Apa itu Borobudur ? Sebutkan berbagai jenis pokemon? Dari mana asal Spiderman? Puyeng cari jawabannya? Serahkan saja pada mesin pencari (search engine) di internet. “Pasti kita kaget melihat banyaknya informasi yang tidak ada di buku,” kata Onno W.Purbo. Karena itu pula pakar internet ini getol memromosikan internet ke sekolah-sekolah.
Terakhir, pria kelahiran 17 Agustus 1962 ini bekerja sama dengan PT Telkom dalam proyek Internet Goes To School (IG2S). Tugasnya, memberikan pelatihan tentang internet pada siswa dan guru SLTA. Pengetahuan dasar bagaimana membuka, membalas, dan mengirim email, juga bagaimana menjelajah dan berselancar di dunia maya diajarkan mantan dosen teknik elektro Institut Teknologi Bandung ini.
Tapi konsep utama yang ditawarkan Onno adalah penyediaan mail server di tiap sekolah. Dengan begitu, siswa dan guru dapat beraktivitas menggunakan milis. Tugas-tugas dari guru nantinya bisa dibagikan lewat email. Siswa juga menyetor tugas lewat teknologi ini.
Karena bisa dibaca semua orang, siswa bakal termotivasi untuk mengerjakan tugasnya sebaik mungkin. “Makanya jangan kaget kalau 2-4 tahun mendatang, mereka yang aktif menjawab pertanyaan di milis akan cakap menulis artikel, buku, bahkan jadi produsen pengetahuan itu sendiri,” kata Onno bercita-cita.
Untuk mewujudkan itu, sekolah harus terkoneksi internet. Tidak lama kok. Paling 15-30 menit per hari, untuk mengambil dan mengirim email. Selebihnya aktivitas berkomputer bisa menggunakan jaringan lokal (Local Area Network-LAN) saja. “Dengan begitu, beban biaya untuk internet bisa ditekan menjadi Rp 45.000-100.000 per bulan,” kata Onno. Tapi kalau pihak sekolah mampu, koneksi bisa dilakukan 24 jam.
Jelas, sekolah harus punya modal awal untuk program ini. Idealnya, sih Rp 20 juta. Ini untuk membeli 10 perangkat komputer Pentium III kelas bawah yang harganya sekitar Rp 1,5 juta. Sembilan komputer dijadikan workstation dengan konfigurasi LAN, dan satu unit lainnya sebagai mail server lokal.
Jika ongkos koneksi internet Rp 10.000 per jam, dan tiap siswa dibebani iuran Rp 3.000 per bulan (asumsi saja, satu sekolah ada 700 siswa), maka menurut hitung-hitungan Onno, sekolah akan balik modal dalam satu tahun.
Tapi kalau mau sedikit berpayah-payah, sebenarnya banyak institusi menawarkan bantuan komputer bagi sekolah-sekolah. Sebut saja program One School One Lab (OSOL) yang diusung Kementrian Komunikasi dan Informasi atau program Sekolah 2000 yang diadakan Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII).
Belum lagi kalau komputer murah PCRI jadi diluncurkan. Nah, program IG2S bakal melengkapi itu semua. Artinya, kolaborasi OSOL, IG2S, PCRI dan Sekolah 2000 APJII, akan mempercepat penetrasi internet yang masih ngaret. Ujung-ujungnya, kesenjangan digital (digital divide) bisa dikurangi. Selain menyediakan jasa pelatihan, IG2S juga memfasilitasi ketersediaan layanan internet di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia .
Menurut Suryatin Setiawan, Direktur Bisnis Jasa Telkom, pihaknya memberikan diskon menarik pada sekolah yang ikut IG2S. “Besarnya antara 25-40 persen,” kata Suryatin. Artinya, jika ongkos koneksi internet dengan TelkomNet Instant Rp 165 per menit, pihak sekolah cukup membayar Rp 100 per menit. Potongan yang cukup lumayan.
