Volume III No 22 - Nopember-Desember 2004
 

 

Business Case
Satu Infrastruktur Untuk Semua

 

Berbagi penggunaan infrastruktur TI di suatu bandara tidak hanya menguntungkan maskapai penerbangan dan pengelola bandara, melainkan juga memunculkan tren otoritas bandara sebagai IT outsourcer. Bagaimana bandara internasional Pearson Toronto melakukannya?

Bagi yang pertama kali menjejakkan kaki di Terminal 1 bandara internasional Pearson Toronto, Kanada, mungkin akan terkecoh. Siapapun pengunjung akan menyangka bahwa mereka bakal menjumpai bandara super sibuk, dengan antrian check-in yang sangat panjang, pemandangan calon penumpang yang bergegas menuju gerbang pesawat, serta antrian tiket yang melelahkan. Tapi, hal itu tidak dijumpai di sana . Bandaranya begitu lenggang, sehingga orang mengira jangan-jangan bandara belum beroperasi.

Namun, nyatanya, Terminal 1 sudah beroperasi dan memiliki kapasitas yang begitu masif. Terminal 1 sanggup menangani penumpang kurang lebih 800 penerbangan per hari dari 57 maskapai penerbangan. Itu setara dengan 10 juta penumpang per tahun.

Luas lantainya 400 ribu meter persegi dan jumlah bahan baja yang membentuk superstructure-nya cukup untuk membangun tiga setengah Menara Eiffel. Ruang parkir tertutupnya terbilang terbesar di Kanada, dengan kapasitas 12,600 kendaraan. Renovasi bandara – yang seluruhnya terdiri dari tiga terminal – memakan waktu sepuluh tahun, dan dijadwalkan selesai 2008 mendatang. Nantinya, bandara Pearson akan memiliki luas sekitar 1,800 hektar, dan menyedot dana tak kurang dari 3,2 miliar dolar AS.

Namun, bukan ukuran raksasanya yang menyebabkan Terminal 1 “kelihatan sepi.” Bandara yang merupakan salah satu dari bandara-bandara di Amerika Utara yang memiliki fasilitas “common use,” yaitu memiliki fitur shared networking system, yang mempercepat perpindahan pesawat di masing-masing gerbang keberangkatan, sehingga mempercepat pergerakan calon penumpang dalam terminal. Selain itu, sistem itu juga membuka peluang bisnis baru bagi otoritas bandara. Pendekatan yang dilakukan berdampak berantai ke seluruh industri penerbangan. Analoginya mirip semacam shared-services organization, yang seringkali direkomendasikan para konsultan TI kepada klien-klien dari kalangan perusahaan besar, yang punya banyak divisi.

Bandara Shanghai Pudong International di Cina dan Glasgow Airport di Skotlandia merupakan bandara-bandara pertama di dunia yang menerapkan common-use IT infrastructures ini. Namun, lima tahun belakangan ini, bandara-bandara di Amerika Utara pun mulai beralih ke sistem TI yang egaliter ini.

Revolusi common use di Amerika Utara ini tak terlepas dari peran Jim Burke, seorang warga Inggris yang menjabat vice president of information technology and telecommunications, atau IT&T di otoritas bandara Toronto atau Greater Toronto Airports Authority (GTAA). GTAA merupakan lembaga yang memiliki dan mengoperasikan bandara Toronto Pearson.

Sebelum bertugas di Toronto , selama 12 tahun Burke berperan besar dalam merombak sistem maskapai penerbangan Inggris, dengan menerapkan sistem common use di bandara Heathrow, London . Ia pun sempat menjadi penasihat untuk perombakan bandara internasional San Fransisco, sebelum akhirnya ditarik ke Toronto .

