“Perang” antara Lindows versus Windows setidaknya telah membuat sistem operasi itu menjadi bahan berita yang tak habis-habisnya setiap hari. Meski awalnya dikembangkan sebagai bentuk “perlawanan” terhadap berbagai piranti lunak proprietary, yang sangat rigit dilindungi copyrights, Namun kini Linux, atau platform open source lainnya, seperti mendapatkan momentum baru untuk semakin luas dikembangkan dan diterapkan, tidak hanya untuk pengguna rumahan, melainkan juga enterprise.
Laporan IDC, belum lama ini, menyatakan meskipun penerapan Linux semakin meningkat, tetapi Microsoft tak perlu merasa khawatir dengan hal itu, setidaknya hingga tahun 2007 mendatang. Itu lebih karena Linux belum akan sangat berpengaruh terhadap penjualan Windows. Namun, IDC juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2004, sekitar 11% pangsa pasar server yang dijual di Amerika telah dilengkapi OS Linux, 34% menggunakan Windows dan 37% menggunakan Unix.
Di sisi lain, harus diakui bahwa Linux khususnya, telah mendapatkan momentum dan kecenderungan yang semakin meningkat penggunaannya, baik untuk rumahan maupun enterprise . Namun, penerapan Linux ini tak hanya terfokus pada penggunaan OS di PC atau Laptop, melainkan berbagai games atau piranti lunak lainnya. Misalnya saja Smartphones. Ini dibuktikan dengan diluncurkannya dua Smartphones berbasis Linux terbaru dari Motorola, yakni tipe A780 dan A768i. Juga PDA berbasis Linux dari Sharp - Zaurus SL-5600.
Dalam pengembangan produk games , misalnya, demo “The Unreal Tournament 2004”, yang diluncurkan beberapa waktu yang lalu, ternyata tersedia dalam versi Windows, Mac dan Linux pada hari yang sama. Kalau hal semacam ini terus terjadi, misalkan program OpenOffice, GIMP image editor dan peranti lunak lainnya, yang dapat menggantikan berbagai aplikasi Windows, hal itu jelas akan mengancam Windows
Masalah utamanya bukan mengancam atau tidak, tetapi munculnya kecenderungan baru dalam pengembangan dan penerapan berbagai piranti lunak yang berbasis open source atau Linux, juga tak bisa diabaikan. Kebijakan beberapa negara, baik di Asia seperti Korea Selatan dan China yang akan mengembangkan standarisasi penggunaan piranti lunak Linux untuk menggantikan sistem operasi Windows, merupakan suatu langkah yang strategis.
Beberapa pejabat senior negara-negara Asia timur, yang bertemu di Beijing tahun ini, juga membahas aspek standarisasi itu. Hal itu juga melibatkan sejumlah perusahaan besar dunia, seperti Hitachi, NTT Data, Fujitsu, IBM Japan, NEC, Nomura Research Institute dan Matsushita Electric Industrial, yang nantinya akan berdampak terhadap berbagai produk yang mereka luncurkan ke pasar.
Hal yang sama juga dilakukan beberapa negara lainnya di seluruh dunia, di antaranya Brazil , baik dalam skala besar maupun kecil, dan kecenderungan itu menunjukkan peningkatan. Belum lagi, beberapa vendor laptop tampaknya juga akan menggunakan platform Linux di produk-produk mereka.
Di Indonesia sendiri, meski belum jelas benar langkah konkritnya, namun pemerintah Indonesia telah meluncurkan suatu program yang disebut IGOS ( Indonesia Goes Open Source ). Selain didukung lima instansi pemerintah, program IGOS juga akan melibatkan berbagai pengembang sistem operasi open source , seperti komunitas open source , KPLI (Kelompok Pengguna Linux Indonesia ), JUG (Java User Group), dan berbagai perguruan tinggi negeri/swasta. Juga TKTI (Tim Koordinasi Telematika Indonesia ), LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ), BPPT (Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi), serta sejumlah perusahaan lokal baik.
Di sisi lain, beberapa laporan lembaga riset dunia menunjukkan bahwa kalangan bisnis maupun departemen pemerintahan di kawasan Eropa setidaknya akan mengeluarkan anggaran sebesar USD 98 juta untuk berbagai layanan yang mendukung sistem Linux mereka tahun 2004 ini. Nilai itu akan meningkat hingga USD 228 juta pada tahun 2008.
