CHINA
Bisnis Lelang Online Semakin Marak
Sekalipun dibayangi masalah keamanan transaksi dan metoda pembayaran yang terbilang masih “tradisional”, bisnis lelang melalui Internet di China tetap eksis, bahkan semakin menggiurkan. Menurut laporan Shanghai iResearch, nilai pasar lelang online China tahun 2003 lalu sebesar 1,92 miliar yuan atau sekitar 2,1 triliun rupiah. Tahun ini diperkirakan meningkat sekitar 75 persen menjadi 3,37 miliar yuan atau sekitar 3,8 triliun rupiah.
Jumlah penggunanya pun meningkatan cukup pesat. Menurut Bo Shao, pendiri dan CEO eBay EachNet, situs lelang online terbesar China, jumlah pengguna yang memanfaatkan jasa lelang melalui situsnya pada triwulan kedua tahun ini tumbuh menjadi 6,9 juta pengguna, atau meningkat 1,4 juta dibandingkan triwulan sebelumnya. Total nilai barang yang diperdagangkan pada triwulan kedua menjadi 63 juta dolar atau sekitar 586 miliar rupiah, atau tumbuh 28 persen dibanding triwulan pertama.
Berdasarkan perolehan itu, Bo memroyeksikan volume perdagangan yang dilakukan melalui situsnya selama tahun ini akan mencapai 2 miliar yuan. Nilai sebesar itu akan menjadikan eBay EachNet sebagai pemain terbesar lelang online di China, dengan pangsa pasar sebesar 60 persen. Selain eBay EachNet, yang diakuisisi oleh raksasa lelang online AS eBay tahun lalu, operator lelang online China lainnya adalah 1Pai yang dibekingi Yahoo dan Taobao oleh Alibaba.
Menurut penuturan Bo kepada harian The Standard, Hong Kong, maraknya lelang online ini disebabkan model bisnisnya sangat cocok untuk kondisi China, yang pasarnya kurang efisien. “Usaha kami ini bisa menjadikan pasar-pasar itu lebih efisien, selain juga meningkatkan arus perdagangan antar wilayah di China , sekaligus wadah bagi usaha kecil dan menengah,” ujarnya.
Sekalipun marak, pertumbuhan lelang online masih terkendala infrastruktur ecommerce yang belum memadai. Untuk pembayaran misalnya, ujar Bo, bisnis lelang online China masing mengandalkan wesel pos dan transfer bank, sementara pembayaran melalui kartu kredit prosentasenya terbilang kecil. “Pengguna memilih berdagang secara online karena faktor kenyamanan, keamanan dan kecepatannya. Penggunaan kartu kredit yang lebih banyak akan mendorong jumlah transaksi, dan menjadikan model lelang online ini lebih menarik bagi para pengguna,” ujarnya.
Sementara itu, Henry Yang, general manager Shanghai iResearch , juga sependapat bahwa metoda pembayaran dan keamanan transaksi merupakan dua faktor utama yang menghambat pertumbuhan bisnis lelang online . “Untuk China , dibutuhkan sekitar dua sampai tiga tahun sebelum industri ini mapan dan memberikan pendapatan positif bagi operatornya,” ujar Yang kepada Standard.
Yang juga menambahkan bahwa operator situs lelang online juga sangat perlu menambah pengamanan transaksi online untuk mendorong lebih banyak pengunjung. Selain itu, menurut Bo, kebijakan penjaminan untuk seluruh barang-barang yang diperdagangkan, yang menjamin barang sampai ke tangan pembeli segera setelah validasi pembayaran juga merupakan faktor penting untuk mendorong pertumbuhan lelang online .
INDIA
Gelar broadband ke rumah-rumah
Videsh Sanchar Nigam Limited (VSNL), perusahaan penyedia jasa telekomunikasi yang dimiliki perusahaan TI nomor satu India , Tata, belum lama ini meluncurkan akses broadband cable di Mumbai. Layanan ini merupakan tahap pertama penyediaan akses broadband untuk rumah tangga ke 30 kota di seluruh India untuk dua tahun mendatang.
Layanan Internet broadband ini akan disalurkan melalui jaringan televisi kabel yang sudah ada. Para pejabat VSNL mengatakan bahwa layanan ini ditawarkan dengan model pra-bayar. “Tergantung pada kebutuhan, bisa saja nantinya kami akan memberikan opsi paska-bayar,” kata mereka.
