Volume II No 20 - September 2004
 

RADIO FREQUENCY IDENTIFICATION (RFID)

 

Penerapan RFID oleh Wal-Mart diperkirakan akan memberi penghematan sebesar USD8,4 miliar setahun. Inilah microchip pintar yang diprediksi akan merevolusi supply chain di berbagai industri, terutama industri ritel dunia.

Ibarat pertandingan tinju, para pemasok Wal-Mart saat ini mungkin tengah menanti bel dibunyikan dengan rasa cemas. Pasalnya, dengan alasan untuk mengefisienkan rantai pasoknya, peritel raksasa dari negeri Paman Sam ini mewajibkan seratus pemasok utamanya untuk memasang label RFID ( radio frequency identification ) pada produk-produk yang dikirimnya mulai Januari 2005 mendatang.

Sontak RFID menjadi topik perbincangan yang hangat di kalangan industri ritel, dan dunia TI pada umumnya. Beberapa pihak pesimis, teknologi yang konon bakal merevolusi cara para pemanufaktur, distributor dan peritel melacak produk dan inventorinya ini belum cukup mapan untuk bisa bergulir secara mulus, meski beberapa kalangan berpendapat sebaliknya.

Wal-Mart tidak berjalan sendirian dalam menggelar inisiatif RFID-nya, beberapa perusahaan ritel lainnya juga mengikuti jejaknya. Tengok saja Target, peritel nomor empat terbesar di AS ini juga mewajibkan para pemasok utamanya untuk menempelkan label RFID pada pasokan barang yang dikirim ke beberapa pusat distribusi tertentu mulai pertengahan tahun 2005 mendatang.

Di belahan Eropa, jaringan ritel Jerman, Metro Group merupakan pihak yang terdepan dalam inisiatif RFID ini, selain perusahaan ritel Inggris seperti Tesco dan Marks & Spencer. Bahkan, peritel Jerman ini terbilang lebih ambisius daripada rekan-rekannya dari AS, karena perusahaan yang bermarkas di Dusseldorf berancang-ancang menjadi perusahaan ritel pertama di dunia yang akan menggunakan RFID pada seluruh rantai proses logistiknya.

Fase pertama implementasi RFID akan digulirkan bulan Nopember mendatang, dengan cakupan 20 pemasok. Secara bertahap, penerapannya diperluas mencakup 100 pemasok, delapan gudang pusat dan 269 lokasi toko ritel yang masuk dalam jaringan Metro.

Apa yang dijanjikan RFID?

Besarnya perhatian para peritel papan atas dunia ini sebenarnya tak terlepas dari manfaat yang bakal ditimbulkan dari penerapan teknologi itu sendiri. RFID disebut-sebut sebagai teknologi yang akan merevolusi cara kerja dari para pemanufaktur, distributor, penyedia jasa logistik sampai pada peritel. Dengan kata lain, dampak penerapannya akan terasa mulai dari hulu sampai ke hilir.

Tag RFID sendiri pada dasarnya sebuah microchip berantena, yang disertakan pada suatu unit barang. Dengan piranti ini, perusahaan bisa mengidentifikasi dan melacak keberadaan suatu produk. Seperti halnya barcode yang memiliki universal product code, sebuah tag RFID memiliki electronic product code (EPC) berisi identitas produk itu, mulai dari nomor seri, tanggal produksi, lokasi manufaktur bahkan sampai tanggal kadaluarsa.

Bagi suatu perusahaan pemasok atau manufaktur, penerapan RFID ini bisa membantu dalam pembuatan forecasting , produksi dan pendistribusian berbagai produknya secara lebih efisien. Ketika jalur komunikasi rantai pasok antara distributor dan peritel dengan pemanufaktur sudah terjalin mulus, aplikasi RFID tidak sekedar memungkinkan pemanufaktur melakukan just-in-time manufacturing , tetapi juga real-time manufacturing .

