Beberapa waktu yang lalu, dalam suatu konperensi yang mengawali ajang akbar CommunicAsia 2004, diangkat satu topik yang cukup controversial: “Commoditisation of IT” . Teknologi Infomasi dan Komunikasi (ICT), yang selama ini selalu dibicarakan sebagai senjata pamungkas dalam menopang bisnis perusahaan, justru dipandang sebagai sekedar infrastruktur seperti halnya listrik. Pemicu dari perdebatannya adalah tulisan Nicholas Carr dalam artikelnya “IT doesn't Matter” dan terakhir disempurnakan dalam bukunya “Does IT Matter”.
Pemikiran Nic Carr ini sangat perlu dicermati, tetapi penyikapannya tentu tidak boleh terjebak pada pemikiran ekstrim. Yang tetap adalah teknologi diyakini merupakan enabler dari aktivitas bisnis dan memberi kemudahan dalam kehidupan. Gelombang teknologi tidak pernah berhenti. Ada teknologi yang jenuh dan ada yang baru tumbuh dan bermunculan. Pasar baru muncul dengan memanfaatkan yang telah matang sebagai fondasinya. Teknologi sudah seperti udara, seperti dikatakan Bill Gates bahwa: ”Saat ini, semua pihak punya akses ke teknologi yang sama”. Tantangannya justru siapa yang memanfaatkan lebih baik untuk tampil selangkah di depan dalam inovasi bisnisnya.
Nic Narr mengamati bahwa teknologi ICT mengikuti pola yang mirip dengan teknologi infrastruktur seperti jalan, dan listrik. Pada awal pengembangannya, solusi sistem informasi yang spesifik dapat menjadi penghalang kompetisi yang cukup ampuh. Namun dengan teknologi yang makin aksesibel, makin standar, makin canggih, dan makin murah, membuat penghalang kompetisi hampir tidak ada. Bahkan, inovasi semakin mudah di replika sehingga membuat ICT, sebagai teknologi, tidak memberi keunggulan yang langgeng. Semua teknologi infrastruktur, secara definisi, dilihat sebagai komoditi.
Indra M. Utoyo • Deputy Head, Telkom Multimedia Division,
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
Foto-foto: dok. ebizzasia
Artikel selengkapnya bisa Anda jumpai di majalah eBizzAsia volume II nomor 18 bulan Jui 2004. Untuk mendapatkannya Anda bisa hubungi Ibu Liliek di (021) 7193264 |