VSNL menargetkan pendapatan sekitar 73,5 juta dolar AS dari broadband . Layanan broadband VSNL ini ditawarkan dengan harga 7,5 dolar, atau sekitar 70 ribu rupiah per bulan untuk kecepatan akses 512 kbps.
Menurut Ratan Tata, chairman VSNL, pihaknya juga akan memperkenalkan layanan bandwidth on-demand . “Kami akan fokus pada penyediaan sambungan broadband . Selama tahun ini, kami telah mengambil alih aset Dishnet senilai 57 juta dolar, selain juga membeli hak penggunaan jaringan serat optik sepanjang 23.000 km dari Bharti,” ujar Tata.
Lebih jauh Tata menjelaskan bahwa langkah penyediaan akses broadband ini tak terlepas dari sasaran perusahaan tersebut untuk menjadi penyedia total connectivity . “Kami bertekad menjadi penyedia layanan triple play (voice, data dan video),” katanya. “Saat ini, lebih dari 60 persen pendapatan VSNL berasal dari layanan teleponi. Penggelaran broadband ini diharapkan bisa memberikan revenue stream baru.”
KOREA
Siap gelar broadband convergence network
Korea tak lama lagi akan menikmati jaringan broadband generasi baru dengan ditunjuknya tiga konsorsium, masing-masing dipimpin oleh Telecom Co., KT Corp. dan Dacom Corp., untuk melakukan uji coba pengoperasian jaringan yang mengkonvergensikan layanan telekomunikasi dan siaran ( broadcast ). Uji coba ini sendiri akan dimulai awal tahun depan.
Broadband convergence network (BcN) ini dirancang untuk menyediakan akses Internet kecepatan tinggi (50 sampai 100Mbps), atau sekitar 50 kali lebih cepat dibandingkan layanan konvensional, dengan cakupan nasional.
Infrastruktur jaringan ini diharapkan akan menyediakan backbone untuk layanan komunikasi dan komputasi di masa depan, seperti Internet protocol version 6 (IPv6), mobile telephony generasi baru, teknologi radio-frequency identification (RFID) dan solusi-solusi maju lainnya.
Uji coba pengoperasian yang akan berlangsung sampai akhir tahun 2005 ini akan difokuskan pada pengembangan layanan berdasarkan protokol VoIP dan IPv6, selain juga mengembangkan solusi-solusi interaktif, yang menggabungkan teleponi fixed-line dan nirkabel dengan siaran televisi digital. Sementara layanan komersialnya sendiri akan dimulai tahun 2006 mendatang.
Pemerintah Korea berharap BcN ini bisa menarik investasi setidaknya sebesar 58 miliar dolar AS sampai 2010. Selain akan menjangkau 20 juta rumah tangga, jaringan ini diharapkan menghasilkan pendapatan sebesar 97 miliar dolar AS dari penjualan peralatan, dimana 50 miliar dolar di antaranya berasal dari hasil ekspor, sampai 2010 mendatang.
Sementara itu, untuk uji coba, pemerintah Korea mengeluarkan dana sekitar 8 juta dolar AS, yang akan dibagi merata ke tiga konsorsium tersebut.
Konsorsium UbiNet, yang terdiri dari SK Telecom, LG Electronics dan Hanarotelecom, akan fokus pada pengembangan layanan home-networking berbasis IPv6, siaran mobile berbasis satelit dan layanan nirkabel generasi baru seperti W-CDMA. Konsorsium ini akan mengeluarkan dana sebesar 16 juta dolar untuk uji coba yang akan dimulai Juli 2005 mendatang, dan menjangkau 400 rumah di wilayah Seoul, Gyeonggi, Daejeon dan Busan.
Konsorsium Octave, yang dimotori KT Corp, Samsung Electronics dan beberapa perusahaan piranti lunak menginvestasikan sekitar 12 juta dolar untuk uji coba ini. Konsorsium ini akan fokus pada pengembangan teknologi untuk ecommerce berbasis televisi, solusi VoIP dan RFID. Uji coba akan digelar di sekitar 600 rumah di Seoul , Daejeon dan Gwangju mulai Agustus tahun depan.
Sementara itu, konsorsium Gwangaeto, yang dimotori Dacom, perusahaan carrier broadband fixed-line miliki LG Group dan Korea Institute of Science and Technology Information menginvestasikan sekitar 15 juta dolar untuk mengembangkan solusi VoIP dan security berbasis IPv6. Uji cobanya akan dimulai Juli tahun depan, mencakup sekitar 300 rumah di wilayah Seoul , Gyeonggi dan Busan.
