CINA
Cina saingi India dalam bisnis outsourcing
Seakan tak rela membiarkan India memimpin bisnis outsourcing software yang begitu menggiurkan, Cina pun kini mulai menawarkan jasa outsourcing-nya ke pasar Jepang dan AS.
Dengan dukungan penuh dari pemerintahnya, perusahaan-perusahaan swasta negeri tirai bamboo itu diperkirakan akan menyulitkan perusahaan-perusahaan outsourcing India dalam memperebutkan pasar utama dunia.
Kementerian sains dan teknologi Cina misalnya, telah menentukan 29 vendor software domestik, yang akan dibantu menembus pasar outsourcing di Eropa dan AS melalui dukungan finansial dan potongan pajak ekspor lebih besar dari rata-rata pajak ekspor lainnya.
Salah satunya adalah Kingdee, sebuah vendor ERP terkemuka di Cina. Perusahaan itu, belum lama ini, mendirikan divisi outsourcing baru untuk melayani para channel partner di AS. Bermarkas di Shanghai, divisi baru tersebut akan mendirikan kantor perwakilan di Silicon Valley dan New York , untuk menjalin hubungan bisnis dengan para channel partner, ISV maupun perusahaan-perusahaan teknologi lainnya di Amerika Utara.
Perusahaan ini mengincar perusahaan-perusahaan AS yang tengah berniat mengalihkan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat low-value, memperkecil volume pekerjaan pengembangan, meningkatkan marjin pelanggan dan mengarahkan sumber daya lokal untuk lebih berkonsentrasi pada inovasi produk.
Terjunnya Cina ke pasar outsourcing ini diperkirakan akan membuat persaingan pasar semakin sengit. Perang harga pun tak terhindarkan. Menurut Hector Zhang, general manager divisi outsourcing Kingdee, perusahaannya mampu menyediakan layanan dengan harga 20-30% lebih rendah daripada yang ditawarkan perusahaan-perusahaan India .
Perusahaan yang memiliki sekitar 1.000 orang software developer yang tersebar di tiga pusat pengembangan di negeri itu berharap divisi outsourcing-nya mampu memberikan kontribusi 10-15% dari pendapatan totalnya dalam jangka waktu tiga tahun.
Selain AS , vendor-vendor Cina juga tengah mengincar pasar software offshore development di Jepang. Salah satunya adalah UFSoft. Perusahaan ini dikabarkan telah meningkatkan investasi di pusat pengembangan software-nya di Shanghai , dan tengah mempertimbangkan untuk mendirikan pusat-pusat pengembangan baru di Dalian dan Xian.
Semakin tingginya minat perusahaan-perusahaan Cina pada bisnis outsourcing ini memang tidak terbantahkan. Menurut perusahaan riset pasar teknologi informasi IDC, tahun lalu, ekspor outsourcing Cina mencapai nilai sekitar 400 juta dolar AS. Pasar outsourcing ini diperkirakan akan meningkat dengan pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 44 persen dalam lima tahun mendatang, dan akan mencapai nilai sebesar 2,5 miliar dolar AS pada tahun 2008.
Sementara itu, ekspor jasa outsourcing India sendiri masih tetap marak. Menurut data yang disampaikan asosiasi perusahaan software dan jasa TI India, Nasscom, sampai akhir tahun fiskal 2003-2004 yang berakhir Maret lalu, ekspor jasa BPO (business process outsourcing) India mencapai 3,6 miliar dolar AS, atau tumbuh 46 persen dibandingkan tahun fiskal sebelumnya, serta menarik lebih 70.000 tenaga kerja baru.
Sementara itu, ekspor produk dan jasa teknologi TI sebesar 8,9 miliar dolar, atau tumbuh 25 persen, sehingga total ekspor TI India mencapai 12,5 miliar dolar AS. Tahun 2005 mendatang, menurut Nasscom, ekspor TI India diproyeksikan mencapai 16,3 miliar dolar AS atau tumbuh 32 persen. cma/iw
INDIA
India gelar payment gateway untuk e-commerce
Dunia e-commerce India diperkirakan akan semakin marak dengan akan dibukanya payment gateway nasional pada bulan September ini. Payment gateway, yang memungkinkan pembayaran suatu transaksi perdagangan atau jual-beli secara elektronis ini dikembangkan oleh suatu perusahaan swasta India, Opus Software Solutions Private Ltd, bekerjasama dengan Institute of Development and Research in Banking Technology (IDBRT). Opus meraih proyek ini setelah berhasil menyingkirkan pesaingnya dari perusahaan-perusahaan AS dan Kanada. Sementara itu, kepemilikan dan pengaturan payment gateway ini diserahkan pada bank sentral India (Reserve Bank of India ).
