Pengguna ponsel di Tanah Air kembali bisa tersenyum. Tidak seperti pengguna telepon tetap yang baru saja ketiban kebijakan kenaikan harga, pengguna ponsel terhitung sejak 13 April lalu bisa menikmati layanan pesan multimedia alias MMS (multimedia messaging service). Di tengah gencarnya persaingan yang diwarnai "perang tarif" dan "banting harga", operator seluler Indonesia mampu menyatukan pendapat meluncurkan MMS lintasoperator. Ini suatu lompatan yang luar biasa.
Tiga operator seluler besar, yaitu Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo, akhirnya mencapai kata sepakat. Artinya, pengguna ponsel di Indonesia lebih dimanjakan melalui variasi layanan yang disediakan operator ponsel tersebut. Lewat fasilitas terbaru itu, pengguna ponsel leluasa mengirim pesan yang lebih kompleks berbentuk multimedia.
Jadi, tak sekadar teks. Banyak sekali macam pesan yang tidak sekadar teks itu. Katakanlah teks yang jumlah karakternya tak terbatas dengan gabungan image, grafik, suara, dan nantinya video, tabel, chart, diagram, layout, dan animasi GIF. Atau juga audio seperti musik, speech, streaming sound, dan image berupa snapshot dari kamera digital built-in yang terdapat di ponsel. MMS juga mampu mengirim video dengan kemampuan 30 detik/kirim.
Enaknya lagi, ukuran pesan yang dikirimkan atau diterima dapat mencapai beberapa puluh kilobyte (Kb), sehingga memungkinkan pelanggan mengirim pesan yang lebih personalized. Beberapa contoh aplikasi MMS adalah laporan cuaca dengan gambar, harga saham dalam bentuk diagram, pertandingan sepakbola dalam bentuk slide show, berita politik dengan gambar barisan orang demonstrasi, video streaming kepadatan lalu lintas di lokasi tertentu, dan pembuatan serta pengiriman kartu pos jarak jauh.
Karakteristik dasarnya, MMS merupakan layanan person-to-person messaging. Penggunanya bisa mengirim pesan dari satu ponsel ke ponsel lainnya, maupun push dari internet ke ponsel. Terminal yang mendukung MMS memiliki kapabilitas untuk mengirim atau menyusun media pesan seperti gambar, voice dan dalam beberapa kasus bisa juga berupa video.
Layanan MMS alias pesan multimedia mulai diperkenalkan operator seluler di Indonesia sejak dua tahun lalu melalui fasilitas yang disediakan oleh IM3 (Indosat Multimedia Mobile yang kini bersama Satelindo sudah bergabung ke induknya: Indosat). Pada Oktober 2002, Telkomsel yang menguasai sekitar 50% pangsa pasar seluler juga meluncurkan layanan MMS, kemudian diikuti oleh Excelcomindo dan Satelindo pada pertengahan 2003.
Semula, MMS hanya dapat dikirimkan kepada sesama pelanggan satu operator. Layanan ini persis seperti pada awal munculnya SMS (short message service). Wacana mengenai MMS lintasoperator mulai mengemuka seiring semakin banyaknya pelanggan yang memiliki ponsel berkemampuan MMS. Operator GSM pun memulai mengadakan pembicaraan mengenai interkoneksi MMS. Sayangnya, pembicaraan mengenai layanan baru tersebut tidak bisa menghasilkan kata sepakat.
Fokus perdebatan mengacu pada seputar persoalan bahwa masing-masing pihak belum memiliki data mengenai karakter dan kebiasaan para pengguna dalam memanfaatkan MMS. Selain itu, juga ada soal tarik-menarik pentarifan. Urusan duit memang susah-susah gampang. Masalahnya sebetulnya sederhana. Adalah biasa dalam kerja sama bisnis akan ada sharing. Nah, soal sharing dalam kerja sama antar operator itulah yang masih macet: berapa yang harus diterima oleh operator seluler yang pelanggannya berinisiatif mengirim MMS dan berapa yang diterima operator yang pelanggannya menerima MMS.
Sebagai operator seluler yang memiliki pelanggan terbesar (sekarang 11,5 juta), Telkomsel mengajukan skema keep sender all (SKA). Artinya, jika pelanggannya mengirimkan MMS, maka tarif yang dibayar pelanggan itu diambil seluruhnya oleh Telkomsel, tanpa harus dibagi kepada operator yang menerima. Tiga operator seluler lain (Satelindo, Excelcom dan IM3) menolak skema ini. Mereka bertiga mengusulkan cara charging (pengenaan biaya) dengan sistem bagi hasil.
