Volume II No 20 - September 2004
 



Paradigma Lama: Hambatan Berbisnis di Dunia Maya

 

Kalangan bisnis kini ditantang untuk membangun paradigma yang sesuai untuk berhasil dalam bisnis, baik saat ini maupun ke depan.

Tidak banyak industri nasional yang berhasil meraih devisa ketika negeri ini dilanda krisis ekonomi dan moneter. Salah satunya adalah industri pengolahan kayu atau mebel dan furnitur yang berorientasi ekspor. Sentra industri yang terletak di Jepara, Jawa Tengah, merupakan yang sempat menikmati booming ekspor. Namun, masa keemasan itu tidak berlangsung lama. Akhir 1998 kapasitas ekspor mebel dan furnitur asal Jepara merosot tajam dari 1500 kontener per bulan menjadi hanya 300 kontainer.

Menurut Otto Schuhz, Technical Consultant PT Satin Abadi , kemerosotan itu luar biasa, karena kemampuan ekspor Jepara sebelum era itu telah mencapai 600 kontainer per bulannya. Akibatnya, seluruh kejayaan Jepara sebagai sentra industri kayu ukiran pun mulai pudar.

Mereka yang bertahan karena mampu berinovasi, mulai dari mempertahankan dan meningkatkan kualitas, fokus terhadap detil hingga ekspansi pasar melalui pemanfaatan ICT. eBusiness tampaknya sudah mulai merambah ke Jepara dan industri pengolahan kayu lainnya di seputar Jawa Tengah, namun secara garis besar bisa dibedakan pemanfaatannya.

Sayangnya pemanfaatan internet tidak merata, terutama karena infrastruktur telekomunikasi yang masih belum menunjang penerapan eBusiness secara luas. Kartika Prananto dari PT Perwita Karya yang berlokasi di Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Yogyakarta , mengeluhkan minimnya kecepatan transaksi data dari saluran telekomunikasi yang disewanya. “Paling-paling hanya 4 kbps,” keluhnya. Dengan kecepatan seperti itu sulit mengirim data dalam jumlah besar, sehingga yang terkirim hanya “file berskala kecil saja,” jelasnya.

Keluhan yang hampir mirip datang dari Maniac Furniture yang berlokasi Jepara. Perusahaan yang didirikan Chuck, mantan pramuwisata, ini telah mengekspor produk furniturnya sejak 1990. Beberapa tahun lalu, perusahaan kecil ini telah memanfaatkan ICT sebagai wahana bisnisnya. Sekalipun Choen, Managing Director Maniac Furniture , mengakui masih sebatas pada web brochure dan berkirim email, namun sudah mulai membuahkan hasil.

Seorang pelanggan Maniac Furniture yang berasal dari Timur Tengah telah bertransaksi tanpa pernah berkunjung atau bertemu secara fisik. Bahkan pelanggan tidak perlu datang untuk melakukan penyeliaan, baik saat produksi maupun hingga pengirimannya, meski sebelumnya kunjungan lazim dilakukan.

Sayangnya, keberhasilan itu tidak mampu mendorong Maniac Furniture mengoptimalkan eBusiness -nya. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan infrastruktur telekomunikasi. Menurut Choen, untuk menambah satu jalur telepon pihaknya harus membiayai penarikan kabel sepanjang 6 kilometer. Biayanya pun harus ditanggung perusahaan. Ajaib sekali kan ? Ini belum lagi mahalnya biaya berlanggan internet. Akibatnya, kegairahan mengoptimalkan internet untuk eBusiness surut, sekalipun tidak padam sama sekali.

Masalah infrastruktur tidak menjadi kendala bagi perusahaan-perusahaan besar semacam Satin Abadi dan Maitland-Smith yang berlokasi di kota besar. Satin Abadi, seperti dikemukakan Otto Schucz telah mulai menerapkan eBusiness berapa tahun lalu. Internet tak hanya kios pajangan, melainkan juga mengundang pelanggan tetapnya untuk berinteraksi lebih jauh dalam komunikasi desain, blueprint dan transaksi pembayarannya.

Di kantornya di tepi jalan raya Ngabul, Jepara, Jawa Tengah, Satin telah menerapkan sistem TI yang cukup canggih, yang awalnya ditujukan untuk membenahi sistem ERP-nya, kemudian digunakan untuk pengembangan desain dan rancang bangun. Bayangkan dalam satu tahun, Satin Abadi harus menelurkan sekitar 1.800 desain baru. Tanpa inovasi desain tentu akan terjadi stagnasi yang luar biasa.

Keberhasian penerapan TI, yang dibarengi peningkatan layanan infrastruktur telah berhasil mendorong kegairahan baru. Seperti yang diakui David Lund dari PT Maitland-Smith Indonesia, pengembangan sistem TI sangat berguna, apalagi perusahaan yang berlokasi di kawasan berikat Tanjung Emas, Semarang, ini merupakan salah satu dari dua pabrik perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat.

