Dua penelitian yang dilakukan Alcatel, pertama , terhadap 2,779 pengusaha telekomunikasi di 12 negara Asia Pasifik yakni Australia, China, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand, yang dilakukan secara online selama Agustus dan September 2004. Kedua , dengan menggunakan responden dari 1,901 pembaca Far Eastern Economic Review (FEER), serta empat focus group yang diikuti professional muda dan para orang tua di Beijing dan Seoul. Diketahui bahwa, sedikitnya 88% pengguna jasa telekomunikasi di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, membutuhkan layanan pita lebar yang berbasiskan pelanggan ( customer centric broadband ).
Karenanya, tak heran, bila perkembangan broadband ke depan ini akan semakin marak, terutama ketika kalangan operator telekomunikasi dan infokom di seluruh dunia, baik incumbent maupun yang baru, berlomba-lomba membangun jaringan broadband berikut berbagai jenis layanan kontennya.
Pacuan tersebut lebih banyak didorong oleh perkembangan teknologi dan standarisasi yang mengikutinya, regulasi dan dukungan pemerintah, yang kemudian memicu berkembangnya berbagai layanan konten dan mendorongkan kebutuhan masyarakat dan kalangan bisnis yang lebih besar dan luas. Layanan broadband tak hanya bertumpu pada akses Internet, melainkan juga dapat berupa layanan video on demand, video streaming hingga pay TV, yang mulai berkembang, misalnya di Hong Kong, di mana layanan broadbandnya berkapasitas minimal 1 Mbps.
Broadband Internet, sesungguhnya merupakan suatu layanan yang memadukan antara narrowband Internet dengan Non-Internet broadband , yang selama ini terpisah dengan karakteristiknya masing-masing. Narrowband Internet yang lebih dikenal sebagai akses Internet, umumnya kecepatannya terbatas ( dial-up ) dan perangkat yang digunakan lebih tertuju pada komputer PC, laptop dan sejenisnya. Bekerja dalam jaringan, namun tak berkemampuan interaktif video.
Sedang Non-Internet Broadband , sebagaimana dikembangkan siaran TV atau TV Kabel, lebih bersifat “always on”, kapasitas jaringan tinggi, namun non-interaktif. Perpaduan keduanya, kemudian memunculkan layanan yang berkemampuan video, bersifat interaktif, bekerja dalam jaringan dan lebih berbentuk personalisasi atau yang sering disebut berbasis pelanggan dan itulah broadband Internet.
Ke depan layanan broadband akan semakin memiliki karakteristik tersendiri, yakni bersifat interaktif, bekerja dalam jaringan dan lebih personal. Perubahan yang tampak lebih pada, misalnya konten yang sebelumnya pasif menjadi interaktif, jaringan yang terpisah mengalami konvergensi, perangkat yang bersifat mandiri menjadi terkoneksi dalam jaringan, dan konsumennya pun membutuhkan layanan yang lebih personal.
Nantinya, bukan saja layanan kontennya yang akan bervariasi, perangkat yang digunakan pun akan sangat beragam. Begitu juga kompetisinya akan semakin ketat, dimana layanan konten seperti musik, video, film, gam akan semakin banyak dikonsumsi, karena akan semakin mudah dan murah, dan layanannya pun akan tersedia 24 jam ( always on ).
Internet dan TV Kabel
Pengalaman menggunakan Internet, boleh dikata, merupakan salah satu yang sangat besar perannya mendorong banyak orang beralih ke layanan broadband, meski tak sedikit juga orang yang langsung menikmati layanan TV kabel misalnya, yang sebelumnya tak pernah bersinggungan dengan Internet. Tak heran mengapa, sampai saat ini, sebagian besar layanan broadband lebih tertuju pada kebutuhan akses Internet kecepatan tinggi dan kapasitas besar, baik untuk keperluan pribadi, pemerintahan maupun bisnis. Meski perkembangan layanan hiburan juga semakin banyak berkembang.

Di Indonesia, perkenalan dengan broadband dipelopori oleh PT Telkom Tbk sebagai penyelenggara telekomunikasi terbesar, yang pada tahun 1993, setelah sukses melakukan digitalisasi jaringan PSTN ( public switched telephone network ), memperkenalkan platform ISDN yang disebut Pasopati - paduan solusi kecepatan tinggi. Namun, dalam kenyataannya ISDN ( integrated services digital network ) kurang mendapat tanggapan dari pengguna dan tak berkembang.