Sebagaimana dikatakan Ramesh Mengawade, managing director, Opus Software, payment gateway nasional ini akan memicu bergulirnya e-commerce berskala besar di negeri itu. “Payment gateway ini juga akan menjadi tata-pamong elektronis untuk infrastruktur pembayaran di India, yang memang selama ini tidak memiliki mekanisme pembayaran (untuk e-commerce),” ujarnya.
Keanggotaan payment gateway ini akan terbuka bagi bank-bank nasional, koperasi dan multinasional. Bank-bank anggota dan para nasabahnya akan dimungkinkan untuk menggunakan kartu kredit, kartu debit dan e-cheque untuk melakukan transaksi online. Selain itu, menurut Mengawade, bank-bank ini juga akan bisa bertransaksi melalui Web tanpa masing-masing harus mengeluarkan investasi besar untuk infrastruktur hardware maupun softwarenya.
Opus sendiri akan membangun, mengelola dan mengoperasikan gateway tersebut, yang menurut perkiraan IDRBT akan memicu peningkatan jumlah orang India yang bisa menggunakan kartu debit maupun kartu kreditnya untuk transaksi e-commerce.
Opus akan menggunakan aplikasi “Electra” buatannya untuk menjalankan payment gateway nasional ini. Electra merupakan sistem card acquiring dan issuing terintegrasi pertama yang dijalankan di atas platform Linux.
ICICI Bank merupakan salah satu dari para pelanggan utama Opus di India. IDBI Bank, Corporation Bank dan Dena Bank juga menggunakan Electra sebagai payment gateway-nya. Kurang lebih ada 65 bank di seluruh dunia yang menggunakan sistem itu.
Opus memiliki sekitar 300 orang tim pengembang di Pune, yang difokuskan pada solusi payment gateway ini, termasuk di dalamya 70 orang dari tim R&D. Perusahaan ini dikabarkan mengeluarkan investasi sekitar 3,1 juta dolar AS atau sekitar 27 miliar rupiah untuk mengembangkan produk ini. zdi
MALAYSIA
Malaysia keluarkan master-plan dukung Open Source
Pemerintah Malaysia belum lama ini mengeluarkan sebuah master plan, yang secara efektif meresmikan preferensi negeri jiran tersebut untuk pengadaan open source software ( OSS ) untuk sektor publik.
Master plan bertajuk Malaysian Public Sector Open Source Software Master Plan yang dirilis ke publik pertengahan Juli lalu ini menyebutkan bahwa “di dalam situasi dimana kelebihan dan kekurangan OSS dan software proprietary itu sebanding, preferensi akan diberikan kepada OSS .”
Master plan yang dirancang Government IT and Internet Committee (GITIC) ini juga menyebutkan bahwa pengadaan OSS “harus didasarkan pada manfaat, nilai, transparansi, security dan interoperabilitasnya.”
Berbagai target yang dicanangkan di dalam master plan ini antara lain 60 persen dari seluruh server baru mampu menjalankan sistem operasi OSS, 30 persen dari infrastruktur kantor – seperti email, DNS, proxy server – dijalankan dengan OSS, dan 20 persen dari lab komputer sekolah-sekolah memiliki aplikasi-aplikasi OSS, seperti misalnya productivity suites. Target yang dicanangkan ini akan dicapai pada tahun depan.
Langkah pemerintah Malaysia ini dipandang sebagai suatu dorongan ekstra bagi gerakan open source di negeri itu, dan di sisi lain sebagai tamparan bagi perusahaan-perusahaan proprietary software semacam Microsoft.
Dalam salah satu kunjungannya ke Malaysia belum lama ini, seorang petinggi Microsoft menyatakan bahwa perusahaannya menentang setiap kebijakan yang menginstitusionalkan preferensi pengadaan bagi platform open source.
“Sangat disayangkan bahwa suatu kebijakan untuk mendukung OSS dicampuradukkan dengan sebuah kebijakan pengadaan,” ujar Peter Moore, general manager for public sector, Microsoft Asia Pacific.
Menanggapi masalah ini, sekretaris utama pemerintah Malaysia, Samsudin Osman mengulangi pernyataannya bahwa pemerintahnya tetapi komit pada master plan ini dan menyarankan agar para pemasok mengikuti arahan ini. Pernyataan ini disampaikan Samsudin di sela-sela peluncuran Open Source Competency Centre, suatu lembaga yang menjadi titik fokus seluruh kegiatan yang berkaitan dengan OSS di Malaysia.
