Sebagai killer application dunia Internet, email tak pelak semakin menjadi bagian terpenting dalam sarana komunikasi, baik untuk kepentingan pribadi maupun korporat. Dalam perjalanannya, email pun tak cuma sekedar menjadi alat komunikasi, namun juga berevolusi menjadi alat ampuh dalam promosi dan jualan, yang sanggup menjangkau massa dalam jumlah besar melintasi batas negara. Makanya tak heran, jika konten spam tak jauh dari penawaran produk, mulai dari produk elektronik, keuangan, obat-obatan sampai pada urusan pemuas syahwat atau pornografi.
Tak hanya itu, spam juga dijadikan sarana untuk tindak kriminal, misalnya mencuri informasi pribadi yang menyangkut alamat email, password atau informasi rahasia kartu kredit, atau konten yang mengandung unsur penipuan, misalnya kasus Nigerian scam yang tersohor itu.
Berbicara tentang volume spam pun tak kurang membuat kita merinding. Sekalipun angka-angka yang dikeluarkan baik oleh para pengamat maupun kalangan industri berbeda-beda, secara umum sekitar dua pertiga dari email yang berlalu-lalang di seluruh dunia adalah spam. Perusahaan riset pasar Radicati Group, Inc. misalnya, dalam penelitian yang dirilisnya akhir triwulan pertama tahun ini, menyebutkan jumlah spam di seluruh dunia pada tahun ini diperkirakan sekitar 35 miliar email. Angka ini melonjak 115 persen dibandingkan tahun 2003 lalu, yang sekitar 15 miliar email.
Kerugian ekonomisnya pun tak kalah besarnya. Masih menurut Radicati, tahun 2003 lalu kerugian yang ditimbulkan bisa mencapai 20,5 miliar dolar AS, dan pada tahun 2007 mendatang angka ini bisa meroket sampai 198 miliar dolar AS.
Begitu seriusnya masalah spam ini tak urung membuat beberapa pemerintahan di negara-negara maju turun tangan dengan menggulirkan undang-undang khusus untuk menangkal spam . AS misalnya, menggelar CAN- SPAM ( Controlling the Assault of Non-Solicited Pornography and Marketing ) Act, yang berlaku efektif 1 Januari lalu. Inggris juga sudah menggelar undang-undang serupa Desember 2003 lalu. Sementara beberapa negara Eropa dan Asia (seperti Singapura dan Korsel) dikabarkan juga akan mengeluarkan UU serupa. Namun, spam tidak juga surut, malah tambah marak.
Teknik anti-spam
Bagi kalangan bisnis, yang sudah menyadari betapa strategisnya komunikasi email untuk perusahaannya, kebutuhan akan suatu solusi yang mampu menghadang spam boleh dibilang sangat mendesak. Akan tetapi, mencari solusi anti-spam yang tepat bukanlah perkara mudah. Saat ini, mereka akan dihadapkan pada 100 sampai 150 vendor, yang menawarkan beragam solusi dan jasa anti-spam . Sekalipun demikian, teknologi yang menjadi basis solusi-solusi tersebut pada umumnya tidak jauh berbeda.
Secara umum, ada dua jenis teknologi yang saat ini populer menjadi dasar dari solusi anti-spam . Yang pertama adalah filtering , yang menyaring email berdasarkan analisis konten emailnya. Teknologi ini mampu belajar sendiri algoritma yang berbeda dari seluruh email masuk dan yang dikirim, sehingga teknologi ini mampu menyesuaikan diri dengan kebiasan email Anda. Metoda ini memiliki banyak cara untuk belajar menentukan suatu email dikategorikan spam atau bukan, misalnya dengan mempelajari email apa yang disimpan atau benar-benar dibaca pengguna, email seperti apa yang langsung dihapus pengguna atau email seperti apa yang ditandai oleh pengguna sendiri sebagai spam .
Saat ini, filtering adalah teknologi yang paling banyak digunakan sebagai basis solusi anti-spam yang beredar di pasar. Sekalipun demikian, teknologi ini belumlah seratus persen bisa menangkal spam . Pasalnya, para spam mer pun tak kalah pintar mencari cara mengelabui algoritma filtering tersebut.