Menurut Dominique Raviart, analis peneliti senior IDC Eropa, meski penggunaan Linux atau open source hanya mengahabiskan satu persen dari total pengeluaran untuk layanan TI, namun hal itu meningkat cepat. Ini menunjukkan semakin besarnya peran Linux dan piranti lunak open source dalam penerapannya, terutama karena alasan mengurangi biaya.
Meski tak dapat dipungkiri penggunaan OS Linux di server semakin mencorong belakangan ini, setidaknya sebagaimana ditunjukkan oleh pemerintahan kota Munich, Jerman, yang memutuskan untuk mengganti OS dari 14,000 komputernya dengan OS berbasis open source . Penerapannya tampaknya akan mendapatkan dukungan dari SuSE Linux dan IBM. Belum lagi penggantian OS 80.000 PC untuk pelajar di Sepanyol. Di Thailand, sekitar 160.000 komputer desktop telah menggunakan Linux versi Thai. Ditambah lagi upaya menyediakan 1 juta PC murah yang semuanya berbasis Linux.
Begitu juga hal dengan kota Bergen , yang merupakan kota terbesar kedua di Norwegia, yang memutuskan untuk mengganti sistem operasi server -nya berbasis Windows dan Unix-nya dengan SUSE Linux Enterprise Server 8. Penggantian ini mendapat dukungan dari Novell Inc. Meski penggantiannya lebih tertuju ke server, bukannya desktop, namun hal itu setidaknya akan berpengaruh terhadap lebih dari 50.000 pengguna, dimana salah satu tujuannya adalah mengurangi biaya dan menyederhankan sistem TI kota yang ada saat ini.
Di sisi lain, menurut Gartner, tahun 2004 jumlah penggunaan server meningkat 24,5 persen dibandingkan tahun 2003. Sedang pengapalan server Linux tumbuh 61.6 persen, dan pendapatan dari penjualannya tumbuh 54,6 persen.
Di sisi lain, penerapan open source juga bukan tanpa kendala. Tak adanya dukungan yang pasti sebagaimana diperoleh pada piranti lunak proprietary , seperti Windows, juga menyulitkan untuk memastikan penerapannya di lingkungan enterprise secara luas. Dalam kaitan penerapan open source di Munich, yang masih tertunda beberapa minggu, terutama berkenaan adanya 50 paten yang terkait dengan piranti lunak open source .
Karenanya, tak heran beberapa perusahaan berharap hal semacam itu akan dapat teratasi karena adanya dukungan dari perusahaan-perusahaan yang mengembangkan piranti lunak open source . Sementara, mengembangkan sendiri kapanilitasnya di dalam perusahaan, bukan soal gampang, selain juga terkait penambahan biaya.
Namun, pengembangan dan penarapan Linux ke depan, khususnya, akan semakin meningkat. Pengadopsiannya setidak melalui tiga fase yang sangat strategis. Pada fase pertama, Linux digunakan di kalngan pengguna teknis, seperti enjinir, saintis, administrator siste, pembuat konten dan lain sebagainya.
Pada fase kedua, sudah meningkat lebih jauh digunakan oleh petugas call center , tenaga penjualan, diler kendaraan bermotor, karyawan pemasukan data. Sedang fase ketiga, meningkat ke para pekerja berbasis pengetahuan, UKM, antara lain para manajer, staf pemasaran, pemilik bisnis dan lain sebagainya.
alau dilihat dari pasarnya, berdasarkan laporan IDC diketahui bahwa bahwa pada 2003 tak kurang dari 9,3 juta desktop telah terpasang Linux, yang jumlah diperkirakan akan mencapai 27,8 juta pada 2006, sedang jumlah server mencapai 9 juta. Selain itu, pada 2006 tak kurang 7% dari total komputer yang diinstal OS (bukan bajakan) menggunakan Linux dan ditambah 10% lainnya berupa komputer baru. Hingga akhir dekade ini, setidaknya 7% sampai 20% komputer desktop telah menggunakan Linux. Insa |