Volume III No 23 - Januari 2005
 

Melongok Ground Zero Broadband Dunia

 

Dampak teknologi kadang tak terduga, bahkan, boleh dibilang, cenderung absurd, seperti dijumpai pada layanan broadband di Korea Selatan.

Adalah Han Sang, seorang remaja usia 14 tahun yang tinggal di Seoul, Korea Selatan, ketahuan mencuri uang orang tuanya sebesar 37 ribu won, atau sekitar 326 ribu rupiah, yang digunakannya untuk membeli kaca mata hitam dan asesoris lainnya. Hal itu memang tidak terpuji, namun, yang lebih menjengkelkan ayah Han, Kim Sung Bae, tak satu pun barang-barang yang dibeli Han berwujud nyata. Barang-barang itu dibeli untuk avatar -nya, atau karakter animasi virtual yang merupakan representasi Han ketika berinteraksi di dunia maya. Seperti remaja Korea lainnya, Han menghabiskan waktu empat jam setiap malam untuk ber- kongkow ria bersama teman-temannya, secara online tentunya. Layaknya remaja, Han pun ingin tampil se- keren mungkin, sekalipun di dunia maya.

Kim pun memberlakukan “jam malam” Internet bagi putranya, yakni tidak boleh berselancar lepas tengah malam. Minggu sore pun dijadikan waktu keluarga “bebas Internet”, dan Han pun hanya boleh menonton TV beberapa jam saja setiap minggunya, itu pun ditemani orangtuanya. Namun, sebagai balasannya, orangtua Han berjanji untuk bersama-sama “mengunjungi” dunia virtualnya.

Absurd? Itu belum seberapa. Ketika virus Slammer melumpuhkan jaringan Internet Korea selama beberapa jam beberapa tahun lalu, seluruh negeri menderita gejala ketagihan, mirip sakaw , ujar Ken Lee, pimpinan Korea Telecom, provider broadband terbesar di Korea. Pernyataan itu memang tak mengada-ngada. Sekitar 10 persen dari populasi keseluruhan dan 40 persen dari populasi berusia 13 sampai 18 tahun menderita “ketagihan” Internet, ujar Dr. Kim Hyun Soo, ketua perhimpunan psikolog profesional yang berspesialisasi menangani ketergantungan Internet. “Saya pernah melihat anak-anak yang tidak pernah meninggalkan rumah selama dua tahun,” ujarnya.

Ia menceritakan, beberapa tahun lalu seorang ibu datang membawa putranya yang berusia 17 tahun. Anak itu memperlihatkan gejala mirip ketergantungan amphetamine , seperti gangguan tidur, iritasi dan kesulitan mengendalikan denyut nadi. Rupanya ia menderita ketagihan Internet. “Ia bisa berubah kasar ketika orang mencoba menyetopnya menggunakan Internet,” ujar Dr. Kim. Bahkan, pernah ada kasus yang lebih ekstrim, seorang pria berusia 24 tahun tewas setelah bermain game Internet selama 86 jam nonstop!

Diluar itu, kejahatan cyber atau cybercrime juga marak. Jika tahun 1999 tercatat cuma ada 572 kasus hacking , pada akhir 2003 tercatat kurang lebih 26,179 kasus. Angka yang cukup tinggi, sekalipun prosentase peningkatannya dari tahun ke tahun cenderung menurun. Kasus cybercrime terbesar di Korea, sejauh ini, adalah ketika para hacker membobol perusahaan Daewoo Securities dan mencuri saham senilai 22 juta dolar AS.

Ground zero broadband

Sekelumit kisah di atas merupakan “sisi gelap” dari gebyar broadband yang melanda Korea Selatan selama kurang dari satu dekade belakangan ini. Terlepas dari dampak itu, prestasi negeri ginseng itu menjadi yang terdepan dalam layanan broadband memunculkan fenomena tersendiri dan menarik dicermati. Selain itu, sejumlah negara di dunia, mulai dari negara berkembang seperti Nigeria, sampai negara maju seperti Amerika Serikat sekalipun, menjadikan Korea Selatan sebagai role model dalam mengembangkan layanan broadband di negerinya masing-masing.

