propinsi Zhejiang dan kemungkinan akan mendapatkan minat besar di tahun-tahun mendatang. Sekalipun demikian, mungkin bukan VOD yang diharapkan menjadi killer application buat operatornya.
Sementara di Jepang, NTT menawarkan layanan akses broadband melalui FTTH, dengan harga sangat mendekati ADSL. Layanan dasarnya yang diberi merk B-FLETS menawarkan akses 100-Mbps dengan harga hanya 42 dolar AS (sekitar Rp 357.000), dan bahkan beberapa paket FTTH ditawarkan lebih murah lagi.
Entah apa lagi layanan yang bisa diberikan dengan akses secepat ini. Yang jelas banyak pihak yang percaya bahwa ke depan semua akan mengarah ke all-IP networks, dimana semua perangkat mulai dari perangkat rumah tangga, komunikasi dan lain-lain terhubung dengan IP, dan di sini, broadband menjadi batu loncatannya, kata Kenji Mirassou, product manager, Alcatel Japan. aa
|