Di Indonesia sendiri, selain pekerja mobile juga meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun, ketersediaan infrastruktur yang memungkinkan penerapan ”Enterprise Mobility” juga semakin luas tersedia. Karenanya, sebagaimana dinyatakan oleh Indra M. Utoyo, Praktisi TI yang juga Wakil Kepala Divisi Multimedia, PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk., mobilitas dalam skala enterprise merupakan suatu keniscayaan.
Dalam pandangannya, setidaknya a da beberapa hal yang merupakan pemicu penerapannya. Dari sisi supply , pemicunya adalah makin beragam dan meningkatnya jumlah piranti canggih mobile (PDA, ponsel, laptop, dll) berkembangnya berbagai aplikasi mobile , dan tersedianya infrastruktur akses mobile yang aman untuk akses data perusahaan.
Dari sisi demand , muncul kebutuhan enterprise untuk meningkatkan produktivitas karyawan, mempercepat respon layanan secara real-time , dan penghematan biaya operasional. Hal ini lebih didorong upaya untuk meningkatkan daya saing perusahaan di tengah maraknya kompetisi di hampir semua lini bisnis.
Simplikasi & Tantangan
Melihat kondisi dan perkembangan yang ada di Indonesia saat ini dan prospeknya ke depan, Indra melihat bahwa pendekatan logis untuk menerapkan solusi EM, mestinya lebih bertujuan optimalisasi manfaat dengan kompleksitas layanan minimal dan biaya yang ekonomis. Karenanya, disarankan setiap penerapan aplikasi EM lebih mendekatinya secara lebih sederhana.
Simplikasi layanan semacam itu, diharapkan mampu memberi kemudahan bagi para pengguna untuk mengadop dan lebih menjamin hasil nyata di lapangan. Sebaliknya, penyedia solusi EM juga harus meninggalkan konsep ” do it your self ” pada pelanggan, yaitu membiarkan pelanggan mengelola semuanya sendiri. Bukankah pelanggan lebih membutuhkan solusi total, tetapi aman dan mudah digunakan?
Sedang, tantangannya dapat dilihat dari beberapa isu berikut, yang mestinya mendapat perhatian sungguh-sungguh, yakni:
- Akses publik vs privat
- Ketersediaan solusi akses mobilitas
- Jenis terminal akses : keragaman pilihan vs standar
- Aplikasi mobility real-time vs store-forward
- Skema pembiayaan akses yang berbeda-beda
- Otentikasi pengguna ( user authentication )
Kunci Keberhasilan
Belajar dari sukses implementasi EM di beberapa perusahaan, maka dalam penerapannya dapat memperhatikan beberapa faktor penting sebagai berikut:
Fokus pada nilai manfaat
Perlu dipikirkan sejak awal bahwa tujuan penerapan EM adalah memberi manfaat mobilitas optimal bagi para penggunanya. Karenanya, yang dibutuhkan tidak saja akses, melainkan juga memiliki tingkat keamanan yang tinggi dan mudah digunakan. Jadi, tak hanya sekedar ikut-ikutan tren, atau karena perusahaan lain telah menerapkannya.
K eseimbangan pilihan dan standar
Saat ini, tersedia beragam pilihan, baik produk maupun dukungan infrastrukturnya. Karenanya, keragaman itu mestinya dapat memberi kemudahan bagi pengguna akhir yang piranti mobilitasnya berbeda-beda. Hanya saja, pilihan solusinya harus berbasis standar industri agar penerapannya lebih sederhana dan ada keseragaman. Mulai dari satu solusi aplikasi mobilitas yang paling luas penggunaan dan piranti aksesnya.
Pemahaman perbedaan gaya kerja
Penerapan EM harus disesuaikan dengan segmen penggunanya, terutama jika dikaitkan dengan pendekatan budaya kerja. Mereka yang bekerja di pabrik, tentu berbeda dengan tenaga penjualan yang memang bekerja secara mobile . Para engineer memerlukan kerja secara kolaboratif, sebentara pekerja operasi kantor dapat melakukan tindakan penanganan operasi dari remote untuk mematikan, menghidupkan, dan memodifikasi sistem.
Analisis break even
Meski penerapannya memberi peluang baru, namun penerapan budaya kerja mobile jangan sampai terjebak pada hype teknologi. Lingkup aplikasi kunci EM yang akan diterapkan perlu dikaji prioritas dan model penerapannya. Investasi teknologi dan layanan harus dilakukan secara cermat dengan menghitung manfaat nyata, risiko dan tingkat pengembaliannya (ROI).
Dalam konteks itu pula, Indra lebih memandang bahwa p enerapan EM lebih bersifat evolutif, tidak sekali jadi. Kecepatan ( speed ), kebebasan ( freedom ), dan keamanan ( security ) diyakini akan semakin memberi ruang pengembangan aplikasi mobilitas yang semakin luas dari sekarang ini ke depan.
Meski saat ini ada beragam dukungan yang tersedia, namun Indra melihat bahwa solusi Infrastruktur dial-up semacam VPN Dial yang dimiliki TELKOM merupakan salah satu dukungan itu. Infrastrukturnya, menurut Indra, telah teruji keamanan dan kehandalannya di lapangan, khususnya ketika berhasil menopang aplikasi penghitungan suara Pemilu 2004 dari hampir 3.000 kecamatan, dan sangat potensial menjadi platform yang tangguh dalam mendukung aplikasi EM di Indonesia, baik itu segmen korporasi maupun pemerintahan. Penerapannya, tentu saja bersanding dengan berbagai solusi lainnya, seperti mobile data dan WLAN yang secara bertahap semakin siap dan tersedia, baik di lingkungan perusahaan maupun publik. insa
|