Setelah lama berselang, baru kemudian Telkom memunculkan layanan broadband berbasis teknologi ADSL ( asymmetric digital subscriber line ) dengan merek TelkomLink Multi Media Access (MMA). Layanannya masih terbatas dan dimulai di wilayah operasional Divisi Regional II yang meliputi Jakarta Raya, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, serta di DIVRE V Jawa Timur untuk Kota Surabaya. Pada kurun waktu yang sama juga muncul layanan TV kabel, seperti yang dikembangkan Kabelvision dan Indovision, yang juga memberikan pengalaman tersendiri bagi sebagian masyarakat.
Belum lama ini, Telkom juga meluncurkan layanan akses Internet broadband baru yang disebut Speedy. Speedy mampu memberikan fasilitas koneksi broadband dengan kecepatan downstream 384 Kbps dan upstream 64 Kbps. Sementara kategori broadband sendiri dipandang sebagai setiap koneksi yang mampu bekerja antara 256 Kbps dan 10 Mbps.
Sedang di Amerika, broadband diartikan sebagai setiap koneksi yang mampu bekerja pada kecepatan 200 Kbps, baik upstream maupun downstream . Sedang di Hong Kong, lain lagi, yakni setiap jaringan yang disebut broadband berarti mampu bekerja pada kecepatan minimal 1 Mbps. Perbedaan kategorisasi ini, tentu akan berdampak terhadap jumlah pengguna broadband, dan berarti pula tingkat penetrasinya di suatu negara.
Di sisi lain, komunikasi data kecepatan tinggi dan berkapasitas besar sebelumnya banyak dilakukan dengan menggunakan kabel serat optik, hanya saja biaya investasinya cukup mahal, begitu juga biaya koneksinya, sehingga perkembangannya relatif terbatas. Namun, dengan meningkatnya jumlah pengguna Internet, begitu juga kalangan bisnis dan pemerintahan yang membutuhkan koneksi dan akses Internet kecepatan tinggi, semakin mendorong penggunaan kabel serat optik itu.
Jepang, Korea Selatan, Swedia dan Italia merupakan negara-negara yang memiliki penetrasi FTTH ( fiber-to-the-home ) yang cukup kuat, terutama karena meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap broadband di negara tersebut. Awal 2003, Jepang memiliki lebih dari 233.000 pengguna FTTH, dan akhir Maret 2004, meningkat menjadi 1,1 juta, sementara pelanggan broadbandnya secara keseluruhan mencapai 15 juta.
Namun, kalau kita amati, secara umum perkembangan FTTH, meski bertumbuh, namun laju perkembangannya belum begitu besar. Yang justru potensial adalah yang belakangan ini mulai marak, yakni pemanfaatan jaringan kabel telepon biasa dengan menggunakan teknologi ADSL. ADSL, yang merupakan salah satu turunan dari rumpun teknologi xDSL, sanggup melewatkan jutaan bit informasi dalam hitungan detik pada jaringan kabel telepon biasa. Lebih dari itu, kabel yang sama, masih dapat digunakan untuk komunikasi suara, selain komunikasi data kecepatan tinggi.
Tercatat, pada tahun 2003, kurang lebih 65 persen dari 100 juta pelanggan akses broadband seluruh dunia menggunakan teknologi xDSL ini. Ke depan, perkembangan layanan broadband ini jelas akan meningkat sangat pesat. Hasil riset terbaru Yankee Group menyatakan, bahwa jumlah pelanggan broadband dunia akan meningkat dari sekitar 100 juta pada akhir 2003, kemudian menjadi 123 juta pertengahan 2004, dan akan menjadi sekitar 325 juta pada 2008.
Perkembangan itu, selain ditempuh untuk segera mengejar ketertinggalan dari operator nirkabel, baik berbasis GSM maupun CDMA, yang kini telah memasuki teknologi layanan data berkecepatan tinggi (2,5G dan 3G), juga sebagai sumber pendapatan baru kalangan operator incumbent, di luar layanan komunikasi suara yang selama ini dikembangkannya. Munculnya Internet dan sinerginya dengan sistem komunikasi yang memunculkan infokom, membuat perusahaan-perusahaan telekomunikasi konvensional kehilangan bisnis intinya – telekomunikasi suara.
