Volume III No 23 - Januari 2005
 

Suryatin Setiawan, Direktur Bisnis Jasa Telekomunikasi, PT TELKOM, Tbk.

"Telkom akan bangun 2 juta sambungan broadband"

 

 

Saat ini, broadband bukan saja menjadi perbincangan luas, melainkan juga telah diterapkan dan digunakan oleh puluhan bahkan ratusan juta orang di seluruh dunia. Ratusan negara di dunia berlomba-lomba mengembangkan jaringan broadband, baik melalui kabel maupun nirkabel, yang dari waktu ke waktu kapasitasnya terus meningkat. Kemampuan yang meningkat itu, pada saat yang sama, memungkinkan broadband digunakan tidak hanya untuk komunikasi suara, melainkan juga data dan video secara lebih baik. Akibatnya, jenis penggunaannya pun semakin bervariasi, yang kemudian juga membuka peluang baru pengembangan berbagai konten secara luas.

Manfaatnya yang menjanjikan, dan bahkan telah menjadi tren dunia, sebagai akibat kemajuan teknologi telekomunikasi, komputer dan Internet yang terus berkembang pesat, boleh dikata membuat sebagian besar, kalau tak seluruhnya, negara-negara di dunia sangat antusias membangun dan mengembangkan jaringan broadband, termasuk Indonesia. Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya hal itu juga berkembang di Indonesia, tim majalah eBizzAsia mewawancarai Suryatin Setiawan , Direktur Bisnis Jasa Telekomunikasi, PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. di kantornya di kawasan Gatot Subroto, Jakarta, awal Desember 2004 lalu. Berikut petikannya:

Berbicara mengenai broadband, bagaimana menurut Anda perkembangannya?

Broadband itu road map -nya pasti, tak ada keraguan lagi. Dan, itu tidak perduli terjadi, baik di wireless maupun wireline . Jadi, kalau kita bicara di GSM itu akan keluar 3G, rod-map nya jelas. Bicara CDMA, Flexi road map -nya jelas. Dari CDMA 1x 2000, berkembang ke CDMA EV-DO ( evolution-data-only ), dan nantinya pada tahun 2006 sampai 2008 berkembang ke CDMA EV - DV ( evolution-data-voice ) . Itu semua broadband. Di jaringan kabel juga sudah jelas, kalau kabel tembaganya sedikit, kita akan masuk dengan modem ADSL. Nantinya, standar ADSL pun akan meningkat ke ADSL2+, yang berarti kabel akan memiliki kemampuan triple play , yakni dapat dialiri video, Internet dan sekaligus suara. Road map itu sudah pasti, dan itu pasti terjadi.

Bagaimana gambaran jangka panjangnya?

In the long run , kalau kita bicara kabel, seperti yang dilakukan oleh Verizon di Amerika, ya akan menggunakan fiber yang masuk sampai ke rumah-rumah ( fiber-to-the-home – FTTH). Itu dulu pernah menjadi cita-citanya Jepang, tetapi kemudian mengalami slow down , karena harganya masih tinggi. Sekarang itu terjadi. Ada operator-operator yang memutuskan tidak mau merenovasi, tetapi sebaliknya, melakukan rebuild . Semua kabel yang ada diganti dengan kabel serat optik, tetapi investasi seperti itu mahal dan pasarnya juga harus mature. Saya kira, kalau di Indonesia itu belum bisa dilakukan.

Di semua negara terjadi perkembangan semacam itu. Juga di Indonesia, dimana Flexi akan masuk ke EV-DO pada akhir 2005 mendatang atau setidaknya awal 2006. Hal itu akan tergantung pada ketersediaan perangkat handphone -nya, apakah sudah akan tersedia di pasar dan harganya terjangkau. Itu akan terus berjalan, dan kemudian masuk ke EV-DV.

