Jos Luhukay
Telekomunikasi untuk Semua 
Sebuah judul dalam jurnal McKinsey & Company tahun 2001 menarik perhatian: Conecting the Unconnected. Penulisnya, Rajat Dhawan dan tiga orang rekannya, konsultan pada perusahaan management consulting tersebut, mengemukakan sejumlah gagasan yang menarik. Semuanya dengan tujuan agar layanan telekomunikasi dapat dinikmati juga leh mereka yang selama ini unconnected , tidak terhubungkan . Sejuknya nuansa pembaruan dengan selesainya pergantian pemerintahan di Indonesia, mendorong Penulis untuk meramu beberapa gagasan yang pernah dikemukakan sebelumnya dengan hasil riset mereka ke dalam serangkaian rekomendasi yang semoga bermanfaat.
Pemikiran ini berangkat dari adanya berjuta-juta penduduk kita yang belum terhubung dalam jejaring telepon. Bagi mereka, masalahnya bukan lagi mengenai digital divide , tetapi sudah menyentuh harkat kepentingan kehidupan di abad ke 21 ini: hak atas kesempatan berkomunikasi dan mendapatkan informasi. Pada tahun 1999, sebuah publikasi dari UNDP, unit Bank Dunia yang mengurusi dukungan bagi perkembangan negara-negara terkebelakang, menyatakan bahwa ledakan penggunaan internet dapat menyebabkan marjinalisasi melalui ketersediaan akses atas - atau isolasi dari – kemudahan berjejaring. Perkembangan teknologi dan pola hidup modern mengandung bahaya semakin ekstrimnya kesenjangan mereka yang „kaya informasi“ dari mereka yang „miskin informasi“. Kelompok yang akan semakin terkena marjinalisasi ini mencakup antara lain mereka yang kurang mampu, tuna-aksara, tidak mampu berbahasa Inggris atau tinggal di daerah pedalaman.
Beberapa laporan sejenis dari PBB, European Council, dll, menyebutkan bahaya yang sama. Semuanya memperingatkan akan melebarnya disparitas antara masyarakat perkotaan dan mereka yang tinggal di pedesaan. Bila hendak diterjemahkan ke dalam ketersediaan berjejaring, ini dapat muncul dalam bentuk jumlah sambungan telepon dan akses internet di kota-kota yang mungkin sampai lebih dari 10-15 kali jumlah yang ada di pedesaan.
Indra Utoyo
Tantangan Regulasi Telekomunikasi mendukung era Broadband
Privatisasi dan liberalisasi industri telah secara dramatis mengubah wajah industri telekomunikasi global dalam dua dekade terakhir. Perusahaan incumbent, yang dulunya monopoli, telah kehilangan sebagian besar pangsa pasarnya di layanan SLJJ, SLI, dan layanan komunikasi data. Pilihan layanan semakin beragam dengan tarif yang semakin kompetitif.
Namun, satu hasil dari liberalisasi industri yang tidak diharapkan hampir di banyak pasar, adalah bahwa koneksi ‘ last mile ' tetap tidak berkembang dan masih didominasi operator incumbent, yang juga sudah terbatas dalam melakukan investasi last mile .
Saat ini, sumbat ( bottleneck ) akses telekomunikasi memang bisa diatasi dengan hadirnya teknologi baru dan platform alternatif seperti operator TV kabel, mobile wireless , dan layanan VoIP dimana ketiga industri ini secara bersama memberi tekanan kepada pendapatan operator jaringan tetap ( fixed-line ) yang mengandalkan 60% sampai 80% pendapatannya dari telepon.
Di sisi lain, regulasi dan teknologi telah menghadirkan kompetisi, namun kekuatan incumbent yang melemah tidak berarti menghadirkan kompetitor dalam penggelaran infrastruktur last-mile . Hal ini lebih parah lagi untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia , dimana fixed-line belum sepenuhnya tergelar. Dengan jumlah sambungan telepon sebanyak lebih kurang 8 juta setelah hadir lebih dari 50 tahun, nampaknya penggelaran fixed-line tidak berkembang dibandingkan penggelaran mobile wireless yang telah mencapai lebih dari 22 juta dalam waktu 9 tahun.
Agus Pracoyo
Kalau bicara soal pengamanan perangkat teknologi informasi (TI) dengan staf TI, pastilah tidak jauh-jauh dari pengamanan server maupun perangkat jaringan. Jarang staff TI membicarakan secara serius pengamanan pada PC (dalam tulisan ini, yang disebut dengan PC adalah termasuk desktop dan laptop). Keadaan seperti ini sering tercermin dari komentar-komentar para staf/manajer TI seperti komentar seorang manajer TI berikut ini, ketika menanggapi temuan audit. “Kami merasa tidak perlu mempergunakan firewall di cabang X karena tidak ada server yang ditempatkan di sana ” (sebagai informasi, cabang X terhubung ke kantor pusat dan sekaligus terhubung ke Internet secara langsung via ISP setempat).
Pemikiran yang lebih mementingkan keamanan server di atas keamanan PC merupakan hal yang wajar, karena memang server umumnya adalah pusat data perusahaan. Tetapi, hal ini tidak berarti pengamanan pada PC tidak penting. Beberapa hal berikut mungkin dapat dijadikan ‘renungan' mengapa keamanan PC, termasuk kesadaran si pemakai akan pentingnya keamanan, tidak dapat dianggap sepele lagi sekarang ini.
Bob J. Onggo
Pernahkah Anda menebak dengan benar jalan pikiran orang? Saya yakin kalau dia adalah sahabat karib Anda, bisa jadi beberapa kali Anda dapat menebak perasaan dia terhadap Anda. Memang enak sekali kalau bisa menebak secara tepat dengan siapa kita sering berinteraksi. Sayangnya manusia memang berbeda dengan mesin.
Rupanya mesin pencari yang akan running di kebanyakan PC tahun 2006 adalah mensimulasikan skenario di atas. Bayangkan PC Anda akan mengetahui kebiasaan Anda dalam mencari informasi di dunia maya. PC Anda pun akan tahu informasi apa yang biasanya Anda sukai. Hal ini sama seperti perilaku Anda dalam membeli dapat dilacak oleh Amazon kalau Anda pernah menjadi pelanggannya dan pernah mengisi profil Anda.
Skenario ini akan menjadi nyata dalam dunia pencarian, mengingat bisnis pencarian ( search industry ) akan menjadi growing business . Lihat saja, akuisisi dan merger telah menjadi berita sehari-hari. Ketika bisnis pencarian menjadi semakin nyata, maka konsolidasi tidak lagi terelakkan. Dan keadaan ini terus berubah dari hari ke hari. Karena itu coba kita lihat saja apa yang terjadi sekarang ini dalam dunia pencarian dan hingga 2 tahun ke depan, yaitu tahun 2006. Mari kita lihat apa saja yang telah terjadi di Yahoo, dan MSN serta dua tahun ke depan dalam bisnis yang satu ini. |