Program IG2S dicanangkan secara nasional akhir Mei lalu. Tujuannya, apa lagi kalau bukan untuk mempersempit kesenjangan digital. Menurut Suryatin, dari 70 ribu desa yang tersebar di seluruh Indonesia, kurang dari sepertiganya yang punya layanan internet. “Angka ini sebanding dengan minimnya sekolah yang punya fasilitas teknologi informasi,” katanya.
Yang Muda, Yang Berinternet
Mengapa PT Telkom membuat program Internet Goes to School (IG2S)? Ini dilakukan tidak lain karena para pengguna internet adalah orang-orang sekolahan. Ini terungkap dari riset PT Telkom pada Nopember 2003 bahwa sebagian besar pengguna internet di Indonesia berpendidikan di atas sekolah menengah atas (SLTA). Dari 1.500 responden yang mengikuti riset di tujuh kota besar, hampir 97% pengguna telah menyelesaikan pendidikan menengah atas, bahkan 42,4% lulusan S1.
Berdasarkan data tadi terlibat bahwa pengguna internet di Indonesia merupakan masyarakat berpendidikan yang memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk menggunakan browser dan setting akses internet yang mudah. Mereka juga mampu memahami perintah dasar internet yang sederhana dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Misalnya, untuk membuat dan mengirimkan email dan chatting. Mereka juga mampu mempelajari hal baru, khususnya yang berkaitan dengan teknologi informasi (TI), baik secara mandiri maupun lewat pihak lain.
Yang menggembirakan, pengenalan terhadap internet sudah agak lama. Dari riset itu terbukti, jumlah pengguna internet dari kelompok usia muda (17-30 tahun) yang mulai menggunakan internet kurang dari lima tahun mencapai angka 70%. Dari kelompok usia tersebut, rata-ratanya mereka sudah memakai internet selama empat tahun. Ini tak lepas dari perkembangan perusahaan penyedia jasa internet (ISP) yang tumbuh bagai cendawan di musim hujan. TelkomNet Instan yang mulai melayani tahun 1998 misalnya, kini menjangkau lebih dari 180 kabupaten/kota.
Apa yang dilakukan pengguna internet kelompok usia muda itu? Sebagian besar mereka memanfaatkan internet untuk kepentingan komunikasi elektronik, baik melalui email, chatting maupun instant messaging. Sementara untuk komunitas yang lebih muda, bermain game online lewat internet seperti Ragnarok Online juga mendapatkan porsi yang lumayan (lihat tabel 2).
Yang juga menarik, dari riset itu terungkap pola perilaku belajar atau memahami internet para pengguna internet. Sebagian besar pengguna internet muda mendapatkan pengetahuan tentang internet lewat proses belajar mandiri (coba-coba dengan bantuan bahan bacaan) atau melalui proses tanya jawab dengan teman atau keluarga (lihat tabel 3). Maraknya informasi tentang internet online maupun dari buku atau majalah membuat sumber informasi pembelajaran internet secara mandiri. Faktor keluarga dan teman sebagai orang yang lebih dulu tahu tentang internet, akan menjadi kunci sukses penetrasi internet sekolah. KI |
Pencanangan ini menyusul sukses uji coba IG2S di Divisi Regional (Divre) III, wilayah Jawa Barat dan Banten. Ada 9.331 siswa dan guru dari 513 SMU di Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Sukabumi, Cianjur, Garut, Subang, dan Rangkasbitung, diberi pelatihan internet gratis seminggu. Bahkan, Pemda juga mengirimkan pegawainya ikut serta.
Di Bali, 15 Musyawarah Kelompok Kepala Sekolah (MKKS) dari sembilan kabupaten/kotamadya di sana sudah mulai menikmati IG2S sejak pertengahan bulan lalu. Tiap SLTA di sana ditawari bantuan penyediaan komputer lewat kredit lunak maksimal Rp 50 juta dengan bunga empat persen per tahun. Pelatihan dan instalasi LAN pun diberikan gratis.