Selanjutnya, Telkomsel akan masuk yang dimulai dari GPRS, EDGE dan masuk ke W-CDMA, yang ditujukan sebagai layanan 3G. Sementara, jaringan kabel akan dibroadbandkan dengan Speedy, yang hingga tahun 2008 mendatang Telkom menargetkan untuk membangun 2 juta SSL (satuan sambungan layanan). Boleh dikata, hal itu sangat agresif. Kalau dibanding dengan Singapura yang kini memiliki sekitar 600 ribu atau kurang dan Thailand yang kira-kira 400 ribu, jadi jumlah 2 juta itu sangat agresif. It's a huge project! Jadi, Telkom jelas akan ke situ.

Apakah ada kemanfaatan khusus yang bisa diperoleh dengan adanya broadband?

Kalau ditanya uniqueness atau kemanfaatan khususnya apa, broadband itu, nomor satu bagi orang awam, adalah akses. Jadi, kalau saya akses corporate Intranet atau akses Internet, aksesnya cepat. Itulah yang paling minim harus terjadi. Kalau itu pun tidak terjadi, maka ia akan menjadi inhibiting factor , semua yang lain-lain juga tidak muncul. Tidak muncul kreasi dan tidak akan muncul interaksi yang produktif. Kalau aksesnya lambat, hal itu jelas akan discouraging semua, maka seluruh aspek perekonomian yang dasarnya “e” jadi terhambat. Dengan begitu, basis yang penting bagi proses tersebut yaitu meng”e”kan segala macam proses kegiatan masyarakat.

Kalau dilihat dari konteks Indonesia, sebetulnya makin broadband semakin perlu. Kita sudah mempunyai contoh yang menggembirakan, menurut saya. Presiden baru kita, sejak dari Cikeas sampai sekarang ini sudah melakukan beberapa kali video conference dengan masyarakat, Polda, jajaran pajak, dan ITS. Beliau memang sangat engage dengan itu. Maksudnya apa? Indonesia itu suatu negara yang sangat unik, luas, lebih banyak pulau, dan airnya lebih banyak dari daratan, tetapi menyatu. Cara yang paling ampuh tentu kalau kita mengembangkan broadband. Dengan begitu, komunikasinya dapat dilakukan secara face-to-face , dan bisa melakukan koordinasi secara lebih baik. Sederhananya, ya itu yang dibutuhkan Indonesia.

Kalau tidak, bagaimana Anda menangani kawasan yang begitu luas ini. Sebagai presiden, mestinya memang perlu memiliki suatu kedekatan yang lebih utuh ( intact engagement ) dengan seluruh daerah, ibaratnya koordinasi dengan seluruh unit menjadi lebih padu. Itu yang menurut saya perlu dikembangkan di Indonesia. Semakin mudah mendapatkan layanan broadband dan dengan harga yang semakin murah, maka yang akan terjadi ya unification , komunikasi menjadi lebih mudah, lebih dekat dan dampak psikologisnya lebih terasa, dan tidak hanya mengandalkan komunikasi suara. Yang sekarang ini rutin kita lakukan di Telkom, ya kalau meeting , Anda bahkan tak berpikir bahwa orang yang diajak meeting itu sedang berada di tempat lain. Itu dilakukan melalui video conference .

Apa makna semua itu?

Sebetulnya, maknanya ya itu tadi, akses Internet maupun Intranet itu harus lancar, sehingga tidak akan menjadi inhibiting factor , melainkan sebaliknya justru akan menjadi faktor yang mendorong majunya banyak hal lainnya. Tujuannya tak lain adalah e-Business. Semua yang “e” itu harus terjadi.

Apa yang akan dilakukan Telkom ke depan dalam pengembangan broadband?

Saat ini, Telkom memiliki lebih dari 8 juta pelanggan telepon kabel dan hingga tahun 2008 Telkom akan meningkatkan 2 juta sambungan menjadi broadband melalui ADSL. Pembangunannya akan dilakukan di 20 kota di seluruh Indonesia. Selain itu, kita tak hanya masuk dari kabel tembaga, juga kabel hybrid coax , termasuk melalui cable TV network . Dua jalur itu yang akan dilakukan, sebelum suatu saat nanti fiber masuk ke rumah (FTTH), yang bagi Indonesia mungkin masih agak jauh.

Apakah wireless juga memiliki road map yang jelas?

