Volume II No 18 - Juli 2004

THAILAND

Industri Software Terapkan Standar CMMI

Software Park Thailand dikabarkan akan mendorong penerapan standar proses pengembangan piranti lunak, yang dikenal sebagai Capability Maturity Model Integration , atau CMMI.

Menurut Charnrit Srisilpa, pengelola Software Park Software Process Improvement Center, standar ini merupakan peningkatan dari standar CMM, yang akan dihilangkan tahun 2005 mendatang

“CMMI merupakan versi mutakhir dari software capability maturity model , sehingga pihak-pihak yang sudah mencapai CMM pada tingkat apapun sebaiknya mempertimbangkan untuk bermigrasi ke CMMI, yang juga memiliki lima tingkat,” ujarnya.

Kedua standar ini diperkenalkan Software Engineering Institute di Carnegie Mellon University. CMMI hadir tahun 2003 dan mencakup standar pengembangan dan pemeliharaan produk dan layanan, khususnya untuk piranti lunak.

Standar ini diklaim lebih komprehensif dan mengintegrasikan berbagai best practice dari Capability Maturity Model for Software (SW-CMM), Systems Engineering Capability Model (SECM), dan Integrated Product Development Capability Maturity Model (IPD-CMM).

Standar ini juga berfokus pada peningkatan yang berkelanjutan, tidak hanya sekedar untuk mempertahankan sertifikasi, ujar Charnrit.

Bagi pengembang software yang mencari proyek di luar negeri, atau yang ingin mengekspor software -nya, CMMI merupakan syarat yang sangat penting, ujar Charnrit. Ia menambahkan bahwa standar ini akan membantu meningkatkan proses kerja dan kerangka kerja, selain juga mengurangi tingkat kecacatan produk. CMMI juga bisa diterapkan di manajemen proyek untuk industri lainnya, lanjutnya.

Saat ini, menurut Charnrit, sudah ada beberapa perusahaan software Thailand yang sudah bermigrasi ke CMMI. “Ada perusahaan software yang sudah bermigrasi dari CMM Level 2 ke CMMI Level 2. Reuters merupakan perusahaan software yang berlokasi di tempat kami yang sudah mencapai CMMI Level 5,” papar Charnrit.

Namun, Charnrit mengakui bahwa proses migrasi ini tidak mudah karena Thailand sendiri hanya memiliki beberapa pakar CMMI. Oleh karena itu pihaknya akan menginvestasikan sekitar 1,6 juta Baht atau kurang dari 400 juta rupiah untuk mempersiapkan para penilai ahli, yang bisa melakukan sertifikasi dan pelatihan CMMI. Selain itu, Software Park Thailand juga berencana menyelenggarakan kursus CMMI bagi para software house lokal.

 

MALAYSIA

Cetak Biru Teknologi Baru Diluncurkan

Pemerintah Malaysia memperkenalkan suatu cetak biru pengembangan teknologi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pembangunan sosial negeri itu.

Cetak biru yang diluncurkan Perdana Menteri Malaysia, Dato' Seri Abdullah Ahmad Badawi ini akan menetapkan strategi baru yang dibangun berdasarkan pencapaian-pencapaian yang dihasilkan Multimedia Super Corridor (MSC), kata menteri sains, teknologi dan inovasi Malaysia, Dato' Jamaludin Jarjis.

“MSC telah terbukti berjalan baik, namun Perdana Menteri menginginkan sektor teknologi bergerak satu langkah lebih maju,” ujar Jamaludin.

Menurutnya, selama tujuh tahun belakangan ini, perusahaan-perusahaan MSC telah menanamkan investasi miliaran dolar, menciptakan lebih dari 22.000 pekerjaan dan mencatatkan lebih dari 400 paten dan rancangan industri.

“Kini kami ingin melakukan lebih banyak lagi,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa di samping pertumbuhan ekonomi, fokus penting lainnya dari cetak biru ini adalah mengurangi kesenjangan digital, karena Perdana Menteri sendiri ingin memastikan bahwa tidak ada satupun warganya yang terpinggirkan dari arus utama kemajuan teknologi.

Cetak biru ini mencakup rencana-rencana yang menjamin setiap orang memiliki akses ke layanan-layanan dasar seperti telepon dan akses Internet, serta memungkinkan mereka berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi dan sosial yang berkemampuan teknologi.