Saat ini, kurang lebih sekitar 54 lembaga milik pemerintah Malaysia menggunakan OSS . Menurut Malaysian Administrative Modernisation and Management Planning Unit (Mampu), sebagian besar OSS yang digunakan berupa aplikasi-aplikasi seperti browser, email client, server file dan print, firewall, domain name server dan server aplikasi. Dari seluruh penggunaan OSS oleh lembaga milik pemerintah, hanya 10 persen pengguna yang menggunakan aplikasi-aplikasi desktop OSS seperti productivity suites dan sistem operasi, kata direktur jendral Mampu, Nazariah Mohd. Khalid. cma
SINGAPURA
Badan Pertanahan Singapura uji coba grid computing
Masa-masa memperbarui data secara manual dengan CD-ROM di badan pertanahan Singapura, atau Singapore Land Authority (SLA) berakhir sudah. Paling tidak sampai konsep proyek Land Data Hub yang digelar SLA beroperasi penuh bulan Februari tahun depan.
Inisiatif Land Data Hub ini bertujuan untuk menyediakan one-stop real-time access untuk memperbarui data informasi pertanahan, seperti jalan, jaringan infrastruktur umum (telepon, listrik, air dan gas) dan tata ruang perumahan umum bagi 14 lembaga publik dan swasta utama, yang tidak memiliki kapabilitas pertukaran informasi secara real-time. Inisiatif ini juga memfasilitasi sharing data secara online antara lembaga-lembaga ini. Segala informasi yang dibutuhkan lembaga-lembaga ini dapat diperoleh dengan menggunakan sebuah Web browser.
Langkah yang dilakukan SLA ini boleh dikatakan suatu terobosan besar. Dulu, SLA menerima update data dari berbagai lembaga terkait setiap tiga bulan sekali, melalui transfer CD-ROM secara manual. Misalkan ada suatu pihak yang mengajukan permohonan mendapatkan informasi dari SLA , maka kemungkinan besar ia akan mendapatkan informasi yang berumur tiga bulan.
Fitur kolaborasi data real-time ini dimungkinkan berkat penggunaan teknologi enterprise grid yang disediakan Oracle dengan jajaran software 10g-nya. Infrastruktur software yang disediakan Oracle ini terdiri dari Oracle 10g Database, Oracle 10g Application Server, Oracle 10g Enterprise Manager yang memiliki fitur Oracle Grid Control for grid management, dan Oracle Spatial 10g. Aplikasi yang terakhir ini merupakan produk khusus grid-enabled yang menjalankan aplikasi pemetaan di Land Data Hub. Seluruh aplikasi dijalankan di atas server Sun Fire V20z berbasis chip AMD Opteron.
Menurut direktur teknologi informasi SLA, Lewis Wu, SLA akan mengevaluasi hasil proyek ini terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah akan merekomendasikan lembaga-lembaga terkait untuk juga mengganti infrastruktur TI-nya.
Seperti diketahui, tujuan dari enterprise grid computing adalah untuk memanfaatkan secara penuh suatu jaringan sumberdaya komputasi dan storage yang sudah ada dengan menyatukannya ke dalam satu sumberdaya komputasional yang besar, dan mengalokasikan kapasitas computing power dan storage secara memadai kapan pun dibutuhkan. Namun, untuk Land Data Hub, piranti lunak Oracle ini dijalankan di server Sun yang terpisah.
“Untuk suatu uji-konsep, kami tidak ingin memasukkan terlalu banyak aplikasi ke dalam server-server yang sudah ada. Langkah ini juga mempermudah untuk membedakan dan membuktikan bahwa sistem ini bisa bekerja dengan baik,” ujar Wu memberi alasan.
Land Data Hub ini merupakan suatu proyek referensi, yang merupakan bagian dari suatu inisiatif enterprise grid technology, yang digulirkan otoritas pengembangan infokom Singapura (Infocomm Development Authority of Singapore, IDA) bekerjasama dengan Oracle. “Jika sukses diimplementasikan, proyek ini berpotensi menjadi suatu sistem dengan potensi komersial cukup besar dan bisa diekspor ke luar Singapura,” ujar Tan Ching Yee, CEO IDA. cma
FILIPINA
Rumah Sakit Filipina terapkan aplikasi TI berbasis SMS
Rumah sakit umum Filipina, Philippine General Hospital (PGH), saat ini tengah menguji coba solusi berbasis SMS (short messaging service) yang dikembangkan Advanced Science and Technology Institute (ASTI), suatu lembaga penelitian dan pengembangan di bawah kementrian sains dan teknologi Filipina, DOST.
