Volume III No 22 - Nopember-Desember 2004

INDIA

Perusahaan India Incar Pasar RFID Dunia

Prospek pasar teknologi RFID yang begitu menjanjikan, tak luput dari incaran perusahaan-perusahaan raksasa TI Asia, India . Salah satu perusahaan India yang serius membangun kompetensi dalam teknologi yang konon bakal merevolusi supply chain ini adalah Tata Consultancy Services (TCS).

Selama tiga tahun belakangan, TCS serius mengembangkan solusi-solusi vertikal yang memanfaatkan teknologi RFID. Bahkan, untuk meningkatkan keahlian dan kompetensi untuk bisa menyediakan solusi RFID, TCS secara khusus mendirikan semacam center of excellence di Kolkata.

“Kami melihat potensi solusi RFID yang begitu besar, baik di pasar dunia maupun di India sendiri,” ujar T.S. Rangarajan, Global Head, RFID Solutions , TCS. Besarnya peluang ini, menurutnya tak lepas dari mandat yang dikeluarkan perusahaan-perusahaan ritel kelas dunia seperti Wal-Mart, Target dan Tesco, yang mensyaratkan para pemasoknya mengganti sistem barcoding dengan RFID.

Dengan digulirkannya rencana Wal-Mart untuk mendirikan basis di India , Rangarajan memperkirakan akan muncul peluang pasar yang cukup besar bagi perusahaan semacam TCS. “ India akan menjadi sourcing hub bagi perusahaan-perusahaan ritel dunia dalam beberapa tahun mendatang. Solusi RFID akan mengalami permintaan yang cukup besar dari para pemasok India , yang diperkirakan akan memilih menggunakan tag dan reader berbasis RFID dibanding barcode ,” ujarnya.

Saat ini TCS memusatkan perhatiannya untuk mengasi masalah-masalah industri vertikal seperti ritel, transportasi, manufaktur, logistik dan pemerintahan. Menurut Rangarajan, solusi RFID ini digunakan untuk mengatasi permasalahan dalam pelacakan aset, pencegahan pemalsuan barang, pelacakan inventori, pelacakan barang, pengelolaan armada truk dan kargo serta mengurangi pencurian barang.

Rangarajan mengaku, saat ini pihaknya tengah mengerjakan lima proyek RFID untuk ritel, badan milik pemerintah, manufaktur dan perusahaan jasa. Semuanya berbasis di AS, katanya. aa

MALAYSIA

Pasar Alihdaya Malaysia Semakin Marak

Tren alih daya di kalangan perusahaan Malaysia semakin meningkat, dengan tingginya pertumbuhan pasar alihdaya lokal selama lima tahun mendatang. Menurut IDC, tingkat pertumbuhan pasar alihdaya negeri jiran itu sekitar 27,2 persen selama lima tahun dan akan mencapai 350 juta dolar pada 2008.

Tingginya pertumbuhan ini didorong besarnya minat berbagai perusahaan yang membutuhkan akses infrastruktur yang lebih handal, dimana infrastruktur tersebut dapat menjamin operasi bisnis lebih lancar, dengan harga ringan dan fleksibilitas lebih tinggi.

“Minat untuk menggunakan jasa alihdaya cukup tinggi, khususnya di kalangan perbankan, asuransi, manufaktur, kesehatan dan sektor pemerintahan,” ujar Katherine Chan, analis IDC Malaysia, seperti yang dilaporkan oleh CNETAsia.

Tahun lalu misalnya, ada beberapa mega kontrak alihdaya TI yang ditandatangani, kebanyakan dari kalangan perbankan dan transportasi, seperti Maybank dan maskapai penerbangan Malaysian Airlines (MAS).

Sejak penandatanganan kontrak alihdaya berskala besar pertama di Malaysia antara Electronic Data Systems (EDS) dan Bumiputra Commerce Bank Berhad (BCB) di akhir 2002, banyak kalangan vendor ramai-ramai mulai mengejar peluang di bisnis ini.

