Volume II No 19 - Agustus 2004
 


Jangan Jadi Konsumen, Tapi Produsen

 

 

Penggunaan piranti lunak open source tampaknya mulai mendapatkan momentum dan mendorong ketertarikan banyak orang, institusi dan bahkan pemerintah di seluruh dunia. Meski dalam tingkatan dan intensitas yang berbeda, namun momentum penerapan piranti lunak open source ini akan sekaligus menjadi inisiasi yang prospektif, jika hal itu dapat dilakukan dengan baik.

Untuk mendapatkan pandangan mengenai pengembangan piranti lunak open source ini, eBizzAsia mewawancarai Blasius Lofi Dewanto, pakar teknologi informasi dan open source kelahiran Madiun (33), lulusan Master of Business and Information Science, Universitas Muenster, Jerman. Selain sebagai Asisten Prof. Dr. Heinz Lothar Grob pada Institute for Business Informatics and Controlling, Jerman, Lofi juga Koordinator proyek piranti lunak open source: OpenUSS - cHL administration system untuk penggunaan di lingkungan universitas. Berikut petikannya:

Pandangan Anda mengenai perkembangan Open Source, khususnya jika dikaitkan dengan penggunaannya di lingkungan enterprise ?

Kita harus mengelompokan dan melihat struktur di bidang "enterprise" lebih dahulu. Apakah yang sesungguhnya termasuk "enterprise"?

Pertama , mulai dari bawah - bagian infrastruktur dan application development , seperti Operating System, Database, Application Server, Integrated Development Environment , dsb. Kedua, sampai ke atas, yaitu applikasi-applikasinya - dari eLearning, eGovernment, eOffice, eBusiness, eCommerce, eHealth, dsb.

Untuk infrastruktur, menurut saya, Open Source sudah sangat handal. Kita bisa melihat perkembangan Linux (SuSe, RedHat, IBM, HP, dsb.). Di hampir semua perusahaan yang besar kita pasti akan menemukan penggunaan operating system Linux. Yang paling kuat memang masih dalam penggunaan server operating system . Tetapi, sekarang ini semakin maju juga, yakni untuk client operating system , seperti yang terjadi di bidang pemerintahan di Munich. Mereka dalam proses untuk mengganti client operating system seluruh bagian pemerintahan dengan Linux.

Blasius Lofi Dewanto, pakar teknologi informasi dan open source

Mereka juga akan menggunakan OpenOffice sebagai eOffice applikasi untuk menggantikan Microsoft Office. Dari segi teknis, OpenOffice dan Linux sudah dapat dihandalkan sebagai aplikasi front office .

Di bidang pengembangan aplikasi, boleh dikata Open Source software sudah sangat menguasai pasar. Dengan adanya konsorsium dan lembaga seperti Apache, ObjectWeb, Eclipse, dsb. terlihat bahwa di dunia software development, tools yang digunakan sudah hampir semuanya Open Source . Siapa yang tidak kenal Eclipse atau NetBeans (IDE - Integrated Development Environment ) untuk implementasi berbagai aplikasi dalam bahasa pemograman Java? Demikian pula untuk databases , siapa yang tidak kenal MySQL ditambah PostGreSQL, FireBird, dsb?

Di bidang eLearning , hal yang sama juga terjadi. Hampir seluruh universitas, bukan hanya di Jerman tapi juga di Amerika, menggunakan produk Open Source eLearning . Ini dapat kita lihat dari banyaknya proyek-proyek applikasi di bidang ini. Di Jerman ada CampusSource, dimana berbagai universitas Jerman terkumpul, untuk memberikan seluruh aplikasi eLearning secara Open Source.

OpenUSS termasuk salah satu applikasi dalam jaringan CampusSource. Hampir seluruh universitas di Jerman menggunakan applikasi ini. Hal ini juga terjadi di Amerika, lihat saja proyek-proyek MIT untuk bidang ini, seperti OKI. Juga proyek uPortal. Saya rasa, sekarang ini sangat sulit bagi applikasi komersil eLearning (BlackBoard, WebCT, dsb.) untuk bisa menembus pasaran universitas, terutama di Jerman.

Salah satu faktornya adalah kerendahaan TCO ( Total Cost of Ownership ) untuk aplikasi Open Source eLearning dalam penggunaannya di universitas. (lihat artikel: http://www.campussource.de/org/opensource/docs/bensbergVor.doc.pdf)

Hal ini sangat berbeda untuk penggunaan Open Source di bidang eBusiness, terutama di bagian ERP ( Enterprise Resource Planning ) yang masih sangat dikuasai oleh perusahaan-perusahaan komersil seperti SAP, Oracle, dsb. Memang sudah ada beberapa solusi Open Source untuk ERP seperti proyek Compiere, tetapi belum begitu berarti.

Bagaimana prospeknya jika digunakan di Indonesia ?

