Volume II No 18 - Juli 2004
 


Mendongkrak Telpon Kabel

 

Telkom terus membenahi kualitas layanan TelkomFlexi-nya. Pengguna kini kian dimanjakan oleh layanan yang semakin banyak dan bervariasi.

Apa kabar telepon tetap berkabel Telkom? Jangan kaget jika perkembangannya seperti jalannya siput. Sampai sekarang, pelanggan Telkom di jasa ini baru mencapai 8,5 juta. Itu berada di seluruh Indonesia . Dari jumlah itu, sebanyak 3 juta pelanggan ada di Divisi Regional (Divre) II yang meliputi wilayah Jakarta dan sekitarnya. Kemudian disusul Divre V yang mencakup Surabaya dan sekitarnya. Jangan heran apabila daftar tunggu penggunanya demikian banyak: mencapai 750 ribu satuan sambungan telepon (SST).

Untuk memenuhi daftar tunggu itu, kata Direktur Bisnis Jasa PT Telkom Suryatin Setiawan, bukan pekerjaan mudah. Pasalnya, selain investasinya besar (antara US$ 500-US$ 1000 per SST), membangunnya juga lama. Tak heran jika Telkom hanya mematok pertambahan 200 ribu hingga 300 ribu SST per tahun. Lewat produk TelkomFlexi, kata Suryatin, Telkom berharap bisa mempercepat pemenuhan daftar tunggu itu. Makanya, TelkomFlexi dikembangkan agar dapat menyediakan layanannya untuk dua tipe pengguna: mobile dan tetap.

Untuk pengguna terminal mobile, dijuluki “City”, yang saat ini sudah tersedia dalam bentuk prabayar dan pascabayar. Sedang pengguna terminal tetap, bisa memanfaatkan layanan “Home”. Flexi Home inilah yang cocok untuk melayani daftar tunggu pelanggan telepon tetap berkabel Telkom. “Peluncurannya kita lakukan Juni,” kata Suryatin. Pemakai Flexi Home akan mendapatkan layanan seperti pelanggan Flexi lainnya. Bedanya, terminalnya tak bisa dibawa ke mana-mana. Jika pemiliknya berpindah rumah, sepanjang masih dalam satu kode area, terminal dan nomornya masih bisa dipakai.

Sampai awal Mei lalu, pelanggan TelkomFlexi sudah mencapai 763 ribu orang. Akhir tahun ini ditargetkan sebesar 1,7 juta pengguna. Pelanggan TelkomFlexi yang tersebar di 59 kota ini dilayani sebanyak 490 BTS, 170 BTS di antaranya ada di Jakarta . Hingga akhir tahun ini, jumlah BTS ditargetkan mencapai 1.020 BTS. Untuk keperluan itu, Telkom siap mengucurkan duit sebesar Rp 2 triliun. Dengan dana sebesar itu, Suryatin yakin TelkomFlexi akan bisa merambah pengguna di 163 kota di akhir tahun nanti.

Meski TelkomFlexi gencar dipromosikan dan dibangun, Suryatin menjamin bisnis fixed wireline tetap dilakukan. Maklum, kapasitas yang tersedia di sentral masih tersedia. Namun, Telkom akan lebih berkonsentrasi pada pengembangan TelkomFlexi, selain investasinya murah (US$ 200 per SST) teknologi ini juga menyumbang ARPU (average revenue per user) yang cukup tinggi bagi Telkom, yaitu rata-rata Rp 150.000 per bulan.

Telkom sendiri menyambut positif kehadiran Star One. Hadirnya pemberi jasa baru akan menciptakan persaingan untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pengguna. “Pengguna akan semakin punya banyak pilihan,” kata Suryatin. Bukan cuma Star One, Telkom juga pasang aksi pada Esia. Bahkan, Esia merupakan kompetitor yang tak bisa disepelekan. Memang, di Jakarta tak terdengar gaungnya. Tapi di Bandung, Esia gencar berpromosi. Ini seolah-olah menantang Telkom yang berkantor pusat di Bandung .

Merasa tak sendiri lagi, Telkom jauh-jauh hari membenahi diri agar bisa bertahan sebagai pemimpin pasar di sektor jasa telepon tetap nirkabel ini. Hingga akhir Mei, Telkom telah berjibaku untuk mengoptimalkan jaringan. Karena kekurangan TelkomFlexi berdasarkan keluhan pelanggan daftarnya demikian panjang. Mulai dari seringnya drop call, kelambatan lalu-lintas pesan singkat (SMS) hingga misconnect. “Kita upayakan mengoptimalkan kuota dan menambah jaringan,” kata Suryatin. Dengan cara itu, cakupan (coverage) akan semakin luas, dan drop call bisa diminimalisir.

Kualitas layanan pun diperbaiki. Lalu-lintas SMS yang sebelumnya sering ngaret, sekarang sudah bisa ditekan di bawah satu menit. Di Jawa, kata Suryatin, sekitar 96-98% pengiriman SMS berlangsung di bawah satu menit. Dari sisi isi (content), pada Maret lalu misalnya, TelkomFlexi meluncurkan FlexiInfo yang ditujukan untuk mahasiswa ITB Bandung. Layanan ini membuat mahasiswa dan orangtuanya bisa mendapatkan informasi menyangkut mata kuliah, hasil ujian, jadwal kuliah, heregistrasi dan yang lain.

Kemudian, April lalu, TelkomFlexi meluncurkan layanan berbasis internet melalui pola Web Access Protocol (WAP) yang memungkinkan pelanggan dapat menarik informasi dari situs berita tertentu cukup dengan mengirimkan layanan pesan singkat (SMS). Mei lalu, TelkomFlexi melakukan pogram joint promotion dengan vendor telepon dan content provider. Mereka menggandeng 20 content provider untuk menyediakan lebih dari 200 jenis konten. Misalnya, layanan yang masuk katagori astrologi, fun, entertainment, games, sport and general news, polling, kuis dan informasi katagori lain.

Diakui Suryatin, mahalnya harga pesawat telepon CDMA menjadi salah satu kendala. Namun, bukan berarti Telkom tak berbuat untuk mengatasi hal itu. Telkom, kata Suryatin, meminta bantuan distributor untuk memecahan soal tersebut. Sanex, SelulerShop dan Trikomsel dirangkul untuk mendatangkan terminal telepon dengan harga yang masuk akal. Jika ini bisa direalisasikan, mahalnya harga pesawat telepon bukan lagi kendala. Saat itulah yang ditunggu-tunggu oleh pengguna jasa teknologi ini. KI

Foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.