Wireless kita sudah jelas, road map -nya juga jelas, bahkan sudah pakai tahun. Jadi, nggak ada masalah, kita semua akan menuju ke situ. Diperkirakan 10 tahun dari sekarang kita akan bisa mencapai jaringan yang bekemampuan menyalurkan kapasitas 1,5 Mbps.

Yang 2 juta itu akan diangkat ke kecepatan berapa ?

Ya, sekarang inipun kita sudah sampai pada kecepatan 512 Kbps, itu yang menjadi tawaran standar di dunia. Kalau Anda bisa mencapai itu sekarang ini, ya almost infinite . Biasanya, yang kita gunakan berkecepatan sekitar 40 Kbps atau 50Kbps ( dial-up ). Sekarang dapat sepuluh kali lebih cepat, bahkan lebih. Jaringannya sudah siap, bahkan kita tahu timeline -nya kapan. Sekarang ini, begitu masuk ADSL2+, maka akan terjadi peningkatan langsung ke 1,5 Mbps. Itu akan berkembang terus dan akan diikuti, misalnya WiMAX. Bahkan kalau bicara 3G, itupun akan muncul lagi, yang kapasitasnya lebih besar, pada infrastruktur yang sama. Jadi, jalannya akan terus dan tidak ada titik balik.

Tentu ada berbagai tantangan yang akan dihadapi. Apa saja tantangannya?

Bagi Indonesia yang perlu dilakukan adalah peningkatan investasi, itu menyangkut kemampuan investasi infrastruktur. Indonesia kan tantangannya itu. Nggak usah bicara Telkom. Kalau kemampuan invetasi total Indonesia naik dengan cepat, apakah itu jalan, listrik, telekomunikasi, misalnya, semuanya juga akan naik. Ini invetasi total negara, itu constrain . Kalau dibandingkan dengan China, ya tidak ada bandingannya. China itu kalau membangun kan luar biasa. Jadi, tantangan Indonesia adalah investasi.

Kalau makro ekonominya bagus, ekonomi tricle down , investasi luar masuk, kegiatan ekonomi marak kembali dan turisme jalan, ya jalan semua. Kalau telekomunikasi sih sudah lebih aman, kita sudah tahu road planning kita.

Bagaimana ukendala lainnya?

Meskipun ada kendala lain, tapi itu kan tidak major . Itu sifatnya day-to day , misalnya ada kendala integrasi, transpor dan itu normal sajalah. Kalau Anda melihatnya dari sisi makro, ya itu. Kalau di telekomunikasi, sudah jelas.

Telkom sendiri seberapa besar investasinya tahun 2005 ini?

Investasi total grup Telkom untuk tahun 2005 saja diperkirakan akan mencapai Rp. 13 triliun, sementara negara mungkin hanya mampu Rp. 40 sampai Rp. 50 triliun. Kalau boleh dibilang, dalam konteks skala, investasi Telkom itu tidak kecil. Tetapi, kan tidak hanya Telkom, masih ada yang lain. Jadi, sektor telekomunikasi mungkin sudah mencapai sepertiga investasi negara. Itu di luar dari investasi pemerintah. Jadi, kita juga membangun kegiatan ekonomi.

Seandainya investasi nasional tidak lancar, apa dampaknya?

Menurut saya, kalau investasi nasional tidak lancar, ya akan jadi inhibiting factor . Kalau tidak lancar, ya tidak muncul lagi. Ide tidak muncul, hal-hal yang sebelumnya kita bayangkan akan terjadi, tidak terjadi. Karenanya, inhibiting factor , faktor penghambatnya, harus dibuka dulu. Telkom sendiri merasa perlu juga untuk menyiapkan, khususnya sisi manusianya. Kenapa kita masuk ke IG2S ( internet goes to school ), kenapa kita masuk ke smart campus . Itu kan sisi lain yang harus di touch juga, sehingga akan semakin banyak yang fasih menggunakan jalan yang terbuka ini. Kalau nanti dia punya jalan yang terbuka dan fasih menggunakannya, maka dia sendiri intellectually akan terbang. Mikir apa, nggak ngerti kita. Mau virtual shop, virtual office, telecomputing , atau apa sajalah.