Korsel, boleh dibilang menjadi ground zero dari booming broadband secara global. Di negara berpenduduk sekitar 48 juta jiwa itu tergelar 30 juta sambungan broadband , yang sanggup memompa data berkecepatan 1 sampai 20 Mbps, atau 20 sampai 400 kali lebih cepat dibandingkan koneksi dial-up 56 kbps melalui jalur telepon biasa. Dari sekitar 16 juta rumah tangga yang ada, hampir 75 persennya memiliki akses broadband .

Aktivitas berinternet warga Korea pun terbilang intens. Rata-rata warganya menghabiskan 20 jam seminggu untuk ber-Internet. Korea juga memiliki tingkat download video- maupun movie-on-demand tertinggi di dunia. Online gaming pun menjadi fenomena budaya tersendiri, dan para juaranya memperoleh ketenaran layaknya bintang olahraga kelas dunia.

Bahkan, akses broadband juga tak luput dimanfaatkan warga Korea untuk melakukan aktivitas ekonomi. Belanja online merupakan hal yang biasa bagi mereka. Menurut catatan Korean National Statistic Office, tahun 2003 lalu tercatat nilai e-Commerce B2C mencapai 6,095 triliun won atau sekitar 5 miliar dolar AS. Sementara volumenya secara keseluruhan (B2B, B2G dan B2C) mencapai 235 triliun won atau hampir 200 miliar dolar AS. Perdagangan saham online maupun Internet banking juga sangat marak. Pada paruh kedua 2003, sekitar 55 persen perdagangan saham di negeri itu dilakukan secara online . Sedang pengguna Internet banking -nya sekitar 22,7 juta pengguna.

Broadband tidak hanya tersedia secara luas, namun juga menawarkan kecepatan akses lebih cepat dibandingkan di tempat-tempat lainnya. Pada kecepatan puncak, sambungan broadband melalui very high-bit rate digital subscriber line (VDSL) di Korea rata-rata empat kali lipat lebih cepat dibandingkan yang ditawarkan di negara-negara maju lain, seperti AS.

“Dalam dua setengah tahun, kami harap lebih dari 70 persen rumah tangga di Korea akan memiliki akses Internet dengan kecepatan akses 20 Mbps, yang memungkinkan mereka menikmati high-definition TV,” ujar Chin Daeje, menteri Infokom Korsel, yang juga mantan petinggi di perusahaan Samsung Electronics. “Dan pada tahun 2010 mendatang, sebagian besar rumah tangga di Korea akan bermigrasi ke broadband 100 Mbps.”

Menggelar kompetisi

Bagaimana Korea bisa mencapai ke tingkatan seperti itu? Berbagai studi mengenai kepemimpinan Korea di broadband rata-rata mengatakan bahwa infrastruktur, demografi, deregulasi dan faktor sosial budaya menjadi faktor terpenting dalam membawa fenomena broadband di negeri itu.

“Saya tidak akan mengatakan bahwa hanya infrastruktur atau konten atau harga yang memiliki peran besar,” ujar Chin. “Kombinasi dari berbagai faktorlah yang membuat kami menjadi yang terdepan di dunia dalam hal broadband .”

Menurut Chin, kebijakan pemerintah, yang bertujuan meningkatkan infrastruktur telekomunikasi negeri itu dan deregulasi telekomunikasi yang dilakukan pada dekade 90-an, membantu Korea menuju apa yang telah dicapainya sekarang. Keputusan untuk memokuskan pembangunan pada broadband dimulai pada pertengahan 90-an dan semakin intensif setelah Korsel kelimpungan akibat jatuhnya pasar uang Asia pada tahun 1997. Para pengambil kebijakan menargetkan teknologi sebagai sektor kunci dalam memulihkan kesehatan ekonomi negeri itu.

