HAMPARAN lahan luas membentang. Bagai dikomando, ratusan kaki berderak di jalan. Sejurus kemudian, sebagian dari mereka ada yang tetap berjalan kaki, sebagian lagi naik motor atau mengayuh sepeda. Mereka adalah ratusan pekerja PT Belfood Indonesia . Pemandangan semacam itu bisa ditemui saban sore. Di atas tanah seluas lima hektar yang terletak di komplek perumahan Citra Indah, Jonggol, Jawa Barat, pabrik pembuat makanan berbahan baku ayam itu berdiri. Lima ratus orang bekerja di pabrik ini.
Sampai sekarang, ada tiga merek yang dipegang perusahaan pelopor pembuat chicken nugget itu, yaitu Dellfarm, Belfood dan 222. Belfood mendapat saingan berat dari produsen serupa bermerek So Good dan Five Star. Toh pertumbuhan perusahaan yang berdiri tahun 1998 ini tergolong moncer. Saat berdiri, Belfood baru mempekerjakan 100 karyawan dengan kemampuan produksi hanya 10 ton ayam per hari. Kini, selain karyawannya bertambah, kemampuan produksinya naik menjadi 80 ton ayam sehari alias naik delapan kali.
Ini membuat sistem manual yang dipakai selama ini tak memadai lagi. Itulah yang mendorong Belfood mengadopsi teknologi informasi (TI). Menurut Head of Information Technology PT Belfood, Nikko Priambodo, kebutuhan itu sudah dirasakan setahun lalu. Namun aplikasi baru dilakukan tujuh bulan lalu. Maklum, pihaknya harus menjajaki satu per satu penyedia piranti lunak ( software ). Patokannya: solusi UKM (usaha kecil dan menengah).
Pilihan akhirnya jatuh ke mySAP All in One, solusi ERP ( enterprise resource planning ) buatan SAP, perusahaan asal Jerman. Alasannya, kata Nikko , fungsinya komplet dan harganya miring. Apalagi, Belfood punya peluang jika di kemudian hari memakai solusi enterprise . "Ibaratnya kita mengincar Kijang, tapi ditawari Mercy dengan harga lebih mahal sedikit," kata Nikko . Total untuk sistem TI itu Belfood merogoh kocek US$ 300 ribu. Menurut Nikko, ini tergolong murah. Yang paling mahal ongkos implementasinya.
Perusahaan jenis UKM atau Small Medium Bussiness (SMB) seperti Belfood inilah yang kini menjadi incaran vendor-vendor TI di Indonesia. Microsoft, SAP, Oracle, IBM dan Hewlett Packard misalnya, yang semula aktif menggarap pasar usaha besar (korporasi), kini berebut mengail rejeki di ceruk pasar SMB. Pilihan mereka bukan tanpa dasar. Data IDC menyebutkan, pertumbuhan rata-rata pasar UKM di Asia Pasifik mencapai 18,5% sampai tahun 2004. Data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) akhir Maret 2004 lalu menyebutkan bahwa pertambahan jumlah UKM 2000-2003 mencapai 9,5% menjadi 42,4 juta unit usaha dengan tenaga kerja 79 juta orang.
Sejak tahun 2001, pertumbuhan PDB ( product domestic bruto ) UKM bergerak lebih cepat dari total PDB nasional. Pada 2001 pertumbuhannya 3,8%, 2002 sebesar 4,1% dan 2003 sebesar 4,6%. Sumbangan pertumbuhan PDB UKM juga lebih tinggi dibandingkan sumbangan pertumbuhan PDB korporasi atau usaha besar. Pada 2000, dari 4,9% pertumbuhan PDB nasional 2,8% berasal dari UKM, dan pada 2003 dari 4,1% pertumbuhan PDB nasional 2,4% merupakan sumbangan UKM. Tentu ini kue yang menggiurkan.
Selama ini, bagi perusahaan software , sektor UKM bagai anak tiri. Microsoft misalnya, baru meluncurkan layanan Microsoft Business Solution (MBS) untuk UKM pekan ketiga Februari lalu. Ada empat solusi MBS, yaitu ERM ( enterprise resource management ), CRM ( customer relationship management ), SCM ( supply chain management ) dan BI ( business intelligence ). Presiden Direktur PT Microsoft Indonesia Tony Chen berharap solusi ini mampu membantu UKM meningkatkan produktivitas dan daya saing. "TI bukan cost , tapi investasi," kata Chen.
Bagi Chen, implementasi TI di UKM ini tidak bisa ditunda-tunda lagi. Sebab, perusahaan-perusahaan asing yang merangsek ke pasar Indonesia sudah didukung TI. Ia mencontohkan masuknya hypermarket asing yang mulai menciptakan pergeseran pilihan tempat belanja masyarakat perkotaan yang tadinya dikuasai pemain lokal. Empat solusi MBS, kata Chen, menawarkan kemudahan dan kecepatan, sehingga penanganan pelanggan menjadi lebih baik, yang akhirnya mendongkrak produktivitas, percepatan return on investment (ROI) dan penekanan ongkos pemeliharaan.
 |
| Tony Chen, Presiden Direktur PT Microsoft Indonesia |
Solusi Microsoft dibangun dengan teknologi Microsoft.NET, dijalankan di atas platform Microsoft Windows Server System, dan menggunakan tampilan Microsoft Office sebagai front end -nya. Strategi ini ditempuh karena sukses-tidaknya sebuah sistem diterima oleh konsumen tergantung pada familiar-tidaknya pengguna pada distem tersebut.