Di sisi lain, RFID juga membantu pengelolaan inventori suatu perusahaan manufaktur, dengan mempermudah pemantauan keberadaan dan ketersediaan bahan baku serta aset produksi lainnya. Ketika dipadukan dengan aplikasi GIS (geographical information system) dan GPS (global positioning system), RFID juga membantu perusahaan logistik dalam memantau keberadaan barang yang dikirimnya, mulai dari pabrik sampai ke lokasi gudang distributor dan peritel.

Industri ritel juga bakal merasakan manfaat yang besar dari RFID. Masalah stock opname dan penyusutan barang akibat pencurian dan lain-lain diharapkan akan teratasi atau paling tidak terkurangi dengan penerapan RFID. Setiap barang yang keluar masuk tak luput dari pantauan sistem RFID ini, sehingga ketersediaan dan pergerakan barang pun selalu terbarui (up-date) di sistem inventori perusahaan ritel. Penerapan RFID juga bisa berdampak positif bagi konsumen, dimana konsumen tidak lagi menjumpai rak-rak toko yang kosong dan mendapatkan barang kadaluarsa dalam belanjaannya.

Penghematan biaya yang bakal dihasilkan dari penerapan RFID ini terbilang cukup signifikan. Bagi perusahaan ritel kelas kakap semacam Wal-Mart misalnya, hitungannya bisa miliaran dolar. Menurut penelitian sebuah perusahaan riset investasi, Sanford C. Bernstein, jika RFID digelar penuh di seluruh rantai pasoknya, Wal-Mart bisa menghemat sekitar 6,7 miliar dolar dari biaya tenaga kerja untuk memindai barcode , mengurangi kerugian akibat out-of-stock sampai 600 juta dolar, dan menekan kerugian akibat penyusutan barang sampai 575 juta dolar.

Dengan RFID, Wal-Mart juga diprediksi dapat menghemat biaya pengawasan logistik dan inventorinya sampai sekitar 480 juta dolar. Jika ditotal, Wal-Mart bisa mendapatkan penghematan 8,4 miliar dolar setahunnya dari penerapan RFID.

Terlepas dari janji-janji yang diberikannya, toh implementasi RFID bukannya bakal tidak menemui hambatan. Banyak masalah yang sampai saat ini belum sepenuhnya bisa diatasi.

Harga chip RFID misalnya, relatif masih mahal. Dengan harga rata-rata sekitar 50 sen dolar, masih jauh dari harga yang dianggap ideal, yaitu sekitar 5 sen dolar, apalagi harga idaman, yaitu 1 sen dolar. Bayangkan saja ketika sebuah perusahaan memasok produk yang dikemas dalam 50 juta dus misalnya, maka ia harus mengeluarkan paling tidak 25 juta dolar hanya untuk menyediakan chip RFID-nya. Jelas bukan biaya yang kecil.

Dari segi infrastruktur pun, mengintegrasikan RFID dengan back-end system bukanlah perkara ringan. Para pemasok membutuhkan lapisan middleware RFID yang handal untuk memuluskan aliran data dari RFID reader menuju aplikasi-aplikasi enterprise seperti warehouse management , serta aplikasi enterprise lainnya. Hal ini tentu membawa beban biaya tersendiri bagi perusahaan pemasok, namun, di sisi lain, justru membawa berkah bagi para sistem integrator. “Selama tiga tahun mendatang, kami perkirakan proyek-proyek yang terkait dengan RFID ini akan menghasilkan pendapatan sekitar 2 miliar dolar AS bagi pasar system integration,” ujar Will Cappelli, seorang analis dari Meta Group.

Menunggu standarisasi

Selain itu, para pemasok ritel juga masih mengkhawatirkan masalah kompatibilitas dan standar teknologi RFID yang sudah ada, seperti RFID reader, pembaca data yang tersimpan dalam chip RFID, dan tag RFID itu sendiri. Padahal, menurut para analis, pengembangan standar adalah kunci pengadopsian RFID pada aplikasi supply chain . “Ketika standar sudah ditetapkan, pengembangan produk (RFID) pun berjalan cepat, yang pada akhirnya akan menurunkan harga peralatan itu sendiri,” ujar Lyle Ginsburg, managing partner, Accenture.

