Wajah cantik dengan postur tinggi ideal ternyata tidak serta merta menjadi modal ampuh menjadi seorang model kondang. Rasa percaya diri yang besar terbukti juga menjadi modal penting dalam meniti karir di bidang modeling ini. Paling tidak, itulah yang dialami Cathrine Wilson, seorang model yang cukup kondang tak hanya di Indonesia, melainkan juga di mancanegara. Dara blasteran Inggris ini mengaku, pada awalnya, ia sama sekali tak tertarik pada dunia modeling, apalagi bercita-cita menjadi seorang model.
“Maklum, ketika itu saya memang masih pemalu, masih anak sekolahan dan buta sama sekali dengan dunia fesyen. Rutinitas saya ketika itu ya sekolah, pulang, terus belajar di rumah. Sudah, itu saja,” ungkapnya seuasi sesi pemotretan cover eBizzAsia edisi ini.
Namun, jalan hidup ternyata berkata lain. Bermula dari iseng menemani sepupunya mendaftar kontes gadis sampul, pelan-pelan mata Cathrine pun terbuka terhadap dunia model. “Bahkan, ketika itu, pihak panitia sempat bertanya, ‘kok tidak ikut sekalian mendaftar?’. Karena memang saya sama sekali tidak berminat jadi model, ya saya tolak,” tuturnya sambil mengingat kejadian masa lalu itu.
Tapi toh perkenalannya dengan dunia modeling semakin intens, apalagi ketika ia berkenalan dengan seorang model yang lebih senior, Karina Suwandhi. Berkat dorongannya, ia pun memutuskan untuk mengikuti tes foto. Awalnya Cathrine mengaku sempat grogi juga, tapi hasilnya ternyata cukup positif. “Dan mereka pun mengatakan sesungguhnya saya cukup berpotensi menjadi model, tinggal dipoles saja,” ujar dara kelahiran Jakarta, 25 Februari 1981 ini.
Cathrine akhirnya memang memutuskan untuk terjun ke dunia model, dengan bergabung ke Looks Model. Padahal, ketika itu, ia masih duduk di kelas 3 SMA. Makanya tak heran, ketika kedua orangtuanya mewanti-wanti agar kegiatan modeling ini tidak sampai menggangu kegiatan sekolahnya.
Di masa-masa awal karirnya sebagai model, Cathrine mengaku sempat kerepotan juga. Pasalnya, di sela-sela kegiatan sekolahnya, tawaran job pun banyak mengalir. Apalagi ketika itu ia mendapatkan kontrak sebagai bintang iklan salah satu produk pembalut. Bahkan ia sempat kucing-kucingan dengan pihak sekolahnya.
“Pasalnya, ketika saya mengikuti audisi untuk produk itu, saya terpaksa mencari cara untuk “menyelinap” keluar sekolah. Akhirnya saya pun minta izin dengan alasan menengok saudara yang sakit. Izin pun keluar, tapi dengan syarat jam istirahat selesai saya harus kembali ke sekolah. Ya, ngibul-ngibul sedikit lah,” cerita Cathrine panjang lebar.
Pameo “tak kenal maka tak sayang” memang ada benarnya. Buktinya, ia pun semakin enjoy di dunia modeling. Bahkan selepas SMA, ia rela memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah dulu demi menekuni karirnya di dunia model. “Saya pikir kalau jalan dua-duanya tidak bisa, sehingga saya pun harus memutuskan salah satu,” tegas Cathrine.
Berkecimpung di dunia model tidak berarti akses terhadap teknologi menjadi terhalang. Layaknya manusia modern yang super sibuk, dalam kegiatan sehari-seharinya, ia mengaku sangat terbantu oleh berbagai perangkat mobile. Di tasnya tersimpan dua perangkat mobile andalannya, sebuah ponsel dan PDA.
“Saya kebetulan menggunakan ponsel Nokia 7610, dan PDA keluaran HP. Dengan bantuan PDA, saya bisa mengatur jadwal, dan membantu saya dalam mengelola pendapatan dan pengeluaran saya sehari-hari,” tuturnya.
Namun, ia mengaku belum tertarik menggunakan PDA phone atau smartphone, yang menggabungkan fungsi PDA dengan ponsel. “Ya mungkin ini masalah kebiasaan saja. Saya terbiasa menggunakan ponsel sendiri, kemudian fungsi-fungsi lainnya bisa saya dapatkan di PDA,” ujarnya.
Untuk browsing Internet, ia pun lebih suka melakukannya di rumah. Apakah itu sekedar mencari news, email atau ber-friendster ria. Tak jarang, saya juga sering mencari tiket via Internet pada masa-masa liburan. Meski demikian, kegiatan berbelanja online memang agak jarang dilakukannya.
Nah berbicara mengenai transaksi elektronik ini, ternyata ia juga pernah menjadi korban carder. Cathrine mengaku kartu kreditnya pernah dikerjai orang, bahkan sempat dua kali diblokir gara-gara hal itu. Suatu waktu kartu kreditnya pernah digunakan bertransaksi dari Myanmar, padahal ketika itu jelas-jelas ia berada di Indonesia. Kemudian pernah juga ketika mengikuti kegiatan show untuk Guess di Swiss, Perancis, Italia dan Belanda, ia berkali-kali sempat tidak bisa melakukan transaksi. Usut punya usut, ketika dicek ke penerbit kartu kreditnya, ternyata kartu itu pernah digunakan untuk bertransaksi di London. “Padahal saya cuma mengunjungi empat negara ini. Saya curiga jangan-jangan ini gara-gara saya memesan tiket pesawat Paris Amsterdam melalui internet. Tapi tidak tahu juga, mungkin juga dibobolnya ketika berbelanja di tempat lain,” ceritanya.
Namun, pengalaman buruk ini toh tidak membuatnya keder untuk bertransaksi online. “Paling ke depannya lebih hati-hati saja. Untuk menyiasatinya, limit kartu kredit saya dikurangi, dan untuk setiap transaksi kartu kredit, saya meminta pihak bank mengonfirmasikannya dulu ke saya,” ujarnya.
Saat ini putri pasangan Peter Wilson dan Rosita ini mengaku masih full time di dunia modeling. Tapi, ia tak menampik untuk mengintip peluang di luar dunia modeling yang kini digelutinya. Menurutnya, tawaran untuk bermain sinetron sebenarnya cukup banyak, tapi ia mengaku belum mendapatkan peran yang dianggap pas. Kabarnya, ia sudah melakukan casting untuk sebuah film layar lebar, yang rencananya akan mulai diproduksi tahun depan. “Tapi, saya belum bisa mengungkapkannya. Lha kontraknya saja belum ditandatangani,” ujar Cathrine sambil tertawa lepas.
Tapi untuk ke depan, ia mengaku tidak mematok target-target tertentu, seperti sampai usia berapa ia menekuni dunia model atau hal-hal lainnya. “Mengalir sajalah,” ujarnya. “Saya tidak ingin terbebani dengan target rencana ini, rencana itu. Kalau tidak terwujud, jangan-jangan nanti malah bisa jadi stress.” •eba team
Foto-foto: Muflihun
|