Para pembaca yang budiman, kemajuan teknologi abad ini, terutama akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, termasuk Internet telah merevolusi, bukan saja kehidupan manusia, melainkan menampilkan pola-pola baru dalam berbisnis dan juga bisnis itu sendiri. Salah satunya, terkena terhadap bisnis telekomunikasi dunia, di mana Indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perubahan dan perkembangan itu.
Bisnis telekomunikasi dalam arti konvensional lebih merujuk pada penyediaan layanan komunikasi suara, yang lebih dikenal dengan sambungan telepon. Bisnis telekomunikasi semacam ini telah cukup lama berkembang di nusantara ini. Namun, dalam perkembangan yang cukup lama itu, ternyata hanya sekitar 8,5 juta SST (satuan sambungan telepon) yang mampu dibangun. Yang kalau ada satu orang memiliki lebih dari satu SST, maka sebenarnya pengguna riil yang memiliki sambungan telepon lebih sedikit lagi. Inilah ironinya. Alasannya, biaya penerapannya mahal dan kalau disambung juga hingga ke wilayah pedesaan dan pedalaman, menjadi tidak ekonomis.
Namun perkembangan teknologi memunculkan sesuatu yang baru, yakni munculnya bisnis telekomunikasi yang tak sekadar telepon, melainkan semakin beragam, termasuk akses Internet, VoIP, multimedia dan lain sebagainya. Begitu juga media komunikasinya tak hanya menggunakan kabel, satelit hingga udara. Munculnya Internet dan teknologi informasi, mendorongkan teknologi komunikasi yang baru, yang bisa berbentuk komunikasi nirkabel, seluler, seluler berbasis satelit, atau yang berbasis IP communications. Wajah bisnis telekomunikasi pun semakin berubah, yang kini lebih banyak dikenal sebagai Infokom. Layanannya pun tak hanya komunikasi suara, melainkan juga data, termasuk image dan video.
Namun, perubahan itu sejatinya menuntut kesiapan internal perusahaan, baik model bisnis, produk dan layanan, serta kesiapan organisasi dan sumberdaya manusianya. Tantangan produk dan layanan dan terbukanya pasar menjadi lebih kompetitif, karena masuknya para pemain baru yang didukung regulasi pemerintah, merupakan nuansa baru bisnis telekomunikasi yang berubah menjadi Infokom itu.
Fenomena munculnya bisnis telekomunikasi seluler yang mampu memberi revenue yang jauh lebih besar, karena meningkatnya jumlah pengguna dalam waktu relatif singkat, terutama jika dibandingkan dengan telepon tetap, merupakan sesuatu yang bukan saja baru, tetapi boleh dibilang revolusioner.
Saat ini, jumlah penggunanya di Indonesia telah melampaui 25 juta orang, sedang pontap baru mencapai 8,5 juta SST. Pergeseran ini tampaknya akan terus berlanjut dan membuat titik keseimbangan baru dengan platform yang baru, yang berbeda dari yang selama ini ada.
Kenyataan baru inilah yang tampaknya akan sangat mewarnai bisnis telekomunikasi masa depan. Untuk itu, eBizzAsia, mencoba memotret gambaran perubahan dan bagaimana perusahaan-perusahaan telko di tanah air menyiasati perkembangan itu. Bukan saja untuk mengantisipasi berbagai perubahan dan perkembangan yang terjadi, melainkan juga “survive” di tengah arus perubahan dan kompetisi yang semakin meningkat. Mudah-mudahan hal itu akan memberi manfaat bagi sidang pembaca eBizzAsia di manapun berada. Terima kasih.
Tharsikin Insa
Editor-in-Chief |