Di sektor pemerintahan, sekalipun minat terhadap alihdaya cukup tinggi, sejauh ini belum ada kontrak alihdaya yang ditangani. Menurut Chan, sekalipun alihdaya memiliki banyak manfaat, proses negosiasinya relatif panjang. Banyak waktu dan upaya yang harus dikeluarkan untuk membahas masalah persyaratan dan kondisi kontrak, khususnya untuk kontrak-kontrak dengan kalangan pemerintahan. Selain itu, pengintegrasian dari alur kerja lama ke baru bisa menyebabkan gangguan pada proses bisnisnya, lanjut Chan.

Menurutnya, dalam masa transisi kemungkinan besar terdapat tekanan untuk melakukan penyesuaian, dan hambatan-hambatan di dalam change management -nya. “Perbedaan budaya antara perusahaan dan penyedia jasa alihdaya kemungkinan besar akan menciptakan ketegangan di dalam lingkungan kerja,” ujar Chan wanti-wanti. Sekalipun demikian, menurut Chan, pemerintah Malaysia tetap mempertimbangkan kemungkinan mengalihdayakan infrastruktur TI-nya.

IDC sendiri mensegmentasikan pasar alihdaya TI menjadi lima bidang, yaitu alihdaya sistem informasi (SI), application management , alihdaya jaringan dan desktop, application service providers (ASP) dan system infrastructure service provider (SISP). Menurut Chan, alihdaya SI saat ini mencakup 44 persen dari total pasar alihdaya TI Malaysia. Prosentase sebesar itu disumbang dari kontrak yang ditandatangani BCB, Maybank dan MAS.

Namun, Chan mengakui masih banyak perusahaan yang hanya memilih mengalihdayakan maintenance dan technical support karena alasan kerahasiaan informasi atau security dan kekhawatiran kehilangan kontrol terhadap pemeliharaan dan pengelolaan aplikasi.

Selain itu, beberapa perusahaan besar Malaysia kini mulai serius mengalihdayakan pengelolaan desktop dan jaringannya ke service provider . Perusahaan-perusahaan semacam itu menurut Chan menuntut penyedia jasa layanan memiliki dan mengelola seluruh infrastruktur dan pengoperasian informasinya. aa

 

Perusahaan Malaysia Rilis Solusi Setup Ponsel Otomatis

Sebuah perusahaan Malaysia mengembangkan sebuah piranti bagi para operator seluler untuk mempermudah konfigurasi ponsel, yang nantinya bakal mendongkrak pendapatan layanan data dan mengurangi biaya customer care.

SmartTrust, yang merilis solusi mobile bernama SmartManage, mengklaim fitur konfigurasi perangkat otomatisnya mampu mendeteksi suatu perangkat baru di jaringan, mengetahui kapabilitas perangkat dan secara otomatis mengonfigurasi perangkat tersebut.

Bagi para pengguna ponsel, proses pengonfigurasian ini bakal terasa mulus dan memungkinkan operator memastikan bahwa seluruh handset yang ada di jaringannya ter- set up dengan benar dan mampu mengakses seluruh layanan yang bisa dimanfaatkan perangkat tersebut.

Menurut Joe Thum, manajer regional SmartTrust untuk Asia Pasifik, fitur ini sangat penting mengingat kerumitan perangkat dan konfigurasi layanan, selain juga ketidakpedulian pengguna menyebabkan besarnya prosentase handset yang tidak terkonfigurasi.

“Hal ini merupakan penghalang utama pertumbuhan layanan data dan ARPU. Suatu operator bisa saja mengembangkan dan memasarkan layanannya. Namun, jika para pengguna tidak bisa mengaksesnya, layanan tersebut tidak akan pernah termanfaatkan secara penuh,” ujar Thum, seperti yang dilaporkan CNETAsia.

