Perkembangan jumlah pengguna telepon seluler (ponsel) meningkat jauh lebih cepat dari telepon rumah, terutama karena pilihan operator dan layanannya juga semakin banyak. Dari segi operator, Indonesia kini memiliki beberapa operator besar, seperti Telkomsel, sebagai pionir, Satelindo, Excel Pratama yang layanannya berbasis GSM ( global system for mobile communication ), yang kemudian meningkat dengan adanya layanan data berbasis GPRS ( general packet radio service ) dan EDGE ( enhance data rate for GSM evolution ).
Belakangan Telkom membangun layanan berbasis CDMA dengan teknologi yang semakin canggih dan kecepatan transfer data yang lebih tinggi, rata-rata 500-800 Kbps , yakni CDMA2000 1X-EVDO ( evolution data optimized ). Hingga saat ini, tercatat ada tiga operator yang menggunakan teknologi CDMA2000-1X, teknologi yang masuk dalam kategori telekomunikasi 3G (generasi ketiga) ini.
Telkom dengan TelkomFlexi-nya menawarkan telepon murah yang setara dengan pulsa telepon rumah dengan lisensi nirkabel tetap. Selain itu, ada Eisa milik Kelompok Bakrie yang sebelumnya menjalankan layanan telekomunikasi dengan merek Ratelindo. Satu lagi, adalah Mobile-8 Telecom, anak perusahaan Bimantara, yang mengusung merek Fren.
"Kami terus melakukan edukasi untuk mengubah paradigma dari sekadar mengirim suara, SMS, men- download nada dering, dan latar belakang ( screen saver ) menjadi mengirim data," ujar Tom Alamas Dinharsa, Director and Chief Marketing Officer PT Mobile-8 Telecom. Ini bisa dimaklumi, karena sejauh ini persepsi konsumen bahwa piranti telekomunikasi masih dominan sebatas untuk komunikasi suara, sedang komunikasi data belum begitu populer.
Banyaknya jumlah operator , juga jenis-jenis layanan yang menarik, misalnya saja konten-konten baru terus dikembangkan, semakin mendorong peningkatan jumlah pengguna ponsel, termasuk juga PDA ( personal digital assistant ) yang dipadukan dengan ponsel, di tanah air. Saat ini, tak kurang dari 15 juta orang telah menggunakan ponsel, atau sekitar 7 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang 215 juta jiwa.
Meski penggunaannya tak lagi sebatas komunikasi suara, melainkan telah berkembang ke komunikasi data, baik yang berbasis teks (SMS, short message service ) maupun multimedia (MMS, multimedia message service ), namun intensitasnya masih relatif sedikit.
Padahal, banyak kalangan praktisi yang memperkirakan bahwa dengan semakin gencarnya konvergensi, maka ponsel akan menjadi populasi penggunanya semakin meningkat dan kemampuannya juga semakin luas dan berkapasitas lebih besar. Ke depan, ponsel yang telah terkonvergensi itu akan menjadi perangkat yang sangat handal dan berdayaguna dalam berbagai keperluan, misalnya saja dari komunikasi suara, komunikasi data, kirim email, koneksi internet hingga sebagai organizer dan dengan dukungan teknologi yang semakin canggih. Koneksi nirkabel pun tampaknya semakin dimungkinkan, karena saat ini ada beberapa vendor yang telah mengembangkan ponsel berbasis Wi-Fi misalnya.
Namun, kalau kita lihat perkembangannya di Indonesia , peningkatan jumlah pengguna ponsel, belum pada saat yang sama, seiring dengan meningkatnya jumlah dan variasi konten, yang banyak kalangan percaya, kekayaan konten akan menjadi basis persaingan layanan ponsel ke depan.
Di Indonesia, boleh dikata konten lokal masih belum berkembang dan penyedia konten juga tampaknya belum cukup diberi peluang yang kondusif dan luas oleh para operator yang ada. Meski di banyak operator yang berkembang di negara-negara lain konten dianggap sebagai salah satu penunjang bisnis operator seluler, sementara di Indonesia kalangan operator belum menganggap penyedia konten sebagai mitra sinergi dalam menggaet pelanggan. Opeartor masih melihat dirinya sebagai postur yang sangat powerful dalam bisnis seluler, sedang penyedia konten local belum sebagai mitra bisnis yang sejalan.
