Uups, maaf saya bukan sedang menulis tentang pupuk, atau makanan organik atau juga tentang hal-hal yang bersifat biologis. Walaupun, memang, sayur-mayur organik sekarang mulai naik daun, namun fisiknya kurang bagus atau semulus sayur-mayur anorganik.
Begitu pula, pencerahan lewat tulisan di sini tidak ada hubungannya dengan situs pencari yang khusus mencari hal-hal yang sifatnya organik. Melainkan mengenai buzzword terbaru untuk konsep hasil pencarian murni lewat situs pencari, berbasis spider (crawler). Mau tak mau, Anda sebagai seorang pembaca atau praktisi pemasaran, ditantang dengan terus menerus bermunculannya berbagai lingo terbaru.
Lingo baru ini mangnadung makna hasil pencarian yang relevan, wajar, normal, organik tanpa pakai pupuk (bukan berbasis paid/sponsorship) dan sesuai dengan yang diharapkan setelah seseorang mengetikkan frase yang dicari.
Itulah sebabnya situs web yang mudah dicari dan berada di urutan 20 besar disebut sebagai hasil pencarian organik, karena tidak mendapat campur tangan lewat sponsorship uang, sehingga menampilkan hasil pencarian yang tidak relevan (bias). Pencarian lewat direktori bisnis bukanlah pencarian organik, karena melibatkan editor di dalamnya.
Banyak hal yang dapat diceritakan tentang situs pencari dan bagaimana peranannya yang semakin penting dalam dunia PR, dan promosi. Namun, sekali lagi, menempati urutan 20 besar pertama dari hasil pencarian yang murni sangat signifikan dibandingkan tiga tahun sebelumnya. Mengapa?
Suatu riset yang dilakukan Jupiter Media mendapati bahwa 5 dari 6 transaksi komersial atau visits berubah menjadi konsumen, karena membeli produk yang dipajang di etalase situs web dan berasal dari hasil pencarian organik lewat situs pencari.
Ada apa dengan Organic Search?
Jelaslah, agar situs pencari tetap survive di industri pencarian, maka tidak heran mereka mencari berbagai cara untuk memperoleh revenue, seraya semakin banyak halaman web yang bermunculan dan saling kompetisi di dunia maya. Itulah sebabnya harus ada jalan di mana pemasukan lewat iklan pun diperoleh.
Jika, sekali lagi, uang turut berbicara dan memainkan peranan, maka hasil pencarian tidak lagi murni, tetapi dikotori oleh hasil pencarian yang tidak relevan. Hal itu membuat para pencari kapok menggunakan situs mereka dan mereka mencari cara agar resource ini tidak dikotori.
Bayangkan, kalau ini tidak dijaga oleh para pemilik situs pencari dan hasil pencarian dikotori hanya oleh raksasa-raksasa bisnis saja, maka dampaknya adalah kematian bagi pemain UKM online dan kaburnya para pencari informasi.
Kalau begitu, apa trik mereka? Caranya, mereka dengan jelas (beberapa situs web tidak jelas) membagi keduanya dalam lokasi penempatan yang berbeda, dan membiarkan hasil pencarian organik tidak dicemari. (Yahoo! & Ask Jeeves sendiri tidak jelas dalam pembagian keduanya, karena mereka memiliki program berbayar (paid program), yang menempatkan hasil pencarian anorganik (paid) di bagian hasil pencarian organik.)
Hasil pencarian organic, biasanya (di Google misalnya) berada di sebelah kiri dan tidak ternoda dari hasil pencarian paid yang ada di sebelah kiri, yang disebut sebagai AdWords. Google sendiri sebenarnya merasakan adanya konflik kepentingan (conflict of interests) di antara para pemasang iklan di AdWords dengan hasil pencarian organik dalam hal relevansi. Sedang Altavista bermasalah, karena dicampurnya hasil pencarian organik dan anorganik (paid).