Teknologi anti-spam lain yang kini tengah menanjak populer adalah challenge-response . Berbeda dengan filtering, teknik challenge-response mencegat seluruh email yang datang sebelum masuk ke inbox penerima. Ketika email dari pengirim tak dikenal tiba, sistem challenge-response mengirim balik sebuah pesan, yang isinya meminta si pengirim untuk mengidentifikasi dirinya. Jika si pengirim memang orang sungguhan, tentu ia akan menjawab balik pesan tersebut. Sistem pun akan menerima email tersebut dan memasukkannya ke “white list” milik pengguna.
Respon semacam ini tentu saja tidak bisa diberikan para spammer , yang biasanya mengirim email secara curah dengan bantuan komputer. Para spammer tersebut secara fisik maupun finansial tidak mungkin sanggup merespon pesan balik yang mereka terima (dimana jumlahnya bisa jadi juga miliaran).
Teknik challenge-response ini dikembangkan dan dipelopori penggunaannya oleh Mailblocks Inc. sebuah email provider dari AS, serta EarthLink, salah satu ISP raksasa, juga dari AS. Ke depan, popularitas teknologi challenge-response ini mungkin akan semakin terdongkrak, khususnya ketika ISP terbesar AS, AOL mengakuisisi Mailblocks bulan Agustus lalu. AOL dikabarkan akan mengintegrasikan teknologi Mailblocks ini ke dalam layanan emailnya.
Sekalipun diklaim memiliki tingkat keberhasilan 100 persen, teknik ini cukup banyak pula menuai kritikan. “ Challenge response bukanlah solusi spam paling elegan untuk ISP, karena ia akan menambah volume email,” ungkap David Daniels, seorang analis dari Jupiter Research. “Teknik ini melipatgandakan satu email menjadi tiga – inbound, outbound challenge, inbound response – yang pada akhirnya akan berdampak pada trafik Internet dan biaya infrastruktur.”
Konsolidasi pasar anti-spam
Hal lain yang perlu dicermati pada tahun-tahun mendatang adalah akan terjadinya konsolidasi pasar anti-spam . Menurut para pengamat, pasar akan bergerak dari single solution provider menuju penyedia solusi yang lebih komprehensif. Jumlah vendor anti-spam pun diperkirakan mulai akan menciut dari ratusan menjadi hanya kurang dari selusin di akhir 2005 mendatang.
“Pasar anti-spam terlalu sesak (oleh vendor) dan tidak satupun yang menjadi market leader," ujar Michael Osterman, presiden perusahaan riset independen yang fokus pada teknologi messaging, Osterman Research. Banyak dari vendor itu akan diakuisisi atau menutup bisnisnya, ujarnya lebih lanjut.
Namun, ketika gelombang konsolidasi sudah reda, konsumen dan pelanggan dari kalangan korporat tinggal dihadapkan pada beberapa vendor anti-spam dengan solusi anti-spam yang lebih komprehensif, ujar Osterman.
Tren itu sesungguhnya sudah dimulai pada tahun ini. Tengok Symantec misalnya. Perusahaan anti-virus nomor satu, namun tidak memiliki produk anti-spam ini membeli perusahaan spesialis anti-spam TurnTide seharga 28 juta bulan Juli lalu. Bahkan sebulan sebelumnya, Symantec telah merogoh kocek 370 juta dolar AS untuk mengakuisisi Brightmail, salah satu “raksasa” vendor anti-spam .
Sementara itu vendor-vendor yang tetap setia pada jalur anti-spam , tetap mengambil langkah merjer atau akuisisi sesama vendor anti-spam . Tujuannya tak lain untuk menawarkan teknik anti-spam “gado-gado”. Misalnya vendor anti-spam Tumbleweed, yang membeli vendor anti-spam lainnya, Corvigo. Dengan akuisisi ini, Tumbleweed berharap bisa mengintegrasikan solusi anti-spam nya dengan solusi Corvirgo yang berbasis Linux dan memanfaatkan teknologi artificial intelligence yang canggih.
aling tidak, sebelum gelombang konsolidasi ini mereda, konsumen masih perlu berupaya keras memilih beragam solusi anti-spam (yang benar-benar bekerja secara efektif), dengan dua basis teknologi yang ada, yaitu filtering dan challenge-response . Pilihan lain, ya menunggu hasil dari konsolidasi pasar anti-spam , yang mungkin saja memunculkan inovasi-inovasi solusi baru, antara lain berupa total message-protection solutions , yang mencakup anti-spam , anti-virus, serta outbound filtering dan solusi-solusi content compliance . aa |