Sekalipun tidak dijelaskan secara rinci, Jamaludin mengatakan bahwa cetak biru ini mencakup seluruh bidang yang terkait teknologi, antara lain penelitian dan pengembangan (R&D), perundangan, pendanaan, pendidikan dan pelatihan.

Selain itu ia juga mengatakan bahwa fokus terhadap R&D akan lebih berorientasi pada pasar dan melibatkan pencarian niche areas yang lebih kompetitif, daripada harus menantang para pemain besar yang lebih dulu tampil. “Upaya R&D kami akan dimulai di pasar, bukan di laboratorium,” ujarnya.

 

SINGAPURA

Perusahaan Infokom Perkokoh Kehadiran di Cina

Untuk membantu perusahaan-perusahaan infokom Singapura meraih peluang pasar Cina, Infocomm Development Authority of Singapore (IDA) dan Singapore Infocomm Technology Federation (SiTF) bekerjasama mendirikan Singapore Solutions Centre (SSC) di Shanghai. Pusat solusi ini akan berfungsi sebagai one-stop centre bagi perusahaan-perusahaan Cina yang ingin mencari tahu lebih jauh mengenai teknologi, produk dan layanan yang diberikan perusahaan-perusahaan infokom Singapura. Pusat ini juga berfungsi membantu mencari peluang kemitraan bagi perusahaan-perusahaan kedua negara dalam bekerjasama menggelar solusi-solusi TI yang inovatif yang dapat memenuhi kebutuhan pasar Cina yang terus meningkat.

Sebagai bagian dari strategi klastering IDA untuk membantu perusahaan-perusahaan TI Singapura merambah pasar luar negeri, SSC akan menjadi ajang showcase bagi perusahaan-perusahaan yang berhasil dalam proyek-proyek TI di sektor transportasi, logistik, jasa keuangan dan kesehatan. Keempat sektor ini juga menjadi sektor pertumbuhan utama di Cina dewasa ini.

SSC akan menampilkan kelompok-kelompok perusahaan dari masing-masing sektor yang bisa menawarkan solusi vertikal yang lengkap untuk pelanggan potensial.

Masing-masing klaster akan dipimpin oleh sebuah perusahaan yang memiliki track record panjang dalam menjalankan bisnis di Cina dan pimpinan klaster akan membantu anggotanya menggarap pasar Cina. Sebagai langkah awal, 19 perusahaan telah bergabung sebagai anggota SSC, dan perusahaan-perusahaan yang menjadi pimpinan klaster antara lain Singapore Computer Systems, NCS Yu Bo, IPACS dan Stratech Systems.

SSC memulai debutnya dengan baik ketika pimpinan klaster bidang kesehatan, Singapore Computer Systems dan anggota klasternya, EGIS Healthcare Technologies mendapatkan kontrak sebesar 2 juta dolar Singapura atau sekitar 11 miliar rupiah dari Beijing Tongren Hospital untuk membangun sistem informasi dan manajemen rumah sakit yang terintegrasi penuh. Selama tiga tahun ke depan, SSC berharap setidaknya bisa memperoleh pendapatan sekitar 37 juta dolar Singapura atau 200 miliar rupiah lebih.

Menurut ketua SiTF, Saw Ken Wye, pendirian SSC ini merupakan tonggak penting dalam upaya SiTF membantu perusahaan infokom negeri pulau itu untuk merambah pasar ekspor.

“Selain berupaya membawa misi bisnis ke Cina dan wilayah lainnya, SSC membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan anggota SiTF agar dapat lebih efektif mencari peluang dan hadir secara lokal di Cina,” ujar Wye.

Ia menambahkan bahwa SSC juga memiliki peran strategis untuk membangun branding “Made-in-Singapore” dari perusahaan-perusahaan lokal Singapura di pasaran internasional.

 

Singapura Gulirkan RUU Anti-Spam

Singapura belum lama ini mengeluarkan RUU baru yang bertujuan untuk mengurangi e-mail spam, sekaligus melindungi kepentingan para pemasar ( marketer ) yang menggunakan Internet.

Berdasarkan peraturan itu, nantinya para pemasar harus melabeli pesannya sebagai iklan dan menyediakan mekanisme opt-out yang valid bagai para pengguna e-mail yang tidak ingin menerima pesan-pesan dari para pemasar, ujar pihak kantor Jaksa Agung Singapura.