Sebenarnya, apa yang radikal dengan sistem common use airport ini? Secara tradisional, di sebagian besar bandara di Amerika Utara, selama 30 tahun belakangan masing-masing maskapai penerbangan menyewa sendiri gerbang keberangkatannya, memasang jaringannya, menggelar sistem teleponnya, mendirikan terminal-terminal khusus, dan umumnya juga memiliki teritorialnya sendiri di dalam bandara. Maskapai-maskapai besar, khususnya di bandara-bandara penghubung (hub airports) dikenal suka mengambil sebagian besar lahan terminal, menongkrongi gerbangnya dan menekan maskapai-maskapai kecil. Di bawah sistem ini, ketika sebuah maskapai besar sedang tidak menggunakan salah satu gerbangnya, maskapai penerbangan lainnya tetap tidak bisa menggunakannya. Alih-alih, gerbang itu tetap menganggur, sementara pesawat-pesawat milik maskapai kompetitor terpaksa parkir di peron, atau merapat ke gerbang sewaan di bandara sekitarnya, yang lebih kecil dan kurang nyaman. Boleh dibilang, inilah salah satu wajah buruk dari kapitalisme.

Tahun 1994 lalu, ketika GTAA memutuskan untuk membangun kembali Terminal 1 bandara Pearson, GTAA juga memutuskan untuk mengakhiri ketidakefisienan ini dengan memanfaatkan gagasan Burke. Beberapa tahun kemudian, CEO GTAA, Lou Turpen merekrut langsung Burke dan memberinya tanggung jawab dana ratusan juta dolar dengan mandat menjadikan Pearson sebagai common use airport.

Ide dibalik common-use airport ini adalah bahwa bandaralah – bukan maskapai penerbangan – yang mengelola jaringan, telekomunikasi, video feed, check-in counter, gerbang, security dan sistem bagasinya. Perangkat keras maupun piranti lunaknya di seluruh bandara distandarkan. Konter check-in dan gerbang dapat ditukar-tukar dengan mudah, dan penumpang serta pesawat pun bergerak lebih lancar di dalam maupun seputar fasilitas bandara. Misalnya, jika sebuah penerbangan internasional datang terlambat, pesawatnya dapat diparkir bersebelahan dengan gerbang connecting flight terdekat, sehingga para penumpang tidak bakal ketinggalan pesawat.

Ketika diterapkan dengan benar, model common-use ini memberi penghematan, baik bagi maskapai penerbangan maupun pihak bandara. Maskapai penerbangan dapat menghemat biaya dan mengurangi kesulitan-kesulitan ketika harus mengelola sendiri jaringannya di setiap bandara yang menjadi tujuannya. Sementara bagi pihak bandara, sistem ini menjadikan bandara sebagai outsourcer TI, dan menciptakn sumber pendapatan baru bagi dirinya.

Menaklukkan raksasa

EFISIENSI: Jaminan efisiensi dan efektivitas sangat dibutuhkan oleh perusahaan penerbangan.

Tantangan utama yang dihadapi Burke jelas adalah menjual ide common use airport ini ke stakeholder paling utama, yaitu maskapai penerbangan. Maskapai penerbangan yang pertama kali harus ditaklukannya adalah Air Canada . Wajar saja, maskapai penerbangan komersial terbesar di Kanada ini merupakan pelanggan terbesar bandara Pearson. Enampuluh persen lalu lintas pergerakan pesawat di bandara ini dikuasai Air Canada . Maskapai penerbangan manapun, yang mendominasi suatu hub pasti akan sangat menentang untuk beralih ke fasilitas common use, karena takut akan kehilangan keunggulan kompetitifnya. Tak terkecuali Air Canada . Maskapai ini merasa jaringan miliknya lebih superior dibanding pesaingnya, jadi tak ada alasan bagi mereka untuk beralih ke suatu sistem, yang dipandangannya “lebih inferior.”

John Segaert, general manager hub development, Air Canada mengakui bahwa tugas Burke memang tidak ringan. “ Ada sejumlah kekhawatiran di kalangan Air Canada . Beberapa pihak tidak sungguh-sungguh memahami teknologi ini, dan ketika mereka mendengar ‘common use' mereka langsung berpikir bahwa itu adalah teknologi yang lebih rendah disbanding apa yang telah mereka gunakan,” jelasnya.