Bukan saja kini komunikasi suara dapat menggunakan teknologi berbasis IP dan berkembang juga ke layanan nirkabel, namun hanya menyediakan jaringan telepon saja, kini tak lagi memadai. Sementara investasi baru di jaringan kabel juga tak lagi murah, sedang penambahan SST menggunakan jaringan seluler atau fixed-cellular menjadi lebih mungkin dilakukan. Dengan begitu, peningkatan pertumbuhan bisnisnya dengan investasi yang lebih murah dan cepat pembangunannya, dapat diwujudkan.
Karenanya, kehadiran teknologi ADSL ini, boleh dikata menjadi berkah, karena perusahaan incumbent akan memperoleh gairah baru dengan munculnya sumber pendapatan baru dari jaringan kabel yang dimilikinya. Meski untuk itu, tetap diperlukan investasi tambahan, namun terasa lebih logis untuk dikembangkan karena manfaatnya akan lebih cepat terealisasi. Kurva pertumbuhan kedua para operator incumbent ini pun masih berpeluang berkembang lebih tinggi, seiring peningkatan kemampuan jaringan masuk ke jalur broadband yang lebih stabil dan berkapasitas lebih besar.
Misalnya, ke depan, ADSL ini akan berkembang menuju SDSL ( symmetric DSL), yang mampu bekerja pada kecepatan yang sama, baik downstream maupun upstream . Juga, berkembang ke ADSL2+ dan ADSL2. Keduanya menawarkan beberapa keunggulan, seperti fleksibilitas daya, adaptasi yang lebih terbuka, dan meningkatkan interoperabilitasnya. ADSL2+ memiliki frekuensi trafik antara 1,1 MHz dan 2,2 MHz, dan bekerja antara 15 Mbps dan 25 Mbps dengan jarak hingga 6,000 kaki dari DSLAM. Selanjutnya, VDSL ( very high speed DSL), yang mampu menghantarkan antara 13 Mbps dan 50 Mbps
Dengan begitu, penggunaan teknologi xDSL akan meningkatkan kualitas komunikasi datanya dan sekaligus diperkirakan akan semakin meningkatkan jumlah pelanggannya secara lebih cepat lagi. Begitu juga, jenis-jenis layanan baru yang sebelumnya tak dapat dilakukan melalui jalur kabel yang dimilikinya.
Secara global, peluang bisnis ADSL terlihat cukup menjanjikan. Menurut laporan DSL Forum (www.dslforum.org), pada akhir tahun 2003 pelanggan ADSL di seluruh dunia telah mencapai 100 juta, dimana 63,84 juta di antaranya merupakan pengguna ADSL. China merupakan penyumbang populasi terbesar dengan jumlah pelanggan ADSL sebanyak 10,95 juta (belum termasuk Hong Kong ), kemudian disusul Jepang (10,27 juta), Amerika Serikat (9,12 juta), dan Korea Selatan (6,43 juta).
Sedang kalau dilihat dari penetrasi pelanggan broadbandnya, justru Korea menempati urutan teratas dengan 23,3 pengguna per 100 penduduk. Akhir 2004, jumlah pelanggan broadband Korea Selatan telah mencapai 30 juta, baik menggunakan DSL maupun kabel modem. Urutan kedua, Hong Kong (18,2), dan selanjutnya Taiwan (12,5), Jepang (10,7), Singapura (9,4), dan China (0,9).
Dari laporan tersebut, terlihat bahwa kawasan Asia Pasifik tetap menjadi pasar terbesar ADSL dengan pangsa pasar lebih dari 32 persen. Di kawasan Asia Tenggara, Singapura menempati posisi teratas untuk tingkat penetrasi ADSL sebesar 12,6 sambungan ADSL perseratus saluran telepon.
Bagi Indonesia, khususnya diwakili PT Telkom, yang kini memiliki sekitar 8,72 juta pelanggan telepon kabel, pengembangan broadband berbasis teknologi ADSL, akan menjadi ceruk pasar tersendiri. Meski tak seluruhnya jaringan lokal kabel tembaga di Indonesia layak secara teknis ditingkatkan kegunaannya dengan teknologi ADSL menjadi layanan broadband, namun potensinya tetap besar.