Nantinya, mereka juga harus mengirimkan pesan-pesannya dari alamat e-mail yang sah dan dilarang menggunakan judul e-mail yang menyesatkan atau palsu.

“Ini merupakan upaya kerjasama antara sektor publik dan swasta untuk menanggulangi spam,” ujar deputi kepala pelaksana dan direktur jendral Infocomm Development Authority of Singapore (IDA), Leong Keng Thai.

Namun, sekalipun e-mail marketing nantinya terikat undang-undang baru ini, perusahaan marketing masih bisa mengirim unsolicited commercial messages secara curah.

“Kami perlu menyeimbangkan antara kepentingan konsumen dan bisnis. Apalagi Singapura adalah pusat bisnis, serta hub teknologi informasi dan komunikasi,” ujar Leong.

“Di satu sisi, kami perlu memperhatikan masalah dari sudut pandang konsumen, namun kami juga tidak ingin membebani atau menghambat bisnis yang memiliki legitimasi,” tegasnya.

Namun, dampak dari undang-undang ini diperkirakan akan terbatas. Karena, seperti halnya undang-undang serupa di negara lain, UU anti-spam ini hanya berlaku bagi pesan-pesan yang dikirim dari dalam wilayah Singapura. Padahal, hampir 80 persen dari pesan-pesan spam itu berasal dari luar Singapura.

“Kami mulai melihat adanya kerjasama internasional melawan spam,” ujar Leong, sambil menambahkan bahwa undang-undang sejenis belum lama ini juga sudah diterapkan di AS, Australia, Inggris, Jepang dan Korea Selatan. “Namun untuk skala global, masih terlalu dini.”

Menurut Leong, UU anti-spam Singapura ini akan diberlakukan awal tahun depan, setelah mendapatkan berbagai masukan dari kalangan publik.

 

KOREA

PC Linux Raih Popularitas

Dewasa ini, semakin banyak badan pemerintah dan perusahaan Korea yang mengadopsi PC-PC berbasis Linux. Sebelumnya, pasar Linux di Korea hanya terbatas pada komputer-komputer server.

Ketika perusahaan-perusahaan konglomerat mulai menggantikan sistem Unixnya dengan produk-produk berbasis Linux, vendor PC seperti IBM Korea dan HP Korea menawarkan PC berbasis Linux untuk membuka segmen di pasar Linux yang baru tumbuh.

Korean IT Industry Promotion Agency (KIPA), badan milik pemerintah yang berafiliasi ke kementrian Infokom Korea adalah contoh lembaga yang telah memutuskan untuk mengadopsi Linux sebagai sistem operasi resmi untuk PCnya. Sejumlah pengembang solusi Linux lokal kini tengah bersaing memperebutkan kontrak untuk menjual produk-produknya ke KIPA.

Haansoft, salah satu produsen software besar Korea dan pengembang Linux lokal lainnya bergegas meluncurkan aplikasi Linux untuk PC guna mengantisipasi tanda-tanda pasar Linux tumbuh lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Haansoft bersaing dengan Microsoft untuk aplikasi-aplikasi perkantoran dan memulai pengembangan versi Linux dari office productivity suite andalannya.

IBM, vendor komputer terbesar di Korea mengatakan akan memulai bisnis PC Linuxnya tahun ini. IBM berencana menawarkan jasa konsultasi dan layanan, sementara perusahaan afiliasinya LG-IBM yang bergerak di manufaktur PC akan menyediakan PC berbasis Linux.

Sementara itu, vendor PC lainnya, HP, bersiap-siap menggulirkan PC-PC berbasis Linux bagi para pengguna korporat pada paruh kedua tahun ini. Langkah HP ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk meraih pangsa pasar di Asia di mana open platform seperti Linux mulai dipromosikan pemerintah di beberapa negara Asia. Menurut HP, sebagai tahap awal, pihaknya akan fokus pada klien dari kalangan korporasi karena pasar Linux untuk PC individual di Korea masih prematur.

Sementara itu, selain IBM dan HP, Red-Hat Korea juga akan memperkenalkan desktop PC berbasis Linux dalam paruh pertama tahun ini, untuk memperluas portfolio Linux-nya, yang kini terpusat pada aplikasi server.