Di Jawa Timur, IG2S yang dimulai tahun 2002 ini berhasil menggandeng 71 sekolah dan pesantren. Mereka, selain menggunakan akses dial up TelkomNet Instan, program TelkomNet Sekolah diperluas dengan menggunakan fasilitas akses broadband berbasis ADSL (asymmetric digital subscriber line). Dengan akses ini, komunitas sekolah akan bisa menikmati akses internet yang cepat, baik dan selalu terhubung (always on).
Telkom tidak setengah-setengah menjalankan IG2S. Setelah proses pembelajaran internet dan insentif biaya akses murah bagi sekolah dan kampus, Telkom memberi alternatif media yang dapat diakses oleh komunitas pendidikan di internet. Dari sini, lahirlah dua portal pendidikan sebagai media informasi tidak hanya bagi siswa, guru dan sekolah, tetapi juga alumni yang mau menyambung silaturahmi. Dua portal itu adalah Komunitas Sekolah Indonesia (http://ksi.plasa.com) dan Sekolah Online (http://www.sekolah-online.net).
KSI merupakan wujud keterlibatan PT Telkom dalam proses pemberdayaan komunitas sekolah di Indonesia lewat internet. Enaknya, fasilitas KSI bisa dinikmati gratis. Di dalamnya, ada fasilitas direktori sekolah, keanggotaan, antar kita dan kalender kegiatan sekolah. Saat ini, KSI sudah memiliki 122.427 anggota siswa dan alumni yang terdaftar dari 79.320 sekolah yang ada di Indonesia .
SekolahOnline.net dibuat sebagai media pendidikan yang diharapkan dapat membantu mendongkrak mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia . Tujuannya, SekolahOnline akan menjadi media penghubung antara siswa, guru, orangtua dan pihak yang berkompeten dalam membantu proses belajar mengajar. Di dalamnya, ada fasilitas direktori sekolah, berita dan pengumuman sekolah, pojok sekolah dan majalah dinding. Situs ini telah menjadi salah satu acuan program try out UMPTN Online serta pendaftaran dan penerimaan siswa baru.
Di tingkat nasional, PT Telkom juga punya komitmen dalam hal pendanaan. Tahun ini saja di Divre II, yang meliputi wilayah Jabotabek, menyediakan dana Rp 2 milyar. Duit sebesar itu digunakan untuk mengadakan pelatihan, pembebasan biaya pemasangan jaringan (network) dan penyediaan space data hingga 200 MB.
Sayang, di tempat lain, dana yang tersedia tidak sebesar itu. “Divre lain skalanya lebih kecil,” kata Suryatin. SLTA di seluruh Indonesia menjadi sasaran utama program ini. Menurut Suryatin, selain jumlahnya lebih sedikit, SLTA memiliki fasilitas penunjang relatif lebih baik daripada sekolah jenjang SLTP atau SD. Jika seluruh sekolah SLTA ini bisa dijangkau program ini, lebih-lebih sampai ke jenjang SLTP dan SD, pengguna internet di Indonesia akan terdongkrak dalam tempo singkat.
