Mengaku kecemplung di Telkom karena alasan latar belakang pendidikan Ekonomi Manajemen, UNPAD, yang tak terkait dengan bidang telekomunikasi, ibu dua anak bernama lengkap Septika Noegraheni Widyasrini , ini justru kini sangat menikmati pekerjaannya. Wanita enerjik yang dipanggil “Tika”, yang terkesan lugas dan terbuka ini, kini menjabat sebagai Kepala Divisi Telkom Multimedia, PT Telkom Tbk.
“Meski nyasar jauh, namun menariknya di Telkom ini saya menghadapi tantangan yang sangat bervariasi, dan itu menarik. Saya selalu dihadapkan dengan tantangan yang berbeda-beda, sesuai dengan jabatan yang disandang sebelumnya, hingga yang kini saya pegang. Dan saya suka tantangan,” ujar Tika menjelaskan.
Berbagai tantangan itulah yang kemudian menghantarkannya sebagai wanita pertama di lingkungan Telkom yang berhasil menyabet jabatan Kakandatel. “Dulu itu, saya ditugaskan sebagai Kakandatel Cianjur di masa kepemimpinan Pak Cacuk (alm Cacuk Sudaryanto). Dan, saya pula Kakandatel pertama yang tidak berasal dari lingkungan teknis,” tambah Tika lagi. Posisi itu dijalaninya selama satu setengah tahun, sebelum kemudian ditugasi berbagai jabatan lainnya.
Tantangan itu pula yang menurut Tika mendorongnya untuk belajar banyak mengenai berbagai persoalan di Telkom. Dengan posisi sebagai Kakandatel, tentu tantangannya cukup berat, yakni bagaimana mendatangkan uang untuk perusahaan. Artinya, saya harus berkenalan dengan bagaimana mencari pelanggan, memahami berbagai aspek yang terkait dengan billing dan, pada saat yang sama, juga harus mengelola banyak orang.
Namun, kini dengan jabatan yang lebih tinggi, Tika juga menghadapi banyak tantangan baru, baik internal di lingkungan Telkom, maupun ke luar yang berkait dengan pelanggan maupun mitra bisnis. Salah satu tantangan yang dihadapinya saat ini adalah, terutama bahwa Telkom kini dalam proses bermigrasi dari hanya sekedar menyediakan layanan suara yang telah menjadi kompetensinya selama berpuluh tahun, kini menuju ke kompetensi infokom (informasi dan komunikasi).
“Tantangannya jelas tidak sederhana. Meski Telkom memiliki berbagai kapabilitas yang terkait dengan itu, migrasi ini kan terkait dengan migrasi kompetensi. Artinya bagaimana membawa banyak orang, terutama di dalam untuk memahami proses ini, dan pada saat yang sama memberi layanan yang kini dibutuhkan masyarakat,” jelas Tika lebih lanjut.
Tetapi, ke depan, dengan tantangan yang lebih besar, Telkom kan hanya berpikir tentang dirinya sendiri, melainkan bagaimana masyarakat, terutama pengguna layanan juga semakin memahami perkembangan yang ada. Peran edukasi, juga dilakukan oleh Telkom. Salah satunya, misalnya saja pengembangan program “Internet goes to school”, itu kan merupakan upaya Telkom untuk juga meningkatkan kesadaran, terutama di lingkungan anak-anak sekolah, agar melek Internet.
Saat sekarang ini, kalau kita perhatikan lingkungan di sekitar kita, misalnya di lingkungan perkantoran, kan sudah banyak orang yang memanfaatkan berbagai layanan infokom, misalnya saja SMS, MMS atau lainnya. Namun, masyarakat kan juga perlu tahu bahwa sekarang ini telah tersedia jejaring komunikasi data berkecepatan tinggi, yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, apakah itu terkait dengan kerja, bisnis dan sebagainya. Telkom sendiri, selain membangun TelkomFlexi, belum lama ini juga meluncurkan layanan Speedy, layanan komunikasi data berbasis broadband .
“Saya optimis kalau melihat semakin banyak saja masyarakat kita yang mulai memanfaatkan Internet dan komunikasi data, baik dengan menggunakan komputer, ponsel maupun PDA, selain tentunya menggunakan layanan suara.
ekerja dalam lingkungan sebagai penyedia layanan infokom, membuat Tika juga membutuhkan komunikasi yang intens dengan lingkungan kerjanya, yang sudah tentu pula dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, perangkat dan jenis layanan semacam itu. “Saya menggunakan berbagai perangkat, misalnya ponsel, dan PDA untuk berkomunikasi. Agar lebih mudah dan lancar, saya tentu mengharapkan tim saya juga memanfaatkan kapabilitas itu,” tambah Tika.
Foto-foto: Muflihun
|