Solusi ini memungkinkan PGH mengintegrasikan fungsionalitas SMS ke dalam beberapa aplikasi medisnya. “PGH menggunakannya untuk memantau informasi medis dari para pasiennya,” ujar Geraldine Lugod, technology marketing manager ASTI .
Dengan menggunakan ponsel, para dokter PGH bisa mengirim informasi dalam bentuk pesan SMS ke suatu nomor pusat. Informasi ini kemudian diarahkan dan disimpan ke sebuah PC. Dari tempat inilah informasi itu diintegrasikan ke dalam program atau aplikasi lainnya. Sebaliknya, solusi yang dinamakan GSM Data Terminal ini setiap saat juga bisa mengirimkan suatu pesan ke banyak ponsel sekaligus.
Menurut Lugod, ASTI berharap solusi ini bisa menarik minat para pembeli karena harganya relatif murah dibandingkan solusi-solusi sejenis yang ada di pasaran. Hal ini dimungkinkan karena solusi tersebut dibangun dengan menggunakan teknologi open source. ASTI selama ini memang dikenal sebagai pendukung utama teknologi open-source karena langkah ini dipandang sejalan dengan mandatnya untuk mengembangkan solusi-solusi hemat biaya, yang akan digunakan badan-badan milik pemerintah.
Solusi berbasis SMS ini menjalankan suatu program bernama Kannel, yang beroperasi di atas sistem operasi Linux. Secara fisik, GSM Data Terminal ini berbentuk sebuah kartu PCI berantena, dan memiliki sebuah modul yang bisa terhubung dengan jaringan GSM, sama dengan yang digunakan ponsel.
Solusi ini dikembangkan ASTI selama tiga bulan, dan sudah digunakan PGH sejak pertengahan tahun ini. Selain itu, komisi pemilu Filipina, Comelec juga sudah menggunakan solusi ini dalam pemilu bulan Mei lalu, sekalipun terbatas untuk wilayah Metro Manila. cwf
Filipina dorong penggunaan thin-client berbasis Linux
Ungkapan habis manis sepah dibuang agaknya kini tidak berlaku lagi bagi komputer-komputer tua. Pasalnya, berkat teknologi thin-client, komputer-komputer tua pun masih bisa produktif, dan menjadi solusi hemat bagi perusahaan-perusahaan di negara-negara berkembang.
Ambil contoh Advanced Science and Technology Institute (ASTI). Lembaga penelitian dan pengembangan sains dan teknologi Filipina ini dikabarkan telah mengembangkan sebuah solusi thin-client berbasis open-source, bagi para pengguna yang ingin memperpanjang masa pakai komputer-komputer lamanya, daripada harus membeli PC baru dan mahal.
Solusi ini menggunakan Bayanihan Linux, suatu sistem operasi Linux buatan lokal untuk terminal servernya. Bayanihan Linux, yang kini sudah sampai pada versi ketiga dikembangkan untuk memromosikan penggunaan open source di kalangan pemerintahan sebagai suatu alternatif dari piranti lunak proprietary yang lebih mahal.
Solusi thin client yang dinamakan Bayanihan Linux Terminal Server Project ini sudah digelar ASTI di tiga sekolah umum di Metro Manila , serta di jurusan sains komputer di University of the Philippines di Diliman, Quezon City .
Sistem thin-client server ini terdiri dari beberapa komputer client diskless (tanpa hard disk, CD-ROM dan floppy-drive) terhubung ke sebuah server dengan menggunakan kartu LAN. Server mengerjakan seluruh pemrosesan aplikasi dan penyimpanan file data sesuai permintaan client. Komputer client-nya bisa berupa komputer lama berprosesor 486 dengan memory 32MB, ujar Jocel Layno, kepala divisi rekayasa komputer ASTI.
“Solusi ini merupakan solusi hemat biaya karena PC-PC lama tetap dipertahankan, dan investasi terbesar hanya untuk server,” ujar Layno.
Saat ini ASTI tengah mempersiapkan sebuah modul, juga berbasis open-source yang akan ditambahkan ke dalam solusi ini. Modul ini akan berfungsi sebagai suatu management tool untuk thin client, untuk melakukan berbagai tugas seperti pemantauan dan alokasi disk. cwf
|