Sebenarnya, kita harus membedakan antara package software "komersil" dan "Open Source". Karena Open Source software pun bisa memiliki dukungan vendor yang sangat kuat, sebagai contoh: SuSe, RedHat Linux, StarOffice dari Sun (basisnya adalah OpenOffice), Websphere Application Development dari IBM (basisnya adalah Eclipse). Jadi, sebenarnya, produk-produk Open Source pun bisa memiliki dukungan yang bagus, tentu tergantung apakah ada vendor yang memberikan "tambahan-tambahan jasa" terhadap produk Open Source tersebut. Sebagai konsumen kita memiliki kemungkinan untuk memilih: Apakah cukup dengan produk "pure" Open Source” (tanpa biaya, tanpa dukungan) atau kita membeli produk komersil yang berbasis Open Source (dengan biaya dan dukungan). The choice is yours!

Apa yang semestinya dikembangkan perusahaan-perusahaan di Indonesia ? Bagaimana kecenderungannya ke depan?

Dengan adanya produk Open Source yang sudah canggih, yang mesti dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia , terutama yang bergerak di bidang software , adalah menawarkan "jasa-jasa" untuk Open Source software . Seperti menawarkan package software berbasis Open Source, support dan konsultasi. Hal ini dapat dilakukan oleh semua perusahaan software di Indonesia , karena memang ini business model -nya untuk Open Source software. Saat ini, untuk membuat software dari awal sudah tidak ada gunanya, sebab kita bisa menggunakan apa yang sudah tersedia ( reuse ), jangan membuang waktu untuk memulai dari depan lagi.

Bagaimana pemanfaatan Open Source Learning Management System ini?

Seperti telah saya nyatakan, Open Source LMS sudah bukan mainan lagi, tapi sudah sangat maju. Kalau ada perusahaan yang mau melatih pegawainya secara elektronik, gunakan Open Source LMS! Banyak sekali pilihannya.

Sebagai pakar TI Indonesia yang kini mukim di Jerman, perkembangan apa yang menurut Anda mestinya dapat ditingkatkan di Indonesia ?

Yang paling penting adalah pengetahuan. Proyek-proyek "Open Source" tidak ada gunanya jika kita tidak bisa membaca sourcecode-nya. Open Source bukan cuma berarti bahwa kita bisa menggunakan aplikasi tersebut, tetapi yang lebih penting adalah bahwa kita bisa mengerti dan mengembangkan applikasi lebih lanjut, dengan membaca, mengubah atau menambah sourcecode yang ada! Sebagai bandingan, majalah Anda dengan segala pengetahuannya tidak akan ada gunanya, kalau kita tidak bisa membaca dan/atau menulis, kan ?

Anda sendiri, sekarang ini, tengah mengembangkan software atau aplikasi apa?

Selain mengembangkan OpenUSS, saya sendiri sedang membuat applikasi untuk VOFI ( Visualisation of Financial Implications ). Dengan aplikasi ini saya harap kita semua dapat membuat fiscal planning (untuk bagian keuangan) secara mudah. Misalnya, jika kita memiliki modal sebesar X Rp. apakah yang seharusnya kita lakukan? Tabung uang, tersebut di bank saja atau mungkin membuat bisnis di bidang konsultasi, atau membeli saham perusahaan tertentu? Saya ingin membuat proses untuk hal seperti ini agar semua menjadi lebih transparan.

Saran Anda terhadap komunitas TI di Indonesia guna mendorong kemajuan yang lebih besar lagi ke depan?

Dua hal yang saya lihat sangat penting diperhatikan, terutama di bidang TI:

Pertama , jangan hanya jadi konsumen (pasif) tapi coba juga menjadi produsen (aktif). Kita tidak bisa hanya mengonsumsi. Dengan adanya proyek Open Source kita bisa menjadi konsumen dan sekaligus produsen!

Kedua , belajar seumur hidup. Dengan kecepatan perkembangan TI, kita harus bersedia belajar seumur hidup. Dengan ini kita juga bisa melihat betapa pentingnya eLearning. Apa saja yang kita baca di Internet untuk mengembangkan pengetahuan kita, dan itu adalah bagian dari eLearning.

Harapan Anda terhadap pemerintah Indonesia, khususnya dalam aspek TI, Industri TI termasuk lembaga pendidikannya?

Kita bisa melihat bahwa pengetahuan di bidang TI (terutama software ) dapat diambil secara mudah dan murah (dengan adanya Open Source software = Sourcecode = sumber dari semua ilmu di bidang software!). Saya harap pemerintah Indonesia terutama di lembaga pendidikan dapat memanfaatkan hal ini dengan sebaik-baiknya.

Sekali lagi: Jangan hanya jadi konsumen - bagaimana menggunakan Windows, menggunakan SAP - tapi cobalah sekaligus menjadi produsen - bagaimana cara membuat Operating System seperti Linux, bagaimana cara membuat LMS seperti OpenUSS - karena sumber sourcecode -nya terbuka dan tersedia, juga bagi seluruh masyarakat Indonesia . Saya rasa, di Indonesia kita memeliki sumberdaya manusia yang tidak terbatas, yang bisa kita manfaatkan untuk menjadi negara yang maju di bidang TI!

Foto: istimewa

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.