CINA
Cina Perketat Aturan Warnet
Pemerintah Cina semakin memperketat kebijakan sensor informasinya dengan mengeluarkan aturan untuk melarang pendirian warnet di sekitar perumahan dan sekolah-sekolah.
Menurut laporan kantor berita Cina, Xinhua, para pemiliki warnet diharuskan beroperasi paling dekat dalam radius 200 meter dari wilayah perumahan dan lembaga pendidikan.
Regulator industri setempat, General Administration for Industry and Commerce (GAIC) mengeluarkan aturan baru ini dengan alasan untuk melindungi “kesehatan mental” anak-anak, demikian menurut laporan tersebut.
GAIC dilaporkan mengkhawatirkan warnet-warnet di Cina, khususnya yang tanpa izin, akan terus melanggar aturan yang melarang penggunaan warnet untuk anak-anak di bawah umur. Lembaga ini juga mengkhawatirkan tersebar luasnya warnet-warnet gelap itu dapat “menyebarkan informasi online yang tidak sehat” bagi para anak, kata laporan tersebut.
“Warnet-warnet tersebut telah membawa dampak buruk bagi kesehatan mental remaja dan mengganggu proses belajar di sekolah, yang telah menimbulkan reaksi keras dari masyarakat,” bunyi pernyataan GAIC.
Di samping meningkatkan pengawasan, GAIC telah mengeluarkan peringatan keras bahwa para operator yang ditemukan menerima pelanggan anak-anak atau memperbolehkan akses ke informasi yang terlarang akan menghadapi hukuman berat.
Langkah ini menggambarkan sikap yang bertolak belakang dari pemerintah Cina. Di satu sisi para pejabatnya menginginkan warganya tidak tertinggal dalam revolusi Internet, namun di sisi lain, pemerintah takut bahwa Web bisa menjadi tempat untuk menyebarkan ide-ide politik bersifat subversif atau konten kontroversial lainnya.
Untuk menangani masalah ini, pemerintah Cina sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk mengonsolidasikan 110.000 warnet di negeri tersebut di bawah manajemen perusahaan-perusahaan milik negara selama beberapa tahun mendatang. cn/aa
Cina Uji Coba Jejaring Generasi Baru
Pihak berwenang Cina dilaporkan telah memulai ujicoba apa yang diklaimnya akan menjadi jejaring terbesar di dunia, yang berbasiskan standar Internet generasi baru Internet Protocol version 6 (IPv6)
Kementrian pendidikan Cina, dalam pernyataan tertulisnya mengatakan bahwa pihaknya telah memulai pengujian China Education and Research Net 2 (CERNET2), sebuah backbone kecepatan tinggi berbasis IPv6, yang menghubungkan berbagai lembaga pihak ketiga dan badan-badan riset di seluruh negeri.
Uji coba jejaring ini mencakup tiga kota – Beijing, Shanghai dan Guangzhou – dan sejumlah universitas seperti Beijing University, Tsinghua University dan Shanghai Jiaotong University termasuk sebagai pengguna awal jejaring ini, ujar kementrian tersebut.
Ketika jejaring ini beroperasi penuh, para pejabat Cina mengharapkan nantinya CERNET2 akan memiliki 20 node yang tersebar di seluruh negeri dan menyediakan koneksi Internet dengan kecepatan tinggi sampai 10 Gbps ke lebih dari 200 universitas dan pusat-pusat penelitian.
Langkah Cina untuk mempercepat pengadopsian IPv6 ini didorong kekhawatiran bahwa alamat-alamat Internet yang sudah ada, yang berbasiskan sistem IPv6, tidak lama akan habis terpakai sejalan dengan semakin bertambahnya jumlah PC dan piranti Web-enabled lainnya seperti ponsel 3G.
IPv6 menjanjikan bisa mengatasi keterbatasan ini dengan memperluas ruang alamat Web dari 32 bit menjadi 128 bit, sehingga memungkinkan lebih banyak lagi perangkat yang bisa terhubung ke Web.
Di Asia, negara-negara seperti Korsel, Jepang dan Cina telah muncul sebagai pendukung utama teknologi baru ini. Ketiga negara ini Desember lalu menyepakati kerjasama dalam pengembangan IPv6, yang melibatkan sejumlah operator telekomunikasi lokal seperti SK Telecom dan China Telecommunications. Selain itu, beberapa perusahaan multinasional, seperti Cisco Systems dan AT&T, juga telah memusatkan perhatian untuk mendorong perkembangan IPv6. cn/aa
INDIA
Wajah Baru Komputer Rakyat
Dua perusahaan India belum lama ini memromosikan produk handheld lokal, yang ditujukan bagi pasar lokal dan tidak tertutup kemungkinan pasar yang lebih luas lagi.