Merasa pendapatannya terkurangi, skema ini ditolak oleh Telkomsel. Dalam soal cara charging MMS memang berbeda dengan SMS. Alasan tiga operator di luar Telkomsel yang meminta bagian bisa dipahami. Sebab, layanan MMS tidak sesederhana layanan SMS antaroperator. SMS tidak membebani jaringan, sementara MMS membebani. Walau menjadi penerima, bukan berarti jaringan dan server milik operator seluler tadi pasif seperti pada layanan SMS. Pada layanan MMS, jaringan dan server operator penerima turut bekerja guna menjemput MMS yang dikirim agar bisa ditampilkan di layar ponsel penerima.
Untunglah, pembicaraan tidak sepenuhnya buntu. Satelindo dan IM3 berhasil mencapai kata sepakat dan menjalin interkoneksi MMS sejak Oktober 2003. Sejak itu, terwujudlah MMS lintasoperator antara dua grup usaha (ketika itu berupa tiga operator). Namun, MMS lintasoperator itu baru menjangkau pelanggan dua operator tersebut atau sekitar 48% dari pelanggan.
Grup Indosat dan Excelcomindo menggunakan skema bagi hasil, di mana operator pengirim dan penerima sama-sama memperoleh pembagian pendapatan dengan proporsi tertentu. Setelah enam bulan berlalu, akhirnya interkoneksi MMS di Indonesia dapat terwujud dengan melibatkan Telkomsel sebagai wakil dari 52% pelanggan. Skema SKA Telkomsel-lah yang akhirnya digunakan. Dengan bergabungnya Telkomsel, maka secara teoritis MMS kini dapat menjangkau lebih dari 20 juta pelanggan seluler. Namun pada praktiknya, karena banyak pelanggan tidak memiliki handset berkemampuan MMS, sistem pesan multimedia ini kemungkinan baru menjangkau 1 juta hingga 1,5 juta pelanggan seluler.
Karakteristik Layanan MMS dan SMS
Layanan |
Harga (Rp) |
Setting |
Penggunaan |
Penerima |
Ukuran |
SMS |
250-350 |
Otomatis |
Relatif mudah |
Pasti bisa |
0,25 kb |
MMS |
1.000-1.250 |
Usaha pengguna |
Relatif sulit |
Belum tentu |
50 kb |
Semua petinggi operator seluler percaya bahwa MMS lintasoperator akan memicu pertumbuhan trafik pesan multimedia yang kini tumbuh sekitar dua persen. Adanya MMS lintas operator diharapkan akan semakin meningkatkan penggunaan MMS di kalangan masyarakat, seperti terjadi pada SMS dulu. Achmad Santoso, Senior Vice President Sinergi dan Kemitraan PT Telekomunikasi Selular, mengatakan tidak ada operator yang mampu mengembangkan bisnis MMS tanpa menjalin kerja sama dengan operator lain. Ia yakin, kerja sama ini bakal membetot trafik MMS.
Dengan jumlah pelanggan 11,5 juta, Telkomsel kini telah memiliki sebanyak 1,5 juta pelanggan yang aktif melakukan aktivitas MMS dengan hits 500 ribu MMS/bulan. "Dengan kerja sama MMS lintas operator, kami berharap hits-nya meningkat menjadi 600 hingga 700 ribu MMS per bulan," kata Achmad. Indosat mengamini. Senior Vice President Pemasaran dan Produk Selular PT Indosat, Yudi Rulanto, mengatakan memiliki jumlah pelanggan selular sebanyak 6,5 juta pelanggan. Sebanyak 1,2 juta pelanggan telah aktif menggunakan layanan MMS dengan hits mencapai 400 ribu MMS per bulan. Kerja sama ini ditaksir akan memicu pertumbuhan layanan MMS Indosat hingga tiga kali lipat.
Pertumbuhan layanan MMS sendiri masih terbilang rendah. Untuk wilayah Kawasan Asia Pasifik, dengan jumlah pengguna selular 500 juta pelanggan, MMS hanya tumbuh 3,4 persen. Sedang pertumbuhan penggunaan layanan MMS di Indonesia hanya sekitar dua persen.