Kurangnya konten-konten local yang kaya akan variasi dan jenisnya itu, pada saat yang sama berdampak pada penggunaan ponsel yang masih lebih banyak untuk keperluan komunikasi suara, yakni 80 persen, sedang 20 persen lainnya untuk SMS atau MMS. Dua penggunaan inilah yang masih cukup dominan dalam memberi penghasilan kepada para operator.
Lemahnya perkembangan konten lokal ini, juga berdampak, baik terhadap operator dalam upaya meningkatkan jumlah pengguna dan penggunaan ponsel, para vendor yang produk-produknya sudah menyediakan fitur-fitur yang sangat beragam, maupun terhadap kreativitas pembuatan dan bisnis konten lokal.
Di sisi lain, ada sejumlah praktisi penyedia konten yang optimis melihat perkembangan penggunaan ponsel, yang diperkaya oleh konten lokal, di Indonesia. Ke depan, pertumbuhan konten lokal akan meningkat, meski tak begitu besar. Dan hal itu, seperti dinyatakan Kendro Hendra, Managing Director inTouch Wireless Services , kepada wartawan bahwa pertumbuhan layanan data yang memacu bisnis penyedia konten tidak lepas dari populasi pengguna ponsel dan jaringan operator yang semakin baik dan luas.
Sebenarnya, tuntutan terhadap konten, khususnya konten lokal, sejalan dengan semakin meningkatnya kemampuan dan layanan yang disediakan oleh para operator, misalnya dengan diterapkannya teknologi terkini, seperti GPRS ( general packet radio service ) dan EDGE ( enhanced data rate for GSM evolution ), yang dianggap akan menjadi pendorong tumbuhnya konten lokal.
Namun, harus tetap diingat bahwa ketersediaan infrastruktur maupun operator, pada saat yang sama tidak serta merta menjamin meningkatnya jumlah penyedia konten lokal. Meski saat ini penggunaan ponsel sudah mulai melebar dari komunikasi suara ke komunikasi data, namun dari segi jumlah masih relatif belum besar kebutuhannya. Saat ini, ringtones dan logo yang boleh dikata lebih dominan dicari oleh para pengguna ponsel, yang sebagian besar berasal dari kalangan muda dan remaja.
Dalam kondisi seperti itu, seperti dinyatakan Kendor yang sudah malang melintang menekuni aspek piranti lunak aplikasi di ponsel sejak bertahun-tahun lalu, bahwa sebenarnya konten bisa diperoleh dari beberapa cara, pertama dengan membeli konten dari penyedia konten, membuat sendiri atau bertukar atau menerima dari rekan yang telah membeli konten. Ketiga hal ini banyak dilakukan oleh kalangan remaja, yang boleh dikata menjadi barometer penggunaan ponsel, tidak hanya di Indonesia melainkan juga di mancanegara.
Saat ini, tampaknya para penyedia, yang jumlah masih relatif sangat sedikit, masih memiliki peluang yang sangat luas dalam mengembangkan bisnis mereka di masa datang, asal saja konten-konten yang dikembangkan, selain menarik juga murah dan tersedia dalam banyak variasi harga dan jenis.
Namun, di sisi lain, mengharapkan begitu saja meningkatnya para pengguna ponsel yang tertarik dengan konten lokal, bukan saja sangat naif, tetapi juga tidak kondusif. Para operator, begitu juga para penyedia konten juga harus berinisiatif memberi edukasi kepada para pengguna ponsel, baik menyangkut konten, maupun terutama ponsel yang telah memiliki fitur dan teknologi yang jauh lebih canggih, sehingga optimalisasi pemanfaatannya semakin meningkat.
Salah satu contoh menarik adalah apa yang terjadi di Jepang. Negara matahari terbit ini, memang tidak menerapkan standar komunikasi berbasis teknologi GSM, sebagaimana banyak digunakan di negara-negara Asia lainnya. Jepang menerrapkan, antara lain: PDC ( personal digital cellular ) yang berbasis teknologi yang hampir sama dengan GSM, dan operatornya NTT DoCoMo. Selain itu, juga ada J-Phone, yang menggunakan teknologi PHS ( personal handyphone system ). Yang mengoprasikan teknologi CDMA2000-1X, hanya KDDI.