Selama ini, hambatan pengguna kan lebih di masalah biaya akses. Bagaimana jalan keluarnya?

Trennya pasti turun. Jadi, it's a matter of time saja. Sama saja, pada akhirnya ya memang menyangkut kemampuan. Nantinya akan semakin mampu, dan semua akan ikut tren itu. Nggak ada jalan lain. Tapi, turunnya itu harus diimbangin dengan kenaikan volume. Kalau tidak, pertumbuhan bersihnya ( net growth ) tidak ada. Pertumbuhan bersih itu sangat penting, baik bagi negara maupun perusahaan. Kalau net growth -nya terus naik, harganya turun, dan volume naik, ya itu bisa menjaga pertumbuhannya.

Kalau bicara kendala bandwith , ya itu memang kendala. Jaringan yang kecepatannya bisa mencapai 512 Kbps memang baru dijumpai di Jakarta dan Surabaya. Sedang, kawasan lainnya masih dial-up . Dengan menggunakan I-VAS, mungkin sudah agak improve .

Kalau dibandingkan dengan Korea Selatan misalnya, bagaimana pendapat Anda?

Kalau kita melihat Korea, negara itu sangat maju. Karena itu merupakan intervensi pemerintahnya, bukan karena perusahaan-perusahaan telekomunikasinya. Perusahaan tidak akan mampu membawa bangsanya maju secara luas seperti itu. Strateginya, kan bagaimana Korea bisa mengalahkan Jepang, itu aja caranya. Ya, kalau sudah begitu, kalahkan saja. Nah, sekarang apa yang bisa dilakukan secara leaf-frog yang dia belum punyai dan Jepang juga belum. Ketemu broadband, ya broadband yang dikembangkan. Pertumbuhan China, juga karena besarnya government intervention .

Kalau bicara skala pertumbuhan bangsa, maka yang bicara nggak lagi skala perusahaan, tetapi negara. Telkom misalnya, sebagai perusahaan kita akan main dengan aturan yang cukup jelas, tetapi kita tidak bisa membangun secara keseluruhan. Tidak kuat kita. Jadi, kalau mau sampai seperti itu modelnya, ya itu urusannya pemerintah.

Di Indonesia, sebenarnya kan sudah banyak inisiatif yang dilakukan. Tetapi, yang namanya inisiatif itu, daya dorongnya kan tidak besar. Jadi kita mesti sabar, karena grup ini punya inisiatif, departemen itu punya inisiatif, perusahaan ini punya inisiatif dan yang lainnya juga punya. Semua punya inisiatif dan ingin ngomong hal yang sama. Tapi, itu kan tidak punya daya dorong. Itu harus didorong oleh pemerintah.

Apakah inisiatif yang dilakukan Telkom berdampak besar?

Ya, kita masuk program IG2S, ada perkembangan. Kontribusinya ada. Kita keluarkan biaya, kita kontribusi sebanyak yang kita bisa. Jadi ditingkatkan secara tahap ber tahap, dan saya yakin hal itu tak hanya dilakukan Telkom. Perusahaan lain juga melakukannya. Nah, kalau semua upaya itu menyatu dan punya dukungan, ya tentu hasilnya juga lain. Kelihatan. Kita, dalam kapasitas sebagai Telkom, melakukan apa yang kita mampu.

Yang kita lakukan tentu tidak terkait dengan semuanya, yang bagian Telkom kita lakukan, bandwidth kita berikan, baik anak sekolah, mahasiswa, kalangan pegawai negeri juga. Tapi, urusannya kan tidak hanya itu, ada listrik. Kalau listriknya padam, lalu bagaimana? Begitu juga kalau komputernya rusak, siapa yang membiayai perbaikannya. Itukan semua bagian dari itu. Kita juga tidak bisa membiayai semua itu. Nah, kalau itu dikoordinasikan, lantas siapa komandannya?