Tak Terkendala “The Last Mile”

Salah satu hambatan yang ditemui di sebagian besar negara ketika menggelar infrastruktur broadband adalah apa yang disebut sebagai “the last mile”, rentang sambungan terakhir yang membawa suara, data dan video ke rumah-rumah maupun tempat kerja pelanggan. Membangun jaringan serat optik merupakan salah satu cara mengatasi ini. Tapi, memasang sambungan serat optik ke setiap rumah maupun kantor pun tidak realistis, paling tidak untuk jangka pendek, mengingat biayanya yang selangit.

Untuk menggelar layanan broadband ke rumah dan kantor dalam jumlah besar, cara paling ekonomis dan realistis adalah dengan memanfaatkan infrastruktur yang ada. ADSL ( asymmetric digital subscriber line ) misalnya, menggunakan kabel tembaga telepon untuk menyediakan akses broadband . Sayangnya, ADSL ini terkendala jarak, dimana kecepatan aksesnya langsung drop ketika jarak dari local exchange ke rumah pelanggan lebih dari 4 kilometer.

Namun di Korea, kendala “the last mile” ini boleh dibilang tidak dijumpai. Faktor demografi, seperti ketersebaran penduduk dan pola perumahan menjadi kontribusi penting dalam penggelaran broadband di negeri itu. Menurut catatan Korea National Statistic Office, lebih dari 80 persen penduduk Korea tinggal di perkotaan, sementara 47,8 persen dari seluruh stok rumah di negeri itu berupa apartemen. Tingkat kerapatan yang tinggi di daerah perkotaan menyebabkan instalasi broadband relatif lebih mudah. Bagi teknologi ADSL, kondisi ini sangat menguntungkan, dimana hampir 90 persen tempat tinggal di Korea berada dalam radius seperti yang disebutkan di atas.

Pola perumahan berbentuk apartemen itu juga mempermudah service provider menyediakan layanan VDSL, yang menggunakan sistem kombinasi serat optik/kabel tembaga. Dengan menarik suatu saluran serat optik ke masing-masing basement gedung, yang kemudian dilanjutkan dengan jalur tembaga ke masing-masing unit tempat tinggal, VDSL sanggup menyediakan kecepatan akses 50 – 100 Mbps dan mencakup jumlah pengguna yang banyak.

Penggelaran infrastruktur broadband di apartemen-apartemen Korsel memang sangat marak. Apalagi, pemerintahnya memberikan insentif berupa Cyber Building Certificate , yang memberikan sertifikasi bagi gedung apartemen maupun kantor dengan kapasitas telekomunikasi kecepatan tinggi. Kebijakan itu menggairahkan para pengembang untuk meningkatkan platform akses broadband di gedung-gedung apartemen yang dibangunnya. Sistem itu, juga meningkatkan nilai jual apartemen di mata para calon penghuni, mengingat semakin banyak orang yang menuntut ketersediaan broadband di apartemen yang akan dihuninya. aa

Tahun 1995, pemerintah mulai menggelar proyek Korea Information Infrastructure (KII), baik di sektor pemerintah maupun publik. Di sektor publik, dimana sumber investasinya berasal dari swasta, pembangunan dilakukan dalam tiga fasa. Fasa pertama , tahun 1995-1997 seluruh bangunan kantor dan apartemen harus sudah terhubung dengan koneksi fiber. Fasa kedua , tahun 1998-2000, 30 persen rumah tangga di negeri itu sudah harus memiliki akses broadband melalui DSL atau CATV ( Cable TV ). Sementara fasa ketiga , tahun 2001 sampai akhir 2005 mendatang lebih dari 80 persen rumah tangga memiliki akses ke koneksi 20 Mbps atau lebih – suatu tingkat kecepatan yang dibutuhkan untuk menggelar layanan televisi high-definition (HDTV).

Pemerintah Korea pun mengeluarkan dana sebesar 24 miliar dolar AS untuk membangun jaringan backbone kecepatan tinggi, yang menghubungkan fasilitas milik pemerintah dan institusi-institusi publik.