Sikap Air Canada ini memang tidak bisa disalahkan. Karena, bagaimana pun juga, GTAA pada dasarnya meminta maskapai tersebut untuk membuang seluruh investasi teknologi di hub terbesarnya, membolehkan pesaing untuk mengakses gerbang-gerbang keberangkatan dan konter tiketnya, dan menyerahkan sebagian besar kendali ground operation-nya ke pihak otoritas bandara.

“Kami ingin meminimalkan infrastruktur, dan memperkenalkan beberapa gagasan dan sinergi baru,” tutur Turpen. Melihat Burke sukses menjual konsep ini ke British Airways di Heathrow, Turpen pun yakin Burke dapat melakukan hal yang sama terhadap Air Canada . Burke pun mulai mendekati John Segaert untuk menjual konsepnya, merinci teknologinya dan membuktikan penghematan seperti apa yang bisa didapat. Setelah menempuh proses yang cukup panjang dan melelahkan, Burke bisa meyakinkan Segaert, yang akhirnya menjadi sekutu utama Burke dalam menjual ide common-use airport ini ke top management Air Canada .

Tapi, langkah Segaert sendiri untuk mendapatkan dukungan dari top management Air Canada tidaklah terlalu mulus. Dibutuhkan waktu beberapa bulan untuk meyakinkan para eksekutif Air Canada untuk menyetujui rencana itu. Rupanya keuntungan finansial dan logistik yang bakal didapatkan dari sistem tidak cukup meyakinkan para eksekutif Air Canada .

Namun, toh sebenarnya GTAA tidak perlu repot-repot harus merangkul Air Canada . Terminal 1 yang baru ini akan menjadi fasilitas state-of-the-art, jauh lebih besar dan efisien dibanding fasilitas lama. Turpen pun mempertegas kepada pihak Air Canada bahwa jika mereka ingin menggunakan fasilitas ini, maka mereka harus menerima platform common-use. “Kami memiliki otoritas dan sesungguhnya kami tidak perlu mendekati pihak manapun,” ujar Turpen. Namun demikian, upaya Burke dan Segaert untuk menjual ide ini ke Air Canada tidaklah sia-sia. Kalaupun maskapai tersebut belum mendapatkan penghematan pada saat peresmian Pearson, penghematan itu akan datang pada bulan-bulan berikutnya.

Mengandalkan IP

Jaringan yang dibangun di Terminal 1 sejauh ini merupakan proyek paling ambisius yang pernah dikerjakan Burke. Ia bersama timnya membangun 50 kios express check-in, 40 information phones untuk penumpang di setiap tingkat, 250 konter check-in penumpang, 450 display penerbangan dan bagasi, 300 electronic message boards, dan kurang lebih 9,700 papan penunjuk arah. Bandara ini ditargetkan untuk bisa menangani 50 juta penumpang setiap tahunnya pada 2020 mendatang, atau dua kali lipat kapasitas sekarang yang sekitar 24,7 juta penumpang.

Aspek terpenting dari proyek ini adalah keputusan untuk menggunakan internet protocol (IP) di seluruh infrastrukturnya, baik untuk teleponi, terminal ticketing, dan kios swalayan penumpang. Burke memilih campus-area network berbasis IP sebagai backbone-nya, dan menghubungkannya ke kurang lebih 7,000 perangkat. Cisco Systems bekerja sama dengan penyedia piranti lunak dan kios untuk aplikasi bandara, SITA Airport and Desktop Services untuk menyediakan backbone dan teknologi front end-nya, yang dikenal dengan CUTE (Common Use Terminal Equipment).

Jaringannya sendiri terdiri dari dua lapis jaringan independen dense wavelength-division multiplexing (DWDM) dengan layanan Multiprotocol Label Switching (MPLS) dan SONET untuk meningkatkan skalabilitasnya. Terminal ticketing sendiri menggunakan PC Compaq dan layar flat panel.