Itulah sebabnya users' shares dari Altavista berkurang, karena polemik di atas. Di samping itu, nantinya orang akan berhenti menggunakan mesin pencari kalau yang diperoleh adalah segumpal situs web yang melakukan sponsorship.
Hal itu yang kemudian mengapa semakin banyak orang yang akhirnya pindah ke Google dan menggunakan search database-nya, terutama karena melihat Google memberikan hasil pencarian yang paling relevan. Pada saat yang sama, Google terus dapat mempertahankan revenue dari hasil pencarian anorganik yang ada di sebelah kanan (Adwords).
Mana yang Lebih Efektif?
Ada banyak pilihan model iklan online yang sedang ngetren, mulai dari AdSense, PPC, Paid Inclusion (lain waktu saya akan ulas), dan AdWords, yang jelas bukan iklan baris, seperti yang pernah pernah saya jelaskan di eBizzAsia, edisi No. 23, Januari 2005, tentang ”Matinya Iklan Baris Online”. Juga, tentang bagaimana era iklan baris makin merosot dari sudut efektivitasnya, bukan ramainya. Kalau ramai, memang masih tetap ramai yang posting, apalagi dengan menggunakan software yang sekali klik dapat memasang iklan di situs web yang berfasilitas iklan baris tanpa harus menyentuh situs iklan baris tersebut.
Di antara semuanya, AdWords paling menarik, karena ini adalah tren iklan frase masa kini. Namun, kalau masih ditanya mana yang lebih efektif, AdWords dengan hasil pencarian organik?
Saya yakin hasil pencarian organik akan lebih popular dibandingkan AdWords sekalipun. Mengapa? Ilustrasinya seperti ini, mana yang lebih mudah didapat, tanaman organik atau anorganik atau yang artifisial? Dan bagi Anda sendiri, mana yang lebih Anda sukai, tanaman yang organik atau yang non organik?
Analogi di atas cukup membantu menjelaskan pertanyaan di atas, karena di mata para pengguna mesin pencari, itu adalah hasil pencarian perawan yang tidak dinodai oleh uang. Hasil pencarian organik mencerminkan moralitas, kejujuran, keterbukaan dan apa adanya tanpa ditutup-tutupi. Itulah yang secara behaviour pasar menuntutnya, sama halnya seperti iklan dengan advertorial.
Jadi, nilai dari hasil pencarian organik merupakan opsi yang pas dan sempurna yang memungkinkan situs web Anda terlihat dengan sedikit investasi atau tidak sama sekali.
Mengingat berbagai variabel opini di atas, maka pendekatan menggunakan promosi lewat pencarian organik adalah sesuatu yang patut dipikirkan dan segera diimplementasikan sebagai dasar dari keseluruhan kampanye Integrated Marketing Communication.
Nikmatnya, dari model pendekatan organik ini adalah sekali halaman web Anda dioptimasi, maka sebagian dari proyek sudah selesai. Selanjutnya tinggal polesan frasa kata-kata kunci dan teks ini-itu, kecuali adanya modifikasi total dari web Anda. Saran saya, terus perhatikan status ranking Anda, dan analisa pengunjung yang datang ke web Anda karena mengetikkan frase apa?
Nah, kalau menggunakan free submissions, juga makan waktu tiga hingga enam bulan, sampai akhirnya Anda mendapatkan hasil yang bersifat jangka panjang. Tetapi, kalau situs web Anda sudah menjadi “selebriti”, maka free submission sama sekali tidak diperlukan.
Kenyataannya memang tidaklah semudah yang disebutkan di atas. Ini membutuhkan proses yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang dan juga tidak diajarkan di kebanyakan sekolah advertising atau PR. Menyerahkan masslah ini ke departemen web desain atau TI atau marketing support seringkali tidak mendapatkan objektif yang diharapkan. Sebaliknya, lebih baik Anda melakukan outsource ke individu-individu atau firma yang memang berspesialisasi di bidang organic search advertising.
