Volume II No 19 - Agustus 2004
 

Online Music:
Dari Tren ke Transformasi

 

 

Ketika Napster, yang didirikan Shawn Fanning pada 1999, muncul pertama kali di jagat maya, tak banyak orang serius menanggapinya. Saat itu, meski secara sporadis sudah ada situs yang menyediakan musik digital (MP3), namun masih terbatas. Napster jelas berbeda, karena ia merupakan situs web yang khusus menyediakan musik-musik digital online dalam jumlah besar dari berbagai artis, termasuk dari “the big five” dan dapat di download secara gratis.

Namun, satu tahun setelah kehadirannya, Napster memang terbukti menjadi idola baru, khususnya bagi para pengguna Internet, karena lagu-lagu yang selama ini, kalau dibeli dalam bentuk CD asli harganya mahal, kini dapat di download secara gratis. Bukan hanya download, melainkan praktik file sharing atau file swapping , karena dukungan teknologinya memungkinkan, semakin marak.

Hal itulah yang kemudian membuat “the big five” label rekaman – Universal, Sony, BMG, Warner dan EMI - berang. Mereka kemudian melakukan tuntutan ke pengadilan, meski pada saat yang sama, kalangan produsen rekaman dunia ini juga tengah menghadapi persoalan yang cukup pelik, khususnya yang terkait dengan pembajakan yang terjadi di seluruh dunia.

Tapi, akhirnya, tuntutan mereka dikabulkan, dan tahun 2001 Napster ditutup. Namun, apa yang dilakukan Napster, yang terbukti mampu menarik minat puluhan juta orang di seluruh dunia dan dengan jutaan lagu pula yang telah di download selama kurun waktu dua tahun kehadirannya, justru mendorong lahirnya Napster-Napster baru yang lebih berani.

Bentuk “perlawanan” yang ditujukan terhadap harga rekaman musik (dan film) yang cukup mahal, hambatan copyright yang sangat ketat dan jalur distribusi yang semakin menggurita, yang pada saat yang sama muncul dalam bentuk dilakukannya pembajakan yang sangat luas, munculnya alternatif lagu gratis di Internet menjadi pendorong banyak orang untuk melakukannya, tentu dengan motif yang bervariasi. Ada yang benar-benar ingin memperoleh lagu gratis, ada yang berdalih mendengar dulu contohnya baru membeli yang asli, ada yang iseng mumpung tersedia gratis, dan ada juga yang memanfaatkannya untuk bisnis.

Namun faktanya, perkembangan di masyarakat pun menunjukkan suatu kebiasaan baru. Di Amerika, misalnya lebih dari 30% masyarakatnya men download file musik gratis dari situs web. Setengah dari pen download itu berusia antara 12-24 tahun. Bagi kalangan remaja usia, 12-17 tahun, kebiasaan itu terus berlanjut, dan lebih dari setengahnya (52%) akan mencari musik di Internet dalam 30 hari ke depan.

Selain remaja usia 12-17 tahun, menurut penelitian Ipsos World Monitor, kelompok wanita usia antara 25-34 tahun, termasuk yang sangat intens dengan kegiatan musik online . Kelompok lainnya adalah wanita dan berusia antara 25-34 tahun. Kalau tahun 2002, jumlahnya baru 19%, tahun 2003 meningkat menjadi 26%. Sementara yang berusia antara 25-34 tahun meningkat dari 33% (2002) menjadi 43% (2003).

Di beberapa negara, kecenderungan men download lagu dari Internet ini pada 2002 sudah cukup besar, misalnya Kanada (33%), Meksiko (30%), Cina (24%), Jepang (20%), dan Korea Selatan (27%).

Hasil penelitian Ipsos menunjukkan bahwa 66% responden yang disurvei di empat negara Eropa (Jerman, Inggris, Perancis dan Denmark) menyatakan bahwa file-swapping itu illegal, lebih tinggi dari di Amerika (64%) pada Desember 2003. Namun, karena masih banyak yang melakukannya, hal itu jelas berdampak terhadap penjualan. Di Amerika misalnya, nilai penjualan semua format audio dan musik mengalami penurunan dari US$14,2 menjadi US$12,7 miliar pada tahun 2002.

Meski saat ini ada kecenderungan munculnya layanan musik online yang bukan saja legal, tetapi komersial, namun apa yang telah terjadi sesungguhnya merupakan suatu “ancaman” yang cukup menggegerkan industri berpangsa pasar 40 miliar dolar AS itu. Liberalisasi yang semakin meluas, memang pada akhirnya, sebagaimana diperkirakan banyak analis dan praktisi, akan mentransformasi industri rekaman dunia, tentu dengan berbagai konsekunesi yang dibawanya.

Persoalannya, bagaimana menyikapi perubahan-perubahan ini, yang sangat mungkin, di masa datang, masih akan memunculkan berbagai “kejutan” baru lainnya. Hal ini tak lagi hanya sekedar tren, melainkan tuntutan perubahan besar – transformasi industri rekaman. Insa

Foto-foto: Muflihun; Grafis: Shu Cian Tow

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.