Umur dan Lama Menggunakan Internet
Uraian |
17-20 tahun (%) |
21-30 tahun (%) |
Kurang dari 1 tahun |
3,8 |
3,4 |
1-5 tahun |
82,1 |
65,4 |
6-10 tahun |
14,1 |
30,2 |
>10 tahun |
0,0 |
1,0 |
Total |
100,0 |
100,0 |
Rata-rata |
3,50 |
4,41 |
Umur dan Penggunaan Internet
Uraian |
17–20 tahun (%) |
21–30 tahun (%) |
e-mail |
87,5 |
92,9 |
Mencari informasi |
87,5 |
89,1 |
Download (lagu dll) |
39,7 |
43,9 |
Chatting |
53,3 |
32,3 |
Game |
23,4 |
9,1 |
Melakukan transaksi |
2,7 |
7,1 |
Tugas sekolah |
2,2 |
0,3 |
Pengiriman data |
0,0 |
0,4 |
Membuat website |
0,5 |
0,5 |
Mengedit data |
0,0 |
0,4 |
Total multirespon |
297,8 |
278,3 |
Umur dan Cara Belajar Internet
Uraian |
17–20 tahun (%) |
21–30 tahun (%) |
Belajar mandiri |
48,9 |
50,3 |
Diajari teman/keluarga |
41,3 |
37,7 |
Buku referensi |
1,1 |
3,8 |
Kampus/sekolah |
6,5 |
4,9 |
Majalah |
1,6 |
3,1 |
Televisi |
0,5 |
0,0 |
Tabloid |
0,0 |
0,1 |
Total |
100,0 |
100,0 |
Toh, meski terdengar lancar-lancar saja, program ini banyak menghadapi kendala. Sebut saja soal ketersediaan listrik. Untuk yang satu ini Telkom mengusahakan kerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) agar memberi harga khusus. Selain itu, “Sebagian orang melihat dunia internet hanya sekedar main game dan sarana kejahatan,” ujar Judith Lubis, Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Warnet Indonesia .
Sebenarnya IG2S sudah dirintis sejak 2002 melalui pembuatan warung internet di sekolah-sekolah. Hingga 2004, di Divre II, yang meliputi wilayah Jabotabek saja, tercatat sudah 390 sekolah dan 53.400 siswa menikmati IG2S ini. Salah satunya SMU Negeri 1 Jakarta.
Menurut Abdullah Tiahara, Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan SMU 1 Jakarta, pihaknya telah bekerja sama dengan Telkom sejak 2002. “Kita yang datang ke sana karena kita yang butuh,” ujar Tiahara. Sekolah di Jakarta Pusat ini kemudian membuat warnet yang dilengkapi ruang audio visual.
Tiap siswa yang ingin berselancar di dunia maya, cukup membayar Rp 5.000 per jam. Sayang, warnet yang hanya terdiri dari empat unit komputer itu cuma bertahan selama enam bulan. “Anak-anak lebih suka sewa di luar, lebih bebas,” kata Tiahara
Pihak sekolah kemudian berinisiatif membuat laboratorium khusus komputer. Dengan bantuan dana dari pemerintah, orang tua murid, dan alumni, akhirnya terbeli 40 unit komputer setara Pentium III. Sedang untuk akses internet, kembali SMU 1 kerja sama dengan BUMN pelat merah tadi: Telkom. “Telkom menyediakan akses internet tak terbatas selama 24 jam tiap hari dan pemeliharaan berkala,” kata guru sejarah ini. Pihak sekolah harus membayar Rp 4,5 juta per bulan untuk layanan ini.
Staf pengajar dan karyawan di sana juga mendapat pelatihan kilat selama tiga jam dari Telkom. Mereka diajari cara membuka dan membuat email, browsing, serta menyalin (copy) materi dari internet hingga bisa dicetak.
Kini, para siswa di SMU 1 bisa menikmati akses internet sepuasnya, tidak hanya 2x45 menit saat pelajaran teknologi informasi saja. Bahkan tiap jam bebas, laboratorium yang kini sudah memiliki 80 unit komputer ini selalu ramai. “Siswa kita beri waktu sampai pukul 18.00,” jelas Tiahara.
Para guru fisika, biologi, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, bahasa Inggris, dan sejarah juga sudah mulai menggunakan internet sebagai alat bantu. “Sangat menunjang agar pelajaran tidak hanya ngomong saja,” katanya lagi. Untuk menikmati itu para siswa ‘hanya' dibebani Rp 15.000 per bulan. Biaya ini sudah termasuk dalam iuran sekolah Rp 185.000 yang mereka bayar per bulan. Siapa menyusul? KI
Foto: dok. ebizzasia
|