MALAYSIA
Tantang India dan China Di Bisnis Outsourcing
India dan China boleh dibilang kini merupakan negara-negara penyedia jasa outsourcing paling hot. Namun, menurut sebuah penelitian yang dilansir perusahaan konsultan manajemen AT Kearney, Malaysia disebut-sebut mulai muncul sebagai pesaing tangguh dalam bisnis itu.
Dalam penelitian tersebut, Malaysia menempati posisi ketiga sebagai negara tujuan paling atraktif untuk outsourcing dan shared services , di belakang India dan China . Selain menjadi lokasi manufaktur dan call center , banyak perusahaan global yang menjadikan negara jiran ini sebagai basis shared service , misalnya untuk pemasaran atau berbagai fungsi TI untuk mendukung perusahaan-perusahaan tersebut di wilayah lain.
Menurut indeks offshoring yang dikeluarkan AT Kearney, India menempati posisi teratas berkat biaya tenaga kerja yang murah, selain juga memiliki pengalaman offshoring yang luas serta melimpahnya tenaga kerja terdidik. Sekalipun China membuntuti India dalam hal pengalaman dan kualifikasi outsourcing , India masih unggul dalam jumlah tenaga kerja terdidik dan biayanya yang murah.
Namun, faktor kuatnya dukungan pemerintah, infrastruktur yang dikembangkan dengan baik serta lingkungan bisnis atraktif yang dimiliki Malaysia membuat negeri ini muncul sebagai alternatif dari India dan China, kata Ooi Joon Leong dari AT Kearney kepada CnetAsia.
“Pemosisian Malaysia sebagai hub untuk layanan dan inovasi teknologi oleh pemerintahnya menyebabkan sejumlah perusahaan multinasional mulai melokasikan operasi global atau regionalnya di Malaysia,” ujarnya.
Selain itu, laporan AT Kearney menyebutkan bahwa Malaysia memiliki iklim politik dan ekonomi yang lebih baik, serta didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang konsisten. China misalnya, masih harus mengatasi masalah pembajakan hak kekayaan intelektual dan birokrasinya, ungkap laporan tersebut.
Namun, di sisi lain, Malaysia juga memiliki keterbatasan dalam jumlah maupun kualitas tenaga kerjanya, yang kemungkinan dapat menghalangi negeri ini untuk meraih pangsa pasar lebih besar di jasa TI dan business process outsourcing global. Menurut Ooi, nilai pasar outsourcing akan mencapai 750 miliar dolar di tahun 2006 mendatang.
Menurut Ooi , Malaysia diperkirakan harus bekerja keras untuk memenuhi jumlah tenaga kerja berkualitasnya. Ia mengambil contoh India , yang sistem pendidikannya mampu menelurkan sekitar dua juta lulusan yang mampu berbahasa Inggris dengan latar belakang pendidikan teknik yang kuat. Sementara Malaysia sendiri hanya sanggup menyediakan jumlah lulusan bidang TI dan teknik sekitar 75.000 per tahunnya, ungkap Ooi.
SINGAPURA
Aplikasi TI untuk komunitas masyarakat
Otoritas infokom Singapura, IDA, belum lama ini mengumumkan akan menggelar uji coba layanan berbasis TI yang digunakan untuk membantu tugas sehari-hari komunitas masyarakatnya. Layanan yang diberikan cukup luas, mulai dari pemantauan kesehatan warga usia lanjut, sampai pada tanda peringatan otomatis ketika terjadi tindak kriminal di lingkungan tertentu.
IDA dan 28 perusahaan yang tergabung dalam empat konsorsium siap mengucurkan dana sekitar 4,7 juta dolar AS untuk menggelar uji coba inisiatif yang dinamakan Connecting the Community ini. Uji coba dijadwalkan akan dimulai Februari 2005 mendatang, dengan melibatkan sekitar 2.500 pengguna.
Keempat konsorsium ini akan menguji berbagai aplikasi menggunakan teknologi yang sudah populer di masyarakat, seperti SMS dan Internet. Solusi-solusi yang diusulkan ini dibuat untuk memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan keluarga, komunitas khusus maupun komunitas umum.