Amida Simputer, yang pada awalnya dikembangkan sebagai “komputer orang miskin” kini ditawarkan sebagai sebuah piranti, yang bisa menangani berbagai kebutuhan bisnis maupun pribadi. Handheld bersistem operasi Linux ini mengombinasikan fungsi-fungsi sebuah organizer dan pemutar MP3, serta memiliki kemampuan handwriting recognition.
Piranti ini dikembangkan PicoPeta Simputer, sebuah perusahaan yang dipelopori para akademisi dan bermarkas di Bangalore, dan diproduksi oleh Bharat Electronics, sebuah BUMN India.
Amida Simputer dirancang untuk memungkinkan penulisan catatan kasar dan mengirimnya melalui email, apapun bahasa yang digunakan. Fitur ini merupakan faktor penting di dalam pasar India, yang sifatnya multilingual. Perangkat ini juga memiliki on-screen keyboard untuk dua bahasa India, yakni Hindi dan Kannada, dan tak lama lagi bahasa-bahasa lainnya akan menyusul.
Namun pemasaran Amida Simputer nantinya tidak hanya di dalam negeri saja. “Kami telah mengambil langkah-langkah awal untuk membangun sebuah brand global,” ujar chairman PicoPeta, V. Vinay dalam pernyataan tertulisnya.
Di dalam negeri, Amida akan bersaing dengan produk-produk handheld impor, seperti PalmOne, yang menawarkan model-model Zire dan Tungsten di situs-situs belanja India.
Amida Simputer hadir dalam tiga model, dengan harga berkisar antara US$240 sampai US$480 (2 sampai 4 juta rupiah). Perangkat ini menggunakan prosesor 206MHz ARM dan memiliki storage permanen 32MB, RAM 64MB, layar sentuh 3,8-inci dan sebuah smart-card reader . Untuk Internet, piranti ini bisa memanfaatkan jalur telepon biasa maupun CDMA. Piranti juga dapat berfungsi sebagai pemutar MP3.
Pada awalnya, perangkat ini dikembangkan untuk penggunaan di wilayah pedesaan dan untuk aplikasi-aplikasi seperti microfinance dan e-government . cn/aa
MALAYSIA
Contact Center Berbasis IP Pertama
Sebuah perusahaan, yang juga merupakan pelopor penyedia jasa Internet (ISP) di Malaysia, JARING, dilaporkan telah mengambil langkah maju meningkatkan sistem customer care -nya dengan menggunakan solusi IP Contact Center (IPCC). Sistem ini disediakan Cisco Systems.
Langkah ini menjadikan JARING perusahaan pertama Malaysia yang menggelar teknologi customer care generasi baru dan ke depan, perusahaan ini merencanakan untuk memulai menawarkan managed call center services , yang juga disediakan Cisco.
Jaringan interaksi pelanggan berbasis IP memungkinkan perusahaan untuk memperbaiki response time dan meningkatkan kepuasan pelanggan, dan pada saat yang sama juga mengurangi biaya agent dan meningkatkan efisiensi jejaring.
Solusi ini pada awalnya digelar untuk 50 orang agent , yang mendukung para pelanggan dengan layanan Internet telephony dan IP-VPN yang disediakan JARING. Solusi IPCC Enterprise Edition 3.5 buatan Cisco yang digunakannya menyediakan implementasi yang menyatu dari automatic contact distribution (ACD), interactive voice response (IVR) dan computer telephony integration (CTI). Seluruh fungsi ini terintegrasi dengan aplikasi CRM utama perusahaan tersebut.
Menurut Dr. Mohamed Awang Lah, CEO JARING , tujuan utama penerapan solusi ini adalah untuk melayani pelanggan dengan cepat, efisien dan efektif. “Penerapan solusi ini juga menjadi landasan layanan managed call center yang tidak lama lagi akan kami tawarkan ke pelanggan perusahaan,” ujarnya.
Ke depan, menurut Awang, JARING akan membuka fasilitas call center baru untuk digunakan berbagai perusahaan, sehingga perusahaan-perusahaan tersebut tidak perlu mengeluarkan investasi mendirikan call center sendiri.
Langkah berikutnya, JARING akan menyediakan fasilitas bagi pelanggan untuk bisa melakukan panggilan melalui website , dengan mengklik tombol untuk berbicara ke agent .
“Kami bisa menyediakan call center virtual dengan mudah bagi para pelanggan kami. Pengerjaannya pun cepat dan mudah,” ujar Awang.
Menurut Cisco, solusi contact-center single-server terintegrasi atau in-a-box ini meningkatkan efisiensi dengan menyederhanakan pengintegrasian aplikasi bisnis, sehingga memungkinkan independensi lokasi agent , meningkatkan fleksibilitas agent dan memperbaiki efisiensi network hosting . Semua fitur ini bisa mengurangi business cost dan memperbaiki respon terhadap pelanggan.