Bayangkan saja, kalau yang layak untuk itu, katakanlah sekitar 25 persen saja dari total pelanggan telepon Telkom yang ada saat ini, maka akan ada lebih kurang 2 juta pelanggan telepon yang bisa dilayani ADSL. Dan, tampaknya potensi itulah yang akan digenjot Telkom dalam rencana pengembangannya ke depan, yakni membangun layanan broadband ADSL untuk 2 juta pelanggan di seluruh Indonesia mulai tahun 2005 hingga 2008.
Telkom sendiri, selain potensial mengembangkan ADSL, kini juga telah memiliki layanan akses Internet kecepatan tinggi, seperti TelkomLink MMA dan Speedy dan TelkomFlexi yang didukung teknologi CDMA 2000-1X EVDO ( evolution data only ). Begitu juga, jaringan seluler, yang dimulai dari GPRS, EDGE atau nantinya W-CDMA melalui anak perusahaan, Telkomsel.
Di sisi lain, Indosat juga menyediakan layanan akses Internet kecepatan tinggi yang disebut: Palapa Broadband, yang melayani broadcast data , video dan audio dengan kemampuan download hingga 45 Mbps dan menggunakan sistem berbasis IP. Perusahaan yang sebgain besar sahamnya kini dimiliki asing ini, juga mengembangkan pay TV melalui IndosatM2. Pengembangan layanan fixed cellular menggunakan teknologi CDMA, yang kalau Telkom memiliki TelkomFlexi, Indosat memiliki StarOne. Belum lagi, ada Mobile8 melalui layanan Fren. Begitu juga, Exelcom yang semuanya mulai mengembangkan layanan komunikasi data kecepatan tinggi, termasuk hospot.
Pengembangan layanan broadband ini juga dilakukan oleh sejumlah ISP ( internet service provider ), melalui penggelaran layanan akses Internet yang bekerjasama dengan operator incumbent , seperti Telkom dan Indosat, melalui pengembangan ADSL dan hotspot, meski jumlahnya masih relatif sedikit. Antara lain, Centrin, CBN, IndoInternet, LinkNet dan lain sebagainya, dengan tawaran harga yang bervariasi sesuai layanan tambahan lainnya yang diberikan ISP.
Selain itu keduanya, baik Telkom maupun Indosat, tampaknya juga tengah menyiapkan untuk menerapkan WiMAX akhir 2005 atau setidaknya awal 2006 mendatang. WiMAX merupakan standar baru baru teknologi nirkabel kecepatan tinggi dan berkapasitas besar yang diperkirakan berpotensi akan mengubah peta bisnis “telekomunikai” di masa dating. Meski WiMAX sendiri pun menghadapi persaingan ketat dari standar lainnya, yakni FLASH-OFDM. Jika itu berjalan, maka akan ada kemungkinan yang lebih besar lagi, selain meningkatkan jumlah pelanggan broadband di Indonesia, akses Internet dan konten yang bervariasi pun akan terbuka lebar pengembangannya.
Prospek dan Kendala
Meski peluang pengembangan ADSL oleh kalangan operator incumbent , yang di Indonesia dimiliki Telkom, cukup besar, namun, untuk merealisasikannya, tetap dibutuhkan investasi yang cukup besar. Diperkirakan investasinya mencapai antara 300 sampai 380 dollar AS per satu satuan sambungan layanan (SSL) – dari ujung ke ujung. Antara lain, kebutuhan membangun DSLAM ( digital subscriber line access multiplexer ), yang merupakan sentral layanan data ke seluruh pelanggan, server billing , NMS ( network management system ), BRAS ( broadband remote access server ) dan IP router .
Namun, ketersediaan dari sisi infrastruktur saja, belum pada saat yang sama menjamin bahwa layanan yang disediakan akan kompetitif. Masalahnya, biaya bandwidth Internet yang mahal, khususnya di Indonesia , merupakan kendala tersendiri. Dengan harga bandwidth yang tinggi, tentu hal itu akan mengurangi laju perkembangan jumlah pelanggan. Meski kebutuhannya besar, namun jika harganya tidak kompetitif, maka dapat dipastikan masih banyak calon pelanggan yang akan menahan diri untuk memilih tidak menggunakan broadband, setidaknya sampai harganya lebih kompetitif, terutama jika dikaitkan dengan manfaat ekonomisnya.