Misalnya, suatu keluarga bisa memanfaatkan teknologi nirkabel, yang dipadukan dengan sensor bio-medis untuk membantu mengawasi kondisi anggota keluarganya yang sakit maupun berusia lanjut. Untuk komunitas khusus, misalnya sekolah, ada solusi yang memungkinkan orang tua memantau perkembangan anaknya di sekolah melalui pesan-pesan yang disampaikannya melalui SMS atau email. Sementara komunitas umum bisa memanfaatkan sarana information alert bersifat real-time , misalnya ketika terjadi tindak kriminal di lingkungannya.
Seperti diungkapkan Khoong Hock Yun, assistant chief executive IDA, tujuan digelarnya inisiatif ini adalah memanfaatkan teknologi infokom untuk mendorong munculnya solusi-solusi kreatif namun sederhana, yang bisa memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah yang dihadapi komunitas.
“Dengan demikian, kami berharap bisa membuat kehidupan warga sedikit lebih baik, lebih nyaman, dan pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup komunitas,” tegasnya.
Keempat konsorsium yang berpartisipasi dalam inisiatif Connecting the Community ini antara lain Bishan East Link, yang dimotori perusahaan jasa dan pengembang aplikasi TI Cyber Business Network; Golden Years Community, yang dibekingi salah satu perusahaan asuransi terbesar Singapura, NTUC Income. Sementara, dua lainnya adalah Paya Lebar Online, yang dimotori NCS Pte. Ltd., serta UniHome – One World, sebuah konsorsium yang dipelopori Universal Gateway International Pte Ltd.
Menurut IDA, Connecting the Community ini merupakan inisiatif kedua yang digelar di bawah payung program Connected Homes, yang dikonsepkan untuk penyediaan platform bagi kalangan industri untuk menguji coba, mengembangkan dan menggelar solusi-solusi TI terintegrasi untuk perumahan maupun komunitas. Inisiatif pertama, Connecting the Home, ujicobanya telah selesai bulan Maret lalu. Beberapa solusi yang dihasilkan, rata-rata berupa aplikasi Intelligent Home Automation and Control yang sudah mulai dikomersialkan ke berbagai kondominium yang tersebar di negeri pulau tersebut.
THAILAND
Gelar eGov Berbasis Web Service di Pusat-pusat Wisata
Badan promosi industri piranti lunak Thailand , atau Software Industry Promotion Agency (Sipa) bekerja dengan berbagai lembaga pemerintah menggelar proyek percontohan layanan e-government di Phuket. Wilayah ini tersohor sebagai salah satu tujuan wisata paling populer di negeri gajah putih tersebut.
Inisiatif yang dinamakan ePhuket One Stop Service ini bertujuan untuk mengintegrasikan informasi dan layanan dari berbagai departemen pemerintah untuk menyediakan semacam layanan satu atap bagi publik, demikian penuturan ketua Sipa, Manoo Ordeedolchest, kepada harian setempat.
“Phuket merupakan sebuah tempat dimana banyak para pebisnis dan ekspat menghabiskan akhir pekan dan liburannya. Kami ingin memfasilitasi kebutuhan mereka maupun warga kami dengan memanfaatkan Internet, arsitektur bersifat service-oriented dan teknologi web service ,” ujarnya.
Dalam masa percontohan, Sipa bekerja sama dengan para eksekutif pemerintahan propinsi untuk meluncurkan situs web, yang akan menyediakan formulir aplikasi surat izin mengemudi, pembaruan SIM, registrasi kendaraan bermotor dan pembayaran tagihan berbagai fasilitas publik. Institusi pemerintahan yang terlibat dalam proyek ini, antara lain departemen transportasi darat, kepolisian, departemen imigrasi, perusahaan penyedia fasilitas publik dan beberapa bank.
Faktor keamanan transaksi pun menjadi perhatian Sipa dalam menggelar layanan e-government ini. Sipa akan menggunakan Certification Authority (CA) bernama THAiPass guna mensertifikasi dan mengeluarkan nomor identifikasi untuk masing-masing pengguna yang mengakses layanan itu.
Informasi atau data dari masing-masing layanan tetap tersimpan di institusi pemerintahan terkait. Hanya aplikasi layanannya saja yang tersimpan di suatu server pusat, sementara pekerjaannya akan diproses melalui sistem back-end .
Rencananya, Sipa akan menambah sekitar 20 jenis layanan dalam 12 bulan mendatang, dan juga akan memperkenalkan konsep e-service satu atap ini di kota-kota lainnya.
|