Thum menambahkan bahwa para operator tidak bisa bergantung sepenuhnya pada para pelanggannya untuk secara proaktif mengonfigurasi handset -nya guna mengakses layanan yang ada.

Cara yang lazim dilakukan saat ini, menurut Thum, adalah menyediakan paramater yang dibutuhkan seperti gateway WAP dan alamat IP, atau memberi instruksi kepada pelanggan bagaimana mengonfigurasi secara manual. Cara ini, menurutnya, menyebabkan rendahnya tingkat penetrasi layanan-layanan baru.

Ia pun mengingatkan bahwa salah konfigurasi bisa menyebabkan ketidakpuasan pelanggan dan meningkatkan biaya customer care . Jika proses setup terlalu rumit atau gagal, pelanggan pun akan meninggalkannya, tambah Thum. Alih-alih, SmartManage diklaim mampu men- setup akses ke layanan dari jauh, dari saat pengguna menukar ke handset baru dan selama masa berlangganannya, jelas Thum.

Solusi ini telah digunakan perusahaan-perusahaan besar di Malaysia antara lain DiGi, Multimedia Interactive Technologies dan Celcom. aa

SINGAPORE

Singapura Bangun Pusat Standar B2B

Perusahaan kecil menengah (UKM) Singapura kini bisa menikmati peningkatan efisiensi e-business dan daya saing dengan diluncurkannya RosettaNet's Architecture Centre of Excellence di Nanyang Polytechnic (NYP), Singapura.

Pusat pengembangan senilai 1,42 juta dolar AS ini akan meneliti bagaimana peningkatan arsitektur e-business bisa mendorong pengadopsian standar e-business di kalangan UKM Singapura. Pusat ini akan mengeksplorasi bagaimana teknologi Web services dan radio frequency identification (RFID) bisa dimasukkan ke dalam standar RosettaNet.

Tan Ching Yee, CEO otoritas pengembangan infokom Singapura, IDA, mengatakan bahwa pusat pengembangan ini juga memungkinkan komunitas pengguna RosettaNet di Singapura memperoleh manfaat berupa peluang mencoba RosettaNet Partner Interface Processes (PIPs) dan standar teknologi baru yang lebih baik. “Arsitektur baru yang dikembangkan ini nantinya akan membantu mengurangi investasi pengadopsian e-business,” ujar Tan. “Hal ini tentunya sangat membantu sekitar 3.000-an lebih perusahaan UKM di sektor manufaktur.”

Pendirian pusat pengembangan ini merupakan hasil kerjasama antara RosettaNet, IDA, NYP dan para pemain industri. Beberapa vendor TI terkemuka seperti Cisco Systems, Intel, Microsoft, NCS dan Oracle dikabarkan juga memberikan dukungan berupa SDM paruh waktu, perangkat keras dan piranti lunak.

RosettaNet sendiri merupakan sebuah lembaga non-profit yang membuat standar pertukaran data secara elektronis dalam supply chain . Dengan standar bersama ini, proses B2B e-commerce lebih efisien, cepat dan fleksibel. Beberapa negara Asia lainnya seperti Malaysia , Taiwan , Filipina dan Cina telah memanfaatkan standar itu untuk proses B2B e-commerce dengan perusahaan-perusahaan di Amerika Utara.

THAILAND

Gelar Sistem Informasi Keuangan Negara

Pemerintah Thailand bulan lalu mulai menghubungkan sekitar 760 badan milik pemerintah di seluruh negeri tersebut ke sistem informasi manajemen fiskal atau Government Fiscal Management Information System (GFMIS).

Menurut deputi direktur GFMIS Project Office, Nibhat Bhukkanasut, sistem manajemen keuangan ke-760 badan tersebut akan saling terhubung, termasuk di antaranya sistem keuangan milik Biro Anggaran, kantor auditor jendral Thailand, kementrian ICT, dan badan-badan penting lainnya.