 

HONG KONG

Perusahaan TI Hadapi Masa-masa Sulit

Sekalipun perekonomian Hong Kong mulai pulih setelah dihantam krisis SARS beberapa waktu lalu, dan belanja TI juga cenderung meningkat, tidak berarti perusahaan TI Hong-Kong, khususnya dari kalangan UKM boleh bernapas lega. Justru pada saat ini, mereka harus lebih cerdik mencari peluang atau membuat terobosan baru di sektor industri yang lebih spesifik.

Mereka juga menjadi lebih realistis dan tidak mengharapkan pertumbuhan yang pesat dalam jangka waktu pendek.

Ivan Fung, direktur perusahaan kecil LinkPower Technology merefleksikan sikap dari para pemain TI Hong-Kong lainnya ketika ia mengatakan bahwa pertumbuhan permintaan TI tidak akan tinggi, dengan beberapa produk dan sektor akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan lainnya.

“Ambil contoh, sekalipun sektor ritel mulai pulih, bukan berarti toko ritel bakal membutuhkan banyak piranti TI. Yang mereka butuhkan mungkin hanya produk-produk POS dan beberapa perangkat kasir baru,” ujarnya. Dalam konteks ini, perusahaannya menyediakan solusi digital asset management untuk data capturing , business critical information management , dan proteksi dan delivery aset-aset digital.

Perkiraan Fung ini tidak jauh berbeda dari proyeksi yang diungkapkan IDC. Kitty Fok, wakil presiden Central Research Group di IDC Asia-Pacific mengatakan bahwa belanja TI Hong-Kong di tahun 2004 akan tumbuh berkisar 4 persen, sementara tahun lalu turun 2 persen. IDC juga mengestimasikan bahwa belanja perangkat keras maupun lunak akan mengalami pertumbuhan 4 persen, sedang jasa TI sebesar 2 persen.

Belanja perangkat keras masih menempati porsi terbesar sebesar 63 persen dari total belanja TI yang diperkirakan mencapai 2,6 miliar dolar AS tahun ini. Ini dikarenakan berbagai perusahaan tengah melakukan penggantian perangkat kerasnya, mulai dari perangkat periferal sampai jejaring. Sementara itu, piranti lunak memiliki porsi 13 persen dan jasa TI 25 persen dari total belanja TI Hong-Kong.

“Masa-masa dimana perusahaan TI bisa mendapatkan uang dengan menjual produk generik sudah berlalu. Kini, kami harus berspesialisasi di produk-produk untuk industri yang menjanjikan,” ujar Steve Leung, wakil presiden Corporate Development and Communications di Computer And Technologies.

Ia percaya bahwa sektor logistik akan menjadi salah satu incaran karena meningkatnya kegiatan ekspor dan re-ekspor antara Hong-Kong dengan wilayah selatan Cina dan negara-negara asing lainnya. “Para penyedia software bisa memikirkan bagaimana mereka dapat membantu industri logistik untuk mengintegrasikan dan menyederhanakan proses ekspor dan re-ekspornya.”

Salah satu wilayah potensial lainnya adalah software untuk industri seperti perhiasan dan jam, jelas SW Cheung, wakil presiden Business Development and Technology Support di Hong-Kong Science and Technology Parks.

“Saat ini pemerintah Hong-Kong tengah memromosikan ‘industri-industri kreatif' itu, dan para vendor bisa membuat produk software khusus untuk mereka,” ujarnya.

Namun, sekalipun banyak wilayah pertumbuhan baru, sebagian besar perusahaan TI lokal adalah para pemain kecil yang bersaing dengan para vendor multinasional yang lebih mapan.

Sudah begitu, menurut Fung, perusahaan-perusahaan besar jarang mengambil risiko menggunakan solusi dari vendor TI kecil. Akibatnya, hanya segelintir pemain kecil yang mendapatkan referensi bagus.

Untuk mengatasi masalah ini, Fung mengusulkan kemitraan dengan vendor-vendor besar untuk memanfaatkan kapabilitas penjualan dan pemasarannya.

Selain itu, pemain lokal kecil menghadapi tantangan dalam mengembangkan pasarnya. Untuk dapat menembus pasar Cina, misalnya, merupakan impian bagi kebanyakan perusahaan TI Hong-Kong, namun mencapainya tidaklah mudah.

“Pasalnya, Cina sudah memiliki perusahaan-perusahaan TI dalam jumlah besar, yang juga bersaing satu sama lain. Dan mereka memiliki keunggulan dibandingkan perusahaan Hong-Kong, yaitu cost yang murah,” tutup Fung.

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.