Selain memperluas jangkauan broadband , layanan itu juga harus tersedia dengan harga terjangkau. Untuk itu, pemerintah Korsel menggelar strategi meningkatkan kompetisi di kalangan penyedia layanan, dengan membuka peluang bagi perusahaan baru untuk membangun fasilitas broadband nya sendiri.

Salah satu “produk” dari regulasi ini adalah Hanaro Telecom, yang kini menjadi carrier terbesar kedua di Korsel, setelah Korea Telecom (KT). Awalnya, perusahaan ini mengantongi izin sebagai local call carrier , bersaing dengan KT. Menyadari bahwa sulit bersaing dengan KT, mengingat KT sudah terlebih dulu diuntungkan sebagai pemain pertama, Hanaro memutuskan untuk fokus pada layanan akses Internet broadband .

Layanan broadband dengan teknologi ADSL pertama di Korsel pun digelar oleh Hanaro pada bulan April 1999. Ketika itu, layanan ini ditawarkan dengan harga 40 dolar per bulan. Namun, beberapa bulan kemudian, Hanaro memangkas harga akses menjadi 25 dolar per bulan dengan tujuan menggarap pasar seluas-luasnya, sebelum KT memulai layanan yang sama secara agresif.

Persaingan semakin sengit ketika KT mulai serius menggarap layanan brodband. Bahkan, dengan memanfaatkan posisinya yang kokoh di industri telekomunikasi, KT menjadi market leader dalam penyediaan layanan broadband , di depan Hanaro dan penyedia lainnya, Thrunet.

Menciptakan Demand

Salah satu pertanyaan dan mungkin menjadi permasalahan utama yang dihadapi suatu negara ketika akan menggelar layanan broadband adalah masalah demand . Lambannya penggelaran broadband, seperti di AS dan negara-negara lainnya, adalah sebagai akibat dari ketidakpastian mengenai seberapa besar minat konsumen mau membayar mahal untuk suatu infrastruktur layanan ber- bandwidth tinggi. Akibatnya, seluruh industri terjebak pada kondisi tunggu menunggu, dimana perusahaan-perusahaan konten dan carrier saling menunggu satu sama lain untuk membuat langkah pertama, sebelum melakukan investasi pada layanan broadband .

Itu tidak terjadi di Korea. Malah pemerintah turut berperan dalam menciptakan demand itu sendiri. Salah satu yang dilakukan adalah menggelar program melek TI atau melek Internet, yang dinamakan proyek “Ten Million People Internet Education” atau pendidikan internet untuk sepuluh juta orang. Sasaran program ini adalah kelompok populasi yang dipandang kemungkinan akan tertinggal di abad digital ini, seperti ibu rumah tangga, personil militer, penderita cacat dan bahkan narapidana. Program ini akhirnya dikembangkan menjangkau seluruh warga, siapapun yang menginginkannya.

Yang menarik dari program melek Internet ini adalah keputusan untuk mensasar “ibu-ibu rumahtangga”. Sasaran itu terbukti sangat tepat dan bahkan menciptakan booming Internet di kalangan ibu rumahtangga. Situs-situs portal yang mensasar kaum ibu pun banyak dibuat, dan beberapa di antaranya bahkan sanggup menarik pelanggan di atas satu juta orang.

Menurut penelitian yang dilakukan Asia/Pacific Research, Universitas Stanford, program untuk ibu rumahtangga iru terbilang sukses karena secara cerdik, para pengambil kebijakan memanfaatkan kondisi budaya di Korea, dimana seorang ibu rumahtangga memiliki “purchasing power” dalam mengelola rumah tangga. Harga akses memang sangat murah, namun disamping itu, dibutuhkan sebuah komputer yang mampu memanfaatkan kapasitas Internet kecepatan tinggi seperti itu. Jelas itu tidak murah.