Namun, kalau dilihat dari jumlah penggunannya, Jepang boleh dikata memiliki basis pengguna yang besar. Hingga akhir 2005 mendatang, pengguna CDMA diperkirakan akan mencapai 22,5 juta pengguna, sedang pengguna ponsel, tahun 2002 lalu sudah mencapai 72,5 juta nomor seluler. Dengan jumlah penduduk sekitar 127 juta jiwa, Jepang memiliki kepadatan telepon tetap 39,8 persen, sedang ponsel melebihi 50 persen.
Berbeda dengan di negara-negara Asia lainnya, perkembangan konten lokal di Jepang meningkat sangat pesat, bahkan boleh dibilang sangat dominan, karena memang jumlah konten asing tidak banyak berkembang. Selain karena adanya kebanggan nasional bangsa Jepang terhadap produk sendiri, juga kreativitasnya berkembang luar biasa, sehingga begitu juga bisnisnya.
Dalm kondisi semacam itu, kalangan operator tidak lagi merasa terpisah dari industri konten lokal, melainkan merupakan mitra bisnis yang sangat kuat sinerginya dalam upaya bersama memenuhi kebutuhan para pengguna ponsel yang menjadi pelanggan mereka.
Sebaliknya, kalau kita melihat ke dalam negeri, dengan jumlah penyedia konten yang baru sekitar 50 itu jelas sangat minim, apalagi kalau dibandingkan dengan Korea Selatan atau Jepang. "Di Jepang dan Korea Selatan jumlahnya bisa mencapai angka 10 ribu penyedia konten," ujar S. Wimbo S. Hardjito, Senior Vice President Customer Service Indosat IM3 . Meski diakuinya, Indonesia sasungguhnya sangat potensial dalam pengembangan konten lokal itu, bukan saja karena jumlah penduduk yang besar, pengguna ponsel yang terus meningkat, melainkan terbukanya kreativitas yang luas dengan berbagai kekayaan alam dan budaya menjadi setting pembuatan konten lokal.
Ke depan, tampaknya perlu ada kemitraan strategis antara para operator dengan para penyedia dan pebisnis konten lokal ini, kalau tak mau “dijajah” para penyedia konten asing. Masalahnya bukan anti asing, melainkan bagaimana potensi yang sangat besar yang kita miliki dapat dioptimalkan, bahkan bukan saja untuk keperluan pasar lokal, melainkan pasar mancanegara, terutama dimana “titik temu budaya serumpun” dapat dijadikan sebagai titik singgung kreativitas yang secara nilai lebih mendekati.
Di sisi lain, konten-konten yang dikembangkan pun tak melulu yang terkait dengan berita ( news ), nada dering, melainkan yang lebih menarik terutama bagi pasar anak-anak muda, yang memang sangat dominan dalam “mengonsumsi” konten-konten di ponsel.
Secara tipikal, memang para penyedia konten, terutama di mancanegara, menawarkan layanan antara lain berupa berita, informasi transpor, keuangan, games , hiburan, pendidikan, nada dering, hiburan khusus orang dewasa dan lain sebagainya. Yang saat ini sangat terkenal di dunia, antara lain: Cybird (Jepang), Digital Bridges dan iTouch (Inggris), Ludigames (Perancis), Mforma, Disney, Infospace yang berasal dari Amerika Serikat, dan Zed (Finlandia). Cybird berhasil menggaet tak kurang dari 3,2 juta pelanggan dengan pangsa pasar senilai USD 142 juta, yang menyediakan sekitar 60 jenis layanan untuk semua operator yang ada di Jepang.
Dapatkah para penyedia konten lokal di Indonesia bersinergi dengan kalangan operator untuk terus mengembangkan kreativitas dan bisnis konten ini ke depan? Masalahnya memang tidak terkait hanya pada satu aspek, melainkan juga aspek lain yang berada di luarnya, misalnya iklim bisnis dan para pengguna ponsel yang meminati konten lokal itu sendiri. Namun, karena peluangnya terbuka luas, tak hanya sekedar di Indonesia , mestinya hal itu akan semakin mendrorong para pemain lokal bisnis konten ini berkembang lebih pesat dan jumlah pemainnya semakin meningkat.
Gebrakan PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo) yang diharapkan akan dapat merangkul sekitar 100 penyedia konten layanan data pada tahun 2005 mendatang, dari yang sekarang ini baru sekitar 50 penyedia saja, setidaknya menjadi inisiasi yang menarik sebagai pendorong maraknya bisnis penyedia konten lokal ke depan.
Foto: dok. ebizzasia
|