Selama ini sifatnya lebih berupa komunikasi di tingkat korporat. Soal listrik misalnya, kita ketemu PLN, bagaimana kalau kita join. Begitu juga komputer, kita lihat BCA mau ganti komputer, lantas komputer lamanya mau dikemanakan. Nah kita ketemu, bagaimana kalau kita kerjsama. Ya, itu. Nggak bisa mengurusi semuanya.

Apakah itu karena mereka sendiri belum memanfaatkannya?

Saat ini, para pengguna video conference yang paling intens justru dari kalangan pemerintahan, termasuk Polri. Jadi, sudah masuk ke kalangan birokrat dan tatanan lainnya. Sekarang, malah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun sudah menunjukkannya dengan melakukan video conference . Sebelum SBY, Polri sudah rutin melakukannya. Polri punya inisatif, TNI punya inisiatif, dapartemen-departemen punya inisiatif. Hanya saja, itu semua hanya berupa inisiatif masing-masing. Berbeda dengan Malaysia, Mahathir itu punya blueprint. Kemudian dia gambar, dia taruh milestone -nya, kemudian dia drive dan dia kumpulkan semua sumber daya yang dimilikinya. Itu saja bedanya.

Apakah yang dilakukan, terutama dalam skala Telkom, cukup efektif?

Kalau ditanya dalam konteks negara, wah saya tidak tahu itu. Namun, sebagai warga negara, tentu saya berharap akan ada dorongan dalam skala negara. Tetapi, kalau ditanya dalam konteks Telkom, saya percaya saya achieving .

Apa alasan mengembangkan inisiatif smart campus?

Waktu kita masuk ke smart campus , kita challenge . Apa yang dibangun harus bisa dipertahankan. Yang dipertahankan itu apa? Itu harus diidentifikasi. Di kampus, dalam smart campus contact yang saya mau share , internal call -nya kemudian dibebaskan. Kalau masuk, trafiknya kita share supaya dia punya pendapatan. Begitu juga, intellectual base -nya kampus harus bisa dijual lewat jalur wireline atau wireless . Jadi, ada ekonomi di situ. Kalau ada nilai ekonomi, dia bisa mengembangkannya sendiri. Yang kita harapkan hal itu akan berkesinambungan.

Untuk program smart campus ini semua Divre (Divisi Regiobal Telkom, red ) punya target. Kita bikin pelatihan nasional, kemudian kita serahkan ke Divre, tetapi dengan target dan itu ada fase-fasenya. Yang fase ini sudah berapa universitas, dan lain sebagainya.

Ada rencana lainnya ?

Kita juga punya inisiatif, yang mau didorong itu UKM. Bagaimana UKM bisa lebih kompetitif, khususnya kalu dia pada mode itu. Masak iya, UKM harus membuat mail server sendiri, mau isi anti spam, virus dan lainnya sendiri. Kalau sudah agak maju dia mungkin perlu CRM, tetapi masak ia harus membeli CRM. Perlu ERP, apa ia harus beli sendiri? Nah, kita ciptakan layanan gabungan antara service yang mau di- host dengan jaringan yang telah digunakan untuk Pemilu. Itu sudah digunakan dan jaringannya mencakup seluruh Indonesia. Kita punya akses data yang begitu luas dan sudah dibuktikan pada waktu Pemilu lalu, jalan.

Sekarang kita tinggal ganti, taruh server ke jaringan itu, sehingga kalau ada perusahaan UKM perlu email, CRM atau ERP, mereka tidak perlu membeli. Mereka cukup berlangganan ke Telkom, baik berbasis penggunaan, bulanan atau malah tahunan. Jadi, dia tidak perlu invest . Ini bisnis, platform -nya usaha dan berskala nasional. Sekarang ini masih dalam perencanaan. Dengan layanan baru ini, kita ingin memberi kemudahan kepada para UKM, sehingga mereka tak perlu biaya investasi, tetapi cukup biaya operasi.

Perusahaan yang dituju, ya kira-kira perusahaan yang omsetnya 50 sampai 100 juta per bulan. Perusahaan semacam itu, jumlahnya banyak. Jadi, mereka juga perlu memiliki nilai competitiveness .

foto: istimewa

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.