PC Baang di salah satu sudut kota Seoul

Para pengambil kebijakan mempertimbangkan bahwa tanpa komitmen para ibu rumahtangga, penyerapan Internet broadband di kalangan rumah tangga akan tertinggal. Dan yang terpenting, program melek Internet itu juga memperhatikan perasaan yang umumnya dialami ibu rumah tangga Korea, seperti merasa tertinggal atau diabaikan oleh anak-anak. Kondisi itu menstimulasi hidden demand atas Internet. Demand itu juga didorong kondisi budaya setempat, yang sangat memperhatikan dan antusias terhadap masalah pendidikan. Para ibu rumahtangga ingin memberikan kontribusi pada pendidikan anaknya, berapa pun biayanya. Dan, paling sedikit, mereka juga ingin mengerti apa yang dikerjakan anak-anak mereka (ketika ber-Internet).

Faktor penting lain dalam penyerapan broadband di Korea adalah fenomena menjamurnya PC Baang . PC Baang ini serupa dengan warnet atau internet café di negara-negara lain. Rata-rata PC Baang ini dilengkapi dengan leased-line berkecepatan tinggi dan komputer multimedia, dan menawarkan akses Internet kecepatan tinggi dengan harga kurang dari sedolar per jam. Kegilaan warga Korea akan online games membuat popularitas PC Baang begitu tinggi. Sejak itu, tempat ini berkembang menjadi sarana ber-Internet bagi para penduduk dari berbagai kalangan usia, wilayah maupun pendapatan, baik untuk mengirim email, chatting, berdagang saham online , mencari informasi, dll kapan pun, baik siang atau malam.

Tabel: Perkembangan jumlah PC-Baang (1998-2002)

Tahun

1998

1999

2000

2001

2002

Jumlah Total

3,000

15,150

21,460

22,548

21,823

Sumber: Korea Game Development & Promotion Institute (2002), Kim (2003)

Dengan semakin luasnya penetrasi broadband ke rumah-rumah tinggal, popularitas PC Baang pelan-pelan mulai memudar. Namun, perannya dalam mempopulerkan broadband di kalangan warga Korea tak dapat disangkal. Banyak warga yang pertama kali berkenalan dengan akses broadband, ya tempat itu. Mereka pun menjadi terbiasa dengan layanan broadband , sehingga ogah kembali ke dial-up yang selama ini mereka gunakan di rumah.

Inisiatif 8-3-9

Pemerintah Korea Selatan telah menetapkan tujuan ambisius untuk delapan jenis layanan, tiga infrastruktur teknologi dan sembilan kategori produk unggulan. Di bawah inisiatif yang dinamakan inisiatif 839 ini, kementrian Infokom negeri itu menetapkan teknologi-teknologi tertentu, yang akan didorong dengan dukungan dana riset atau insentif lainnya.

Sasaran yang dituju adalah:

Layanan:
  1. Rumah digital: 500.000 home network (2004), 10 juta (2007).
  2. RFID: menyebarkan chip RFID terkecil dan termurah (2007).
  3. W-CDMA: menggelar jaringan di seluruh negeri (2006).
  4. Digital TV: jaringan secara nasional (2005).
  5. VoIP: 4 juta pengguna (2006).
  6. WiBro: meluncurkan layanan broadband nirkabel secara komersial (2006).
  7. DMB: menggelar layanan digital multimedia broadcasting secara nasional (2006).
  8. DTV: menggelar layanan TV digital terrestrial secara nasional (2006).
Infrastruktur:
  1. Broadband convergence network : 20 juta pengguna (2010).
  2. Ubiquitous (u)-Sensor networks : digelar secara luas (2010).
  3. IPv6: konversi ke Internet Protocol versi 6 secara menyeluruh (2010).
Produk
  1. System on a chip : menjadi tiga besar produsen dunia (2007).
  2. Next-generation PC : komersialisasi wearable PC (2007).
  3. Embedded software : menjadi produsen terbesar kedua (2007).
  4. Robot: memperkenalkan URC ( ubiquitous robotic companion ) ke pasar (2007).
  5. Telematic Devices : menyelesaikan pengembangan position determination entity atau PDE (2007).
  6. Digital content & S/W solution : masuk tiga besar produsen piranti lunak berbasis open source (2007).
  7. Home network devices : mendorong pengembangan fixed-wireless convergent home server tahun 2004, telecom-broadcasting convergent home server (2005), dan telecom-broadcasting game convergent home server (2006).
  8. DTV devices: mengembangkan bi-directional DMB transmitter/receiver (2006) dan one giga cable transmission/reception system (2007).
  9. •  Next-Generation Mobile Communications Devices : selesai mengembangkan core technology 4G (2007).

