Tak terasa, enam bulan telah berlalu sejak terakhir kali Shirley Margaretha bertandang ke kantor kami untuk sesi pemotretan cover edisi Maret 2004. Namun, Shirley tetaplah Shirley yang dulu. Ramah, supel dan enak diajak bicara. Ia kini masih disibukkan dengan berbagai kegiatan, dari presenter acara infotainment, bintang tamu di berbagai acara hingga kesibukan mengurus keluarga, khususnya putri semata wayangnya, Darryl Joevanka.
Tapi, bicara infotainment , Shirley mengaku agak risih dengan acara-acara semacam itu, yang dipandangnya terkadang terlalu mencampuri urusan pribadi orang. “Mungkin, kalau masih dalam batas-batas wajar misalnya menyangkut karir, prestasi atau lainnya, saya kira acara semacam itu asyik-asyik saja,” ujarnya.
Walaupun tidak sreg , toh Shirley tak menolak untuk tetap membawakan acara infotainment. “Kalau hanya membawakan saja kan tidak masalah, selama sesuai script,” kilahnya setengah membela diri.
Ia pun tak menampik bahwa infotainment dapat menjadi media yang ampuh bagi selebritis untuk memromosikan diri. Terkadang bad publications juga bisa menjadi good publications. “Bayangkan saja, kalau mau hitung-hitungan, si selebritis kan mendapatkan promosi gratis, terus banyak ditonton orang,” ujarnya.
Secara tak langsung ia juga mengakui acara-acara semacam itu juga memanfaatkan sifat masyarakat yang konsumtif, gemar gosip dan ingin tahu masalah orang. “Entah kenapa, orang kita memang senang acara-acara seperti itu. Mau disajikan infotainment berapa pun, pasti dilahap.”
Di sisi lain, Shirley juga menyayangkan begitu banyak tontonan yang kurang mendidik, yang kini marak ditayangkan berbagai stasiun televisi di tanah air, mulai dari misteri, kekerasan, sampai reality show. Ambil contoh reality show, menurutnya mungkin sebagian ada yang lucu, tapi terkadang ada juga yang kelewat batas. “Kalau sampai ada anak muda yang mengerjai orangtuanya atau orang yang lebih tua, dimana etikanya,” tukas Shirley.
Tak urung, maraknya tontonan seperti itu membuat Shirley mengkhawatirkan perkembangan putrinya, yang memang hobi menonton TV. “Tapi saya menyiasatinya dengan membeli DVD kartun, dan mengajak Darryl menonton bersama sambil menjelaskan isi ceritanya,” timpalnya.
Siasat seperti ini, menurut Shirley cukup ampuh mengalihkan perhatian anak dari tontonan yang tidak bermanfaat. “Biar DVD tersebut diputar puluhan kali, saya pikir itu lebih aman daripada dia harus menonton acara TV, yang saya sendiri pun belum tentu bisa menemaninya setiap saat.”
Kalaupun suatu saat putrinya nanti menggunakan media lain, Internet misalnya, ia mengaku tidak bisa melarangnya. “Selain sebagai orang tua, saya juga belajar menjadi teman bagi Darryl, yang bisa menjadi teman curhat,” katanya. “Saya pikir, dengan cara ini, anak akan lebih mudah berterus terang. Kalaupun nanti putri saya membuka situs-situs terlarang, lebih baik bersama saya. Daripada dilarang, terus dia membuka diam-diam,” ujarnya serius.
Ke depan, wanita kelahiran Madiun, Jawa Timur, ini mengaku tidak terlalu memikirkan rencana khusus mengenai karirnya. “Biar saja mengalir. Kalau Tuhan masih mengizinkan saya berkiprah di dunia entertainment atau punya rencana lain, ya saya ikuti saja,” ujarnya pasrah.
Ia pun mengaku tidak tertarik terjun ke politik, menjadi wakil rakyat seperti banyak dilakoni para selebritis sekarang ini. Ia mengaku tidak ikut-ikutan mencoblos pada pemilu lalu. Sekalipun demikian, toh ia masih menaruh harapan pada pemimpin negeri ini di masa depan. Siapapun presidennya, ia berharap bisa membawa masyarakat ke kondisi yang lebih baik, dengan tingkat pendidikan yang lebih baik pula. “Biar tidak mudah terprovokasi dan bisa menyaring informasi mana yang benar, mana tidak,” kilahnya.
Lha, kalau masyarakat pinter, infotainment bisa tidak laku dong? “Ah biarin aja ,” ujar Shirley sambil tertawa lepas.
Foto-foto: Muflihun
|