Untuk solusi contact-center berbasis IP ini, JARING menanam investasi tak kurang dari 5 juta ringgit atau sekitar 11,3 miliar rupiah. jm/aa
SINGAPURA
Inisiatif Otomatisasi Supply-Chain
Pemerintah Singapura mengungkapkan sebuah rencana untuk membantu pemanufaktur produk-produk hi-tech untuk menghemat jutaan dolar per tahunnya dengan memperbaiki proses procurement atau pengadaannya.
Inisiatif bernama Collaborative High-Tech Manufacturing Plan yang dirancang oleh otoritas pengembangan infokom Singapura (IDA) nantinya akan berupa pendirian 10 supply chain elektronik yang terintegrasi, untuk mengotomatisasikan pertukaran informasi antara pemanufaktur dan pemasok.
Sepuluh supply chain yang diidentifikasi meliputi perusahaan penyedia jasa manufaktur elektronik dan perusahaan-perusahaan multinasional lainnya yang beroperasi di negeri pulau tersebut. Perusahaan-perusahaan tersebut, antara lain Hewlett-Packard (HP), produsen peralatan storage Maxtor dan Seagate, serta raksasa ponsel Motorola.
Ketika inisiatif ini diimplementasikan secara penuh, kalangan industri tersebut diperkirakan bisa menghemat sampai US$ 415 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun dari efisiensi proses yang dihasilkannya dan mendongkrak pendapatan sampai US$ 1,2 miliar atau Rp 10,3 triliun, kata IDA.
IDA mendorong para pemanufaktur untuk menghubungkan supply chain -nya dengan menggunakan standar open communication seperti RosettaNet1, serta teknologi-teknologi baru seperti Web services dan sistem product lifecycle management .
Regulator TI Singapura tersebut juga bekerja sama dengan RosettaNet, sebuah konsorsium perusahaan-perusahaan teknologi yang mengembangkan protokol untuk pertukaran data melalui Web, untuk meluncurkan sebuah lembaga industri baru di negeri tersebut. Lembaga yang bernama RosettaNet Global Logistics Council telah menerima dukungan dari beberapa pemain manufaktur dan logistik, antara lain Cisco, HP, IBM, Intel, DHL, Exel dan Portnet Singapore. cn/aa
Gabung Dengan Grid Computing Global
Singapura bersiap-siap untuk bergabung dengan proyek masif guna memromosikan penggunaan teknik grid computing di antara komunitas riset global.
Negara pulau tersebut telah mengungkapkan proyek andalannya – National Pilot Grid Platform – pada November tahun lalu, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk memungkinkan universitas lokal dan lembaga riset untuk menyatukan dan secara dinamis berbagai processing power, storage dan sumberdaya hi-end computing lainnya.
Bekerja sama dengan Hewlett-Packard, National Grid Office (NGO) – sebuah perusahaan yang bertanggung jawab mengelola proyek percontohan ini – akan membawa upaya ini tidak terbatas di lokal saja dan bergabung dengan proyek Global Operational Grid , yang dicetuskan European Organization for Nuclear Research (CERN). HP merupakan salah satu perusahaan teknologi di belakang jaringan riset ilmiah CERN, disamping IBM, Intel, Oracle dan Entersys Networks.
“CERN berkomitmen untuk membangun Global Operational Grid sampai 2007. Singapura adalah node pertama jaringan ini di wilayah Asia-Pasifik,” ujar Leong Say Haur, general manager and director, Enterprise Systems Group , HP Singapore.
Upaya yang diprakarsai CERN ini dirancang untuk memanfaatkan grid computing untuk riset multidisiplin. Menurut Leong, digital media and publishing , serta life science merupakan bidang-bidang dimana kolaborasi global ini bisa pertama kali diaplikasikan.
“Inisiatif ini merupakan katalis bagi kolaborasi proyek-proyek R&D, penciptaan kekayaan intelektual baru, pengembangan talenta dan mempercepat transfer pengetahuan,” ujarnya.
Keterlibatan Singapura dalam global grid ini merupakan buah hasil perjanjian kerjasama selama tiga tahun antara otoritas pengembangan infokom Singapura (IDA) dan HP. Kedua pihak ini beberapa waktu lalu mengumumkan akan menanam investasi sekitar US$13 juta atau Rp 111 miliar untuk memromosikan grid computing dan pendekatan pay-per-use utility computing di negeri tersebut. Selain itu, kedua pihak akan menentukan sektor vertikal mana saja teknik grid dan utility computing ini akan diuji coba.
Berkaitan dengan hal tersebut, kedua pihak telah menentukan pasar online gaming sebagai wadah uji coba pertamanya. Bersama-sama dengan Singapore Telecommunications, mereka meluncurkan sebuah program bernama Games Bazaar untuk menarik penyedia penyedia online game untuk meng- hosting penawarannya di jaringan tersebut. Games Bazaar menerapkan model utility pricing , sehingga perusahaan cukup membayar layanan hosting dan bandwidth Internetnya berdasarkan jumlah yang mereka gunakan. cn/aa
|