Masalah harga layanan, misalnya paket Speedy personal Telkom dengan kecepatan 512 Kbps dengan penggunaan hingga 2GB, seorang pelanggan ADSL link dikenai biaya sebesar Rp 500 ribu untuk biaya aktivasi dan Rp 800 ribu untuk biaya abonemen dan untuk setiap kelebihan penggunaan dikenai tambahan biaya Rp. 1.200,-/MB. Akses Internet, misalnya Centrin menmgenai biaya aktivasi Rp. 250 ribu dan biaya bulanan Rp. 500 ribu, sehingga total biaya pertama seorang pengguna akses Internet berbasis ADSL (2GB) sebesar Rp 750 ribu biaya aktivasi dan bulanan Rp. 1,3 juta atau Rp. 2,05 juta (belum termasuk PPN 10%).
Sedang untuk korporasi, dengan kecepatan 384 Kbps downstream dan 64Kbps upstream, akan dikenai biaya aktivasi Rp. 2,5 juta dan biaya bulanan Rp. 3,8 juta untuk penggunaan tak terbatas ( unlimited ). Untuk biaya akses Internet untuk 384 Kbps unlimited , Centrin mengenai biaya sebesar Rp. 2 juta biaya aktivasi dan Rp. 2,95 juta untuk biaya bulanan. Sehingga untuk korporasi akan total dikenai biaya aktivasi pertama Rp. 4,5 juta dan biaya bulanan Rp. 6,75 juta atau 11,25 juta (belum termasuk PPN 10%).
Bandingkan dengan di Singapura (SingTel), dengan kapasitas yang sama, biayanya hanya sebesar 378 dollar Singapura (belum termasuk pajak 5 persen) atau sekitar Rp 2.079.000 (asumsi kurs 1 dollar Singapura setara Rp 5.500).
Mahalnya harga bandwidth, terutama karena kapasitas bandwidth Indonesia total sekitar 700 sampai 800 Mbps, menjadi kendala tersendiri. Hal itu pula yang kemudian mendorong kalangan ISP mengonsumsi bandwidth dari luar negeri yang besarnya bisa mencapai 200 Mbps. Namun, masalah tak berhenti di harga, melainkan juga jenis layanan yang masih terbatas pada suara dan Internet.
Padahal, dengan teknologi ADSL, terbuka peluang pengembangan konten yang sangat beragam, seperti voice over DSL (VoDSL), virtual private network (VPN), download lagu atau musik ( audio on demand ), menonton tayangan film pilihan ( video on demand ), pengamatan rumah atau kantor jarak jauh ( surveillance ), dan lain sebagainya. Hal itu pula mengapa konsentrasi penggunaan ADSL masih lebih ke penggunaan akses Internet dan belum berkembang ke berbagai jenis layanan lainnya.
Menurut penelitian Yangkee Group tahun 2003, layanan-layanan broadband yang membutuhkan kapasitas bandwidth di bawah 1,5 Mbps sangat beragam, seperti Audio streaming (mendekati kualitas DVD), video streaming, software dan audio download, browsing, gaming, online PC games . Termasuk juga IP telephony, Web surfing, email, e-Commerce dan masih banyak lagi. Sedang video streaming sekualitas DVD membutuhkan kapasitas yang lebih besar, yakni 8Mbps, dan Multichannel TV sebesar 10 Mbps.
Tantangan ke depan, tampaknya masih akan berat, namun arah perkembangan menuju broadband sudah semakin jelas. Hanya saja ketersediaan layanan yang didukung infrastruktur yang memadai, masih membutuhkan dukungan regulasi yang jelas, sehingga bukan saja akan berdampak pada pendapatan perusahaan dan penyedia jasa dan konten, melainkan juga kepada pengguna dan pemerintah. Hal itu, terutama melalui pajak dan perkembangan jasa-jasa ikutan, seperti konten. Insa
grafis: gunawan |