Mengapa? Karena situs pencari sering mengubah algoritma formulanya mengingat sering dimanipulasi dan di-spamming oleh advertisers yang tidak bermoral. Kedua, mereka membolehkan aturan berbayar atas dasar klik (pay for click).
Mengapa Harus Organic Search Advertising?
Alasan terbaik menggunakan organic search advertising (OSA) adalah karena ini melibatkan anggaran iklan yang lebih terjangkau untuk memromosikan bisnis Anda lewat situs web. Namun, itu bisa memakan waktu tiga hingga enam bulan, sampai akhirnya Anda memperoleh hasil promosi yang diharapkan, apalagi khususnya kalau hanya menggunakan kampanye promosi organik saja.
Jadi jelas, sekali lagi pemanfaatan iklan pencarian organik akan sangat meningkatkan merek (branding) perusahaan Anda atau merek Anda. Semakin banyak perusahaan-perusahaan besar dan menengah sadar akan pentingnya berinvestasi di iklan pencarian organik ini (OSA) untuk mendongkrak merek mereka.
Misalnya, calon konsumen sudah akan langsung melihat situs web Dell, Compaq, Toshiba, Gateway, dan bahkan Fujitsu berada di urutan 20 besar dari hasil pencarian organik, setelah mereka mengetikkan kata kunci “computers”.
Sama halnya ketika calon konsumen mengetikkan “teh botol“, maka merek Teh Botol Sosro beserta situs web korporatnya langsung berada di urutan pertama, sehingga langsung menancap pada benak konsumennya.
Begitu pula halnya apabila calon konsumen mengetikkan “asuransi kecelakaan”, maka merek-merek asuransi terkenal seperti Tokio Marine, Asuransi Raksa, Asuransi Bintang, Cigna, Danamas, dan Manulife Indonesia nangkring di urutan 10 besar.
Bayangkan calon konsumen Anda bisa merasa heran jika merek X atau perusahaan X yang hebat dan dikenal di media offline, TV, atau surat kabar, namun tidak muncul di MSN, Yahoo atau Google. Karenanya, pastikan agar bukan hanya merek atau nama perusahaan Anda saja yang nangkring di halaman pertama pencarian organik, tetapi juga manfaat atau khasiat dari produk yang Anda promosikan untuk menjaring calon konsumen yang mencari produk berdasarkan khasiat atau manfaat yang mereka inginkan. Misalnya, seorang konsumen yang bermasalah dengan jerawat di wajahnya, pastikan akan mengetikkan frase kunci “obat jerawat” daripada mengetikkan merek generik “noni juice” atau “pacekap”.
Karena itu, iklan pencarian organic, sekali lagi, akan meningkatkan impression bahwa perusahaan Anda lebih besar dan produk yang dijual lebih dapat dipercaya dibandingkan para pesaing Anda.
Tetapi, tahukah Anda kenyataan yang cukup memalukan? Cukup banyak merek-merek besar yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan besar dan multinasional di Indonesia tidak muncul di urutan 20 besar dari hasil pencarian organik sewaktu calon konsumen mengetikkan merek atau nama perusahaan mereka. Walaupun, kadangkala tertolong karena adanya weblogs, arsip forum online dan situs web lain yang memuat merek dan perusahaan mereka dan berada di urutan 20 besar.
Faktanya, banyak perusahaan-perusahaan besar mau dibuat malu, karena tidak menganggarkan bujet untuk membangun merek (branding) dengan muncul di halaman pertama dari hasil pencarian lewat kata bisnis kunci yang diketikkan oleh konsumen atau calon buyer mereka. Di Indonesia, hanya pemain bisnis perorangan dan UKM yang sudah tahu manfaat dari iklan search ini.
Mengingat fakta ini, bukankah memalukan kalau situs web dari si pemilik merek besar atau dari suatu produk terkenal justru tidak ada di urutan 20 besar?
Bob Julius Onggo • Praktisi & Konsultan Pemasaran Online (profilnya bisa dilihat di www.bjoconsulting.com)
Foto: dok. ebizzasia
|