Kecanggihan sistem TI yang diterapkan tercermin dari dilakukannya komunikasi cetak biru desain dan rancang bangun melalui internet. Selain untuk mendukung kegiatan operasional, TI juga kemudian masuk ke supply chain . Ini karena kantor pusat memegang kendali penuh, begitu juga operasional pemasarannya di seluruh dunia. Sedangkan pabriknya di Semarang dan Filipina difokuskan untuk melayani produksi dari pesanan yang masuk.

Sebelum penerapan TI, dirasakan sangat sulit karena masih harus melibatkan pihak ketiga, yang belum tentu sesuai harapan. Kecepatan dan ketepatan komunikasi tampaknya menjadi pilihan. Artinya, sistem TI bisa memperpendek jarak dan mempermudah komunikasi antara kantor pusat dan Semarang , sehingga komunikasi dan transaksi bisa dilakukan lebih cepat dan efisien. Transaksi ini juga mulai melibatkan sejumlah pelanggan mancanegara. Lund mengakui bahwa tahu lalu saja sekitar 10 hingga 15% order justru datang melalui internet.

Biasanya, pelanggan menghubungi dan mengirim desain dalam bentuk sketsa terlebih dahulu, yang kemudian diproses melalui CAD/CAM di Semarang guna keperluan rancang bangun. Setelah selesai, cetak birunya segera dikirim kembali ke mereka untuk dikoreksi. Kemudian, rancang bangun tersebut dikembangkan menjadi bentuk realistis, lengkap dengan pewarnaan dan gambar 3 dimensinya. Bila disetujui baru dibangun suatu produk contoh. Produk contoh ini dipotret dan hasilnya dikirim kembali ke calon pembeli. Bila disetujui baru dilakukan proses produksi.

Yang menarik, calon pembeli tidak perlu mengirimkan orang guna mensupervisi proses produksi mulai dari awal hingga ke tahap pengepakan dan pengiriman. Ini tampaknya bisa juga digunakan untuk menyiasati ketakutan datang ke Indonesia akibat berlakunya travel ban.

Penerapan TI juga dilakukan oleh rajacraft.com, yang di luar negeri lebih dikenal sebagai e-marketplace yang cukup handal. Ini merupakan wanana berbisnis di dunia maya yang ditujukan untuk menjebantani antara pengrajin dengan pasar internasional.

Kekuatan rajacratf.com adalah mampu merepresetasikan market dalam kondisi sesungguhnya, yakni mempertemukan pembeli dari seluruh dunia dengan berbagai produsen atau pengrajin secara langsung. Transaksi pun bisa terjadi secara langsung di antara keduanya.

Sejak awal tahun ini, dengan bantuan USAID, rajacraft.com berhasil merekrut sejumlah vendor baru dari Bali untuk menjajakan produknya. Menurut Henri Situmeang, menurun drastisnya wistawan mancanegara ke Bali paska Bom Bali berdampak pada penurunan aktivitas bisnis dan perekonomian di pulau ini. Belum lagi adanya travel ban yang dikeluarkan sejumlah negara.

Situasi ini tentu memukul para pengrajin di Bali yang mengandalkan aktivitas bisnisnya dengan kehadiran wistawan mancanegara. “Pengrajin di Celuk, Bali, misalnya, kehilangan hingga 80% pendapatannya paska Bom Bali dan masih belum pulih hingga hari ini,” ungkapnya.

Itu sebabnya, ia memandang e-marketplace merupakan peluang kebangkitan kembali bisnis kerajinan di Bali dan tidak lagi hanya mengandalkan walking buyers . Bahkan, rajacraft.com juga memperluas pemasarannya hingga ke seluruh dunia.

Potensi eBusiness semacam inilah justru yang tidak pernah dihiraukan oleh pemerintah. Bahkan saking tidak hiraunya, USAID yang justru mengulurkan bantuan setelah melihat kondisi merosotnya perekonomian di Bali . Di sisi lain, terlihat bahwa perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia justru lebih dulu menggunakan internet sebagai new frontier dalam intensitas penjualan dan pemasaran. Berbeda dengan pebisnis domestik yang masih terkendala berbagai masalah guna dalam menggunakan internet untuk pengembangan eBusiness-nya.

Ini suatu gambaran yang memprihantinkan. Apalagi, di mata dunia, Indonesia dinilai sebagai negeri dengan risiko politik tinggi, sehingga menghalangi minat para pebisnis untuk berbisnis. Paradigma lama yang mengharuskan pebisnis datang dan berkunjung secara fisik pun terkendala kebijakan imigrasi yang resiprokal. Indonesia kini semakin tidak menarik lagi di mata pebisnis dunia.

Paradigma lama yang masih dominan juga menghalangi peluang berbisnis secara maya. Padahal hanya pintu peluang ini yang masih terbuka lebar, dan seharusnya bisa digunakan untuk mendorong bisnis dan ekonomi nasional.

Foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.