Saat ini, semua mata tengah tertuju pada upaya EPCglobal, suatu organisasi non-profit yang dibentuk Uniform Code Council dan EAN International untuk mengomersialisasikan teknologi EPC. EPCglobal kini tengah berupaya menggodok protokol EPC generasi kedua (Gen 2 EPC protocol atau UHF generation 2), yang mengoperasikan RFID di gelombang UHF ( ultra high frequency ).

“Standar ini menarik banyak perhatian, karena UHF sendiri dipandang paling cocok untuk digunakan pada lingkungan gudang, dimana para early adopters memusatkan penggelaran RFID-nya,” jelas Christopher Boone, program manager US vertical industry research , IDC. Selain itu, lanjut Boone, standar ini juga kompatibel digunakan di negara-negara lain, selain juga sudah kompatibel dengan standar ISO (ISO18000-6A).

EPCglobal kini tengah mempertimbangkan dua proposal, yang bakal menjadi basis protokol RFID mutakhir. Proposal pertama diajukan aliansi para pemain lama RFID seperti Intermec, Philips Semiconductor dan Texas Instrument. Sementara proposal lainnya diajukan pendatang baru di industri solusi supply-chain Matrics dan Alien Technology. EPCglobal sendiri baru akan menetapkan standar mana yang dipilih pada bulan Oktober mendatang.

Learning curve yang terjal

Dengan berbagai masalah yang menghadang di depan mata, ditambah rentang waktu yang tersisa hanya empat bulan, banyak pengamat yang meragukan kesiapan para pemasok dalam memenuhi mandat yang diberikan perusahaan-perusahaan ritel.

Dalam suatu studi yang dirilis Forrester Research pada triwulan pertama tahun ini misalnya, terungkap bahwa mayoritas pemasok Wal-Mart bakal tidak mampu memenuhi tenggat waktu Januari 2005 yang ditetapkan Wal-Mart. Menurut studi, hanya sekitar 25 persen pemasok yang diperkirakan mampu memenuhi mandat itu, jauh dibawah prediksi sebelumnya sekitar 60 persen.

Implementasi RFID pada aplikasi supply chain bagi sebagian besar perusahaan memang masih menjadi sesuatu yang asing. Tak pelak, menghadapi tuntutan implementasi yang begitu mendesak, perusahaan terpaksa menapaki learning curve yang terjal.

“Banyak perusahaan yang masih tengah bekerja keras memahami teknologi ini, serta implikasi yang ditimbulkannya,” ujar Sue Hutchinson, product manager , EPCglobal. Lebih jauh ia mengingatkan bahwa sifat pengadopsian RFID ini juga terbilang unik, dimana teknologi ini di- drive oleh mandat pelanggan. Masuknya teknologi ini ke perusahaan pun berbeda dengan inisiatif-inisiatif TI dimasa lalu

“Cara RFID digulirkan memang tidak biasa,” ujarnya.

“Biasanya, suatu teknologi dikembangkan terlebih dahulu, baru pasarnya dicari. Tapi, untuk kasus ini, pasar sudah ada, dimana semua orang menunggu teknologi ini matang dan siap digunakan. Jadi, dinamikanya memang berbeda. Selain itu, skalanya juga berkembang dengan cepat dan semuanya dipacu dengan kecepatan berbeda dibanding pengadopsian teknologi lainnya.”

Dengan kondisi seperti itu, akankah tahun 2005 menjadi tonggak dimulainya “revolusi supply chain” seperti yang dijanjikan RFID? Atau malah mundur tiga sampai empat tahun seperti banyak disebutkan para pengamat? Dengan dinamika perubahan yang begitu cepat, dalam rentang waktu tersisa empat bulan, banyak hal bisa terjadi. Ya, kita lihat saja! aa

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.