Pengiriman pesan SMS rata-rata menggunakan kapasitas sekitar 0,25 Kb, sedang pengiriman pesan MMS dapat mencapai sekitar 50 Kb. Pengguna layanan MMS lintas operator, saat mengirim pesan MMS, dikenakan biaya sebesar Rp 1.000/50 Kb untuk kartu paskabayar (ProXL pascabayar, Matrix, IM3, dan KartuHalo). Sedangkan untuk kartu prabayar (proXL prabayar, Mentari, IM3, dan simPATI), pengguna layanan MMS lintas operator dikenakan biaya Rp 1.250/50 Kb saat mengirimkan pesan MMS.
Telkomsel sudah mengantisipasi lonjakan ini dengan meningkatkan kapasitas dari 2 pesan per detik menjadi 40 pesan per detik, Indosat menyediakan kapasitas 10 pesan per detik. Akankah lonjakan trafik terjadi dalam waktu singkat? Nampaknya, harapan pertumbuhan lalu lintas MMS tidaklah setinggi pertumbuhan SMS.
Mengapa? Setidaknya ada empat perbedaan karakter SMS dengan MMS yang berpengaruh. Pertama, semua pelanggan seluler mampu menerima SMS, namun hanya sebagian kecil yang mampu menerima MMS. Semua handset berkemampuan SMS tetapi hanya sedikit yang berkemampuan MMS. Maklum, handset MMS enabler harganya masih terbilang mahal. Padahal, kemampuan atau daya beli konsumen Indonesia rata-rata adalah handset berharga Rp 1 juta. Ketidakmampuan penerimaan ini juga dapat dipengaruhi oleh keterbatasan jangkauan GPRS sebagai jalan bagi MMS. Saat ini baru sekitar 50% jangkauan operator terlayanan GPRS.
Kedua, aktivasi MMS membutuhkan inisiatif dari pelanggan sementara aktivasi SMS dapat langsung dilakukan. Setting otomatis memang disediakan untuk handset produksi Nokia dan Sony Ericsson, namun tetap membutuhkan usaha dari pelanggan. Sedangkan setting manual memiliki banyak potensi kesalahan pengisian parameter yang membuat MMS tidak bisa dimanfaatkan.
Ketiga, pengiriman MMS yang berisi gambar, teks dan suara tidak semudah SMS yang berbasis teks. Keempat, tarif yang harus ditanggung pengirim MMS per pesan kira-kira empat kali lipat di atas pengiriman pesan SMS. Sehingga, yang dapat dikomunikasikan melalui SMS tidak perlu dikirim melalui MMS.
Jika dihitung berdasarkan besarnya data yang dikirim (SMS=0,25 kb sedangkan MMS=50kb), MMS sebetulnya tidak lebih mahal. Namun apa yang dirasakan pelanggan adalah biaya per sekali kirim pesan. Perbedaan antara SMS dengan MMS seperti itulah yang akan menyebabkan MMS tidak akan secara otomastis menggantikan SMS dan meniru pertumbuhan SMS kendati pesan multimedia dianggap sebagai penerus pesan teks.
Yang pasti, sekecil apa pun, peningkatan trafik MMS pasti terjadi. Kesepakatan antara tiga operator seluler GSM tentu saja menggembirakan bagi para pengguna serta layak dipuji. Kesepakatan yang dicapai operator GSM di Indonesia dapat dikatakan setahun lebih maju dibanding operator Malaysia . Kasus yang dialami Malaysia mirip dengan Indonesia tahun lalu. Negeri Jiran yang memiliki tiga operator GSM yaitu Maxis (41%), Celcom (39%) serta DiGi (20%) baru memulai pembicaraan interkoneksi MMS.
Maxis dan DiGi berhasil mencapai kata sepakat, namun Celcom yang sahamnya dimiliki BUMN Telekom Malaysia , belum masuk dalam kerja sama tersebut. Barangkali operator Malaysia masih butuh waktu beberapa bulan mendatang untuk meniru operator Indonesia . Interkoneksi atau interoperabilitas MMS juga sudah menjadi isu global bagi seluruh operator GSM. Asosiasi GSM berjanji untuk mengupayakan terciptanya interkoneksi GPRS dan MMS yang lebih cepat sebab hal itu dinilai sebagai salah satu cara untuk menggenjot peningkatan lalu lintas data melalui jaringan nirkabel.
Ketika layanan antaroperator bisa disediakan, ini menjadi tambang duit baru yang lumayan bagi operator. Lihat saja, saat lalu lintas MMS di antara pelanggan Telkomsel baru mencapai 250.000-300.000, operator bisa menangguk fulus lebih dari seperempat miliar rupiah sebulan. Secara gradual, pundi-pundi operator seluler akan membuncit seiring kenaikan trafik MMS. KI
Foto: dok. ebizzasia
|