Dalam hal Operating System (OS) dan aplikasi, Microsoft mengenalkan skema lisensi lewat Licensing Clinic. Khusus untuk UKM, tersedia skema lisensi terbuka ( open license /OL). Skema yang sudah dijalankan selama dua tahun ini diberikan dengan pembelian minimal 5 lisensi.
Tapi sebagai pendatang baru di pasar UKM, Microsoft harus bertarung dengan gajah-gajah software yang lebih dulu ada di pasar itu: SAP dan Oracle. SAP misalnya, sudah menggarap UKM sejak kuartal terakhir tahun 2003. Ada dua solusi SAP untuk UKM: mySAP All in One dan mySAP Bussines One. Solusi pertama ditujukan pada UKM yang berpendapatan sekitar Rp 650 miliar. Sementara mySAP Bussines One untuk UKM berpendapatan di bawah Rp 400 miliar.
Keunggulan solusi SAP, kata Widodo, para mitra lokal bisa mengembangkan solusi untuk spesifik industri masing-masing. mySAP All in One misalnya, adalah konsep untuk pembuatan solusi aplikasi bisnis UKM. Solusi SAP bisa digunakan untuk akuntansi, reporting logistik, dan otomatisasi penjualan.
Solusi yang berbeda ditawarkan Oracle. Vendor yang terkenal dengan s oftware database -nya itu mulai merangsek ke pasar UKM sejak pertengahan tahun lalu. Oracle menawarkan beberapa solusi, antara lain Oracle 10g Standard Edition (SE), Oracle 10g Standard Edition One , dan Oracle e-Business Suite Special Edition (eBSSE). Ketiga produk ini, kata Marketing Director Oracle Indonesia , Goenawan Loekito, punya banyak fitur yang didesain khusus untuk UKM, instalasinya mudah, cepat dan sederhana.
Standard Edition One, kata Loekito, merupakan bagian dari keluarga database Oracle yang menawarkan compatibility dan scalability lengkap untuk mengatasi masalah besar. Pengguna bisa memulai dari produk yang kecil, baru kemudian berkembang disesuaikan dengan kebutuhan. Keuntungan lainnya, pengguna yang sekarang memakai Oracle edisi lama berhak mendapatkan versi database berikutnya tanpa biaya tambahan. Para pengguna hanya perlu membeli lisensi lagi apabila mereka menambah pengguna (CPU).
Untuk menembus pasar UKM, masing-masing vendor menggelar strategi yang berbeda. Oracle misalnya, yang sejauh ini terkenal amat mahal, kini bisa terjangkau kantong UKM. Makanya, tiga software Oracle untuk UKM dibanderol miring. Misalnya, Oracle 10g SE harganya US$ 149 per pengguna, dengan minimal lima pengguna. Sementara 10g SE One dipatok US$ 4.995 per prosesor dengan maksimal dua prosesor. "Dengan harga ini, solusi Oracel bisa dijangkau, bahkan dalam skala ritel," kata Loekito. Meskipun harganya miring, pihaknya menjamin keamanan dan skalabilitasnya.
Tak mau kalah, SAP mematok harga mySAP Bussines One mulai US$ 15 ribu, dan mySAP All in One US$ 100 ribu. Menurut marketing manager SAP Indonesia , Jessica Schwarze, harga ini tergolong bersaing. Apalagi, SAP menawarkan keunggulan lain, yaitu mitra lokal bisa mengembangkan solusi spesifik sesuai industri masing-masing. Nantinya, mitra lokal bisa menggunakan aplikasi itu sebagai buatan mereka sendiri, bukan dengan merek dagang SAP. Ini bisa terjadi karena solusi SAP dibangun di atas platform SAP NetWeaver yang platform- nya terbuka dan fleksibel, yang ini memungkinkan berjalan di atas arsitektur yang berbeda-beda di perusahaan.
Harga yang hampir sepadan dipatok Microsoft. Untuk keempat kategori solusi MBS yang ditawarkan, harganya sekitar US$ 20 ribu. "Tapi itu tergantung modul yang diminta," kata Tony Chen. Toh itu belum cukup. Menyadari sebagai pemain bau kencur, Microsoft manggandeng Apkomindo (Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia ) untuk mendongkrak penjualan. Dengan kerja sama itu, Microsoft memberi dukungan kepada semua pengusaha komputer anggota Apkomindo berupa transfer teknologi, paket lisensi yang terjangkau, penjualan dan pemasaran. Anggota Apkomindo bisa menjual software dan hardware Microsoft dengan harga lebih murah 10% dari harga pasar.
Menyadari sebagai pemain baru, tentu akan menghadapi banyak tantangan. Selain dari kompetitor, juga dari dalam pasar UKM sendiri yang rata-rata belum melek TI. "Menjadi tugas kita untuk mengedukasi mereka," kata Gunawan Loekito. Sebab, kebutuhan TI bagi UKM tidak bisa ditawar lagi.
Masuknya vendor-vendor besar ke pasar UKM jelas menggembirakan bagi pelaku bisnis di segmen ini. Dengan kompetisi yang ketat, pelaku UKM bisa memilah-milah mana yang paling sesuai dan menguntungkan. Dan yang penting, yang sesuai dengan kantong mereka. Pada akhirnya, sah-sah saja masing-masing vendor mengklaim produknya paling oke, paling murah dan paling reliable . Sebab, mana ada kecap nomor dua. Semua kecap pasti mengklaim nomor satu. Toh pada akhirnya penggunalah yang menjadi raja. KI
Foto: dok. ebizzasia
|