Video feed pun diintegrasikan ke dalam jaringan ini. Kamera-kamera sekuriti, yang menurut Burke jumlahnya mencapai ribuan, mengirimkan gambarnya melalui jaringan IP. Demikian pula halnya dengan siaran televisi, yang disalurkan ke berbagai monitor di ruang tunggu, ruang klaim bagasi, bar-bar dan restoran-restoran. Bahkan sistem klaim bagasi dan manajemen security-nya pun menggunakan jaringan yang sama. Untuk menggunakan jaringan itu, seluruh tenant bandara dikenakan tarif flat yang sama, meski Burke menolak menyebut jumlahnya.

Penggunaan jaringan bersama ini bukannya tanpa hambatan. Pada masa sebulan awal pengoperasiannya saja, volume panggilan telepon yang masuk ke pusat operasi jaringan mendekati batas maksimumnya. Sebagian besar pertanyaan umumnya datang dari para tenant dan end-user yang belum terbiasa dengan sistem baru itu. Selain itu, kios yang menyediakan informasi penerbangan pun begitu padat dengan tampilan data sehingga menyulitkan penggunanya. Burke sendiri sempat kesulitan dengan hal itu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengubah tampilan antarmuka Web-browsernya.

Memanfaatkan emerging technologies

Sekalipun Terminal 1 baru beroperasi April lalu, GTAA sudah melaporkan peningkatan 15 persen jumlah pergerakan penumpang. Meski secara kuantitatif belum diketahui, GTAA yakin pihaknya memperoleh bottom-line yang lebih besar. Sebagai perbandingan, di bandara internasional McCarran, Las Vegas, AS yang juga telah menerapkan platform common-use, menurut manajer airline system-nya, Dave Bourgon, juga mengalami peningkatan jumlah pergerakan penumpang 10 sampai 15 persen. “Seakan-akan bandara mendapatkan sembilan gerbang ekstra,” ujar Bourgon. Selain itu, menurutnya, pendekatan common-use ini memberikan penghematan bagi bandara sebesar 3 juta dolar per gerbang sejak sistem ini digunakan mulai tahun 1999 lalu.

Tapi, Jim Burke tidak ingin terburu-buru mengklaim kesuksesan. Sistem common-use di Terminal 1 baru berjalan beberapa bulan, dan masih banyak hal yang harus dilakukan. Burke masih memutar cara bagaimana menyediakan layanan Wi-Fi secara efektif di bandara tanpa harus menyebabkan interferensi nirkabel terlalu besar. Bahkan, dalam lima tahun ke depan, ia berharap bisa menerapkan teknologi radio frequency identification (RFID) ke sistem pengelolaan bagasinya.

Namun, disamping teknologi, Burke khawatir akan nasib Air Canada sebagai pelanggan terbesarnya. Pasalnya, maskapai ini baru saja selamat dari ancaman kebangkrutan. Tapi, Segaert tetap optimis bahwa sistem baru akan membantu pemulihan Air Canada . “Kami hanya membayar apa yang kami gunakan,” tukas Segaert. “Kalaupun harus pindah, biasanya Anda pun harus mengeluarkan dana untuk itu. Tapi dengan sistem ini, Anda cukup berkemas-kemas dan pergi.” Sementara itu, kalaupun maskapai ini dilikuidasi, GTAA masih memiliki lusinan maskapai penerbangan lainnya untuk mengisi gerbang-gerbang dan konter-konter tiketnya yang lowong dalam waktu singkat.

Burke memang belum puas atas kemajuan yang dicapainya. Banyak solusi yang masih tertanam di benaknya. “Sekarang, kalau saja saya bisa menggabungkan pabean, air-traffic control dan badan pemerintah lainnya ke dalam jaringan yang sama, barulah kita melihat kemajuan sesungguhnya.” db/aa

Foto: istimewa

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.