“GFMIS ini memungkinkan manajemen keuangan lembaga publik lebih transparan dan lebih efisien karena tidak lagi menggunakan proses manual,” ujar Bhukkanasut. Sistem bernilai sekitar 300 miliar rupiah ini juga akan membantu kantor perdana menteri mengelola keuangan seperti alokasi anggaran dan reimbursement , lanjutnya.

“Sistem ini akan memperbaiki manajemen anggaran kementrian, departemen dan badan-badan milik pemerintahan lainnya di seluruh negeri, selain juga mengelola utang negara,” ujarnya lebih lanjut.

GFMIS ini meliputi modul-modul akuntansi, payroll , pengawasan inventaris, security , pengelolaan cadangan keuangan, proses evaluasi, audit dan e-procurement.

Operator Seluler Thailand Gelar EDGE

Operator seluler Thailand , Total Access Communication, yang beroperasi dengan brand DTAC belum lama ini menggelar jaringan EDGE secara komersial di wilayah Bangkok .

Penggelaran ini menjadikan DTAC masuk dalam kelompok elit operator seluler Asia yang sebelumnya sudah menawarkan layanan EDGE secara komersial. Sejauh ini, di Asia baru CSL di Hong Kong dan Digi di Malaysia yang menggelar EDGE, sementara sejumlah operator lain masih dalam tahap uji coba.

Operator Thailand yang menggandeng perusahaan telekomunikasi Norwegia Telenor sebagai mitra strategisnya juga menjadi perusahaan kedua di dunia yang menawarkan PC Card EDGE buatan Sony Ericsson, yang memungkinkan pengguna menghubungkan notebook -nya ke Internet melalui jaringan bergerak. Operator AS, AT&T merupakan perusahaan pertama di dunia yang menawarkan fasilitas itu.

Hampir sebagian besar dari 545 BTS yang tersebar di Bangkok telah di- upgrade ke EDGE, sementara cakupan untuk seluruh wilayah Bangkok raya diharapkan akan terwujud akhir tahun ini.

Saat ini, DTAC juga merupakan satu-satunya operator di Thailand yang menawarkan cakupan GPRS berskala nasional. Para pelanggan DTAC bisa secara mulus berpindah dari layanan EDGE ke GPRS tanpa ada gangguan.

Seperti dilaporkan Bangkok Post, tarif layanan data terbaru DTAC ini cukup bersaing dengan layanan Internet kecepatan tinggi lainnya, seperti DSL. Paket bulanan untuk akses “always on” tak terbatas ditawarkan seharga 1200 baht atau sekitar 264 ribu rupiah.

Selain DTAC, dua operator GSM Thailand besar lainnya - Info Service (AIS) dan TA Orange – juga berupaya menyediakan layanan GPRS bercakupan nasional. AIS sudah menggelar layanan EDGE, namun masih berskala kecil, hanya mencakup salah satu wilayah perbelanjaan di Bangkok .

Pesaing EDGE yang cukup potensial justru datang dari operator CDMA Hutch, yang merupakan perusahaan patungan antara Communications Authority of Thailand dan grup Hutchison Hong Kong. Sekalipun jumlah pelanggan CDMA masih relatif kecil, sekitar 600.000, operator ini sudah menawarkan layanan multimedia kecepatan tinggi sejak pertama kali beroperasi, dan juga menawarkan PC data card, yang memungkinkan pengguna notebook menikmati akses Internet melalui jaringan CDMA.

Menurut co-CEO DTAC, Sigve Brekke, pihaknya memperkirakan permintaan terbesar dari layanan data berkecepatan tinggi akan datang dari kalangan konsumen yang tergolong early adopters , serta kalangan korporat, yang memanfaatkan layanan untuk penyediaan akses jarak jauh bagi para salesforce maupun untuk aplikasi-aplikasi enterprise lainnya. aa

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.