Sumber: Korea 's Ministry of Information and Communication, 2004

Menuju convergence network

Kemajuan yang telah dicapai Korsel dalam layanan Internet kecepatan tinggi tidak membuat negeri itu cepat berpuas diri. Tahun lalu, pemerintah Korea mengucurkan dana sekitar 2 miliar dolar, dari 10 miliar dolar yang dibutuhkan untuk membangun jaringan terintegrasi tercepat di dunia. Jaringan yang dinamakan “ broadband convergence network” (BcN), nantinya menyediakan kecepatan koneksi antara 50 sampai 100 Mbps pada akhir tahun mendatang.

“BcN akan menjadi platform inti untuk menciptakan pasar komunikasi canggih,” ujar Chin. “Jika kami ingin menjadi pemimpin di dunia broadband , kami harus tetap berada di depan negara-negara lain, yang kini mulai mengejar ketertinggalannya. Artinya, kami perlu meningkatkan investasi di backbone Internet kecepatan tinggi, lebih inovatif dan pemerintah perlu bekerja berdampingan dengan sektor swasta.”

Selanjutnya apa? Raksasa-raksasa elektronik Korea, Samsung dan LG, kini tengah menjajaki peluang baru, yaitu home networking , dan tengah mengembangkan jaringan nirkabel yang memungkinkan perangkat digital di rumah terhubung satu sama lain. “Dengan tingkat penetrasi broadband yang begitu tinggi, wajar saja jika Korsel menjadi test bed ideal untuk home networking ,” ujar Kim Jung Woo, periset di Samsung Economic Research Institute di Seoul.

Tahun lalu, pemerintah Korea menetapkan home networking sebagai bagian terpenting dari strategi pengembangan teknologinya. “Samsung dan LG kini perlu mencari sebuah killer application untuk home networking sebelum teknologinya tergelar luas,” ujar Kim.

Program-program di atas merupakan bagian dari inisiatif ambisius pemerintah Korea , yang dikenal dengan inisiatif 839 (lihat boks). Dengan delapan jenis layanan, tiga jenis pembangunan infrastruktur, dan sembilan jenis kategori produk unggulan, Korea akan mengembangkan pasar TI-nya menjadi 380 miliar dolar AS pada tahun 2007, dan menarik tenaga kerja sekurang-kurangnya 1,5 juta orang. Diharapkan, inisiatif ini juga akan memasukkan Korea ke jajaran negara-negara berpendapatan per kapita 20 ribu dolar.

Kengototan” dan konsistensi Korsel dalam mengembangkan industri TI-nya memang patut mendapat acungan jempol. Insiatif pemerintahnya dalam memromosikan TI ke negeri itu melalui berbagai langkah kebijakan yang kondusif mungkin bisa ditiru negara-negara lain. Meski tak dapat dipungkiri, bahwa faktor-faktor lain yang khas Korea, khususnya dalam faktor demografi dan budaya juga memberikan kontribusi yang besar, bahkan mungkin paling besar. Hal itu, belum tentu bisa ditemukan atau ditiru negara lain. Yang jelas, kita tidak perlu meniru sisi gelap dari dampak yang ditimbulkan penggelaran broadband di Korea, seperti dikisahkan di awal artikel ini. Tentunya, kita tidak ingin putra-putri kita berperilaku seperti Han Sang bukan? aa

foto: istimewa

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.